Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 5 - Baiklah, aku akan ikut.



Jenny memasang wajah cemberutnya, benar saja kan kedua insan ini asik menunjukkan kemesraan mereka berdua di depan Jenny, Jenny hanya bisa diam di kursi belakang mobil mewah itu.


Dia menatap spion tengah dari mobilnya, tak sengaja pula matanya menangkap mata tajam Jonathan, Jenny langsung menurunkan pandangannya seperti orang yang baru saja tertangkap basah, melihat hal itu Jonathan langsung menaikkan sudut bibirnya.


"Oh, ya bagaimana rencana kita pergi ke pegunangan utara, apakah kau sudah bisa pergi ke sana?" tanya Chintia lembut, memecah semua keheningan dan ketegangan yang terasa bagi Jenny, Jenny mengerutkan dahinya.


 


"Kau yakin akan pergi ke sana?" tanya Jonathan dengan suara yang lembut, kenapa bahkan suaranya saja begitu sempurna, Jenny hanya mencuri-curi mendengar percakapan mereka, sebenarnya bukan mencuri, mau tak mau dia harus mendengarkannya.


 


"Ya, jadi ya, aku sangat ingin ke sana, ingat dulu kau pernah berjanji akan membawaku ke sana, tapi kau malah pergi ke Amerika, aku baca bulan ini adalah bulan yang paling tepat untuk melihat Aurora," ujar Chintia terkesan sedikit manja.


 


"Aurora?" tanya Jenny yang tanpa sadarnya langsung masuk dalam pembicaraan mereka, Chintia dan Jonathan menekuk wajah mereka melirik Jenny yang dari tadi diam namun tiba-tiba bersuara.


 


"Ya, Jonathan saat SMA pernah berbicara padaku kalau di daerah pergunungan utara adalah tempat yang sangat indah, di sana setiap malam kita bisa melihat aurora yang indah, kami sudah lama membuat rencana ke sana, namun tidak pernah terlaksana, bagaimana? bisakan sekarang?" jelas Chintia pada Jenny yang tertarik mendengarnya, bagaimana tidak, dia pun begitu menyukai Aurora, selama ini bibinya selalu menceritakan cantikanya cahaya utara itu, karena itulah dia diberi nama Aurora, berharap dia secantik Cahaya Utara yang selalu mewarnai langit malam.


 


Jonathan tidak lansung menjawab, dia sibuk memutar kemudi mobilnya menuju perumahan Royal Palace itu, mobilnya dicegat saat sebelum masuk ke area perumahan paling elit di negara itu, Jenny segera menurunkan kaca mobilnya, menunjukkan kartu pengenalnya yang langsung di kenali oleh para penjaga itu, mereka segera membukakan gerbang untuk dirinya.


 


Mobil masuk ke dalam perumahan yang sangat asri, awalnya saja tak ada rumah sama sekali, hanya ada taman dengan pohon-pohon yang menjulang cukup tinggi, sejauh mata memandang hanya warna hijau membentang, sebuah danau buatan terlihat, lapangan golf dan area santai, rumah-rumah di sana letaknya berjauhan, namun satu rumah bisa seluas lapangan sepak bola.


 


"Di ujung sana belok kiri, rumah pertama di samping danau," kata Jenny bersiap-siap, berkata demikian seperti memerintahkan supir taksi, dia sudah tak tahan duduk di jok belakang itu, terlalu risih.


 


"Baiklah, kita akan pergi, kapan kau inginkan, aku akan menyiapkan pesawat jetnya," kata Jonathan lagi tak ambil pusing, dia tidak membalas perkataan Jenny, hanya mengikuti arahannya, tak lama mereka melihat rumah mewah yang bahkan tamannya saja begitu lebar, tak ada pagar membatasi memang itulah peraturannya, hingga bentuk bagunan rumah bergaya eropa itu terlihat jelas, mobil mereka masuk ke halaman rumah yang di depan rumahnya terdapat sebuah air mancur yang indah.


 


Mobil mereka berhenti dengan sempurna di depan rumah itu, Jenny baru saja hendak membuka pintunya ketika dia ditegur oleh Chintia segera.


 


"Jenny, apakah kau ingin ikut ke pegunangan utara? Akan menyenangkan jika pergi bersama-sama, kau boleh mengajak Anxel juga," tanya Chintia dengan senyuman manis, membuat langkah Jenny untuk keluar sedikit terhenti.


 


"Tidak perlu, aku tidak suka dengan udara dingin," kata Jenny yang tersenyum sedikit terpaksa, "Terima kasih sudah mengantarku, kalian berdua berhati-hatilah.”


 


 


"Kau tahu sekali tentang Anxel ya? Baiklah, aku akan katakan padanya," kata Jenny lagi dengan senyuman sedikit sinis, merasa perlahan dan lembut Chintia mulai menusuknya.


 


"Jika dia tak ingin ikut jangan memaksanya, perjalanan ini aku buat khusus untukmu, kita saja yang akan melihat aurora nantinya, lagi pula wanita seperti dia tidak akan bisa bertahan di udara dingin, dia pasti takut kulitnya akan rusak karena itu," kata Jonathan.


 


Jenny terdiam, dia menyipitkan matanya melihat wajah Jonathan yang tampak tersenyum, namun kesan yang di tangkap oleh Jenny malah senyuman itu meremehkan dirinya, dia takut dengan dingin? Mana mungkin, dia hanya tak ingin melihat kemesraan mereka yang berlebihan, tapi lihat saja, dia dan Anxel pun bisa menunjukkan bagaimana kemesraan mereka, pasti! Akan jauh lebih  mesra dan mencengangkan dari mereka, pria ini sungguh salah menantang orang, pikir Jenny


 


"Baiklah aku akan ikut, aku akan mengajak Anxel juga, kabari saja kapan kalian perginya," kata Jenny sambil keluar dari mobil itu, Jonathan segera menurunkan kaca mobilnya, melihat wajah Jenny yang tampak tak bersahabat.


"Baiklah," kata Jonathan seadanya saja, lirikan matanya tajam.


 


"Kami pulang dulu ya," kata Chintia dengan wajah ceria, berhasil membujuk sepupunya itu untuk ikut bersama mereka, Jenny mengangguk tak semangat namun demi menghargai mereka yang sudah mengantarnya sampai di depan rumah, dia memberikan senyuman tipisnya.


 


 


----***----


 


 


Jenny berdiri kesal sambil menenteng koper kecilnya, berdiri di depan pesawat Jet pribadi milik Jonathan, entah kenapa dia bisa ada di sini, beberapa hari yang lalu dia setuju untuk ikut bersama dengan mereka, dia kira Anxel akan ikut juga karena menurut Chintia bahwa calon suaminya itu menyukai salju.


 


Benar, Anxel sangat menyukai, namun sialnya Jenny lupa, Anxel adalah dokter bedah yang sangat sibuk, jadwalnya saja sangat padat, tentu untuk liburan begini bukanlah hal yang mudah untuknya, jadi dia hanya punya waktu satu hari di sana, itu pun dia tak bisa ikut bersama dengan mereka saat berangkatnya, dia akan menyusul setelah semua pekerjaannya selesai.


 


Jenny menatap pintu pesawat yang terbuka, Jonathan berdiri di ambangnya, menjulurkan tangannya pada Chintia yang naik selangkah demi selangkah menapakkan kakinya masuk ke dalam pesawat itu, tak bolehkah dia membatalkannya sekarang? 2 hari ini dia harus bertahan menjadi nyamuk di antara sepasang kekasih yang akan terus memadu kasih di depannya ini.


"Hei, kau ingin diam saja di sana?" suara berat itu terdengar, membuyarkan lamunan Jenny yang sudah siap dengan segala keperluannya, sebuah mantel berwarna merah, syal berbahan wol putih melilit besar di lehernya, celana hingga bootnya, sebuah topi musim dingin ada di kepalanya, membuat wajahnya tampak imut dengan semuanya.