
Mereka semua segera masuk ke dalam ruangan itu, sebagian besar takut terjadi apa-apa pada Chintia, hanya Aurora dan Jonathan yang khawatir akan keadaan Jenny.
Saat pintu terbuka, semua melihat ke arah Jenny yang tampak begitu sangat emosi, memendam marahnya yang amat sangat, mungkin jika dia tak ingat ada hukum di negara ini, dia sudah menyerang Chintia dan membunuh wanita licik itu.
Jenny membesarkan matanya, melihat sosok yang sangat ingin dia temui seharian ini, wajah Jenny melunak, air matanya yang berbulir langsung jatuh begitu saja turun dari pipinya yang putih.
Jonathan pun hanya bisa diam, memandang rindu pada wajah wanitanya, semua orang yang melihat hal itu bisa menangkap betapa dalam perasaan keduanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gladys pada anaknya, sebenarnya Gerrick dan istrinya bisa sedikit menangkap kejanggalan di sini, bukannya seharusnya Chintia beraut lebih sedih atau seharusnya dialah yang histeris karena tunangannya direbut Jenny, namun kenapa malah Jenny yang tampak begitu tertekan di sini, Chintia malah terlihat biasa saja, memang raut wajahnya terlihat sedih, namun penderitaan yang nyata malah terlihat dari raut wajah Jenny.
"Jonathan," kata Chintia yang sedikit senang, Jonathan ternyata tetap mau melihat dirinya.
Jonathan memalingkan wajahnya melihat wajah Chintia, wajahnya benar-benar seperti orang yang memelas, bagaimana bisa dia terjebak permainan dari wanita seperti Chintia ini.
"Kenapa kau hanya berdiri di sana, kau harusnya menanyakan kabar tunanganmu dan calon anakmu," kata Gionardo benar-benar sangat kesal dengan tingkah Jonathan yang malah memandang Jenny dengan sepenuh perasaannya tadi.
"Sekali lagi aku akan mengatakan, Anak itu bukan anakku, dan aku tidak akan menikah dengan putri Anda apapun yang terjadi, aku ke sini untuk menegaskan hal itu," kata Jonathan dengan sangat tegas dia memandang Jenny lalu mengedarkan tatapan tegas nan serius itu pada semua orang, bahan membuat ayah Chintia tampak sejenak terdiam.
"Berani kau mengatakan hal itu!" bengis Gionardo pada Jonathan, membuat semua orang bersiaga kembali untuk melerai pria ini nantinya, Jenny pun segera mendekati Jonathan, berdiri sampingnya.
"Aku berani mengatakan hal ini karena aku benar-benar yakin bahwa anak itu bukan punyaku, aku bisa membuktikan semuanya, aku akan melakukan tes DNA pada anak itu, dan jika anak itu terbukti bukan anakku! kalian akan ku tuntut karena sudah mencemarkan nama baikku dan juga minta maaf pada Jenny," kata Jonathan tegas bahkan tak takut jika ada seorang presiden di sana.
"Aku tidak mau melakukan pemeriksaan DNA," kata Chintia langsung, dia tahu persis, DNA anaknya pasti berbeda dengan Jonathan, karena Jonathan bahkan belum pernah mencium dirinya.
"Kenapa? apa kau takut?" tanya Jenny langsung menatap sepupunya itu tajam.
"AKu dengar tes DNA bisa berbahaya untuk bayiku, aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya," elak Chintia.
"Percayalah, dia tidak akan apa-apa, aku bukti bayi yang sudah dilakukan tes DNA saat masih di dalam kandungan ibuku," ujar Jonathan lagi.
"Aku tidak ingin, pokoknya kau harus bertanggung jawab atas semua ini," kata Chintia lagi, menutupi kegugupannya dengan berpura-pura marah.
"Apa kau benar-benar tak tahu malu, meminta pertanggung jawaban pada orang lain, kau harusnya minta tanggung jawab pada priamu yang sekarang ada di penjara sana!" ujar Jenny benar-benar geram melihat tingkah Chintia ini.
"Aku sudah bilang jangan pernah menyentuh putriku!" kata Aurora kesal, tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa? dia bahkan bukan putrimu, karena bagaimana pun kau itu mandul!" kata Gladys yang tak bisa mengontrol kata-katanya.
Semua orang langsung senyap, bahkan Gerrick yang mendengar hal itu tak percaya Gladys bisa mengatakan hal itu.
"Aku memang bukan wanita yang melahirkan Jenny, tapi aku mengenal Jenny luar dalam, tidak sepertimu, kau mengaku melahirkan Chintia, tapi bagaimana kelakukannya, kau bahkan tidak tahu, coba tanyakan pada putrimu, siapa yang sesungguhnya sudah menghamilinya, aku yakin kau juga akan terkejut," kata Aurora dengan lantang, meninggalkan sisi kelembutannya.
Semua orang kembali terdiam, Bahkan Gerrick dan Gionardo tak menyangka adik perempuan mereka satu-satunya ini bisa melakukan hal ini, Chintia hanya bisa terlihat gusar menatap semuanya.
"Jadi kau tetap bersikukkuh tak ingin bertanggung jawab dan menikahi anakku?" tanya Gionardo dengan nada yang sudah sedikit menurun.
"Tidak!" kata Jonathan masih sama tegasnya, suaranya yang berat dan menimbukan kesan berwibawa itu membuat semua orang jadi percaya padanya.
"Maka aku tak akan segan mengambil langkah hukum, aku akan melaporkanmu pada polisi, bersiaplah menerima surat penangkapan mu segera," kata Gionardo lagi.
"Aku rasa itu akan lebih baik dari pada aku harus menikah dengan anakmu, ingat setelah kandungan Chintia sudah cukup umur untuk bisa melakukan tes DNA, kalian akan tahu kebenarannya," kata Jonathan lagi dengan tatapan marah, bahkan jika dia harus di penjara, dia tak akan pernah ingin melepaskan Jenny.
Jenny yang mendengar itu membesarkan matanya, bagaimana jika benar Jonathan akan di penjara, dia akan sangat tersiksa di sana. Chintia pun sedikit kaget, bukan rencananya untuk memasukkan Jonathan ke dalam penjara, jika dia masuk ke dalam penjara, siapa yang akan menikahinya? Apalagi jika benar pihak Jonathan meminta untuk tes DNA, maka sama saja dia sudah memalukan keluarganya, dia harus melakukan sesuatu.
"Jonathan," kata Jenny yang khawatir.
"Tidak apa-apa, kau percaya padaku kan, ini hanya 2 atau 3 bulan lagi, setelah itu aku akan berasamamu, mereka akan meminta maaf pada kita," kata Jonathan tanpa ragu, Jenny hanya menggeleng tak ingin Jonathan masuk ke dalam penjara.
"Bagaimana Chintia, tunanganmu ini akan masuk ke dalam penjara," Kata Gerrick yang hanya diam saja dari tadi, selaku presiden sikapnya harus netral, itu terbawa dalam masalah ini juga.
"Aku ... aku hanya ingin tak ada yang akan mencibirku, 3 bulan lagi kandunganku akan terlihat, jika pun dia menikahiku, itu akan membawa malu pada keluarga kita," ujar Chintia terdengar lemah, seolah ingin dikasihani, Gerrick mengerutkan dahi mendengar perkataan Chintia, tak adakah dia kasihan dengan tunangannya, semua alasannya adalah untuk kepentingannya sendiri.
"Bermimpilah Chintia, aku tidak akan menikahimu," kata Jonathan, menarik tangan Jenny keluar dari sana, Aurora pun mengikuti Jonathan dan Jenny keluar dari sana, meninggalkan keluarga Chintia yang hanya terdiam.
Ayah dan ibu Chintia tampak memandang anaknya kasihan, namun Gerrick dan istrinya yang tadinya simpati menjadi sedikit berkurang simpatinya, rasanya terlalu janggal untuk di terima akal sehat mereka berdua.