Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 14 - Terjebak



Jenny dengan sadarnya membelokkan papan selancarnya ke arah kanan, Jonathan yang melihat itu segera membesarkan matanya, itu jalur yang dia takutkan. Jonathan sekuat tenaga berusaha agar mengejar Jenny namun Jenny masuk lebih dalam dan dalam lagi ke arah jalur berbahaya.


Jenny berusaha secepat mungkin melewati pepohonan Pinus yang entah kenapa jadi begitu lebat, dia menjadi kesulitan, apalagi semakin rapat pohon-pohon di sekitarnya, selain itu jalurnya terasa lebih terjal, Jenny ingin menghentikannya namun sebelum dia berhasil, dia sudah terjatuh lebih dahulu, membuat tubuhnya terlempar di salju, bergulung dan papan ski-nya patah menghantam pohon.


Jonathan yang melihat hal itu segera berhenti, dia segera berjalan di salju dan mendekati tubuh Jenny yang tak bergerak, sepertinya pingsan.


"Jenny, Jenny! Jenny! ayo bangun?" kata Jonathan mengangkat bagian kepala Jenny yang tampak sedikit tergores, mungkin terkena batang pohon atau apalah.


Jonathan menepuk pipi Jenny sedikit kasar karena Jenny tak merespon, dia menguncang tubuhnya, kembali memanggil nama Jenny, namun tetap saja tak ada respon, gadis itu tak menjawab, bahkan matanya tetap tertutup.


Jonathan ingin memastikan Jenny masih bernapas, dia lalu mendekatkan pipinya ke hidung Jenny, saat itu dia mendengarkan suara.


"Kau terjebak," kata Jenny langsung disambut tawa yang senang, Jonathan yang mendengar itu langsung kaget, dia seperti baru saja mendapatkan orang mati yang tiba-tiba hidup lagi, dia sampai mundur menjauh, lalu melihat Jenny yang sudah duduk sambil menertawainya, Jonathan bernapas lega namun bertampang kesal, kesal sekali rasanya.


"Apa maksudmu seperti ini?!" kata Jonathan marah, hal ini tentu bukanlah sebuah permainan apalagi bahan becandaan, dia langsung berdiri.


 


"Ya, anggap saja ini balasan dari perbuatanmu semalam padaku," kata Jenny pagi berusaha berdiri.


 


"Tapi ini bukan hal yang seharusnya kau lakukan, ini sangat keterlaluan, kau tahu daerah ini sangat berbahaya, Jika terjadi sesuatu padamu ...." kata Jonathan yang menumpahkan semuanya, kesal, cemas, marah, dan juga panik jadi satu sekarang.


"Memangnya kenapa kalau terjadi sesuatu padaku? kau bukan calon suamiku? kita bahkan bukan siapa-siapa? kau hanya calon suami Sepupuku, aku juga tak ada menyebutkan namamu untuk mengejarku," kata Jenny lagi, keras kepala seperti biasa, membuat Jonathan tambah Jengkel, bukannya berterima kasih, Jonathan malah dimarahi.


"Ok! jika terjadi apapun padamu, aku tak akan peduli! lanjutkan saja maumu!" kata Jonathan, emosinya sudah sampai di ubun-ubun, dia berbalik dan segera berjalan meninggalkan Jenny.


"Iya, pergi sana, dasar Beruang kutub," kata Jenny mengumpat, Jenny mencoba untuk berjalan namun baru saja dia berjalan, lapisan salju yang dia injak entah kenapa tiba-tiba amblas, Jenny bahkan tak sempat terpekik saat tubuhnya masuk ke salju yang amblas, dia juga langsung tertutup oleh Salju dari atas.


 


Jonathan yang terus berjalan mendengarkan suara gemuruh, bersamaan itu dia tak mendengar lagi ocehan Jenny, dengan instingnya yang mengatakan sesuatu terjadi, dia segera melihat ke belakang, menemukan salju yang tadi menjadi tempat Jenny sudah membentuk lubang besar.


Jonathan tanpa pikir panjang lagi segera berjalan cepat ke arah tempat itu, melihat sebagian tubuh Jenny tertutup salju dan dia sudah tak sadarkan diri tergeletak di dalam dasar lubang yang tiba-tiba ada, Jonathan awalnya ingin memanggil bantuan, namun karena dia salah menginjak pinggir lubang itu, dia pun terjatuh ke dalam lubang itu.


Jonathan sempat menggapai tepian mencoba mempertahankan diri agar tak jadi jatuh ke dasar lubang itu, namun ketika melihat Jenny yang meringis kesakitan di bawah, Jonathan terdiam, dia perlahan melepaskan tangannya, merelakan tubuhnya jatuh ke dasar lubang yang dalamnya kurang lebih hampir 3 meter itu.


Dia terjatuh tak jauh dari tubuh Jenny, perlahan membuka papan ski itu agar tak menghalangi jalannya, setelah itu dia berjalan menuju ke arah Jenny yang masih berbaring, wajahnya meringis kesakitan.


"Jenny, Apa yang kau rasakan?" tanya Jonathan, lagi-lagi terlihat cemas.


Jonathan tanpa mengatakan apapun segera melihat ke arah kaki Jenny yang setengah terkubur Salju, saat dia mengorek salju itu, dia menemukan bercak merah, darah Jenny mewarnai Salju itu, dia mencoba lagi, dan menemukan luka goresan di kaki Jenny, lukanya cukup menganga.


"Kakiku kenapa?" kata Jenny yang mencoba melirik kakinya.


"Luka, tapi tidak apa-apa, salju membuat darahmu tak keluar banyak," kata Jonathan menjelaskan, melihat wajah Jenny yang awalanya terkejut menjadi sedih, walau terlihat tangguh dan keras, Jenny sudah lama sekali tak terluka, sejak umur 6 tahun dia sudah tak pernah lagi punya luka di tubuhnya, selain dia takut sakit, tentu Jenny tahu luka akan membuat penampilannya tak sempurna lagi.


"Tak apa-apa, itu tidak akan membahayakan," kata Jonathan mencoba menenangkan Jenny.


"Iya, tapi itu sakit, dan akan membuat luka yang berbekas," rintih Jenny lagi, rasanya panas dan nyeri.


Jonathan melirik wajah Jenny yang merah, entah karena dingin atau karena dia sedang menangis.


"Sudah, itu tak apa-apa, aku yakin, itu tak akan menjadi masalah," kata Jonathan yang refleks memeluk Jenny yang cukup histeris hanya karena luka kecil di kakinya, Jonathan mengelus rambut Jenny lembut, menenangkan Jenny yang masih histeris.


Mendapatkan pelukan hangat dan elusan lembut di kepalanya, Jenny akhirnya berhasil ditenangkan, Mendengar suara tangis yang sudah mereda, Jonathan melepas pelukannya, menatap wajah Jenny yang basah.


"Jangan menangis, sekarang aku akan memindahkanmu ke pinggir agar kau bisa bersandar, kakimu harus tatap diam, ok," kata Jonathan lembut, dia megusap air mata Jenny yang masih berlinang, senyumannya begitu hangat, bahkan berhasil membuat Jenny lupa akan udara sekitarnya yang dingin, sesaat juga lupa perihnya kakinya sekarang. Jenny mengangguk karenanya.


Jonathan menambah senyumnya, dia lalu meletakkan tangannya di bawah lutut Jenny, mencoba mengendong Jenny perlahan, dan Jenny yang takut jatuh kembali, refleks langsung memeluk leher Jonathan yang terlihat kekar itu, di saat begitu tatapan mereka berpaut, membuat mereka berdua membeku dalam posisi itu sesaat, hanya saling pandang, semilir angin dinginlah yang mengingatkan Jonathan agar membawa Jenny ke tepi lubang ini.


Dia meletakkan Jenny perlahan, memposisikan kaki Jenny agar tetap lurus, Jenny meringis sedikit kesakitan saat kakinya terpaksa di luruskan. Jenny menatap wajah Jonathan yang tampak telaten membantunya, berusaha membuatnya senyaman mungkin.


"Terima kasih," kata Jenny saat melihat Jonathan memperhatikan luka Jenny, takut darah kembali keluar dari sana.


 


"Ya, sama-sama, apakah sudah cukup nyaman?" tanya Jonathan.


Jenny hanya mengangguk, Jonathan lalu memindahkan perhatiannya pada lubang besar tempat mereka terjebak sekarang, bagaimana tiba-tiba ada lubang begini, lubang itu berbentuk bulat, cukup lebar bagi mereka berdua, sayangnya juga cukup dalam bahkan saat Jonathan berusaha melompat untuk menggapai tepiannya, dia tak sampai.


Jonathan mengamati semuanya, mencari alat agar setidaknya dia bisa ke atas, mencari pertolongan untuk Jenny, namun semua kosong dan sia-sia, Apalagi salju mulai kembali turun dengan cukup lebat. Dia berteriak berkali-kali meminta pertolongan.


"Sial," kata Jonathan mengumpat, kehabisan akal karena tak tahu harus berbuat apa, dia sudah beruluang kali melompat hingga kesusahan bernapas di udara yang dingin itu.


"Kenapa?" tanya Jenny yang melihat wajah Jonathan yang frustasi.