
Jenny hanya diam memainkan kedua tangannya, saat dokter itu keluar dari ruang tengah bersamaan dengan itu Jared baru saja tiba dan segera masuk menuju ruang tengah rumah mereka, dia datang sendirian.
"Jared?" sapa Aurora sedikit kaget anaknya itu datang berkunjung tanpa pemberitahuan sebelumnya, Jenny yang mendengar hal itu segera melihat ke arah kakaknya.
"Paman, Bibi, aku datang karena .... " kata Jared melihat Jenny yang berwajah muram, matanya bengkak, Jared mengerutkan dahinya.
"Aku sedang ingin berbicara dengan kakak, karena itu aku meminta kakak untuk datang, Paman, Bibi, bolehkah aku berbicara dengan kakak berdua?" kata Jenny yang menatap Jofan dan Aurora.
Aurora dan Jofan saling melempar pandang, dari tadi pagi semuanya terasa sangat aneh bagi mereka, kepulangan Jenny, tiba-tiba melakukan pertunangan, Chintia yang tiba-tiba kolaps, lalu Jared yang biasanya selalu memberitahu kedatangan juga berkunjung dengan Suri datang begitu saja, apalagi tahu bahwa Jenny ingin berbicara dengan Jared berdua, semua begitu mencurigakan.
"Baiklah, kami juga ingin melihat Chintia dulu, berbicaralah," kata Aurora yang merasa mungkin Jenny ingin mencurahkan isi hatinya pada kakak kembarnya itu.
Jofan dan Aurora segera berdiri dan meninggalkan kakak beradik itu berdua, Jared masih diam mengamati Jenny, Jenny yang melihat paman dan bibinya sudah pergi segera berdiri dan menarik tangan Jared, membawanya langsung ke daerah balkon di samping rumah mereka, menutup pintu geser kaca dan dia memastikan tidak ada yang mendengarnya.
"Jenny ada apa?" tanya Jared memandang adiknya yang tampak gusar di depannya, tatapan dari mata tajam namum lembut itu membuat Jenny hanya diam, ragu sebenarnya, namun bagaimana lagi dia bisa menolong Jonathan, tak mungkin hanya sendiri bukan.
"Aku butuh bantuan Kakak, benarkah kita bisa melacak seseorang dari nomor ponselnya?" tanya Jenny dengan mata berharapnya.
"Bisa, tapi siapa yang kau ingin lacak," tanya Jared mengerutkan dahinya.
"Jonathan."
"Jonathan?"
"Ya, dia anak Paman Liam, saat ini dia sedang disekap, itu semua gara-gara aku, karena itu aku ingin menolongnya," kata Jenny yang bingung bagaimana harus menjelaskannya pada kakaknya.
"Jenny, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jared.
Jenny menarik napasnya, dia melihat kembali sekelilingnya, Jared bisa melihat pancaran ketakutan dari mata Jenny, sebenarnya apa yang sudah terjadi di sini.
Jenny segera menceritakan semuanya, air matanya kembali mengalir deras, mendengar dan melihat linangan air mata adiknya yang sudah sangat lama tidak di lihatnya, Jared hanya bisa terdiam, memberikan pelukan hangat yang menenangkan, membiarkan Jenny mengeluarkan semua rasa dan emosinya yang terpendam, Jared tahu, Jenny terluka dan ketakutan pada saat yang sama.
"Bagaimana bisa kau tidak menceritakan ini pada Paman? sesorang dalam bahaya, kau dalam bahaya, aku tidak akan setuju jika kau menikah dengan pria seperti dia, Paman juga akan sangat marah jika kau tidak mengatakannya, mengetahui bahwa kau menutupi kesalahan Anxel, dan dia sudah setuju menerima pertunangan kalian," kata Jared yang sedikit terpancing emosinya, tangannya sampai mengepal, bagaimana ada seorang pria yang sudah memperlakukan adiknya seperti ini.
"Aku takut, keluarganya adalah pedana menteri sekarang, mereka punya kuasa, jika paman tahu, pasti dia akan membuat perhitungan dan masalah ini akan sangat besar, dan keluarganya juga akan membuat masalah untuk keluarga kita," kata Jenny yang takut keluarganya tekena masalah terlebih nantinya Jonathan akan merasakan imbasnya.
"Tapi Jenny ini bukan perkara main-main, dia sudah mencelakakan Jonathan dan juga sudah mengancammmu, aku mungkin bisa melacak Jonathan, tapi bagaimana caramu menyelamatkannya, kau tidak mungkin datang ke sana sendirian, kau perlu bantuan setidaknya polisi untuk bisa menolongnya dan aku rasa yang terbaik adalah menceritakannya pada paman," kata Jared yang memperhatikan Jenny yang masih tampak ragu.
"Tapi aku tidak bisa melakukannya, Aku yakin paman akan sangat marah, lagi pula paman harus memikirkan pernikahan Ceyasa besok, dia pasti sangat sibuk memikirkan semuanya, karena itu aku mohon pada Kakak, Kakak pasti bisa melakukannya kan? melacaknya, lalu kita bisa mencoba untuk berpikir bagaimana cara melepaskannya? aku hanya butuh tahu dimana dia sekarang," kata Jenny lagi menatap ke arah Jared.
"Baikalah, aku akan membantumu, jangan khawatir, " kata Jared lagi mengulas senyum lembut.
Jenny sedikit mencoba membalas senyuman Jared namun nyatanya tak bisa, Dia hanya mengulum sedikit bibirnya, menatap penuh harap pada Jared.
"Chintia ada di sini?" tanya Jared lagi.
"Ya," kata Jenny.
"Lebih baik tak mengatakan apapun tentang hal ini, jika memang sesuai dengan ceritamu, dia pun tak bisa dipercaya, untuk sementara serahkan semuanya padaku, kau lebih baik tak pergi kemana pun, aku takut Anxel akan kembali menjadikanmu tameng saat nantinya kami menyelamatkannya," kata Jared menjelaskan pada Jenny, Jenny mengangguk mengerti, dia bisa jadi menyulitkan penyelamatan ini.
"Ya, Kak, aku mengerti," kata Jenny lagi.
Jared kembali tersenyum, dia mengusap air mata Jenny.
"Ayo, masuk, jangan sampai ada yang curiga jika kita terlalu lama berbicara, aku harus segera mencari keberadaannya," kata Jared mengayomi, Jared segera membuka pintu geser itu, tak jauh dia melihat Kiran, Asisten Jofan yang menghilang masuk ke dalam ruangan lain, Jared melihat itu hanya berwajah diam, dia tahu pamannya pasti sudah tahu.
"Kalau begitu kita pergi ke tempat Chintia, saat ini pastikan dia tak melakukan apa pun atau curiga dengan hal yang akan kita lakukan dan mengatakannya pada Anxel, itu tugasmu sekarang," kata Jared sedikit berbisik pada Jenny.
"Baik kak," kata Jenny mengerti, menghapus air matanya yang masih terlihat, mereka segera melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Jenny.
Saat mereka masuk, paman dan bibi mereka masih ada di sana, sedangkan Chintia sudah tampak sangat membaik walau kanula oksigen itu masih ada di bawah hidungnya, Chintia melirik ke arah Jenny, sorot matanya meredup, dia langsung menunduk, mungkin malu melihat Jenny.
Jofan langsung melihat ke arah Jared, mata mereka beradu sesaat, seolah hanya dengan tatapan itu mereka menyampaikan maksud mereka masing-masing.
"Chintia, bagaimana kabarmu?" tanya Jared dengan sedikit senyuman, walaupun tahu apa yang sudah dilakukan oleh Chintia terhadap adiknya, Jared tak ingin menunjukkan emosinya.
"Baik kak," kata Chintia sedikit tersenyum lemah membalas senyuman Jared.
Tak lama Kiran masuk, dia segera mendekati Jofan dan membisikkan sesuatu, membuat semua orang memandang mereka dengan tatapan bertanya, setelah Kiran menyampaikannya, Jofan lalu melirik sekejap ke arah Jared yang langsung ditangkap oleh Jared.
"Chintia, aku dengar ayah dan ibumu saat ini sedang ada di luar negeri, aku sudah menyampaikan keadaanmu pada kedua orang tuamu, aku juga sudah meminta agar kau bisa tinggal saja di sini untuk menjaga dirimu sementara waktu," kata Jofan setelah Kiran memberikan berita tadi.
"Eh, tidak perlu Paman, keadaanku sudah membaik," kata Chintia langsung berwajah sungkan.
"Tak apa, kami juga adalah keluargamu, jangan khawatir, lagi pula kalau kau sendiri dan tiba-tiba kau kambuh, tak akan ada yang membantumu, biar Bibi yang merawatmu," kata Aurora lembut sekali hingga tak ada yang akan mampu menolaknya.