Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 59



Pintu ruangan itu kembali terbuka, Kiran datang membawa sebuah laporan.


"Tuan Jofan, Presiden sudah menunggu Anda, beliau ingin pamit," kata Kiran.


"Baiklah, aku akan segera ke sana, Jonathan, aku ingin menemuimu untuk mengatakan aku mengundang keluargamu untuk bertemu esok atau lusa, bisakah kau menyampaikannya?" tanya Jofan, Jonathan, Jenny dan Aurora bahkan mengerutkan dahinya, benarkah Jofan mengundang keluarga Jonathan, itu berarti dia akan bertemu dengan Liam.


"Baik Paman," kata Jonathan yang menyimpan tanda tanyanya di dalam pikirannya, sepertinya Jofan bukan seperti orang yang dia pikirkan.


"Ayo, kita bertemu kakakmu," kata Jofan menarik lembut tangan istrinya.


"Oh, pergilah duluan, aku ingin berbicara sejenak dengan Jonathan, kakak tak akan mengapa jika aku tak ada," kata Aurora lembut, senyuman manis dia berikan pada Jofan, Jofan walau sedikit bingung karena Aurora biasanya tak pernah meninggalkannya sendirian, tapi kali ini dia hanya mengangguk, tak ingin membuat seorang Presiden menunggunya lebih lama.


"Baiklah, datanglah jika sudah selesai," ujar Jofan dengan senyuman ciri khasnya, begitu manis hingga membuat siapa pun terpesona.


Jofan segera keluar dari ruangan itu, Aurora memastikan bahwa pintu itu tertutup sempurna, setelah itu dia memandang Jonathan dan Jenny, senyum mengayomi miliknya mengembang.


"Duduklah, Bibi tahu kalian berdua pasti begitu lelah, Jonathan, setelah ini rayulah Jenny untuk makan dan beristirahat, dia tak makan dengan baik dari kemarin, dia bahkan tak bisa tidur," ujar Aurora sambil duduk di depan Jonathan dan Jenny yang juga mengikutinya duduk, pautan tangan itu tak lepas barang sedetik pun, bahkan sekarang malah lebih erat.


Jonathan melirik Jenny dengan tatapan tajam dan seriusnya, tetapi ada kesan lembut dan perhatian yang terlihat, Jenny hanya diam sambil sedikit bertampang manja, berusaha menggoda Jonathan dengan wajah manjanya itu.


"Baiklah Bibi aku akan memastikan Jenny makan dan istirahat setelah ini," kata Jonathan dengan suara berat menyakinkan.


"Baguslah, sebenarnya bukan hanya itu yang bibi ingin katakan, Jenny, Pamanmu sudah membatalkan pertunanganmu dengan Anxel, dia juga sudah menceritakan semuanya, Bibi sungguh prihatin karena hal ini, kau sampai terluka begini, Jonathan," kata Aurora lagi.


"Benarkah? jadi keluarga Anxel sudah menerima pembatalan pertunangan ini?" tanya Jenny kaget, akhirnya setelah hari penuh drama, hari ini adalah hari bahagia. Jonathan meremas tangan Jenny, senyum nan manis itu terpatri di wajahnya, gadis ini sudah lepas dari ikatannya.


"Ya, tapi Jonathan, bukankah hingga detik ini kau masih terikat oleh pertunanganmu dengan Chintia? Jenny dan Chintia, dua-duanya adalah keponakanku, melihat sikapmu yang bahkan rela tersekap hanya demi Jenny, aku tahu kau pasti tak main-main mencintainya, tapi kau adalah tunangan Chintia, aku hanya ingin kau bisa menunjukkan sikapmu, siapa diantara mereka yang kau pilih?" kata Aurora.


"Aku pasti memilih Jenny, aku mencintainya, kami saling mencintai," kata Jonathan tegas, bahkan seolah tak terbantahkan.


Aurora mengulas senyuman tipis, mudah-mudahan kali ini jalan percintaan ini tak setragis jalan percintaannya dulu.


"Maka dari itu, mungkin ada baiknya kau bicara pada Chintia, tapi jangan membuatnya terlalu sedih, kau pasti sudah tahu bagaimana keadaannya," kata Aurora lagi.


"Baik Bibi, aku yakin Chintia juga tak akan sedih, karna aku tahu bahwa pria yang dia cintai bukanlah aku," kata Jonathan, melirik mata indah Jenny lalu kembali ke arah Aurora.


Aurora bernapas sedikit lega mendengarkan penjelasan dari Jonathan, mudah-mudahan saja itu benar adanya, jika Chintia mencintai orang lain dan bukan Jonathan, maka pembatalan pertunangan mereka juga tak akan separah yang dia pikirkan.


---***---


Jenny mengambil makanan yang diantarkan pelayan untuk dirinya dan Jonathan, mereka memang memutuskan untuk pergi dari ruangan pertemuan khusus itu dan pindah ke kamar Jenny agar setelahnya mereka bisa langsung beristirahat.


"Makanlah," kata Jenny dengan telaten menyuapi Jonathan yang tangan kanannya tidak bisa digunakan, seumur hidupnya baru kali ini dia menyuapi seseorang.


Jonathan membuka mulutnya, memandang tak jemu ke arah Jenny, setelah makanan itu masuk ke dalam mulutnya, dia tersenyum sambil mengunyahnya.


"Kenapa malah tersenyum, kunyah dulu makanannya dengan baik," protes Jenny, sebenarnya bukan masalah apa, Jenny jadi gugup melihat tingkah Jonathan itu.


"Aku hanya tak menyangka gadis arogan yang aku kenal ternyata bisa begitu lembut," ejek Jonathan melihat semu merah di wajah Jenny, ah, begitu merindukan wajah merah padam Jenny.


"Itu karena tanganmu sedang sakit, jika tidak aku tak akan menyuapimu," kata Jenny lagi, sedikit mencari alasan.


"Kalau begitu aku akan mematahkan tanganku, agar kau bisa melakukan ini terus padaku," rayu Jonathan.


"Tuan Jonathan, jika anda mencoba merayuku dengan rayuan seperti itu, maaf anda salah melakukannya padaku, aku tak tertarik sama sekali," kata Jenny mulai keluar lagi sifat aslinya.


Jonathan tiba-tiba menarik tangan Jenny, membuat tubuh wanita itu terhentak ke dekatnya, wajah mereka begitu dekat, hingga Jenny bisa melihat mata kuning itu sendang mengamati wajahnya.


"Kalau begini, apakah kau tertarik padaku?" tanya Jonathan, Jenny hanya diam saja tak bisa berkata-kata, Jonathan lalu tertawa kecil, sekali lagi membungkam Jenny.


"Kau ini, aku sedang memberimu makan," kata Jenny gugup, dia mengambil kembali makanan yang ada di samping ranjangnya, kembali mencoba menyuapi Jonathan.


Namun saat sendok itu hampir tiba di bibir Jonathan, tangan kiri Jonathan memegang tangan Jenny, mendorong tangan Jenny agar kembali ke arah Jenny, mengarahkannya ke bibir Jenny.


"Kau juga harus makan, calon pengantin wanita juga harus sehat agar cepat melakukan pernikahan," kata Jonathan dengan suara berat namun begitu lembut, membuat Jenny kembali terpaku, dia bahkan hanya bisa menurut membuka mulutnya, menerima makanan yang didorong oleh Jonathan, entah kenapa merasa Jonathan benar-benar manis sekarang.


Dulu Jenny akan merasa gombalan-gombalan seperti ini sangat basi, ternyata jika keluar dari bibir orang yang kita cintai, walau logika merasa terlalu lebay, tapi perasaaan merasa itu begitu manis, itulah yang dirasakan Jenny, perasaan yang manis


Pintu kamar Jenny tiba-tiba terbuka, Jenny dan Jonathan yang masih saling menyuapi itu hanya bisa kaget melihat sosok Chintia yang langsung terpaku melihat Jonathan ada di sana, matanya membesar antara tak percaya dan bingung kenapa Jonathan ada di sana? bagaimana dia bisa keluar dari penyekapan itu? bagaimana dengan Anxel? pikirnya panjang.


"Chintia, aku mencintai Jenny, mari batalakan pertunangan kita segera," kata Jonathan yang bahkan tanpa basa- basi mengatakannya pada Chintia.