Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 24 - Dia Merubahku menjadi begini.



Jonathan duduk di lounge bandara, sebenarnya dari tadi pagi dia sudah mengatur penerbangannya untuk kembali ke Ibukota negaranya,, namun karena cuaca yang tidak mendukung, mau dia harus menunggu cuaca untuk bisa lebih mendukung penerbangannya.


Jonathan terpaksa pergi, dia tak akan sanggup menutupi perasaannya saat ini, berpura-pura di depan Chintia dan Anxel, namun yang tidak bisa dia tutupi adalah berpura-pura tidak mencintai wanita itu.


Jonathan mengambil bir yang sudah tersedia di depannya, meminumnya langsung dari botolnya, Asistennya tampak berdiri di dekatnya.


"Nona Chintia dan Tuan Anxel baru saja kembali ke Villa, Tuan," kata Asisten Jonathan memberikan penjelasan.


"Bagaimana dengan Nona Jenny?" tanyanya, memang tak bisa meninggalkan Jenny dalam pikirannya.


"Sejauh ini Nona Jenny belum keluar dari kamarnya," kata Asisten Jonathan sambil melihat laporan dari ponselnya.


Jonathan kembali terdiam, meminum kembali minuman keras itu dari botolnya, matanya kosong menatap lurus ke depan, kenapa sakitnya sama sekali tidak berkurang.


Tiba-tiba ruangannya diketuk, membuat Jonathan sedikit mengerutkan dahinya, ini adalah lounge khusus untuknya, jadi sangat aneh jika ada orang yang mencarinya, Asisten Jonathan pun segera membuka sedikit, begitu melihat sosok yang berdiri di depan pintu itu, Asisten Jonathan tampak kaget, dan langsung membukakan pintunya, membuat Jonathan segera menegakkan tubuhnya, siapa yang sudah berani mengganggunya.


Pintu terbuka, menunjukkan sesosok wanita muda yang tampak sangat manis, tubuhnya tinggi dan kecil, rambutnya yang panjang dan tebal tampak bersinar, dengan senyuman sumringah dia langsung masuk dengan santainya, segera menghambur melihat sosok Jonathan.


"Kak Jojo, ternyata benar kau di sini," ujarnya senang, tanpa basa-basi langsung memeluk erat Jonathan yang bahkan kaget melihat kedatangannya, sesaat dia memeluk Jonathan dan segera mencium pipinya, dia duduk di samping Jonathan, Jonathan tampak kaget melihat wanita muda itu di sisinya.


"Valerie, Kenapa kau ada di sini?" tanya Jonathan kaget.


"Yah, aku sedang liburan, lalu berpikir untuk mencari tempat liburan, terlalu bosan untuk berkeliling eropa di tempat biasa, jadi aku pergi saja ke sini, Ayah juga menyuruhku untuk meninjau hotel milik kita di sana," kata Valerie membuka kaca mata hitamnya.


"Oh, sekarang kau mengurusi hotel itu?" tanya Jonathan dengan wajah datarnya, tak bisa menutupi bagaimana perasaannya saat ini.


Valerie menaikkan satu alisnya, tak biasanya melihat wajah suram Jonathan seperti ini, biasanya pria ini penuh dengan daya yang memikat, bahkan jika mereka bukanlah sepupu, maka mungkin Valerie pun akan setengah mati mendapatkan cintanya, sayangnya mereka adalah sepupu.


"Yah, Ayah menyuruhku begitu, katanya aku terlalu banyak bermain, ada apa dengan wajahmu? katakan padaku," kata Valerie menggelayut manja pada Sepupunya itu, hal ini memang sering dia lakukan. "Apa kau sedang patah hati?" tebak Valerie yang asal-asalan, padahal Valerie tahu bahwa tak mungkin seorang Jonathan Medison bisa patah hati.


Jonathan melirik Valerie yang tersenyum manja padanya, sebenarnya terlalu muak dengan senyuman-senyuman seperti ini, tiba-tiba saja dia ingat bagaimana senyuman Jenny di saat dia membawanya melihat Aurora kemarin malam.


"Apa begitu terlihat?" tanya Jonathan yang hanya melirik ke arah Valerie, Valerie membesarkan matanya, mulutnya terbuka lebar, wajahnya tercengang, benar-benar terkejut mendengarkan apa yang sudah di katakan oleh Jonathan, apa dia tidak salah dengar?


"Are you Serious? like kau benar-benar sedang patah hati? patah hati yang sakit itu?" tanya Valerie tampak sedikit berlebihan, namun dia nyatanya tak berlebihan, tak pernah menyangka seorang Jonathan yang hidupnya bahkan tak pernah lepas dari wanita bisa merasakan patah hati.


"Wah, siapa dia? aku harus bertemu dengan wanita yang sudah membuat seorang Jonathan patah hati, perkenalkan padaku, apa perlu aku turun tangan untuk mengatasinya?" tanya Valerie, memberikan kode untuk pelayan yang ada di sana untuk membawakan satu bir yang lain.


"Tak perlu, aku sudah tahu bagaimana perasaannya padaku, tapi dia hanya tak mau menyakiti perasaan sepupunya," kata Jonathan menekan kedua bibirnya, merasa menyesal bertunangan dengan Chintia.


"Sepupunya? apa hubungannya?" tanya Valerie santai, menyalakan sebuah rokok di samping Jonathan, Jonathan melirik ke arah sepupunya itu, mengambil rokok yang baru saja dihisap oleh Valerie, menekannya pada asbak dan Valerie yang melihat itu sedikit mengerucutkan mulutnya, dia melirik kesal pada Jonathan.


"Apa paman Rafael tahu kau merokok seperti ini?" kata Jonathan sedikit berwajah keras.


"Ayahku tak akan tahu jika kau tidak memberitahunya, lagi pula aku sudah mulai ingin berhenti, jadi jangan adukan aku pada ayahku," kata Valerie menarik satu lagi rokok dari kotaknya, baru saja meletakkannya di antara dua bibirnya, Jonathan segera menariknya.


"Maka berhentilah kalau begitu," kata Jonathan, sekali lagi membuat Valerie kesal, dia melihat pelayan membawakan pesanannya, matanya berbinar ingin mengambilnya, namun Jonathan langsung menyambar botol itu, dan memberikannya pada Asistennya, Asistennya tahu bahwa dia harus menyingkirkannya, Valerie benar-benar kesal melihat Jonathan, liriknya tajam namun wajahnya merajuk, "Jangan mencoba menjadi ibuku," kata Jonathan lagi.


"Hah, baiklah, jadi bagaimana tadi? apa hubungannya dengan sepupunya?" tanya Valerie, matanya kembali membesar melihat cincin emas dengan potongan sederhana melingkar di jari manis Jonathan, "kakak! sejak kapan kau?!" menarik tangan Jonathan dan tahu percis, itu cincin tunangan.


"Beberapa minggu lalu, aku bertunangan dengan sepupu gadis yang aku sukai, belum bertunangan secara resmi, maka belum ada pengumuman di keluarga kita," kata Jonathan, melirik ke Cincin itu, dia lalu segera membukanya, menaruhnya dalam saku jasnya.


"Tunggu dulu, kau menyukai seorang gadis, tapi kau malah bertunangan dengan sepupunya," kata Valerie dengan gayanya, merasa bingung, kenapa bisa begitu?


"Ya," kata Jonathan enteng.


"Sial, Kakak, kau ini bagaimana sih? kalau suka sama satu wanita, kau harusnya bertunangan dengan dia, bukan sepupunya," kata Valerie enteng, menghempaskan tubuhnya ke sofa yang empuk itu, Jonathan melirik adik sepupunya itu, tentu tahu itu yang seharusnya dia lakukan.


"Ya, aku sudah melakukan kesalahan, sekarang wanita itu memaksaku untuk melupakannya dan terus mendorongku untuk melanjutkan pertunangan itu, dia tak ingin menjadi biang kesedihan dari sepupunya itu," kata Jonathan lagi.


"Sepertinya gadis yang kau sukai ini cukup punya prinsip, bukannya biasanya tak ada yang bisa menolak seorang pewaris tunggal Medison," goda Valerie.


" Ya, dia memang gadis yang berbeda, punya prinsip yang kuat, selalu menganalisa segalanya, terkadang terlalu percaya diri, angkuh, sombong …." ujar Jonathan membayangkan kembali sosok terkasihnya itu, mengundang senyum manisnya.


"Wow, ternyata tipe yang kau suka lain dari pada yang lain."


"Dia gadis yang merubahku sehingga jadi begini."


"Kau serius? gadis itu? yang pernah kau ceritakan padaku itu?" tanya Valerie lagi, sedikit tertarik, Dia pernah mendengar cerita tentang gadis yang membuat Jonathan bisa berubah 180 derajat ini, dari seorang kutu buku menjadi Don Juan bagi semua wanita.