
Jenny membuka matanya, merasa sesuatu dengan lembut mengelus rambutnya, dia menatap sosok itu, samar dia melihatnya, terhalang dengan matanya yang bengkak, dia tersenyum, berharap sosok samar itu adalah sosok samar yang sama seperti saat semalam dia membuka mata, namun dia langsung menahan kecewa, ternyata bukan dia.
"Selamat pagi," ujar Anxel lembut membangunkan Jenny.
Jenny mengerutkan dahinya, dia langsung terduduk dari tidurnya, membuat kepalanya langsung sakit seketika, dia melirik ke arah jendela, sudah begitu terang, salju tipis berterbangan, dia lalu melihat sekitar menatap Anxel dengan matanya yang sedikit sepet, entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan semalam.
"Kau sudah pulang?" tanya Jenny dengan suara serak.
"Ya, baru saja, aku akan membersihkan diri dulu," kata Anxel yang bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Baiklah," kata Jenny.
Jenny duduk sejenak, tubuhnya terasa sangat remuk, lemah dan serasa tak enak badan, kepalanya begitu berat, ternyata tidur pun tak membuatnya merasa lebih baik, dia memutuskan turun dari tempat tidurnya, memandang refleksi wajahnya di cermin yang ada di sana, sedikit kacau dengan mata sembab nan bengkak itu, dia menyisir sedikit rambutnya, lalu dengan gontainya turun dari lantai 2 itu, tidak ingin ada di sana saat Anxel harus memakai pakaiannya, lagi pula Jenny sedang tak ingin terlalu banyak bertemu siapa pun sekarang.
Jenny baru saja menginjakkan kakinya pada lantai 2 Villa itu saat melihat Chintia yang keluar dari ruang tengah tampak bertanya pada kepala pelayan yang sedang ada di sana.
"Dimana Jonathan?" tanya Chintia yang tampak dengan wajah berkerutnya.
"Tuan Muda Jonathan pagi-pagi sekali kembali ke Ibukota karena adanya urusan keluarga yang sangat penting, Tuan Muda meminta maaf pada Anda dan teman-teman Beliau karena pergi tanpa mengatakannya terlebih dahulu, Pesawat Anda dan teman-teman Anda sudah disiapkan untuk siang ini," kata kepala pelayan yang segera menjelaskan kemana Jonathan sekarang.
Jenny yang mendengar hal itu kaget dan seketika merasa sakit, apa Jonathan pergi karena dirinya? apa karena permintaannya itu makanya dia pergi sekarang? Jenny pun sebenarnya tak tahu apa yang harus dia lakukan jika saja pagi ini dia masih bisa melihat wajah pria itu, dia rasa, dia pun tak sanggup melihatnya, mungkin memang inilah yang terbaik, tak lagi saling bertemu.
"Benarkah? itu artinya dia pulang ke negaranya?" tanya Chintia yang sedikit kaget, bukannya setelah pulang dari sini mereka sudah berencana bertemu dengan keluarga Jonathan di negaranya.
"Ya, Beliau meminta maaf sebesar-besarnya," kata kepala pelayan itu lagi.
"Baiklah kalau begitu," kata Chintia yang segera menangkap sosok Jenny, dia tersenyum manis, Jenny yang berwajah sendu itu hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Chintia mendekati Jenny, melihat wajah lesu Jenny, mengira mungkin karena efek kejadian semalam.
"Oh, aku baik-baik saja," kata Jenny seadanya.
"Baiklah kalau begitu, kita sepertinya harus segera bersiap-siap," kata Chintia begitu ceria hari ini, Jenny mengerutkan dahinya, bagaimana bisa begitu ceria? bisakah dia seperti itu lagi nantinya?
"Bagaimana Aurora semalam?" tanya Jenny menghentikan langkah Chintia.
"Eh, Oh, Jenny, aku minta maaf ya, karena sudah meminta Anxel menemaniku, Jonathan sedang tak enak badan dan aku sangat ingin melihatnya, bukannya kau tahu, itu alasanku untuk ada di sini, karena itu aku meminta Anxel menemaniku, dan dia setuju, apa dia tidak meminta izin padamu?" tanya Chintia pada Jenny.
"Tidak, dia tidak meminta izin padaku," kata Jenny lagi, sebenarnya tak ada masalahnya, bahkan mungkin dia tidak peduli.
"Biru? apakah hanya biru? aku ingin tahu, karena aku tidak bisa melihatnya," kata Jenny menganalisa wajah Chintia.
"Ya, Biru, oh ada warna merahnya juga, Ehm, aku sedikit mengantuk, bolehkan aku beristirahat sekarang," kata Chintia mencoba untuk menjelaskan, namun sikapnya sedikit menunjukkan kegugupan. Jenny memandang Chintia tambah aneh, tak ada warna merah terlihat semalam, apa mungkin berbeda tempat, Aurora juga tampak berbeda?
"Ya, baiklah," kata Jenny lagi, melihat Chintia segera pergi dari hadapannya.
Jenny segera memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dia membuka pintunya, menemukan Anxel baru saja siap menggunakan baju hangatnya Anxel tersenyum manis menyambut kedatangan Jenny, Jenny pun membalasnya seadanya, ingin bersiap-siap sebelum pulang.
"Kau kenapa?" tanya Anxel yang melihat ke arah Jenny yang tampak lemas, tentu tak Jenny tak ingin menjelaskannya.
"Tidak apa-apa," kata Jenny lemah, dia tak ingin mengobrol sekarang.
Mendapat jawaban singkat dan lemah Jenny, Anxel mengerutkan dahinya, mendekati Jenny yang sedang mengambil baju untuk dia kenakan saat pulang nanti, Jenny yang didekati oleh Anxel itu hanya mengerutkan dahinya.
"Kau marah aku pergi dengan Chintia melihat Aurora tadi malam dan meninggalkanmu tidur sendiri di sini?" tanya Anxel.
"Tidak," singkat Jenny.
Anxel yang merasa jawaban Jenny itu mengandung emosi yang tersimpan sedikit merasa tak enak.
"Maafkan aku tak meminta izin padamu, aku hanya pergi melihat Aurora dengannya, itu saja," kata Anxel seolah menyakinkan Jenny, padahal Jenny tak punya masalah apapun dengan itu, walau sebagai calon tunangannya, bahkan nanti istrinya, Jenny tak boleh mengurusi hal itu, Sekarang, sejujurnya, Jenny hanya kesal karena sedang tidak mood untuk berbicara dengan Anxel yang menurutnya sangat mengganggu dirinya.
"Itu bukan masalah untukku, ingat perjanjian pernikahan kita, aku tak perlu mengurusi tentang itu," suara itu terdengar cukup ketus, bukan masalah itu, hanya Jenny sedang tak ingin banyak bicara, dan lagi-lagi Anxel salah menanggapinya.
"Baiklah, maafkan aku, lain kali aku akan meminta Izin padamu, lagi pula Aurora itu tak secantik yang ada di foto, hanya cahaya kekuningan," kata Anxel yang merasa dia saat ini harus memperlakukan Jenny dengan baik, bisa sangat menyesal dia jika Jenny sampai menolak menikah dengannya, selama dia belum bisa mengikat gadis ini, maka sebisa mungkin dia menjaga hatinya.
Mendengar kata-kata Anxel tadi, Jenny menghentikan apa yang sedang dia kerjakan, kuning? bukannya tadi kata Chintia Aurora yang dilihatnya adalah biru dan merah? kenapa sekarang kuning?
"Kuning? benarkah? ada warna yang lain?" tanya Jenny mengerutkan dahinya, nada bicaranya diubahnya menjadi sedikit hangat dan ingin tahu.
"Ya, cuma cahaya kuning yang ada di langit, begitu saja, aku rasa Aurora hanya punya satu warna," kata Anxel lagi, sekarang dia mencoba membenarkan sweaternya, merasa Jenny sudah tak secuek tadi nada bicaranya.
Jenny memandang pria itu, merasa cukup aneh dengan semua ini, jika Chintia dan Anxel pergi bersama melihat aurora, bagaimana warna Aurora yang mereka lihat berbeda? Jenny menemukan beberapa kemungkinan dalam pikirannya, apakah salah satu dari mereka ada yang buta warna? ataukah mereka pergi namun tak melihat Aurora itu, tapi kemana mereka pergi dan pulang baru pagi hari begini?
Anxel tersenyum melihat Jenny yang terus memandangnya, dia memberikan sebuah kecupan hangat di pipi Jenny dan berkata.
"Ayo kita sarapan," kata Anxel yang segera meninggalkan Jenny yang hanya melihat pria itu melenggang pergi, masih berpikir dengan keras, kemana mereka semalam?