Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 32 -



"Apa kau mencari tahu tentang kemana mereka pergi?" tanya Jonathan, tak terlalu berharap, dia hanya memerintahkan Rian mengambil data dari hotel itu.


"Saya mencari jejak mereka di sekitar hotel dan saya mendapatkan mereka berada di sebuah kabin sewaan di bagian barat hotel kita," kata Rian menjelaskan, Jonatan mengerutkan dahinya, tak menyangka Rian melacak mereka, Jonathan kembali penasaran, dia segera menegakkan kembali duduknya.


"Kabin?" tanya Jonathan.


"Ya, Anda ingat Kabin kayu di daerah barat, pengelolaannya juga di bawah perusahaan kita namun menggunakan perusahan ARA, Tak menggunakan nama High empire atau Crown Empire? mereka ke sana," kata Rian.


"Ya, mereka ke sana?" tanya Jonathan.


"Benar, jadi tadi saya meminta data dari mereka, dan mereka mengirimkan datanya, Tuan Anxel dan Nona Chintia check-in di sana dan tak keluar selama semalam itu," kata Rian menjelaskan.


"Berapa kabin yang mereka sewa?" tanya Jonathan lagi, ada pikiran yang terlentas.


"Satu, mereka menginap dalam satu kabin dengan satu kamar tidur, Ehm ..." kata Rian sedikit ragu di akhirnya.


"Kenapa?" kata Jonathan melirik.


"Mereka menyewa Honeymoon Suite Cabin," kata Rian, membuat Jonathan bertampang kaget, dia melihat Rian dengan tajam.


"Kau yakin?" kata Jonathan.


"Benar, ini data dari pengelola Kabin," kata Rian menunjukkan data itu pada Jonathan, Jonathan mengerutkan dahinya lebih dalam, sepertinya yang ada di dalam pemikirannya benar adanya.


"Aku ingin semua data tentang Anxel dan apa saja hubungannya dengan Chintia, simpan data ini baik-baik, aku merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan, minta CCTV di daerah kabin itu, bilang saja aku yang memintanya," kata Jonathan lagi menyerahkan tugas pada Rian.


"Baik Tuan," kata Rian.


Jonathan segera berdiri, di kepalanya penuh dengan pertanyaan, apa ini juga ada hubungannya dengan penyakit Chintia?


"Rian, cari juga tentang penyakit nona Chintia," kata Jonathan kembali.


Beberapa bulan lalu dia bertemu dengan Chintia, gadis itu tak berubah, masih ceria walaupun dengan tubuhnya yang ringkih, dulu Jonathan benar-benar kagum dengan sifat wanita itu, dia punya tubuh yang lemah namun selalu bersikap ceria seperti tak merasakan apapun, membuat kesan kuat, itu yang begitu menarik perhatian Jonathan.


Dia mulai berhubungan dengan Chintia dan Chintia menjelaskan bahwa tak ada keluarga pria yang mau menikahi anaknya dengannya karena keadaannya yang sakit-sakitan, di saat itulah Jonathan merasa kasihan dan mengajaknya untuk menikah, awalnya Chintia ragu namun suatu pagi dia menerimanya dan mereka pun bertunangan keesokan harinya, itu semua terjadi sebelum dia menyadari perasaannya dengan Jenny.


Jonathan menekuk dahinya, merasa di antara mereka juga ada sesuatu, kalau memang sesuai dengan apa yang dia pikirkan, maka secepatnya dia harus tahu apa yang terjadi, ini bisa jadi kesempatannya untuk membatalkan pertunangan ini, sekaligus untuk mengetahui apakah yang di sembunyikan Chintia dan Anxel.


Jonathan membuka pintu kamar kabin pesawat itu, membukanya perlahan melihat Jenny yang sudah berbaring di tempat tidurnya, sepertinya sudah terlelap.


Jonathan meninggalkan wajah datarnya, senyum tipisnya mengembang, dia lalu segera masuk, menutup pintu itu perlahan dan mendekati Jenny, dia segera naik ke atas ranjangnya, tidur di samping Jenny yang membelakanginya.


Sekilas dia melihat Jenny, senyum tipisnya semakin mengembang menjadi senyuman manis, dia tak lupa melakukan kegiatan favoritnya, mengelus kepala Jenny yang tampak menggeliat, menarik selimutnya, Akibat dari perlakuan Jonathan, Jenny kembali terbangun.


"Sudah selesai?" tanya Jenny lemah antara mengantuk.


"Sudah, tidur lah lagi, aku akan tidur di sampingmu," kata Jonathan segera mengecup dahi Jenny, memposisikan tubuhnya memeluk Jenny dari belakang, hal ini malah membuat mata Jenny semakin cemerlang, karena kehangatan yang ada di belakang tubuhnya itu sangat terasa.


Suara napas Jonathan segera terdengar teratur, apa sebegitu mudahnya Jonathan tidur?


"Nathan?" kata Jenny.


"Hmm ... " Suara Jonathan menyahut sapaan Jenny.


"Aku tak bisa tidur," kata Jenny yang mengaku.


"Belum terbiasa," kata Jenny yang tak mungkin mengatakan bahwa Jonathan adalah alasannya.


"Baiklah, aku akan tidur di luar," kata Jonathan hendak menyibakkan selimutnya, namun Jenny langsung memegang tangannya.


Jenny juga terkejut kenapa dia reflex malah memegang tangan Jonathan, padahal dia awalnya ingin Jonathan juga tak ada di sana, tapi sebagian dari dirinya juga tak rela pria itu keluar dari sana.


"Kenapa? bukannya tak terbiasa tidur berdua?" tanya Jonathan.


Wajah Jenny bersemu merah, tak mungkin dia mengatakan bahwa dia ingin Jonathan untuk tinggal, tapi dia juga tak ingin Jonathan pergi, ah ... bahkan Jenny sendiri bingung dirinya maunya apa.


"Sudah di sini saja, di sofa pasti tak nyaman," kata Jenny yang mencari-cari alasan.


"Tapi nanti kau tidak bisa tidur," kata Jonathan.


"Ya, aku akan mencoba terbiasa, bukannya nanti aku juga harus membiasakannya," kata Jenny yang akhirnya menggigit bibirnya, dia bicara apa sih? kenapa seperti begitu mengundang?


Jonathan tersenyum manis, dia sekarang menerkam tubuh Jenny, membuat Jenny harus mengikuti pergerakan Jonathan, Jenny terlentang akhirnya, di atasnya Jonathan memandangnya dengan penuh kasih sayang.


Napas Jenny terasa berat dan dalam, bersatu dengan napas Jonathan yang menerpa wajahnya, Jenny benar-benar terkaku, menatap mata kuning batu safir itu.


"Mau dilanjutkan atau tidak?" tanya Jonathan tampak sedikit nakal.


"Ha? ehm ... maksudnya?" kata Jenny, berpura-pura polos tak mengerti arahnya kemana, padahal untuk wanita dewasa seperti dia, pasti dia tahu arahnya kemana.


"Jangan berpura-pura polos, aku yakin kau tahu kemana arahnya," jawab Jonathan, membuat Jenny semakin merah padam wajahnya, dia tak tahu harus menjawab apa, jika tidak akankah Jonathan akan menjadi kecewa, tapi jika iya, bukankah itu sangat murahan, lagi pula, walau pergaulannya sangat bebas, Jenny belum pernah menyerahkan dirinya pada siapapun.


Jonathan tertawa kecil, dia lalu segera melepaskan tubuh Jenny, berbaring di sebelah wanitanya itu, rasanya selalu puas membuat Jenny bisa terkaku seperti itu. Jenny melirik ke arah Jonathan yang masih cukup terkekeh karena melihat reaksi Jenny.


"Kenapa tertawa?" tanya Jenny yang merasa dikerjai oleh Jonathan.


"Tidak, aku suka wajahmu yang selalu merah padam seperti itu jika di dekatku, itu artinya kau sangat mencintaiku," kata Jonathan.


"Bagaimana wajah memerah artinya seperti itu? ini kan hanya respon tubuh," kata Jenny mengelak, berwajah ngambek karena Jonathan terus menggodanya.


"Ya, respon tubuh karena kau mencintaiku," kata Jonathan memiringkan tubuhnya mendekatkan diri pada Jenny, memandang Jenny, Jenny hanya melirik sekilas, lalu membuang wajahnya, kesal akibat ulah Jonathan.


"Tidak, ini karena kau terlalu dekat, aku jadi kurang oksigen karena kau mengambil napas ku," kata Jenny mencari alasan lagi.


"Jawab iya, kalau kau terus mengelak aku akan menciummu lagi," ancam Jonathan gemas melihat tingkah laku wanitanya ini.


"Apaan sih?" kata Jenny yang melirik dan menekuk dahinya.


"Jawaban yang salah," Kata Jonathan, langsung mencium bibir Jenny, dia segera mengubah posisinya hingga berada di atas Jenny agar memudahkannya mencium Jenny.


Jonathan mencium Jenny dengan sangat dalam, perlahan namun begitu lembut, tak ingin terburu-buru, merasakan kenyal dan manisnya juga merasakan sensasi yang terasa begitu memabukkan bagi keduanya.


Jonathan menyedot bibir seksi Jenny, menghisap semua napas Jenny hingga Jenny kesulitan bernapas, melawannya pun sulit.


Jonathan tanpa sadarnya mulai meraba tubuh Jenny, meraba leher Jenny yang Jenjang, membuat Jenny sedikit mengelinjang kegelian, membuat matanya membesar, merasakan lembut sentuhan Jonathan.


Saat Jenny sudah hampir kehabisan napasnya, Jonathan melepaskan ciuman panasnya, melihat Jenny yang terengah-engah, entah karena memang kehabisan napas atau karena gejolak lain, Jonathan memandang mata sendu Jenny, dia lalu tersenyum,.mengecup sedikit dahi Jenny.


"Belum saatnya, tidurlah," kata Jonathan, dia segera kembali ke posisinya, berusaha menenangkan diri, Jenny melirik ke arah Jonathan, ada rasa tak rela untuk menghentikannya, namun tak mungkin untuk meminta lagi apalagi memulai duluan, jadinya dia hanya menatap Jonathan yang sudah bergeming, lama-lama setelah mengatur napasnya, akhirnya tertidur pula.