Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 62 -



Jonathan dan Jenny yang masuk ke dalam ruangan itu sedikit kaget, melihat kedua orang tua Chintia dan Chintia juga ada di sana, dia tampak sedih dikelilingi keluarganya, juga Aurora yang mencoba menenangkannya, Aurora menatap Jenny dengan wajah yang bingung, membuat Jenny dan Jonathan mengerutkan dahinya, ada apa ini?


Jofan yang melihat Jonathan masuk dan dengan gamblangnya memegang tangan Jenny segera bangkit dari duduknya, dia berjalan dengan wajah tegas dan langkah mantap, berdiri di depan Jonathan yang merasa ada yang tak beres sepertinya.


Tanpa ada angin ataupun hujan, tanpa ada aba-aba apalagi peringatan, sebuah tamparan keras yang bahkan suaranya membuat semua orang di ruangan itu kaget, mendarat tepat di pipi Jonathan, membuat wajah Jonathan merah seketika, Jenny kaget dan membesarkan matanya, kaget dengan apa yang dilakukan oleh pamannya.


Liam yang melihat anaknya ditampar di depan matanya langsung ingin bangkit, namun Raphael yang juga berwajah ketat itu segera merentangkan tangannya, melarang Liam untuk bergerak, Liam mau tak mau kembali duduk.


"Paman ada apa ini?" pekik Jenny cukup histeris, kenapa tiba-tiba saja pamannya menampar pipi Jonathan, saking kerasnya tamparan itu, hingga menggema di ruangan.


Jofan melihat ke arah Jenny, dengan paksa menarik tangan Jenny, Jonathan yang melihat Jofan menarik tangan Jenny mau tak mau harus melepaskannya, tak ingin membuat Jenny merasakan sakitnya.


Jofan tak memalingkan padangan yang di dominasi rasa marah itu, Jonathan bingung dengan semua hal ini, apalagi saat dia melihat pamannya, pamannya itu juga terlihat gurat kemarahan yang nyata.


"Mulai saat ini aku melarang keras kalian untuk berhubungan, kau tak boleh menyentuh bahkan sehelai rambut saja dari Jenny," kata Jofan menunjuk batang hidung Jonathan dengan sangat marah, benar-benar seperti ingin menerkam Jonathan, Jenny yang mendengar itu tentu kaget dan langsung berontak, dia ingin melepaskan pergelangan tangannya yang tergenggam oleh Jofan erat.


"Paman, lepaskan! apa-apaan sih ini? Paman!" teriak Jenny yang merasa pamannya sudah sangat keterlaluan.


"Berhenti Jenny! apa kau tidak malu, bagaimana bisa kau melakukan hal ini pada sepupumu sendiri!?" kata Ibu Chintia yang tampaknya juga terbakar emosi, semua orang di dalam ruangan itu sepertinya memang sudah terkuasai oleh amarah.


Jenny mengerutkan dahi, menatap wanita yang notabene adalah bibinya juga, dia sepertinya mengerti apa yang terjadi.


"Apa yang Chintia katakan pada kalian?" kata Jenny, dia lalu melirik ke arah Chintia yang langsung tampak gugup saat Jenny mengatakan hal itu, Jonathan pun hanya melihat ke arah Chintia.


Chintia hanya terdiam, dia hanya memainkan tangannya sambil tertunduk tak bisa mengeluarkan kata-kata apapun, Jenny geram melihat tingkahnya yang sok polos itu.


"Apa yang kau katakan pada mereka semua! Chintia, apa yang sudah kau katakan!" teriak Jenny histeris ingin menerkam Chintia, untung saja tangannya masih di genggam oleh Jofan, dan ibu Chintia yang kaget dengan hal itu segera menghadang Jenny, melindungi putrinya dari Jenny, Jenny sudah kehilangan kesabarannya, dia tahu pasti, rasanya Chintia pasti sudah memutar balikkan semua kenyataan, dia tak bisa menahan diri, gadis itu yang tega pada dirinya.


"Jenny!" tamparan melayang ke pipi Jenny yang mulus, membuat Jofan dan Aurora selaku pengganti orang tua Jenny langsung kaget menatap ibu Chintia yang marah itu.


"Jangan sentuh anakku," ujar Aurora yang segera menyalip di antara Jenny dan Gladys, ibu Chintia, Jofan juga sebenarnya marah saat Gladys menampar Jenny, namun dia menahan diri karena masih ingat Gladys adalah wanita.


"Bagaimana bisa kau membela anakmu yang sudah sangat jelas salah, dia sudah merusak hubungan anakku dengan Jonathan sehingga Jonathan ingin membatalkan pertunangan, padahal anakku sedang hamil anak Jonathan," Histeris Gladys yang sudah tak bisa mengontrol dirinya sendiri, baginya, malang benar nasib anaknya ini, sejak kecil menderita penyakit, saat memiliki pasangan, putrinya malah dipermainkan, bahkan yang merusak hubungan putrinya adalah sepupunya putrinya sendiri, Gladys menangis histeris hingga ayah Chintia harus memeluknya.


Jonathan pun kaget bukan main, Chintia hamil? bagaimana dia bisa dituduh menghamili Chintia, bahkan untuk menciumnya, Jonathan enggan.


"Tidak, Tidak mungkin Chintia hamil, kalaupun dia hamil itu bukan anakku!" tegas Jonathan yang segera ingin meluruskan semua perkara ini.


"Cukup Jonathan! kau tidak perlu bersikap seperti pengecut, kau adalah tunangan Sah dari Chintia, dan berani-berani kau mendekati Jenny," geram Jofan pada Jonathan.


Awalnya, setelah melewati berbagai pengamatan, tentang tingkah dan laku Jonathan pada Jenny, Jofan mulai mengenyampingkan ketidakcocokannya dengan ayah Jonathan, tak fair rasanya melarang Jenny berhubungan dengan Jonathan hanya karena mereka bermusuhan, lagi pula dia sudah tahu rasa cinta dilarang, dan dia tak ingin satupun keluarganya terutama anaknya mengalami hal yang sama.


Namun, setelah dia mengetahui segalanya, Jofan langsung tak bisa menerimanya, Jonathan bisa-bisanya menggoda dan mendekati anaknya dimana statusnya adalah tunangan Chintia, apalagi setelah tahu Chintia hamil, Jofan benar-benar tak habis pikir.


"Tapi aku benar-benar tak pernah melakukan apapun padanya, aku bahkan tak pernah menyentuhnya," kata Jonathan berusaha untuk membela dirinya.


"Jonathan, jadilah orang yang bertanggung jawab," ujar Raphael yang akhirnya angkat bicara dengan hal ini, sepertinya dia sudah pernah mengalami hal ini dulu, seperti de javu, dia kembali mengalaminya.


"Paman, aku benar tak melakukan apapun, paman mengenalku kan? jika aku melakukan sesuatu, aku akan mengakuinya," kata Jonathan yang segera memandang pamannya, Raphael hanya diam mengamati wajah Jonatan, yang Jonathan katakan benar adanya, sejak kecil dia mendidik Jonathan, dan anak ini tak pernah lari dari tanggung jawabnya.


"Apa buktinya kau hamil?" tanya Jenny yang mencoba membela Jonathan, dia tahu Jonathan, bahkan bagaimana pun mereka, dia tak pernah ingin menyentuhnya lebih lanjut.


Gladys mengambil kertas yang ada di meja, melemparkannya pada Jenny, Jenny segera mengambilnya, melihat ke arah kertas itu dan di dalam kertas itu, bukti pemeriksaannya sudah ada, Chintia benar-benar positif hamil, Jenny menutup bibirnya yang terbuka tak percaya, pandangannya memburam melihat ke arah Jonathan, Jonathan tahu isi surat itu seketika.


"Aku bukan ayah anak yang dikandung Chintia," kata Jonathan menahan amarahnya, bahkan otot-otot rahangnya terlihat jelas, menandakan dia menekan gigi-giginya begitu keras.


"Aku tak akan melakukan hal itu dan aku tak akan menghamili siapapun sebelum aku menikah dengan seorang wanita, itu adalah janjiku pada diriku sendiri! karena aku tahu, gara-gara kehadiran akulah ibuku dan ayahku harus terjebak dalam lingkaran pernikahan paling mengenaskan sedunia! dan aku tak akan mengulangi hal itu, aku tak pernah melakukan hal itu seumur hidupku, bahkan pada Jenny walau aku sangat mencintainya!" ujar Jonathan menatap lurus dan tajam pada pamannya Raphael, Raphael yang biasanya selalu menang dalam tatapan itu, kali ini merasa tak bisa melihat tatapan serius dari Jonathan , dia memalingkan wajahnya, Liam hanya diam saja, kesalahannya dulu, terungkit kembali.


___________________________________


Hai Kak, hanya ingin memberitahu, bagi yang menunggu cerita Tentang Rain, aku udah Publish loh, ada di novel baru Rain in the winter. Hehe... semoga suka ya kak.


Gendrenya Romance, Action dan pertualangan ya.