
Jenny bangun dengan sendirinya, menemukan dirinya sudah tertutup selimut tebalnya, dia menatap kamarnya, mengusap sejenak wajahnya yang terasa tebal karena bangun tidur, tubuhnya sedikit pegal, mungkin karena tidur di atas sofa di kamarnya ini.
Jenny ingat, saat dia kembali, dia tak punya minat sama sekali untuk berbaring di ranjangnya itu, dia memutuskan untuk duduk di Sofanya sambil menenangkan diri dari serangan Jonathan tadi dan juga mencari rasa kantuknya.
Tak di sangka, dia malah tertidur di sofa itu. Jenny mengangkat tubuhnya, sekali lagi melihat sekeliling kamarnya, ranjangnya sudah kosong, Anxel sepertinya sudah bangun.
Jenny menyibakkan selimutnya, kepalanya sedikit pusing, mungkin karena tertidur terlalu pagi, dia berjalan malas ke arah kamar mandi, sedikit malas untuk mandi walau sekilas dia lihat sudah terang dari jendela itu.
Jenny hanya membersihkan wajahnya, menggosok gigi dan juga sedikit merapikan rambutnya, setelah itu dia keluar dan turun dari kamarnya.
Berjalan melihat seluruh Villa yang sepi, kemana semua orang, saat dia masuk ke ruang makan, ternyata semua sudah berkumpul di sana.
"Selamat pagi," kata Chintia yang pertama menyapa Jenny, Jenny langsung terdiam melihat seluruh mata ke arahnya, Jenny melirik Jonathan yang menatapnya dengan sedikit guratan senyum, Jenny langsung memindahkan pandangannya pada Anxel yang menyambutnya dengan senyuman ramahnya.
"Kemarilah," pinta Anxel, bangkit lalu menarik kursi yang ada di sampingnya. Jenny langsung tersenyum senang, ternyata calon suaminya mengerti cara memperlakukannya setidaknya di depan orang-orang, Jenny duduk dengan anggunnya, mengambil air putih hangat yang telah di tuangkan, lidahnya masih sedikit tebal hasil terbakar kemarin malam.
Mereka segera menikmati sarapan mereka yang cukup hening, namun setelahnya mereka mulai mengobrol dengan cukup akrab, Jenny bahkan sedikit kaget melihat interaksi Jonathan dan Anxel yang tiba-tiba saja terlihat nyambung, namun mereka lebih banyak bercerita tentang Chintia, ya, mereka berdua adalah sahabat baiknya dulu.
Jenny di beberapa obrolan dapat mengikuti mereka, namun lebih banyak hanya ikut tertawa tak begitu mengerti, karena mereka lebih banyak menceritakan tentang masa lalu mereka.
"Oh, Ya Tuhan, jadi kau adalah Jojo? Chintia sering membicarakan tentangmu dulu, tapi sepertinya Chintia salah mendeskripsikan tentangmu, dulu katanya kau kurus, tapi aku rasa tidak," kata Anxel terdengar santai.
"Ya, seseorang mengubahku," kata Jonathan sambil melirik Jenny.
Jenny yang mendengar perkataan itu segera terbatuk, air yang dia minum masuk ke tenggorokannya, membuatnya segera tersedak, Anxel dan Chintia kage¹t melihat Jenny tersedak.
"Kau tak apa?" tanya Anxel meletakkan tangannya dengan lembut ke punggung Jenny, mengelusnya perlahan, membuat Jenny sedikit nyaman.
"Ya, tidak apa-apa, aku hanya tersedak," kata Jenny pada Anxel yang memandangnya cemas.
"Oh, berhati-hatilah," kata Anxel lembut, Jenny mengangguk, matanya melirik ke arah pria yang tampak di belakang Anxel, sedang menatapnya sekilas namun segera membuang pandangannya.
"Iya, terima kasih perhatiannya, aku beruntung sekali mendapatkan suami sepertimu," kata Jenny dengan senyuman paling manisnya, memegang bahu Anxel.
"Ugh, kalian begitu menggemaskan, benarkan Jo?" tanya Chintia menggelayut di tangan Jonathan yang sedikit kaget dengan aksi Chintia ini.
"Oh, ya, ehm, siang ini mau main ski?" tanya Jonathan seadanya, terkesan mengalihkan pembicaraan.
"Boleh, itu ide yang bagus," kata Anxel yang memang menyukai semua olah raga ditempat bersalju ini.
"Yah, aku kan tidak bisa main ski," kata Chintia terkesan manja.
"Aku akan membantumu," kata Jonathan, membalikkan suasana.
"Percayalah, dia susah sekali diajari tentang itu," kata Anxel menyaut, membuat Chintia cemberut melirik ke arah Anxel.
"Jangan membuka kartuku di sini, kali ini aku yakin aku akan bisa, kau saja yang tak sabar mengajariku," kata Chintia lagi.
"Aku hanya mengingatkan calon suamimu agar memiliki kesabaran ekstra mengajarimu tentang hal itu, semoga Jonathan bisa melakukannya, Aku saja 10 tahun ini tak bisa mengajarimu," ungkap Jonathan lagi tertawa kecil.
Jenny mengerutkan dahinya mendengarkan semua percakapan mereka, merasa tak senang karena seperti tak di anggap, memang Jenny punya basic untuk bermain ski, dia pernah mengikuti pelatihannya, tapi kenapa tak ada yang bertanya apakah dia bisa memainkannya atau tidak?
"Baiklah kalau begitu, kita bersiap-siap, aku akan menyiapkan semuanya," kata Jonathan lagi.
"Eh, bisakah aku tidak ikut, seluruh badanku rasanya nyeri sekali," alasan Jenny, dia malas menghadapi suasana canggung seperti ini, lebih baik dia tak ikut. Seluruh mata memandang Jenny yang berakting pegal, padahal tubuhnya tak merasakan apapun.
"Benarkah? itu pasti karena kau tidur di sofa semalam, kenapa kau bisa tidur di sana? bukannya sebelum aku tidur kau ada di sampingku?" tanya Anxel memandang Jenny yang memegang lehernya.
"Oh, aku tidak bisa tidur karena kedinginan, lalu aku mencari sesuatu yang hangat, tapi malah ada yang mencoba menakut-nakutiku semalam," kata Jenny memicingkan matanya agar tampak serius, Jonathan hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya, ingin balas dendam rupanya, pikirnya.
"Benarkah? apa itu?" kata Chintia sepertinya terjebak dengan cerita Jenny.
"Aku tak tahu, tapi tubuhnya besar dan menakutkan, mungkin beruang kutub," kata Jenny dengan wajah ngeri yang di buat-buat, membuat Jonathan menggelengkan kepalanya dengan pelan, menyembunyikan tawa kecilnya.
"Benarkah di sini ada beruang kutub?" tanya Chintia, entah terlalu polos atau bagaimana sehingga percaya saja dengan cerita aneh itu.
"Entahlah, tanya padanya, selama aku sering ke sini, bahkan serigala saja tak pernah ada," jelas Jonathan.
"Lalu apa hubungannya kau sampai tidur di sofa?" tanya Anxel lebih rasional dengan cerita aneh dari Jenny.
"Ya karena ketakutan, aku jadi tambah tak bisa tidur, menghabiskan coklat hangatku di sofa, dan ketiduran, begitu saja," kata Jenny memutar matanya mencari alasan.
"Oh, aku rasa lebih baik kau ikut kami, jika kau tinggal sendiri, bagaimana jika beruang kutub itu menyerangmu?" kata Anxel pada Jenny yang terdiam.
"Benar, Nona Jenny, Hati-hatilah, mungkin beruang kutub itu akan menyerangmu, berhati-hatilah," ujar Jonathan berdiri, menarik tangan Chintia yang masih terpaku, wajah Jonathan tampak mengejeknya.
"Tenang saja, aku tahu bagaimana cara menjinakkan beruang kutub yang ini," kata Jenny dengan tatapan sinis melihat bibir Jonathan yang terangkat sedikit, berucap penuh percaya diri.
"Mana bisa beruang kutub dijinakkan," kata Anxel mengerutkan dahinya.
"Beruang kutub yang ini aku yakin bisa aku tahlukkan," Kata Jenny berdiri tiba-tiba, membuat Anxel dan Chintia kaget, matanya menyipit, menatap mata Jonathan dengan sangat berani, "aku akan siap-siap, sampai jumpa," Jenny meninggalkan tempat itu begitu saja, membuat Jonathan yang ditinggalkannya hanya mengerutkan dahi saja, apalagi rencana wanita angkuh itu, pikirnya.