
Jonathan menatap mata Jenny yang tertutup, perlahan melepaskan pautan bibirnya, namun tidak menarik dirinya lebih jauh, Jenny membuka matanya perlahan, menatap mata coklat terang cendrung kuning itu dengan matanya yang sendu, Jarak mereka tidaklah jauh, bahkan napas mereka yang berubah menjadi uap panas itu bersatu, saling bercampur.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Jenny pelan, terdengar lirih, gagal ternyata untuk menarik perasaannya terhadap pria yang satu ini.
"Karena aku hanya mengikuti kata hatiku," ujar Jonathan dengan penuh perasaan. Jenny menghela napas panjang, tak terasa air matanya malah turun, membuat Jonathan mengerutkan dahinya, kenapa Jenny malah menangis.
"Hei, kenapa kau malah menangis?" tanya Jonathan menghapus air mata Jenny yang terasa hangat di pipinya.
"Hentikan, jika kau ingin balas dendam atau ingin menang, baiklah, aku akui kau menang, aku tidak lagi ingin melanjutkannya," kata Jenny, sedikit histeris sambil mengusap air matanya yang jatuh begitu saja, Jenny berusaha berdiri namun luka di kakinya ternyata terasa nyeri, dia segera hendak jatuh kembali, Jonathan ingin membantunya, tapi untunglah dia langsung bersandar di tepian lubang itu.
Jonathan memandang Jenny, menatap ke wajah wanita yang enggan menatap wajahnya dengan cemas bercampur bingung, suasana hari itu mulai remang dan salju yang jatuh pun sudah mulai menipis dan tak terlihat lagi.
"Apa kau masih berpikir hal ini semua tentang permainan?" tanya Jonathan yang juga segera berdiri, "Jenny lihat aku," mencoba mengarahkan wajah Jenny untuk melihat dirinya, karena Jenny seperti benar-benar tak ingin melihat dirinya.
"Tentu, Ayolah jujur sekarang, jangan bermain-main lagi, kau sudah menang dan aku yang kalah, Aku akui aku terlalu bodoh menilai semuanya kali ini, jelas sudah bahwa kau merasa tertantang untuk mendapatkanku, mencoba untuk menalukkanku karena ingin membalas dendammu dan mendapatkan kepuasan bagimu, apa sekarang kau puas? mari berhenti melakukannya," kata Jenny.
Sekilas Dalam pikiran Jenny tadi terlintas sesuatu, saat setelah Jonathan mengatakan dia telah menalukkannya dan menciumnya dengan ganas, Jenny baru sadar, itu adalah obsesi Jonathan yang terpendam, Pria ini diam-diam telah menjadikannya sebuah obsesi, obsesi untuk bisa mendapatkannya dan membuat Jenny bertekuk lutut di hadapannya.
Mungkin Obsesi ini tercipta saat Jenny dulu mempermalukannya, diam-diam merubahnya hingga Jonathan ingin bisa membuktikan dirinya, semua sekarang masuk akal bagi Jenny, pantas dia tetap mengejarnya walau dia sudah bertunangan dengan Chintia, lagi pula kata menalukkan bukan berarti suka atau cinta kan? tragisnya, Jenny telah menggunakan perasaannya pada pria ini.
Jonathan mengerutkan dahinya, mencoba mencerna kata-kata Jenny yang dia ucapkan dengan napas beratnya.
"Kau hanya terobsesi padaku, aku mengerti sekarang, baiklah, mari hentikan semua jangan sampai menjadi lebih parah, aku menyerah," kata Jenny, menahan sesak di dadanya, rasanya sakit bagaikan terhunus dalam, tak menyangka pertama kali patah hati sakitnya luar biasa, akhirnya pula seorang Jenny bisa merasakan apa yang selama ini dia berikan pada pria-pria sebelumnya, parah sekali walau tak berdarah.
"Jenny ...." kata Jonathan dengan suara cukup lembut.
"Jenny!" teriakan terdengar, membuat Jenny dan Jonathan kaget seketika, Jenny yang mendengar itu segera menghapus sisa air matanya.
"Tuan Muda Jonathan!" terdengar lagi suara yang cukup keras, cukup dekat dengan mereka.
"Aku di sini! Tolong! Aku di sini!" Teriak Jenny dengan suara cukup serak, namun perlahan membesar.
Jonathan malah kebalikannya, dia tak mengeluarkan sepatah kata pun, padahal dari tadi dia yang begitu antusias berteriak mencari pertolongan, namun entah kenapa dia merasa butuh waktu lebih lama berdua dengan wanita di depannya ini, tak rela untuk kembali memiliki jarak dengannya, Jonathan hanya menatap Jenny.
"Jenny! Jenny! Aku menemukan mereka!" kata Anxel yang muncul di tepian lubang itu, Jenny yang menangkap sosok Anxel langsung tampak begitu berharap, membuat wajah Jonathan tampak mengerut namun serius, ingin rasanya menghentikan lambaian tangannya pada Anxel.
Usaha penyelamatan Mereka segera dilakukan, dengan perlahan Jenny yang pertama kali di evakuasi karena keadaanya, Jenny segera di tarik ke atas menggunakan tali, sesampainya di atas Anxel segera memeluk Jenny, menatap wajah calon istrinya itu dengan serius.
"Kau terluka? kita harus cepat membersihkannya, jangan sampai infeksi," kata Anxel melihat luka kecil namun cukup menganga di kaki Jenny.
Jenny tak sanggup lagi berbicara, hanya mengangguk perlahan, Anxel segera menggendong Jenny di depannya.
"Jonathan, maaf, aku akan membawa Jenny duluan untuk perawatan," kata Anxel yang melihat Jonathan yang masih ada di dasar lubang, upaya evakuasinya segera dilakukan.
Jonathan tak menjawab, hanya berwajah diam dan serius memandang Anxel yang perlahan menghilang membawa Jenny dalam gendongannya, hingga detik dimana Anxel tak terlihat lagi, Jenny tak sedikit pun memandangnya, bahkan meliriknya pun tidak. Benarkah hanya obsesi? atau perasaan lain yang berbeda?
Jenny duduk di samping jendela besar dengan tempat duduk di sampingnya, kakinya sedang di obati oleh Anxel, dia membersihkan lukanya, memberikan cairan antiseptik yang terasa begitu pedih, lalu memastikan kembali apakah luka Jenny harus dijahit atau tidak, melihat kedalamannya Anxel rasa tidak perlu, dia lalu segera menutup perlahan luka sobek yang mungkin terkena kayu atau ranting itu.
"Lukamu tidak apa-apa, hanya luka kecil, tak perlu khawatir," kata Anxel begitu lembut, sialnya malah mengingatkan Jenny dengan kata-kata Jonathan tadi saat mereka ada di dalam lubang, Jenny menggigit bibirnya, mengangguk dengan pelan.
Tiba-tiba pintu ruangan pondok yang mereka gunakan untuk pos penyelamatan itu terbuka, menunjukkan sosok Jonathan yang baru saja di selamatkan.
"Jonathan!" pekik Chintia lega sebelum memeluk Jonathan dengan erat, cukup cemas dengan keadaan tunangannya ini.
Pelukan hangat Chintia itu hanya direspon seadanya oleh Jonathan, matanya melirik ke arah wanita yang bahkan enggan sekali melihatnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Chintia yang terdengar penuh perhatian, melepaskan pelukannya memperhatikan keadaan Jonathan yang untung lah tak terluka sedikit pun.
"Aku baik-baik saja," kata Jonathan dengan suara beratnya, Jenny yang mendengarnya sedikit bergetar perasaannya, dia menggigit bibir dalamnya, namun tetap enggan memalingkan wajahnya ke arah Jonathan.
"Bagaimana kalian bisa terjebak di lubang besar itu?" tanya Anxel yang juga selesai mengamati keadaan Jonathan, tahu bahwa pria itu tak apa-apa. Jonathan baru ingin membuka mulutnya namun Suara Jenny sudah terdengar.
"Itu semua karena kebodohanku, aku salah mengambil jalan, dan tanah di sana ternyata amblas dan membuatku terperangkap, Jonathan membantuku, lalu kami terjebak, Maafkan aku membuat kalian cemas dan terima kasih Jonathan, dia sudah menjagaku" kata Jenny pelan, membuat Anxel dan Chintia mengerutkan dahinya, mendapati Jenny yang mengakui kesalahannya bahkan mengucapkan terima kasih yang terkesan kaku pada Jonathan, terasa aneh bagi keduanya.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kalian semua aman," kata Chintia lagi dengan senyuman leganya.
"Anxel ..." kata Jenny dengan suara lembut dan lemahnya. Anxel yang tadinya tak memperhatikan Jenny segera memandang wanita itu. Bukan hanya Anxel, Jonathan pun memandang Jenny.
"Ya?"
"Bisakah hari ini kita pulang?" tanya Jenny memegang tangan Anxel dengan lembut, membuat Anxel sedikit kaget. Jonathan pun kaget mendengarnya walau dia tak lagi melihat ke arah Jenny.
"Hari ini?" tanya Anxel memastikan, Jenny mengangguk pelan, Anxel lalu tersenyum menilai Jenny hanya masih syok hingga tampak begitu lemah.
"Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya, tunggu dulu di sini ya," kata Anxel yang segera berdiri, berjalan ke arah Jonathan yang diberikan selimut tebal oleh Chintia. "sepetinya kami akan kembali hari ini, maaf tak bisa melanjutkannya lebih lama di sini."
"Tak apa-apa, Jenny pasti merasa syok dan sudah tak nyaman, bawalah dia pulang," ujar Chintia.
"Baiklah," kata Anxel, "Aku akan keluar dulu mengambil ponselku di mobil," pamit Anxel.
"Ya, aku akan mengambil air hangat untuk kalian berdua," kata Chintia segera menyusul Anxel, membuat Jonathan dan Jenny kembali tinggal berdua.
Namun kali ini hanya ada keheningan, Jenny hanya menatap jendela luar yang penuh dengan salju, sedangkan Jonathan hanya bisa melihat wanita itu dari belakang, mengamatinya dengan penuh perasaaan.