
Jenny membesarkan matanya saat pria itu menyeretnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dekat ruangan Anxel, Jenny tentu sudah berusaha berontak, namun kekuatan pria yang bertubuh gagah tentu lebih besar dari pada Jenny, hingga perlawanan Jenny pun sama sekali tidak berefek padanya.
Setelah Jenny dibawa ke ruangan gelap itu, Pria itu melepaskan bekapannya, namun pria itu tetap menahan Jenny dengan cara memegang tangannya, Jenny terus berontak, dia memukul apapun yang dapat dia jangkau, dan tiba-tiba lampu ruangan itu hidup namun Jenny masih membabi buta memukul pria yang dia rasa ingin menculiknya.
"Hey, Jenny, ini aku, ini aku," kata Jonathan yang mencoba untuk menenangkan Jenny yang tampak masih histeris, dia mencoba memegang tangan Jenny yang terus saja memukul dirinya, mendengar suara berat itu, Jenny akhirnya berhenti, membuka matanya lebar-lebar melihat sosok di depannya itu, Jonathan pun berhasil memegang tangan Jenny.
"Kau ini kenapa? sedang apa kau di sini? kenapa kau malah menarikku!" tanya Jenny sedikit masih histeris, dia masih syok karena hal yang baru saja dia lihat, lalu juga karena pembekapan yang dilakukan oleh Jonathan, padahal dia baru saja ingin menangkap basah kedua pasangan itu, sehingga dia bisa membereskan semuanya, mungkin itu adalah jalannnya untuk bisa bersama pria yang ada di depannya saat ini.
"Kau yang kenapa? kenapa tidak mengangkat panggilanku?" kata Jonathan dengan mata yang sedikit serius, Jenny lalu terdiam, wajahnya sedikit bingung ingin mengatakan apa, tapi sepertinya itu tidak penting untuk dibahas sekarang.
"Sudah, nanti aku jelaskan, itu tidak penting, sekarang ada yang lebih penting dari itu," kata Jenny yang menggebu-gebu.
"Bagaimana tak menjawab panggilanku itu tidak penting?" kata Jonathan memicingkan sedikit matanya.
"Nathan, aku baru saja melihat Anxel mencium Chintia sebelum kau menarikku ke sini, padahal aku baru saja ingin menangkap basah mereka, kau ini!" kata Jenny yang geram, kalau saja Jonathan tidak menariknya dari sana, pasti dia sudah menyerang Chintia dan Anxel sekarang.
"Aku sudah tahu, karena itu aku menarikmu ke sini, jika kau menangkap basah mereka, mereka akan membuat rencana lain, aku rasa ada yang mereka rencanakan dibelakang kita," kata Jonathan yang sangat santai mengatakannya, membuat Jenny sejenak terdiam, wajahnya tak percaya Jonathan mengatakan hal itu, apalagi begitu santai dia mengatakannya, Jenny menyipitkan matanya, Jonathan menarik napasnya panjang, pasti Jenny punya pemikiran aneh bin ajaib lagi tentangnya, pasti ada kecurigaan, Jenny selalu melakukan hal itu jika dia curiga pada seseorang.
"Kau sudah tahu? jangan-jangan kau juga terlibat dengan hal ini, kau dan Chintia menjebakku, hingga membuatku suka padamu, kalian sengaja memainkan emosiku, begitu ya?" kata Jenny yang segera menunjuk ke arah Jonathan, Jonathan menghebuskan napas yang tadi dia tarik panjang, benar kan apa yang dia pikirkan.
Dia menarik Jenny lebih dekat dengan dirinya, memandang Jenny dengan serius, Jenny yang dipandang dengan mata indah itu tentu langsung terdiam, kenapa Jonathan memandangnya dengan mata yang begitu menghanyutkan.
"Katakan padaku, apa kau menyukaiku karena aku memainkan emosimu?" tanya Jonthan dengan suara beratnya, Jenny yang mendengar itu refleks menggelengkan kepalanya, "Untuk apa aku melakukan hal itu dan menyusahkan diriku sendiri karena aku tahu prinsip mu, kau sudah mengatakannya bahwa kau tidak akan ingin dekat dengan pria yang sudah memiliki pasangan, jadi jika aku memang ingin memainkan emosimu dan membuatmu menyukaiku, aku tidak akan melakukan hal seperti ini, selain itu, aku sudah tahu, kau pasti menyukaiku," jelas Jonathan yang sekali lagi berhasil membuat Jenny gagal napas.
"Jadi dari mana kau tahu?" tanya Jenny lagi setelah bisa keluar keterpanaanya.
"Aku akan jelaskan padamu, sekaligus menunjukkan sedikit bukti yang aku punya, ikut aku," kata Jonathan yang segera menarik tangan Jenny, Jenny hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh Jonahan.
Dia lalu segera menarik Jenny keluar dari sana, berjalan dengan segera menyelusuri lorong untuk menuju pintu keluar, namun belum jauh mereka melangkah meninggalkan ruangan tadi, tiba-tiba mereka terhenti, melihat sosok Anxel yang muncul saja entah dari mana dengan wajah dan senyumannya yang begitu memuakkan, dibelakangnya ada 2 orang pria berpakaian putih namun sepertinya tak cocok menjadi perawat ataupun dokter di sana, belum selelsai kekagetan Jenny dan Jonathan melihat Anxel dan 2 orang itu, Jenny segera melihat ke arah belakang, menemukan 3 orang lain yang juga berbadan kekar berjalan ke arah mereka, mereka seolah terkepung di lorong rumah sakit itu.
Jonathan menatap Jenny sekilas, wajah Jenny tampak begitu panik, sedikit kebingungan dengan keadaan yang tiba-tiba saja cukup mencekam baginya, Jonathan mengetatkan tangannya, membiarkan Jenny ada di belakangnya, dia lalu menyerongkan tubuhnya, membuat Jenny sekarang berada diatara Jonathan dan tembok rumah sakit itu, Mata Jonathan awas melihat orang-orang yang ada di kanan dan kirinya sekarang.
Anxel tersenyum sinis sedikit, dengan santai berjalan mendekati Jenny dan Jonathan, Jenny menyipitkan matanya memandang geram pada pria itu, sangat-sangat berbeda dengan tampangnya yang bak malaikat, namun ternyata seperti iblis.
Anxel berhenti di depan Jonathan, dia kembali mengembangkan senyumannya namun dengan sedikit kerutan di dahinya, dia mengarahkan tubuhnya, ingin melihat Jenny yang bersembunyi takut di belakang Jonathan.
"Kenapa tidak mampir?" tanya Anxel lembut pada Jenny.
"Lebih baik jangan mengganggunya," kata Jonathan menatap Anxel dengan emosinya.
"Lucu, seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu," kata Anxel menatap mata Jonathan, tampak tak gentar walau Jonathan memberikannya tatapan tajam.
"Aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau dan Chintia, bagaimana kalian bisa mempermainkan kami?" tanya Jenny yang memandang Anxel dengan tatapan marah, tak ingin menunjukkan ketakutannya pada pria itu.
"Benarkah? Sayang sekali, cepat sekali terbongkarnya," kata Anxel sangat-sangat tenang, hingga ketenangannya mengusik Jonathan apalagi Jenny yang hanya memandang pria itu aneh, "Katakan padaku, ingin dengan cara mudah atau dengan cara sulit?"
"Apa maksudmu?" kata Jonathan yang bingung, Jenny yang mendengarnya pun bingung.
"Serahkan dirimu, itu jika kau pilih dengan cara mudah, tapi jika ingin dengan cara yang sulit, kau boleh mencobanya, tapi aku tidak bisa menjamin tentang keselamatan Jenny, mereka tidak pandang bulu dalam melukai seseorang," kata Anxel yang mengucapkannya dengan senyuman manisnya, benar-benar membuat ngeri Jenny yang melihatnya, kenapa bisa dia bertemu dengan pria seperti ini, bahkan ingin bertunangan dengannya.
Saat Axel mangatakan hal itu, beberapa orang yang berbadan kekar tadi datang mendekat ke arah mereka, semakin mendekat membuat Jenny takut, dia bukan khawatir tentang keadaannya, dia malah khawatir dengan keadaan Jonathan.
"Menyerahlah, walau kau punya kuasa yang sangat besar di negaramu, tapi di sini kau bukan siapa-siapa, aku lah yang berkuasa," kata Anxel melirik ke arah Jonathan.