
Jenny perlahan turun dari lantai dua, perlahan dia turun karena kakinya cukup nyeri, untungnya Jonathan cukup pintar mengurusi lukanya itu, dia menutupnya cukup ketat hingga lukanya tidak kembali terbuka. Jenny sudah siap dengan baju hangatnya, topi, pelindung telinga, juga dengan syal rajut yang sangat tebal, tak ingin lagi menggigil karena kedinginan.
Jonathan yang juga sudah siap dengan pakaian dinginnya tampak menunggu Jenny di dekat tangga itu, selalu mempesona walau dengan balutan baju tebal itu, dia melirik jenny yang turun perlahan, dan tanpa menunggu lama dia segera mendatangi Jenny, membantunya untuk turun dari tangga.
"Aku bisa sendiri," kata Jenny ingin melepaskan tangan Jonathan yang menuntunnya.
"Aku tidak meminta," kata Jonathan keras kepala, Jenny kembali memutar matanya, apa yang harus dia lakukan dengan pria yang keras kepala dan juga pemaksa ini.
Jonathan tetap menuntun Jenny bahkan hingga mereka keluar dari villa itu, Jenny mengedarkan matanya, tak melihat mobil yang akan membawa mereka di sana, lalu bagaimana mereka akan pergi?
"Mana mobilnya?" tanya Jenny
"Siapa yang bilang kita akan naik mobil, kita naik itu," kata Jonathan membawa Jenny ke sebelah villanya menunjukkan helikopter yang sudah terparkir sempurna di dekat Villa mereka.
"Naik itu?" tanya Jenny tak percaya, hanya ingin melihat Aurora harus menggunakan helikopter.
"Ya," kata Jonathan yang kembali menuntun Jenny ke arah helikopter, Jenny hanya bisa diam saja, dia perlahan naik ke dalam helikopter yang cukup mewah itu, Jonathan masuk ke dalamnya, asisten Jonathan pun ikut masuk ke dalamnya dan mereka segera mengudara segera setelah mereka siap.
Pemandangan dari helikopter itu terlihat sangat indah, seluruh daratan di sana tampak putih tertutup oleh salju, namun yang membuat Jenny sangat terpukau adalah aurora yang mulai tampak, sangat indah menari-nari di atas langit, warnanya sangat indah, perpaduan antara warna hijau, ungu dan toska, juga terdapat sedikit warna kuning yang menakjubkan, Jenny hingga tak bisa berkedip melihatnya, senyuman kagum itu tersungging di wajahnya.
Jonathan yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis, begitu senang bisa melihat senyuman itu kembali, Jenny sesekali melihat Jonathan seperti ingin membagikan apa yang dia lihat.
"Tunggu hingga kita mendarat," kata Jonathan.
"Kita akan mendarat?" kata Jenny yang mengira mereka hanya akan melihat aurora dari dalam helikopter itu saja.
"Ya, ayo, kita akan segera mendarat," kata Jonathan yang memperingatkan Jenny.
Helikopter mereka akhirnya mendarat sempurna di tempat pendaratannya, setelah baling-balingnya berhenti, mereka baru turun dari helikopter itu, asisten Jonathan turun duluan, dan segera pergi meninggalkan mereka, seperti biasanya Jonathan segera turun dan membantu Jenny segera turun.
"Woah," kata Jenny yang tak bisa menutupi semua kekaguman ciptaan Tuhan itu, ternyata lebih indah melihatnya dari bawah, Cahaya itu sangat indah hingga bagaikan mengalir di atas langit mereka, Jonathan segera memegang tangan Jenny yang bahkan Jenny sendiri tak sadari, dia perlahan menarik Jenny untuk mengikutinya, Jenny yang hanya mendongak ke atas hanya mengikuti ke mana Jonathan membawanya, Jonathan yang melihat wajah kagum itu hanya bisa tersenyum manis, sangat puas rasanya bisa membuat itu tampak di wajah Jenny.
"Jenny," kata Jonathan dengan suara beratnya, membuat Jenny akhirnya teralihkan, menatap ke arah Jonathan yang sudah berdiri di samping berbuah tempat yang tersusun seperti meja makan yang indah, gelas Champagne dan juga Champagne nya sendiri sudah tersusun di sana, membuat Jenny membesarkan matanya, dia bahkan ternganga dengan persiapan yang sepertinya sudah di siapkan dari tadi.
"Kemari," kata Jonathan menarik kursi kursi kayu itu, Jenny berjalan perlahan dan duduk di sana, melihat begitu indahnya semua pemandangan yang terlihat, hamparan salju dengan pohon-pohon Cemara yang jarang, jauh di depan mereka terlihat pegunungan yang menakjubkan, bintang utama malam ini adalah indahnya Aurora yang menghiasi langit, membuat suasana jadi tak begitu gelap cendrung terang.
Jenny kembali melihat ke arah sekitarnya, tak jemu matanya memandang segala ciptaan Tuhan di depannya, benar-benar sesuai dengan apa yang dia pikirkan selama ini.
"Menyukainya?" tanya Jonathan pelan.
"Ya," kata Jenny, bahkan sudah lupa bahwa dia seharusnya tak boleh begitu dekat dengan pria ini, dia begitu terhipnotis oleh semuanya, Jonathan membiarkan Jenny untuk menikmatinya.
Suasana senyap menyergap, sebuah api unggun sengaja dibuat di sekitar mereka, menjaga agar suasana tak terlalu dingin Bagi mereka karena ini sudah hampir tengah malam, Jenny mengedarkan matanya melihat sekelilingnya, sepi hanya ada mereka berdua dan di bagian belakang ada beberapa bangunan yang sepertinya hotel atau tempat penginapan khusus jika ingin melihat Aurora.
"Dimana Anxel dan Chintia?" tanya Jenny pada Jonathan.
"Mereka melihat Aurora di tempat lain," kata Jonathan, Jenny mengerutkan dahinya, dia pikir mereka akan bertemu dengan Anxel dan Chintia dan melihat aurora bersama, tapi kenapa malah mereka berdua.
"Kenapa begitu? bukannya kau bilang kita akan melihat aurora? aku kira akan bersama mereka," ujar Jenny.
"Aku mengatakan melihat Aurora, tapi tak mengatakan akan bersama mereka," kata Jonathan.
"Jadi di sini hanya ada kita berdua?" tanya Jenny.
"Ya, bukankah melihatnya berdua lebih baik dari pada bersama-sama," kata Jonathan.
Jenny kembali mengerutkan dahinya, sepertinya semua ini sudah salah, seharusnya Jonathan menikmati ini semua dengan Chintia, dan dia dengan Anxel, tapi kenapa sekarang seperti mereka bertukar pasangan?
"Ini semua salah, kau dan Chintia sudah bertunangan, dan kau malah di sini bersamaku, ini semua salah," kata Jenny yang merasa tak enak, semua hal yang disiapkan oleh Jonathan ini seharusnya Chintia yang menikmati. Jenny berdiri, memutar otaknya, ingin pergi namun kemana? dia bahkan tak tahu kemana jalan kembali ke vila itu.
"Jenny ...." Kata Jonathan menangkap tangan Jenny, membuatnya untuk tinggal, Jenny mantap Jonathan yang juga berdiri dan mendekat ke arahnya, berdiri di depannya sekarang.
"Kita tidak seharusnya begini," kata Jenny.
"Lalu, bagaimana seharusnya?" tanya Jonathan, matanya menatap lurus ke mata Jenny, seketika membuat Jenny langsung terdiam menatap mata indah itu.
"Kau sudah bertunangan, kita tidak bisa begini," kata Jenny lagi sebernanya juga untuk menyadarkan dirinya sendiri dari pada menyadarkan Jonathan.
"Jika kau ingin, aku bisa membatalkannya," kata Jonathan lagi