
"Baiklah, ingin bermain-main," kata Jonathan yang bahkan tak seperti dirinya, Chintia sebisa mungkin mundur, dia ketakutan akan diperkosa tunungannya sendiri.
"Jonathan, stop, aku tidak ingin melakukannya, kau menyeramkan, itu akan menyakitiku," kata Chintia seperti memelas.
"Tak pernah kah kau berpikir sejauh mana kau sudah menyakiti aku dan Jenny, nikmati saja, ini semua bahkan belum ada apa-apanya," kata Jonathan perlahan mendekat bagaikan serigala, tatapannya tajam menusuk, matanya merah membara.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya tak bisa melihat kalian bahagia sementara aku sendiri yang menderita," kata Chintia menangis melihat Jonathan yang begitu menyeramkan.
"Dan dengan kata maaf, akan mengembalikan Jenny padaku, kau tahu apa yang sudah kau rebut dariku! selamanya!" kata Jonathan membahana di seluruh ruangan itu, membuat Chintia gemetar mendengarnya.
"Jonathan, maafkan aku, aku tak tahu semua ini akan terjadi, aku hanya mengirimkannya ancaman-ancaman karena orang tuaku menelanku agar menikah denganmu, Aku tak menyangka Jenny akan melakukan tindakan bunuh diri itu, aku benar-benar minta maaf, aku hanya ingin dia ketakutan dan menyerahkan dirimu padaku," kata Chintia yang gemetar.
Jonathan mengepalkan tangannya, namun dia tak menjawab, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka, sosok Jofan dan Aurora segera muncul di sana, Chintia yang berderai air mata itu tampak kaget dan bingung, apalagi melihat bibinya mendekatinya dengan sangat cepat, dan tanpa ada angin ataupun hujan, Aurora segera menampar pipi Chintia dengan sangat keras bahkan telinga Chintia hingga berdenging.
"Kau iblis yang memanfaatkan kelemahanmu! aku benar-benar menyesal telah melarang putriku untuk memikirkan bagaimana perasaanmu! dia bahkan tak bisa makan dan tidur hanya untuk mengalah padamu! sekarang! kau malah membunuhnya! kembalikan putriku padaku!" Histeris Aurora yang ternyata memang dari tadi mendengarkan semuanya, Jonathan mengundang mereka sebelumnya, namun mereka hanya di izinkan untuk melihat rekaman dari ruangan di sebelah mereka, saat mendengar apa yang di katakan oleh Chintia, Aurora tak bisa menahan dirinya lagi, gara-gara wanita ini dia harus kehilangan putrinya.
Jofan pun menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat marah, namun mengingat dia adalah wanita, Jofan hanya bisa menahan amarahnya, dia memeluk istrinya yang menangis tersedu-sedu, luka mereka sangat dalam karena harus kehilangan Jenny.
"Bibi, maafkan aku, aku terpaksa ...." kata Chintia yang melihat bibinya begitu kehilangan.
"DIAM! kau tak berhak berbicara, sekarang kau puas? kau puas sudah membuat anakku menghilang hingga sekarang?" tanya Jofan menggelegar, siapapun akan ciut mendengarnya bahkan pria saja takut dengan hal itu apalagi Chintia, untung saja dia tak kolaps.
"Aku minta kau kembalikan putriku! cepat kembalikan putriku!" kata Aurora yang melepaskan diri dari pelukan Jofan, datang dan segera menguncang tubuh Chintia, membuat Chintia langsung kolaps.
Aurora memandang Chintia yang mulai sesak napas, air matanya yang menggantung di bulu matanya itu masih terlihat, dia membiarkan Chintia untuk terus semakin susah bernapas.
"Putriku memang arogan, dia suka berbicara apa yang ada di pikirannya, Dia tak sepertimu yang tampak lembut namun mematikan, bahkan di hari sebelum dia menghilang dia tak pernah ingin keluarganya tahu apa yang menimpa dirinya, dia pergi begitu saja, kami keluarga terhormat dan masih punya belas kasih, tak akan ku biarkan kau mati seperti ini, Jonathan, panggilkan ambulance untuknya," kata Aurora dingin, bahkan Jofan pun tak tahu istrinya bisa sedingin itu.
Jonathan melirik Rian, Rian segera mengangguk, tak lama ambulans datang, namun hanya ada Jonathan yang bahkan tak ingin menyentuh wanita itu, Jofan dan Aurora tak sudi lagi melihat Chintia hingga mereka memutuskan untuk pergi dari sana secepatnya. Saat Chintia sudah ada di tandu untuk dimasukkan ke dalam ambulans, Jonathan membisikkan sesuatu padanya.
"Kau tahu, semua pengakuanku tadi sudah direkam olehku, jika kau macam-macam, bahkan seluruh keluargamu bisa ku hancurkan, tak percaya, cobalah," kata Jonathan pada Chintia yang masih sesak walaupun sudah menggunakan kanul oksigennya. Chintia hanya bisa melirik ke arah Jonathan, dari sorot matanya ada rasa takut, cemas, dan juga bersalah, dia lalu segera dimasukkan dan dibawa pergi sendiri dengan ambulans.
Jonathan hanya melihat ke arah ambulan itu, akhirnya masalahnya dengan Chintia berakhir, namun sampai saat ini, separuh jiwanya yang hilang, masih belum bisa kembali
"Rian?" tanya Jonathan.
"Saya Tuan," kata Rian.
"Sudah kau dapatkan rekaman CCTVnya?" tanya Jonathan yang sudah tak sabar.
"Tak peduli berapa mahal pun, bahkan seharga seluruh saham yang aku miliki, aku mau semua ada nanti malam," kata Jonathan melirik ke arah Rian.
"Baik Tuan, akan saya kerjakan," kata Rian.
Jonathan hanya menatap nanar ke cakrawala, kemana cintanya itu terbang dan mendarat, apakah benar dia sudah tak ada?
---***---
Jonathan hanya diam di ruang tengah hotelnya yang sekarang dijaga penuh oleh para penjaga, tak ingin ambil resiko, Raphael yang langsung memerintahkan seluruh anggota keluarganya jika mendaratkan kakinya di sana, mereka harus menerima penjagaan lengkap.
Rian masuk ke ruang tengah itu, Jonathan langsung tanggap, matanya langsung tampak begitu berharap
"Apa yang kau sudah mendapatkan semuanya?" tanya Jonathan yang sudah merasa sangat lemah, setiap detik yang dihabiskannya dalam menunggu, sungguh sangat menyiksa dirinya, bagaikan ribuan pisau yang perlahan ditancapkan ditubuhnya.
"Ya, sudah Tuan," Kata Rian Yang segera duduk di dekat Jonathan, menunjukkan beberapa foto dan video CCTV.
"Jelaskan," kata Jonathan.
"Pukul 12 Nona. Jenny tampak keluar dari rumahnya," kata Rian yang mulai menceritakannya, Jonathan mendengarkannya sambil melihat rekaman CCTV itu, samar di sana dia melihat sosok wanitanya itu, jauh berbeda, dia tampak lebih banyak menunduk di sana, tak sepercaya diri yang biasa terlihat.
"Perjalanan ke bandaranya tampak biasa saja, namun ada sedikit kejanggalan saat Nona Jenny berhenti di rest area, seorang wanita datang dan ikut ke dalam mobil mereka, saya sudah mencari tahu siapa wanita itu, namanya Karen, dia adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi," kata Rian.
"Apa dia sahabat Nona Jenny?"
"Itulah masalahnya, mereka sama sekali tidak mengenal," kata Rian lagi
"Lalu bagaimana wanita itu bisa masuk ke dalam mobil Jenny?"
"Anda harus melihat foto ini," kata Rian memberikan 2 lembar foto berbeda, satu Jenny dan satunya wanita yang lain, dan mereka difoto dengan pose yang sama, ternyata terlihat sekali, walau wajahnya tak terlalu sama, namun perawakannya mirip dengan Jenny.
"Saya mengansumsikan bahwa wanita ini adalah pengganti nona Jenny," kata Rian.
"Pengganti? apa dia juga menghilang?" tanya Jonathan, bisa saja, itu masuk akal pikirnya.
"Tidak, hingga sekarang di masih kuliah," kata Rian.