
Aurora hanya melihat Jenny yang masih mengunyah rotinya, menikmati sarapan yang dibuat Aurora dengan penuh cinta. Jenny melirik Aurora, merasa ibunya itu sedang memperhatikannya.
"Ada apa Bi?" tanya Jenny.
"Bagaimana kabarmu?" kata Aurora.
"Baik aku rasa, ada apa Bi?" tanya Jenny yang tahu sebenarnya ada yang ingin dikatakan oleh Aurora padanya.
"Pamanmu mengatakan Jonathan mengantarmu hingga sampai di bandara," kata Aurora tersenyum.
"Ya, aku kaget tiba-tiba paman datang untuk menjemputku," ucap Jenny lagi, dia lalu meminum susunya, merasa perutnya sudah cukup terisi hanya dengan makan 1 roti bakar itu.
"Anxel datang ke mari tadi malam dan dia menceritakan semua tentang kenapa dia tidak bisa menemanimu pulang, dia juga menceritakan tentang Jonathan, itu sebabnya pamanmu sedikit marah karena kau tidak mengatakan bahwa Jonathan ada di sana, setelah itu bibi terpaksa mengatakan bahwa saat ini Jonathan sedang menemanimu untuk bertanggung jawab akan dirimu di sana, pamanmu masih punya paradigma yang kurang baik untuk Jonathan, sehingga dia ingin memastikan bahwa Jonathan benar-benar menjagamu dengan baik," kata Aurora langsung saja.
Jenny diam sejenak, dia lalu melirik Aurora dan sedikit tersenyum, dia sudah tahu bagaimana pamannya, Jonathan memiliki latar belakang yang cukup sulit Jofan terima, jadi rasanya akan susah untuk membuat Jofan bisa menerima Jonathan.
"Dia menjagaku dengan baik, bahkan ketika kami terjebak salju karena kesalahanku, Jonathan lah yang mencariku dan menjagaku, gara-gara kecerobohanku kami terjebak di lubang hampir 1 harian lamanya," kata Jenny, senyumnya mengembang manis dan matanya tampak menerawang mengingat hal itu.
Aurora menangkap sesuatu yang tak biasa, senyum manis Jenny itu, jangan- jangan ....
"Kau menyukainya?" tanya Aurora langsung, tak perlu basa-basi lagi.
Mendengar pertanyaan Aurora, Jenny langsung kaget, melihat dengan mata yang membesar ke arah Aurora, apakah begitu terlihat?
Aurora yang menangkap tatapan itu segera tahu perasaan Jenny, walau dia bukan anak kandungnya, tapi dari kecil Aurora lah yang menjaga si kembar ini, jadi bahkan dengan manatap mata Jenny, Aurora tahu betul perasaan yang tersembunyi di sana.
Aurora cukup terkejut melihatnya, beberapa hari lalu Jenny begitu percaya diri dan terkesan sangat yakin akan hubungannya dengan Anxel, dia bahkan berbicara dengan Jofan untuk mempertegas hubungan mereka, namun sekarang, Jenny benar-benar berubah.
"Terlihat sekali ya? dia terus berusaha untuk membuatku menerimanya, dan sepertinya aku memang menyukainya," kata Jenny menatap ibunya itu, suaranya lemah.
Aurora tersenyum keibuan, walau sedikit merasa kaget dan bingung kenapa Jenny harus menyukai Jonathan, tapi kepada siapa hati berlabuh memang tak ada yang tahu.
"Kalian akan menjadi pasangan yang cocok, tentang pamanmu, bibi yakin dia akan perlahan menerima bahwa Jonathan adalah pria pilihanmu," ujar Aurora.
"Kenapa? kau dan Anxel juga belum bertunangan, tak akan menjadi masalah jika kita tidak melanjutkannya, Jonathan juga anak yang baik, dia bertanggung jawab, dan yang penting kau menyukainya dan kalian saling menyukai, itulah dasar untuk membuat suatu hubungan bukan?" lembut Aurora berbicara pada Jenny yang sudah berwajah muram.
"Tidak bisa, karena Jonathan sekarang adalah tunangan Chintia," kata Jenny sedikit berwajah sedih memandang Aurora.
Aurora langsung kaget, dia berpikir Jonathan adalah pria yang tak terikat apapun, dan masalah mereka hanya tinggal menaklukkan hati Jofan, dia bisa merayu Jofan untuk melihat bagaimana keseriusan dari Jonathan, dan jika memang Jonathan serius pasti Jofan juga akan luluh, bahkan Jofan saja bisa menerima Archie, tak akan terlalu sulit untuk menerima Jonathan.
Tapi ternyata masalahnya jauh lebih berat dari pada yang dipikirkan oleh Aurora, bagaimana bisa tiba-tiba Jonathan bertunangan dengan Chintia, dimana Chintia juga adalah keponakannya. Aurora menarik napasnya, apa ini akan seperti kisahnya dengan Liam dan Melisa.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Jenny, bagaimana Chintia bisa bertunangan dengan Jonathan?" kata Aurora dengan wajah bertanya-tanya.
"Chintia dan Jonathan adalah teman dari kecil, mereka bertunangan secara tak resmi beberapa Minggu yang lalu," kata Jenny menjelaskan.
"Lalu dia tetap mendekatimu? dia mengatakan dia menyukaimu setelah baru beberapa Minggu dia bertunangan dengan Chintia? Jenny ... bagiamana bisa kau menerima pria seperti itu?" tanya Aurora sedikit menggebu, dia bahkan sampai memegang kedua lengan anaknya itu.
Kesalahannya dulu jangan sampai kembali terulang pada Jenny, merusak hubungan orang lain adalah hal paling buruk dan disesali oleh Aurora hingga saat ini.
"Dia, aku tak tahu bagaimana aku bisa menyukainya, aku sudah mendorongnya pergi dan menolaknya mentah-mentah, tapi Jonathan terus memaksa, aku ...." kata Jenny, tahu benar bahwa bibinya pasti khawatir dengan keadaan hubungan ini.
"Jenny, jangan menjadi sepertiku, apalagi yang ingin kau rebut adalah tunangan sepupumu sendiri, bagaimana nanti keluarga akan melihatmu? belum lagi keluarga Jonathan, mereka akan memandangmu sama dengan cara mereka memandang bibi, hanya wanita perebut pria milik wanita lain," kata Aurora yang tampak cukup histeris, dia menatap mata Jenny yang kosong.
Perkataan Aurora menampar Jenny, dia adalah wanita perebut pria milik orang lain? kenapa Jenny membiarkan dirinya seperti itu? semua yang bibinya katakan sudah pernah dia pikirkan, dia sudah memutuskan untuk menjauh, tapi pria itu datang dengan segala perhatian, dengan segala kehangatan, dan kenyamanan yang membuat Jenny bahkan tak ingin lagi jauh darinya, tapi sekarang dia disadarkan oleh realita, dia adalah wanita kedua, perebut pria, selingkuhan, entah apa nama buruknya lagi. Pandangan mata Jenny mulai berkabut, tahu buruknya hubungan ini, tapi tak rela melepaskan, bahkan sebelum melepaskan, perasaanya sudah begitu sakit.
"Jenny, berhentilah sebelum semua terlanjur, jangan sampai apa yang terjadi pada Bibi terjadi padamu, dalam kasusku, Melisa adalah orang lain, setelah aku meninggalkan Liam, aku bisa menutupi semua itu dengan baik, tapi Chintia bukan orang lain, dia sepupumu, seumur hidupmu kau akan dipandang buruk oleh keluarga kita, apalagi jika pamanmu tahu, dia pasti sangat menentang hubungan ini, ini sama saja mencoreng nama baiknya," kata Aurora lagi, menatap air mata yang turun dari mata Jenny, tahu pasti sakit melepaskan seseorang yang kita suka, Aurora pun dulu begitu, begitu frustasi untuk merelakan Liam dengan Melisa, namun itu harus dia lakukan dan dia bisa melewatinya, jadi Jenny juga pasti bisa, sebelum perasaan Jenny semakin dalam, lebih baik mengatakan hal yang sebenarnya, toh jika dikatakan hubungan mereka juga masih seumur jagung, mungkin tak akan terlalu sakit nantinya.
Jenny hanya mengangguk menahan suara tangisnya yang seperti ingin keluar, napasnya kembali sesak dan dadanya begitu nyeri sekarang, benar, dia hanya akan memalukan keluarganya jika dia terus bersama Jonathan.
"Bibi tak menyuruhmu untuk menikah dengan Anxel, itu juga bukan pilihan yang tepat, aku adalah bukti hidup pernikahan politik itu benar-benar tak baik, namun bibi hanya minta, jangan menjadi wanita perebut kebahagiaan wanita lain, kau cantik, dan kau punya segalanya, bibi yakin, ada seseorang di sana yang akan sangat beruntung mendapatkanmu tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain," kata Aurora lagi, Jenny tak sanggup berkata apapun, dia hanya menangis dan memeluk bibinya, ternyata memang hubungan mereka ini salah, bahkan tak ada yang mendukung mereka.
Aurora mengelus punggung Jenny, membiarkan anaknya menumpahkan segala rasa sakitnya, baginya tak apa sakit sekarang, dari pada harus menyesal dan merasa bersalah seumur hidup seperti dirinya.