
Jared segera berjalan mendekati pamannya yang sedang menyalami beberapa kolega dan kenalannya, melihat Kiran ada di sana sepertinya pamannya pasti sudah tahu apa yang terjadi.
"Maaf mengganggu," kata Jared yang awalnya ingin langsung berbicara hal ini pada Jofan, Jofan langsung melihat Jared, dia segera tersenyum bangga, menarik keponakannya itu agar berdiri di sampingnya.
"Perkenalkan, ini keponakanku Jared Clark Jhonson, Jared perkenalkan mantan Perdana Menteri dan juga kepala kabinet kerja saat ini," kata Jofan memperkenalkan Jared pada orang-orang berpengaruh di pemerintahan, sebuah sinyal bahwa Jofan sudah menentukan penerusnya dalam pemerintahan.
"Sungguh penerus yang punya kharisma, aku yakin kau akan disukai oleh masyarakat seperti pamanmu, Jofan, kau tahu aku akan selalu mendukungmu," kata Mantan Pedana Menteri itu pada Jofan, Jofan menaikkan sudut bibirnya, tentu tahu apa maksudnya
"Ya, sangat mirip pamannya, aku yakin dia akan seberhasil pamannya, kau beruntung, belajar langsung dari yang sangat berpengalaman, suaraku akan jatuh padamu," kata kepala kabinet kerja itu tersenyum puas melihat penerus Jofan.
"Aku akan sangat berhutang Budi pada kalian berdua, kita akan membicarakannya lagi di lain waktu," kata Jofan segera menutup pembicaraan politik ini agar tak berlarut, bagaimana pun ini pesta pernikahan putrinya.
"Baiklah, selamat sekali lagi atas pernikahan putri anda," kata Mantan Pedana Menteri itu, mengangkat gelasnya lalu segera pergi.
"Ada apa?" kata Jofan yang tahu ada yang ingin disampaikan oleh Jared.
"Paman pasti sudah tahu tentang penyelamatan itu kan?" tanya Jared.
"Sudah, Jendral Ferdinan sudah melapor sebelum acara ini, apa mereka sudah melakukan tugas mereka?" tanya Jofan melirik ke arah Kiran.
"Sudah, mereka sudah melakukannya 40 menit yang lalu," kata Jofan.
"Bagus sekali, aku akan segera menelepon Pedana Menteri untuk membatalkan pertunangan Jenny," kata Jofan.
"Ya, ada sisi lain yang juga menguntungkan buat kita TM empire adalah salah satu perusahan paling besar di dunia, bukan lagi di negaranya, mereka punya anak cabang perusahaan dimana-mana, jika nantinya mereka mendukung kita dalam pemilihan, maka sudah bisa dipastikan kita akan memenangkan pemilihan ini," kata Jared melirik pamannya yang tak memandangnya, Jofan menaikkan satu alisnya, hanya dengan dukungan dari koleganya dan pihak militer yang setia padanya, dukungan dari pihak istana, kesempatan Jared untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di negara ini sudah cukup besar, tapi jika mereka bisa mendapat dukungan dari salah satu pembisnis terbesar, maka para kalangan pengusaha akan juga memihak pada mereka, Jared sudah di pastikan menang.
"Benar," kata Jofan tenang, dia melirik ke arah Jared, sepertinya keponakannya ini memang ditakdirkan menjadi presiden, semua dewi Fortuna benar-benar memihaknya.
"Tuan, selain itu, Tuan Jonathan sudah ada dan menunggu di luar gerbang," kata Kiran pelan, Jofan dan Jared berlempar pandang.
"Dia pasti ingin bertemu Jenny," kata Jared.
"Baiklah, izinkan dia masuk, Jenny juga pasti sangat ingin bertemu dengannya, bawa Jonathan ke tempat ruangan pertemuan khusus, kedatangannya ke sini jika dilihat oleh wartawan akan mencurigakan," kata Jofan memberikan perintah.
"Aku akan memberitahukan Jenny tentang ini, dia pasti sangat senang," ujar Jared.
"Baiklah," kata Jofan.
Jared melirik ke arah Suri sejenak sebelum dia memulai langkah menuju adiknya, melihat ibu mertuanya sudah menemani Suri, dia sedikit lega meninggalkan Suri lebih lama.
Jared memulai langkahnya, menuju ke arah adiknya yang masih saja terlihat sedikit Linglung.
"Jenny," sapa Jared.
"Kak!" kata Jenny terhenyak kaget, dia sudah menunggu ini, dia kira kakaknya akan mengabarinya lewat ponsel, tapi ternyata kakaknya datang sendiri, "bagaimana? apa sudah ada kabar? apa sudah tahu dimana dia?" tanya Jenny langsung bersemangat, sebenarnya cemas, sudah dari tadi dia ingin bertanya hal ini.
"Tenanglah dulu," kata Jared melihat Jenny begitu menggebu-gebu.
"Aku tidak bisa tenang, Anxel melukainya, aku khawatir dengannya," kaya Jenny dengan air matanya yang kembali berkumpul di mata lelahnya.
"Jangan menangis, Jonathan ada di sini," kata Jared yang sebelumnya menatap sekitarnya, memastikan dia aman menyampaikan informasi ini pada Jenny.
"Dia di sini?" tanya Jenny lagi, memastikan dia tak salah dengar.
"Ya, dia ada di ruang pertemuan khusus, dia menunggumu di sana," kata Jared.
"Benarkah?" kata Jenny dengan senyum merekah, menghapus air matanya dengan keras, dia langsung memeluk kakaknya dengan erat tanda dia begitu girang mendengarkan kabar dari kakaknya.
"Ya, sekarang kau ikut asistenku nanti, dia akan mengantarkanmu ke sana, tapi Ingat, jangan ada yang tahu bahwa Jonathan ada di sini, jangan keluar sebelum aku mengatakan aman untuk kalian keluar," kata Jared, Jenny mengangguk mengerti, dia tak bisa membendung air mata bahagianya.
"Terima kasih, Kak," kata Jenny.
"Baiklah, ayo," kata Jared, tahu benar adiknya sudah tak bisa lagi menunggu pria yang dicintainya itu.
Jared membawa Jenny menemui asistennya, memberikan bisikan perintah untuk asistennya lalu asistennya yang sudah mengerti langsung membawa Jenny pergi dari sana.
Suri hanya memandangi kelakuan Jared saja. Jared yang menangkap pandangan istrinya hanya melemparkan tipis ciri khasnya.
Jenny berjalan cepat, bahkan Rian harus mengimbanginya, Rian segera membawa Jenny ke ruang pertemuan khusus di istana utama yang cukup sepi karena semua terkonsentrasi di aula utama istana itu.
Jenny perlahan membuka pintu ruangan itu, ternyata masih kosong, Jonathan belum sampai di sana.
"Dimana dia?" tanya Jenny, dia tak percaya kakaknya berbohong, seumur hidup dia mengenal kakaknya, dan berbohong bukanlah sifat Jared.
"Asisten Tuan Jofan sedang memanggil beliau di sini, Nona Muda, Anda bisa menunggunya di sini," kata Asisten Jared.
"Baiklah, terima kasih," kata Jenny.
"Sama-sama Nona Muda, Saya akan berjaga di luar," ujar Asisten Jared, dia segera meninggalkan Jenny sendiri di ruang cukup besar itu, duduk dia di salah satu sofa yang ada di dekat pintu itu, ingin agar saat Jonathan masuk, jonathan akan langsung melihatnya.
Jenny menunggu dengan cemas, dia memainkan jari jemarinya, detik jam antik di sana menambah kegugupannya, benarkah Jonathan akan hadir? bagaimana keadaannya? jika Anxel menyiksanya, bukankah lebih baik dia di rumah sakit? pikiran itu melayang-layang dalam otaknya, menunggu 1 menit bagaikan beribu tahun lamanya.
Jantung Jenny serasa berhenti berdetak dan napasnya langsung tersekat kala mendengar derit pintu yang terbuka, seirama dengan pintu terbuka dia pun berdiri mengamati sosok yang akan datang masuk ke dalam ruangan itu.
Matanya bulat membesar, melihat sosok yang sudah dia nantikan, pria yang memenuhi pikirannya bahkan membuatnya tak bisa memikirkan apapun lagi bahkan dirinya sendiri, sekarang berdiri di depannya.
Jonathan menatap wajah gadisnya yang cantik, tampak begitu tertekan dan lelah, dia tahu Jenny pasti begitu tersiksa, seperti dia juga tersiksa karena tak bisa melihat cintanya ini dari kemarin.
Jonathan menyunggingkan senyumannya perlahan, matanya nyatanya juga basah karena pertemuan ini, Jenny bahkan sudah berlinang air mata dari saat pertama melihat Jonathan, apalagi melihat tangannya yang harus tersanggah dan luka lebam di area wajahnya.
Jonathan merentangkan tangan kirinya, Jenny tentu tahu artinya, tanpa menunggu lama dia segera menghambur ke arah pria itu, Jonathan menangkap tubuh kecil gadisnya dalam pelukannya, erat, menghirup dengan sangat dalam wangi tubuh Jenny yang begitu dia rindukan, mereka berpelukan dalam tangis kebahagiaan.
Sesaat pelukan itu tapi dalam, Jenny memandang wajah Jonathan yang langsung disambut ciuman yang penuh perasaan dari Jonathan, seolah Jonathan ingin melepas semua rindu yang sudah dia tahan, Jenny pun begitu, ingin melampiaskan gundahnya yang akhirnya menemukan obatnya.
Dalam ciuman itu terasa namun hanya diam, aduan napas hangat menerpa pipi keduanya, menikmati kedekatan yang tercipta, Jonathan perlahan melepas bibirnya, membiarkan dirinya untuk melihat Jenny lebih jelas, seperti biasa Jenny masih menutup matanya menikmati perasaan yang Jonathan berikan padanya, begitu nikmat untuk tak diresapi.
Jenny membuka matanya, menatap senyuman tipis nan manis itu, sorot mata Jonathan penuh cinta dan rindu, rasanya begitu indah bisa kembali melihat mata kuning safir itu begitu dekat.
"Aku kembali untukmu," kata Jonathan, membuat Jenny segera masuk kembali dalam pelukan pria itu, rasanya tak ingin melepasnya lagi dan membiarkan perasaan indah ini bertahan lebih lama untuk dapat dinikmati.