
Jenny sedikit gusar, dia berulang kali mencoba untuk menutup matanya, namun aroma dan juga kehangatan yang sekarang ada di sampingnya membuatnya sama sekali tidak bisa menutup matanya, dia mencoba hingga membuat urat-urat di matanya mulai lelah, tetapi matanya sama sekali tidak ingin menutup, bagaimana bisa begini?
Jenny membalikkan tubuhnya, kali ini mencoba berbaring ke arah Anxel, memperhatikan pria itu yang sudah dengan nyenyaknya tidur di sampingnya, bagaimana dia bisa tidur dengan cepat seperti itu? padahal ini adalah kali pertama mereka tidur bersama, Jenny melirik ke arah jendela dan pintu kaca di seberang sana, menampakan malam yang kelam, gelap dan gumpalan-gumpalan salju yang dari tadi berjatuhan sudah tidak ada lagi, sebenarnya inilah alasan kenapa mereka tak jadi melihat aurora, karena seharian tadi turun salju, Jonathan takut jika salju yang turun akan semakin lebat hingga dia membatalkannya dan merencanakannya untuk esok hari, tidak tahunya salju itu berhenti sekarang.
Jenny akhirnya menyerah, walau sebenarnya tubuhnya sudah cukup berat, namun jika begini dia tak akan bisa tidur, mungkin sedikit susu hangat atau coklat hangat bisa membuatnya lebih rilex hingga tertidur nantinya.
Jenny memutuskan untuk turun dari ranjangnya, berjalan perlahan meninggalkan kamar itu agar Anxel tidak terbangun, dia berjalan menuruni anak tangga di antara ruangan yang mulai remang, dia lalu berjalan ke arah dapur, mencari sesuatu yang bisa dia makan atau minum, dia butuh sesuatu yang hangat sekarang karena udaranya mulai kembali menusuk.
"Selamat malam Nona," kata pelayan yang tiba-tiba ada di belakang Jenny, membuat Jenny hampir terpekik karena sangat kaget mendengar teguran dari pelayan itu, napasnya saja hampir tercekat, "Maafkan saya sudah membuat Anda kaget Nona," kata pelayan itu lagi merasa tak enak.
"Oh, tidak apa-apa, aku hanya sedang mencari sesuatu yang hangat," kata Jenny lagi dengan sedikit senyuman menutupi wajah kagetnya, jantungnya masih berdetak kencang.
"Saya akan buatkan untuk Anda Nona, kebetulan Tuan Jonathan juga meminta coklat hangat, saya akan membuatkannya, Anda mau coklat hangat atau susu hangat?" tanya pelayan itu, mendengar hal itu membuat Jenny mengerutkan dahinya, Jonathan juga belum tidur?
"Oh, sama saja, aku mau coklat hangat," kata Jenny lagi.
"Baik Nona," kata pelayan itu bergegas, tak ingin membuat Jonathan terlalu lama menunggu.
"Ehm, Jonathan belum tidur?" tanya Jenny penasaran.
"Ya, Tuan sedang ada di halaman belakang, duduk di dekat perapian, beliau memang suka duduk di sana jika kemari, jika Anda ingin Anda boleh menunggu di sana saja Nona, di sana sangat nyaman dan juga hangat," kata pelayan itu menyarankan.
Jenny hanya menangguk sungkan, dia lalu berpikir, apa dia harus ke sana? tidak, cukup mengambil minuman itu dan kembali tidur, pikir Jenny, namun entah kenapa dia malah merasa sedikit penasaran, mungkin mengintip sedikit tidak apa-apa bukan?
Jenny berjalan menuju ke pintu belakang, dia mencoba memperhatikan ke arah luar, ada seperti beranda besar, di tengah beranda itu ada tempat seperti untuk membuat api unggun, dan api unggun itu sudah menyala besar, Jonathan tampak duduk saja termenung di sana.
Jenny hanya mengamati pria itu, bahkan diam saja dia tampak begitu menawan, bagaimana seorang pria yang dulu tampak begitu kurus dan benar-benar tak menarik sekarang bisa begitu mencuri perhatian, bahkan untuk seorang Jenny.
"Silakan Nona, bergabung saja dengan Tuan muda," kata pelayan itu yang tanpa tampang berdosa sudah membuat Jenny salah tingkah, kalau begini kan Jonathan tahu kalau Jenny ada di sana.
Sesuai dengan dugaan Jenny, Jonathan yang mendengar hal itu segera melirik ke arah pintu itu, melihat sosok Jenny yang berdiri kaku di sana, Jenny juga melihat Jonathan sudah menangkap dirinya, tidak mungkin langsung lari, akan terlihat aneh ini jika tiba-tiba Jenny langsung lari dari sana.
"Oh, iya, terima kasih," kata Jenny, rasanya kesal ingin memarahi pelayan itu karena tanpa permisi sudah membuka pintu itu begitu saja, kalau begini mau tak mau Jenny harus setidaknya duduk sebentar di sana.
"Hai," kata Jenny sedikit salah tingkah, tak tahu harus bagaimana melihat tatapan Jonathan yang hanya berwajah datar itu melihatnya, Jenny segera duduk cukup jauh dari Jonathan, tapi karena tempat duduknya berbentuk bundar dengan api unggun sebagai pusatnya, Jenny memilih tempat di depan Jonathan.
"Silakan Nona," kata Pelayan itu setelah menyerahkan coklat panas milik Jonathan lalu beralih ke Jenny, Jenny dengan senyuman gugup mengambilnya, dibalik nyala api yang menjilat-jilat udara dia melihat tatapan Jonathan yang tetap saja memandangnya dengan tatapan datar namun entah kenapa ada makna yang membuat Jenny gugup. Kenapa sekarang Jenny bisa begitu gugup hanya karena tatapan pria itu. Jenny tak meminum minumanya, hanya meletakkan kedua tangannya pada mug itu, terasa mulai hangat menuju panas.
"Tidak bisa tidur?" suara berat itu membuka obrolan.
"Iya, mungkin tidak terbiasa dengan suhunya," kata Jenny lagi, meminum coklat panasnya seperti meneguk air, ternyata benar-benar masih panas, lidahnya terasa terbakar, Jenny sampai hampir memuntahkan kembali coklat yang membakar bibirnya.
Jonathan yang melihat Jenny seperti tersedak segera merespon, dia segera mengambil air kemasan yang juga di sediakan untuknya tadi, dia segera ke arah Jenny dan duduk di sampingnya, sigap dia membuka tutup botol itu dan menyerahkannya pada Jenny, wajah cemasnya terlihat mewarnai raut wajahnya.
"Ini, lidahmu terbakar bukan? minumlah agar panasnya hilang," kata Jonathan segera menyerahkan air itu pada Jenny, Jenny yang melihat kepeduliaan di tatapan mata Jonathan itu sedikit terdiam, rasa perih terbakar di mulutnya bahkan dia lupakan sejenak, jika Jonathan tidak kembali menyodorkan air mineral itu, dia pasti masih menatap wajah Jonathan yang menghipnotis itu.
"Oh, ya, terima kasih," kata Jenny, air yang sekarang mengenai mulutnya terasa dingin, menghapus perih dan panas di lidahnya, Jenny melirik ke arah Jonathan.
"Itu kan coklat panas, tentu kau tidak bisa meminumnya seperti itu, bagaimana apa mulutmu sudah baik-baik saja?" tanya Jonathan yang sedikit memperhatikan bibir Jenny yang sedikit memerah, entah karena memang panasnya atau memang begitu.
Jenny yang melihat Jonathan serius memperhatikan bibirnya itu hanya bisa terkaku, Jenny hingga menggigit bibirnya karena terlalu gugup, wajah Jonathan sangat dekat dengan wajahnya sekarang.
"Aku rasa aku sudah tidak apa-apa, terima kasih," kata Jenny, kalau begini terus, siapa yang tahan, ah, tidak boleh, dia calon suami sepupunya, ingat prinsipmu Jenny, pikir Jenny menyadarkan dirinya sendiri.