
"Baiklah, jika begitu, aku ingin kau terus mengumpulkan bukti-bukti tentang kedekatan mereka dan aku minta kau mengawasi segala gerak gerik mereka, dan apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Nona Jenny sekarang?" kata Jonathan dia harus mendapatkan bukti yang lebih kuat untuk menyakinkan Jenny, terutama keluarganya bahwa pria yang mereka anggap pantas itu ternyata sangat busuk dengan pemikiran liciknya.
"Nona Jenny sudah sampai di rumahnya beberapa jam yang lalu, hingga sekarang Nona Jenny masih di rumahnya, tidak ada informasi tentang pertunangan mereka yang akan diselenggarakan besok, mungkin Tuan Anxel hanya menggertak Anda saja," kata Rian yang menjelaskan kabar yang dia dapatkan.
"Oh, begitu, baiklah, terus lakukan pengawasan untuknya, kabarkan aku semua tentang Nona Jenny," kata Jonathan dengan tatapan serius.
"Baik Tuan," kata Rian tegas, langsung patuh dengan apa yang diperintahkan oleh Jonathan, dia segera berdiri, memberikan sedikit salam lalu segera pergi dari sana meninggalkan Jonathan yang masih tampak memasang wajah berpikirnya,
Jonathan menarik napasnya dalam, dia lalu melihat ke arah ponselnya, baru juga sadar bahwa ponselnya itu sudah tidak aktif. Dia segera menuju ke kamarnya, dengan cepat dia segera menghubungakan ponselnya pada pengisi dayanya.
Jonathan segera mengaktifkan ponselnya, dan dengan cepat puluhan pesan masuk ke dalam ponselnya, sebagian besar dari wanita-wanita yang pernah dia dekati, sebagian lagi dari beberapa keluarganya yang menanyakan kabarnya, namun akhirnya dia melihat satu yang membuat hatinya langsung terasa manis, senyumannya langsung mengembang dengan sempurna.
Dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Jenny, sebuah pesan mengatakan dia sudah ada di rumah dan menanyakan keberadaan dan juga apa yang sedang dia lakukan, Jonathan ingin membalasnya, namun dia putuskan untuk meneleponnya saja.
Nada sambung terdengar, namun setelah menunggu cukup lama dan hingga panggilannya terputus pun, Jenny tidak mengangkat ponselnya, hal itu membuat senyuman Jonathan sedikit pupus.
Jonathan mengerutkan dahinya, melihat kembali ke arah ponselnya, dia mencoba untuk meneleponnya kembali, dan ternyata hasilnya sama saja, panggilan itu tidak diangkat oleh Jenny, Jonathan mengerutkan dahi lebih dalam, entah kenapa merasa pasti ada yang tak beres dengan semua ini, tak bisa berpikir lagi mungkin Jenny sedang tak memegang ponselnya atau bagaimana, perasaannya mengatakan bahwa pasti ada sesuatu yang membuat Jenny seperti ini, jangan lagi, pikirnya.
Hal itu diperkuat saat dia kembali menelepon ponsel Jenny, dan kali ini ponselnya sudah tak aktif, berapa kali pun Jonathan meneleponnya, ponsel Jenny tak aktif, saat Jonathan membalas pesan Jenny, pesan itu pun sudah tidak bisa lagi terkirim, Jonathan tampak berwajah cemas, dia langsung menelepon Rian, "Rian, aku mau kau mendapatkan kabar bagaimana keadaan Nona Jenny sekarang, kabari aku secepatnya," kata Jonathan lagi, bergegas mengambil ponselnya dan segera pergi dari sana.
____****____
Anxel duduk di ruangannya, tak memiliki jadwal bedah apapun siang ini, sore nanti dia baru memiliki jadwal untuk operasi, matanya terlihat cukup tajam menerawang, seperti ada sesuatu yang dia pikirkan, wajahnya yang diam itu terlihat sedikit menakutkan.
Tiba-tiba pintu ruangannya terketuk, Anxel segera mengalihkan pandangannya, melihat seluet dari pintu kaca yang terlihat kabur itu, dia segera membenarkan cara duduknya.
"Masuk," kata Anxel segera dengan suara berwibawanya.
Pintu itu terbuka, Anxel segera melihat ke arah pintu itu, sosok Chintia tampak di sana, wajahnya tampak sedikit muram.
"Ada apa?" tanya Anxel yang segera berdiri berjalan ke dekat Chintia, melihat Chintia yang tampaknya sedang tidak baik moodnya, apalagi yang diinginkan wanita manja ini, pikirnya.
"Kenapa kau tidak memberiku kabar sama sekali?" tanya Chintia terkesan sangat manja, Anxel melihat kemanjaan Chintia itu tersenyum tipis, dia lalu memidahkan sedikit rambut Chintia yang jatuh di wajahnya ke belakang telinga Chintia.
"Kita sudah kembali, tidak mungkin kita berdekatan lagi, kau tahu bagaimana keadaannya sekarang bukan? kau sudah milik seseorang," kata Anxel segera, dia menunjukkan cincin di jari manis Chintia.
"Kenapa kita harus melakukan perjanjian seperti ini, jika tidak ada perjanjian ini aku pasti belum bertunangan dengan Jonathan," Cemberut Chintia, entah kenapa dia malah yang duluan bertunangan dengan Jonathan, padahal mereka berjanji, jika salah satu dari mereka bertunangan maka yang lain juga harus bertunangan, jika dari mereka menikah, yang lain juga harus segera menikah, tapi apa, Anxel sampai sekarang belum juga bertunangan dengan Jenny.
"Itu karena aku tidak ingin kau sakit melihatku bertunangan dengan Jenny, aku ingin kau juga memiliki pendamping," kata Anxel lagi dengan lembut, membuai Chintia, membuatnya bahkan tak bisa marah.
"Kapan kau akan bertunangan dengan Jenny, bukannya kau katakan akan bertunangan dengannya secepatnya setelah kau kembali?" tuntut Chintia.
"Aku sudah mengusahakannya, tapi pamannya mengatakan mereka ingin menyelesaikan pernikahan putrinya yang lain," kata Anxel menyenderkan diri di ujung mejanya.
"Putri, bibiku dan pamannya tidak punya putri lain," kata Chintia.
"Itu yang dikatakan oleh Paman Jofan, putrinya yang akan menikah dengan Pangeran Archie," kata Anxel.
"Begitulah?" kata Chintia, dia merasa paman Jenny tak punya anak perempuan lain, tapi dia memang pernah mendengar akan ada pernikahan nantinya, tapi siapa yang menikah dia juga tak tahu.
Anxel menatap Chintia, Chintia lebih mendekatkan diri pada Anxel, memasang wajahnya yang kecewa, "Hey, jangan memasang wajah seperti itu," kata Anxel lembut memegang pipi Chintia.
"Baiklah, aku harap kau terus mencintaiku seperti ini," kata Chintia.
"Tenang saja, aku akan selalu seperti ini padamu," kata Anxel, perlahan menarik wajah Chintia mendekat ke arahnya, memberikan ciuman mesra yang segera menjadi cukup ganas.
___****____
Jenny awalnya hendak tidur, namun dia tak bisa sama sekali bisa menutup matanya, mungkin karena masih terlalu pagi, belum lagi perasaannya yang kacau dengan semuanya, tiba-tiba Jenny mendengar bahwa ponselnya bergetar, dia langsung mengambil ponsel yang ada di sampingnya itu, melihat dengan nanar tampak di sana nama Jonathan terpampang, dia menekan kedua bibirnya, mungkin pria itu baru saja mendapatkan pesannya.
Ponsel itu terus bergetar hingga mati karena sendirinya, Jenny meletakkan kembali ponsel itu, ingin sekali rasanya mengangkatnya dan mendengar suara pria itu, namun dia sudah memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan pria itu, Jenny kembali melihat ke arah ponselnya yang kembali bergetar, dia hanya memandangnya tak lagi mengambilnya, sekali lagi ponsel itu bergetar cukup lama, setelah panggilan itu mati, Jenny cepat-cepat mengambil ponselnya, dia memperhatikan nomor Jonathan, dengan tarikan napas panjang, dia memblock nomor itu.