Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 1 - Permainan di mulai



Seorang gadis turun dari mobil Roll-Royce Phantom, dia turun dengan begitu anggunnya, membuat seluruh sorot mata menatapnya, gaunnya yang berwarna merah berbahan satin dengan potongan Shoulder off yang mengekspose bagian bahunya yang kecil juga dadanya yang putih, bagian ekornya cukup panjang, sedikit terbang saat dia melangkah, seorang pelayan yang dia bawa memegang tangganya bak seorang putri dia mulai berjalan, anggun namun menggoda, gerakannya bahkan seperti menari, membuat pria tak bisa berkedip karenanya.


Dari dia turun sebuah topeng yang ditopang oleh tongkat menutupi hanya sebagian matanya, bibirnya yang merah terlihat penuh namun juga dengan porsi yang membuat siapa pun ingin melahapnya. Sebuah senyuman langsung tersungging di bibirnya, tak berlebihan, malah terkesan seksi.


 


Perlahan sepatu stiletto-nya menapak anak-anak tangga yang tersusun tingkat demi tingkat, mengantarkannya ke gerbang utama rumah bergaya Eropa itu.


 


Pelayan itu melepaskan tangannya, sedikit menunduk memberikan hormat dan wanita itu juga mengikutinya, pintu terbuka lebar untuknya membuat semua mata tertuju, sesuai dengan tema pesta topeng hari itu, pesta topengg kerjaan zaman ratu Victoria.


Sejenak seluruh kegiatan terhenti, semua orang menatapnya, baik wanita apalagi pria.


 


Perlahan dia menapakkan kakinya ke dalam ruangan yang beralas marmer, dia kembali berjalan, seakan semua orang tak bisa menyentuhnya, dia membelah kerumunan pesta yang ramai itu, setiap dia melangkah tanpa diperintah, semua minggir memberikan jalan untuknya.


Cara jalannya menunjukkan kepercayadirian yang tinggi, matanya lurus saja seakan tahu dibalik-balik semua orang ini ada seorang pria yang menjadi tempat dia berhenti.


 


Jenny tahu percis dimana tempat Anxel berada, jadi dia putuskan untuk mendatanginya, dengan dagu terangkat, sorot mata tajam, senyum tipis yang menggoda, dia berjalan penuh dengan kepercayaan diri.


 


Semua orang membuka jalan untuknya, hingga akhirnya sosok yang ditujunya tampak juga, Pria itu tak terlalu menarik, tingginya bahkan hanya rata-rata saja, namun status dibelakangnya lah yang Jenny butuhkan.


 


Anxel terlihat puas dengan penampilan Jenny, dia tampak tersenyum ketika wanita itu mendatanginya, membuat iri seluruh pandangan pria padanya, Anxel mengulas senyum tipis nan manis, fix dia akan menjadikan wanita ini pasang hidupnya.


 


"Maaf, membuatmu menunggu lama," suara itu terdengar lembut, walau ada kata maaf, namun tak ada nada penyesalan di sana, malah terkesan angkuh. Anxel menaikan sudut bibirnya lagi, terlalu menarik sisi kejantanannya.


 


"Tak apa, aku pria yang menghargai waktu yang dihabiskan untuk mendapatkan kesempurnaan seperti ini," kata Anxel menyeruput minuman yang dari tadi ada di tangannya, "Kau cantik sekali," Anxel tak bisa menahan dirinya untuk mengeluarkan pujian.


 


Jenny tersenyum simpul, melirik pria itu, sama saja, mudah sekali terjebak olehnya, ah, terlalu membosankan, pikirnya.


 


"Bukankah aku selalu begitu, Anxel," ujar Jenny lagi.


 


"Ingin minum?" tawar Anxel.


 


"Tidak, aku ingin tetap sadar hingga pulang ke rumah nanti, siapa tahu ada yang ingin mengambil keuntungan dariku," ujar Jenny tak punya niat menggoda namun tetap saja terdengar menggoda bagi Anxel.


 


"Baiklah," kata Anxel seadanya.


 


"Hei, sepupu, wow, kau cantik Sekali," Ujar pemilik pesta yang bahkan tersaingi olehnya, Chintia.


 


"Ya, terima kasih, kau juga," kata Jenny memberikan salam pipi yang hangat, bagaimana pun mereka adalah saudara.


 


"Aku tak menyangka kau datang bersama Anxel, perfect, kalian pasangan yang sangat cocok, Paman Jofan pasti akan senang mendengarnya," ujar Chintia melirik ke arah Anxel.


 


"Tunggu hingga semuanya resmi, maka kau boleh bilang begitu," ujar Jenny lagi tersenyum tipis.


Sayang sekali, malam makan siang yang harusnya menjadi pertemuan kedua keluarga itu tidak jadi terjadi, karena ayah Anxel harus rapat mendadak bersama presiden, tentu acara itu tak batal, hanya perlu dijadwalkan ulang, namun walaupun begitu, sudah pasti Jenny dan Anxel akan menjadi pasangan.


 


"Malam ini, tidak akan menjadi malam yang biasa saja, semua orang pasti membawa pasangannya untuk menari, tapi aku minta sekarang, kalian harus berdansa dengan pasangan orang lain, so, ayo cari pasangan yang lain" ujar pembawa acara menggema.


 


"Tentu tidak, aku pinjam Anxel sejenak ya sepupu," ujar Chintia.


 


"Silakan," kata Jenny enteng, tak masalah baginya, toh, dia juga tak punya minat sama sekali untuk berdansa.


 


Namun baru saja dia ditinggal oleh Anxel, 6 orang pria berdiri di depannya menawarkan tangan mereka, wajah mereka tertutup topeng, tapi feeling Jenny yang sudah terasah menyatakan bahwa tak ada dari mereka bahkan lebih menarik dari Anxel, menari dengan mereka akan menurunkan pamornya.


 


Tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan melingkar di pinggangnya, dan suara berat seorang pria terdengar.


"Dia bersamaku." Pria itu langsung menerobos berdiri di depan Jenny, dan langsung mengambil tangannya untuk di genggam bersamaan dengan itu, musik dari gesekan bow violin, lembut mengalir, membuat gerakan dansa itu cendrung perlahan dan pelan.


 


Jenny terhenyak kaget, dia langsung melihat manik mata dari pria di depannya, walaupun awalnya tak berniat untuk berdansa namun karena tatapan tajam dan mata indah itu,.tubuhnya seolah terhipnotis, bergerak pelan mengikuti alunan lagu.


"Apa kau senang bertemu denganku?"


 


Jenny tahu betul suara itu suara siapa? dia lalu mengedipkan matanya mencoba keluar dari kekangan mata indah itu.


"Kenapa kau ada di sini? bukannya seharusnya kau pulang? dan bagaimana kau bisa masuk ke pesta ini?" tanya Jenny, hanya kalangan tertentu yang boleh masuk ke sini, tentu dengan undangan eksklusif tentunya.


 


"Kau sangat meremehkan kedudukanku Nona Jenny," ujar Jonathan memutar tubuh Jenny, Jenny berputar beberapa kali, namun karena gaunnya yang punya ekor sedikit panjang dan stiletto-nya dia sedikit hampir tergelincir, untung saja, Jonathan sigap menangkapnya, membuat Jenny dalam pelukannya.


Jenny terdiam, sekali lagi tak bisa lepas dari sorotan mata itu, Jonathan pun diam, menatap wajah indah di depannya, napas mereka beradu, namun hanya sekejap, Jenny langsung sadar jebakan Jontahan yang cukup basi baginya.


 


"Seharusnya kau pulang saja, bukannya kau sudah mengatakan hal itu tadi pagi, oh, untuk orang yang baru di jahit 14 jahitan, gerakanmu cukup lincah," kata Jenny lagi, melanjutkan dansanya, lagu belum juga berhenti.


 


"Dokter memberikan ku anti nyeri yang terbaik," kata Jonathan santai saja.


"Ya, membuatku curiga, benarkah ada jahitan di sana?" kata Jenny lagi, selalu mengutarakan apa yang dia pikirkan.


"Aku bisa menunjukkan padamu jika kau ingin," bisik Jonathan tepat pada telinga Jenny karena saat ini memang posisinya mereka begitu dekat, bisikan suara itu membuat bulu kuduk Jenny naik semua.


"Tak perlu, aku tak berminat melihat tubuhmu," tolak Jenny lagi melepaskan dirinya, suara lagu akhirnya berhenti, membuat mereka tak bisa lagi melanjutkan dansa dan pembicaraan mereka, hanya diam saling melempar pandang.


 


"Apa ada yang menggodamu?" suara wanita datang bersama dengan tangannya yang diletakkan pada bahu bidang Jonathan, Jonathan langsung menangkap tangan wanita itu, namun matanya tak lepas dari Jenny, dia tersenyum manis sedikit menggoda, awalnya menghadap Jenny, namun langsung dia palingkan ke arah wanita itu, Jenny melirik wajah wanita yang sekarang tapak setelah Jonathan menggeser sedikit bahunya. Jenny mengerutkan dahinya, Chintia?


 


"Tenang saja aku hanya butuh teman berdansa, karena kau sudah berdansa dengan yang lain," ujar Jonathan lagi, membuat Jenny jadi kesal sendiri, jadi dia hanya pilihan untuk berdansa.


Jenny hampir meledak namun tangan Anxel segera melingkar pada pinggangnya yang kecil, Jenny kaget namun dia langsung tersenyum puas, dia kira hanya dia saja yang bisa membuat iri? tentu Jenny tak pernah mau kalah.


 


"Bagaimana dansamu?" tanya Anxel yang tahu tadi Jenny berdansa dengan pria ini, dia belum begitu hapal dengan wajah Jonathan apalagi sekarang tertutup setengah oleh topeng.


 


"Tidak buruk, aku yakin kau bisa lebih baik darinya," kata Jenny meraparkan tubuhnya ke arah Anxel, terlihat lebih intim, tentu Jonatah melihat itu dan Anxel hanya menyukainya.


 


"Terima kasih dansanya Nona, nikmati pestamu," kata Jonathan dengan senyuman santai tanpa beban, merangkumkan tangan pada pinggang Chintia, membawanya pergi menjauh.


 


Hal ini membuat Jenny makin menekuk wajahnya, oh, ternyata memang begitu triknya, mencoba membuat orang penasaran dan bertanya-tanya hingga fokus pikiran hanya padanya, Licik sekali, kata hati Jenny sambil melihat punggung pria itu pergi.


 


Sayangnya, Jenny sudah membacanya, so, untuk apalagi memikirkan pria itu, Jenny tak akan mudah ditipu dan dikalahkan, ini permainannya, Jenny yang akan memenangkannya, pikirnya melepaskan dirinya dari Anxel, berjalan melenggang mengambil minuman yang sudah disediakan.