
Jonathan menapakkan kakinya di halaman sebuah gedung bergaya Eropa kuno, dia segera merapikan jasnya sambil melihat sebuah air mancur yang besar tepat di depan gedung itu.
Wajahnya datar, orang-orang yang baru pertama kali melihatnya pasti berpikir bawah dia adalah orang yang sangat dingin.
Tanpa senyuman sama sekali, dia masuk ke dalam restoran itu, dan begitu pintu terbuka, ternyata sedang ada sebuah acara pameran lukisan, Jonathan mengedarkan matanya, mencari sosok yang dia cari, seketika matanya mengunci sosok yang sedang berdiri tak begitu jauh darinya, tampak berbincang hangat, terbukti dari tawa dan senyumnya yang memuakkan bagi Jonathan.
Dia segera melangkah ke arah wanita itu, tangannya menggapai segelas Champagne yang diedarkan oleh seorang pelayan, dengan sekali teguh dia menghabiskannya, dan langsung meletakkan kembali gelas Champagne itu, kembali dia melangkah dengan mantap, menuju ke arah wanita itu.
Jonathan berhenti di belakangnya, dengan santainya dia melingkarkan tangannya ke pinggang kecil wanita itu membuat Chintia kaget.
"Minum Champagne saat sedang hamil bukannya sangat tak baik? lagi pula minuman itu bisa membuat penyakitmu makin parah," bisik Jonathan mengambil gelas dari tangan Chintia yang masih tersisa setengah terisi.
Semua orang yang tadinya sedang bercengkramah dengan Chintia kaget dengan kedatangan Jonathan, mereka menatapnya dengan tatapan terpesona, hanya Chintia yang memandang Jonathan dengan sangat kaget.
"Jonathan?" tanya Chintia, Jonathan menaikkan sedikit sudut bibirnya, memperlihatkan senyuman licik yang dia punya.
"Terkejut aku masih bisa berdiri, calon istri?" tanya Jonathan. Semua orang sungkan melihat ke Jonathan dan Chintia.
"Chintia, kami akan melihat lukisan yang lain ya," kata mereka meninggalkan Chintia, Jonathan hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Jonathan, bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Chintia yang masih tak habis pikir.
"Pertanyaan bodoh, tentu saja aku bisa ke sini? kau mengharapkan agar aku tetap di ranjang rumah sakit? kau sudah tak ingin aku mengakui anak Anxel sebagai anakku?" tanya Jonathan seolah hanya mereka saja yang ada di sana, Chintia membesarkan matanya, dia lalu melihat ke arah sekelilingnya, menatap mata-matanya yang memandangnya.
"Jonathan, apa yang kau katakan?" tanya Chintia mencoba mengelak.
"Putri seorang keluarga Hosten, hamil diluar nikah, dan memaksa seseorang Medison untuk menikahinya, mungkin akan menjadi berita utama di negara kami berminggu-minggu dan aku tak yakin cerita itu akan menyebar ke sini," kata Jonathan dengan nada biasa, membuat Chintia panik seketika, di sekitar mereka penuh dengan orang-orang kalangan atas, jika ada yang mendengarnya bagaimana?
"Jonathan!" kesal Chintia, namun masih dalam keadaan yang bisa mengontrol dirinya.
"Bagaimana jika aku memutarkan bukti video CCTV tentang kedekatanmu dengan Anxel, bagaimana bukti-bukti kalian menghabiskan waktu 1 malam di Honeymoon sweet cabin milikku?" tanya Jonathan menunjukkan flashdisk yang ada di tangannya, senyum sinis Jonathan mengembang.
"Jonathan, apa-apaan kau ini?" tanya Chintia yang mencoba meraih flashdisk itu, namun Jonathan menariknya kembali.
"Keluarga Hosten akan malu bukan? apalagi kau melakukannya saat sudah menjadi tunanganku, bagaimana malunya keluargamu, oh, mungkin pamanmu yang berstatus presiden pun akan mendapatkan imbas kelakuan nakalmu," ujar Jonathan, Chintia kembali membesarkan matanya.
"Kau tak akan berani," kata Chintia.
"Cobalah, aku pasti berani, seberani kau yang sudah menekan Jenny hingga dia harus meninggalkanku," kata Jonathan dengan wajah begitu kesal.
"Kau gila, mana mungkin aku melakukan hal itu pada sepupuku sendiri," kata Chintia lagi, pertengkaran mereka semakin menarik perhatian orang-orang, Chintia tentu risih karenanya.
"Benarkah? masih bisa bibirmu mengatakan dia sepupumu? lagi pula Anxel sendiri yang membenarkan bahwa kau lah yang melakukannya," kata Jonathan.
"Anxel yang membenarkan hal itu?" tanya Chintia tak percaya, bagaimana mungkin Anxel membuka tabir kejahatan yang dilakukan oleh Chintia.
Dia menarik dirinya dari Chintia, menatap wajah wanita yang yang ada di depannya itu sekarang, tampak begitu kaget dan bingung harus apa, tangannya yang memegang tas kecil itu tampak erat, Jonathan tahu wanita ini memendam emosinya.
"Baiklah, kemana kau akan membawaku?" tanya Chintia lagi.
"Aku tak mengizinkanmu banyak berbicara, ikut saja, kau bukan dalam keadaan yang bisa mengajukan banyak pertanyaan," kata Jonathan seketika saja menarik tangan Chintia, dia menariknya sedikit kasar, bahkan cukup cepat, hingga mereka dengan cepat keluar dari gedung itu.
Jonathan dengan kasar membuka pintu mobilnya, Chintia sedikit takut melihat sorot mata tajam milik Jonathan yang belum pernah dia lihat, sahabatnya yang dulu sangat ramah itu, ternyata bisa sangat menakutkan.
Jonathan menutup pintu mobilnya dengan sangat keras, seolah jika bisa lepas, mungkin saja pintu itu akan lepas, tak mengambil waktu lama, dia masuk dan duduk di samping Chintia, wajah ketat dan dingin Jonathan terus berlanjut, membuat Chintia tegang karenanya.
Mobil mereka melaju cepat ke sebuah tempat, sebuah restoran.
Jonathan segera turun, Chintia mencoba turun sendiri agar terbebas dari cengkraman tangan Jonathan yang tak ada lembutnya, Malah kasar dan begitu sakit.
Namun ternyata baru saja dia turun, Jonathan sudah ada di depannya, dan tanpa permisi sama sekali, Jonathan segera menggenggam pergelangan tangan Chintia lagi, membuat Chintia segera meringis kesakitan.
Jonathan menyeret Chintia masuk, dia lalu berhenti di depan salah satu pelayan di sana.
"Jonathan Medison," kata Jonathan memberitahukan pelayan siapa dia.
"Ruangan yang ada pesan sudah siap, silakan Tuan," kata Pelayan itu mengantar Jonathan yang masih mengenggam erat tangan Chintia, mereka di bawa ke lantai 2 restoran itu, ruangan khusus dan lantai yang sepi.
"Silakan Tuan," kata pria itu membukakan pintu.
"Aku tak ingin ada yang menganggu sebelum aku memanggil pelayan," kata Jonathan dengan suara beratnya.
"Baik Tuan," kata Pelayan itu.
Jonathan langsung masuk ke ruangan yang cukup luas dan tertutup itu, dia segera menghempaskan tubuh Chintia ke salah satu sofa yang ada di sana, Chintia yang dari tadi sudah takut melihat peringai dari Jonathan itu hanya bisa menatapnya seram.
Jonathan mendekati Chintia, hampir menindihnya dari atas namun Chintia berusaha berontak dan menghindar.
"Kau ini ingin apa?" tanya Chintia yang sangat ketakutan, dia bisa melihat kemarahan yang sangat dari mata Jonathan, Jonathan membuka jasnya, menggulung kedua lengan tangannya tapi terus melihat Chintia seperti ingin memangsanya hidup-hidup.
"Jonathan kau ini mau apa!" teriak Chintia yang histeris.
"Mau apa? tak ada, aku tunanganmu bukan, kalian yang membesar-besarkan masalah itu kemarin, Sekarang aku ingin mendapatkan hak sebagai tunanganmu, bagaimana kau bisa dengan senang hati memberikan diri dan tubuhmu itu dengan pria lain, sedangkan pada ku, tunanganmu, kau malah ketakutan," kata Jonathan mencoba menyergap Chintia, Chintia yang melihat hal itu segera kembali menghindar, Jonathan menyeringai sinis.
_________
Halo kakak2 ku tercinta, Alhamdulilah hari ini bisa nulis 4 bab, walau sampe sore dan belum up yang lain, wkwkkwk, semoga semua senangnya, terima kasih tetap setia membaca CM, apa sih yang bikin kakak-kakak suka sama Novel ini, haha, boleh dong tahu ya, Comment yang paling bagus ntar aku kasih kenang-kenangan dikit, hahaha