Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 11 - Merah padam



"Baguslah jika tak apa-apa, lain kali jangan begitu ceroboh," kata Jonathan lagi dengan nada cemas dan pedulinya, sekali lagi membuat Jenny hanya diam, menggigit bibir dalamnya.


 


Hening kembali sejenak, namun Jonathan bergeming duduk di samping Jenny sekarang, nyala api besar di depan mereka menghantarkan hangat ke sekitar mereka, mereka bahkan tak merasa sedang ada di luar ruangan sekarang, Jonathan sesekali menyerumput coklat panasnya, Jenny sudah tak berani menyerumputnya, setidaknya dia membiarkan coklat panas itu menjadi sedikit lebih dingin.


 


Jenny merasa nyaman duduk di sana, tak tahu karena hangatnya api unggun atau karena pria yang sedang duduk di sampingnya ini yang membuat hal itu terasa, Jenny menatap punggung Jonathan yang bidang, rasanya pasti sangat nyaman jjika bisa berlindung di sana.


 


Jenny memukul kepalanya, apa yang dia pikirkan? Tergoda dengan Jonathan? gila saja, apa yang sudah dia pikirkan barusan, dia ingin bisa bersandar di bahu bidang itu, gila, benar-benar gila, tidak boleh terjadi, dia harus segera pergi dari sini, kalau tidak, dia benar-benar akan gila.


 


Jonathan yang tadinya hanya diam, sedikit teralihkan perhatiannya melihat gelagat Jenny, dia melirik ke arah Jenny yang langsung terdiam,membesarkan matanya ketika Jonathan menatapnya, untung saja dia sudah selesai memukul kepalanya sendiri.


 


"Ehm, sepertinya aku ingin kembali ke kamarku," kata Jenny dengan bergegas, beberapa menit lagi di ada di samping pria itu, dia takut pikirannya akan memikirkan yang lebih aneh dari tadi. Jenny segera berdiri ingin meninggalkan Jonathan, namun baru beberapa langkah saja.


 


"Bisakah kau menemaniku sebentar lagi di sini? aku butuh teman saat ini," lembut suara itu terdengar diantara suara maraknya api di sana, langkah Jenny terhenti, di dalam pikirannya dia harus menolak hal ini dan berjalan pergi kembali ke kamarnya, namun entah kenapa, sepatah kata penolakan itu tak berhasil lolos dari bibirnya, dia malah menoleh ke belakang, menangkap mata sendu itu yang seolah memelas untuknya tinggal, dan entah kenapa, dia tak bisa menolaknya sama sekali.


 


Jenny kembali ke tempat duduknya yang tadi, merasa bodoh namun juga tak berdaya, pikirannya sendiri mengutuknya karena kembali ke tempat itu, namun bagaimana? dia pun tak sanggup untuk menolaknya.


 


Jonathan tak mengeluarkan sedikit pun  kata-kata, dia hanya diam memandangi api unggun yang menyala, baranya kadang terbang sesakali, Jenny pun awalnya tak berani membuka pembicaraan, hanya mencoba untuk tidak memperhatikan lawan jenisnya ini, mencoba membuat pikirannya senetral mungkin.


 


"Chintia sudah tidur?" tanya Jenny yang jelas sekali sudah tahu jawabannya, jika belum tidur, bukan dia yang menemani Jonathan, pasti lah Chintia.


 


"Ya, tadi dia izin ke kamarnya," kata Jonathan bergeming menatap nyala api itu, perkataan Jonathan mengundang kerutan di dahi Jenny.


 


"Kamarnya? kalian tidak tidur bersama? " tanya Jenny memperjelas.


 


"Tidak, aku belum terbiasa tidur berdua," kata Jonathan singkat, bukannya membuat  Jenny merilekskan otot dahinya, malah membuatnya semakin dalam, tak biasa tidur berdua? Lalu dengan wanita-wanita lainnya itu?


 


"Masa? Lalu dengan wanita yang lain itu masa kau tidak ajak mereka tidur bersama?" tanya Jenny yang selalu mengutarakan isi otaknya.


 


Jonathan melirik ke arah Jenny yang seketika membuat Jenny salah tingkah, kenapa? salah kata lagi kah dia?


 


Jonathan tertawa kecil sejenak, dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Jenny yang ternyata selalu berpikiran negatif tentang dia.


 


"Kenapa malah tertawa?" tanya Jenny yang tak suka tawa Jonathan, serasa dia diejek oleh tawa Jonathan itu.


 


"Kau tetap berpikir aku ini penjahat kelamin ya?" kata Jonathan lagi masih dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya yang seksi itu.


 


"Ya, seseorang dengan banyak wanita, untuk apa lagi jika tidak ujungnya ke sana? jika hanya untuk berpacaran saja, rasanya itu tidak mungkin," kata Jenny menyipitkan matanya melirik Jonathan yang hanya setengah menghadapnya, mencoba mendengarkan perkataan Jenny.


 


 


"Pertama, itu hanya buang-buang waktu, kedua, buang-buang uang, ketiga, ya masa punya banyak wanita, kau sama sekali tidak mencicipinya, pastilah kau juga ingin mereka membayar apa yang telah kau berikan, semacam take and give gitu, aku tak percaya ada orang yang hanya memberi saja tapi tak menginginkan sesuatu dari mereka,"  kata Jenny lagi mengutarakan isi kepalanya, terasa sangat bohong jika Jonathan tidak mengambil keuntungan dari wanita-wanita yang ada di sekelilingnya.


"Kalau aku katakan padamu aku belum pernah melakukannya? Apa kau percaya?" tanya Jonathan lagi.


 


Jenny segera menggelengkan kepalanya mantap, tentu dia tak percaya, mana mungkin, pikirnya lagi, Jonathan yang mendapatkan jawaban itu hanya tertawa kecil.


"Ya, sudah, lagi pula untuk apa aku membuktikannya padamu," kata Jonathan, membuat Jenny terdiam, benar juga, untuk apa dia berusaha menyakinkan Jenny bahwa dia tidak pernah berbuat macam-macam dengan wanita lain, di sini Jenny bukanlah pasangannya, tapi kenapa malah Jenny penasaran dengan kebenarannya.


 


"Yah, iya, sih," kata Jenny lagi menyerumput coklatnya yang sudah tak lagi hangat, cendrung dingin, Jonathan hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya.


 


"Aku mungkin punya banyak wanita, tapi aku hanya suka menahlukkan mereka, bagiku itu adalah sebuah pembuktian, hanya itu saja, tak pernah lebih dari itu," kata Jonathan lagi.


 


"Ha? Membuktikan? Jadi bagimu wanita-wanita itu hanya sebuah pembuktian?" tanya Jenny geleng-geleng tak percaya.


 


"Ya, benar, mereka adalah sebuah bukti bagiku," kata Jonathan sekarang menoleh ke arah Jenny yang sekarang memeluk dirinya sendiri.


 


"Kau ingin membuktikan apa dengan menjadikan mereka mainan? Ingin membuktikan kau adalah seorang playboy, playboy saja kau bangga," kata Jenny sedikit ketus, merasa tak terima wanita diperlakukan seperti itu oleh pria ini.


 


"Karena dulu saat aku SMA ada seorang wanita yang sangat angkuh dan penuh dengan kesombongan mencela penampilan fisikku, padahal saat itu aku sangat tulus ingin menolongnya hanya untuk membawakan belanjaannya, namun dia mengatakan dia alergi dengan orang jelek seperti ku," kata Jonathan sambil berdiri dan menghadap ke arah Jenny yang perlahan membesarkan matanya, menatap wajah Jonathan yang bercagak pinggang di depannya, entah kenapa terlihat mendominasi dan garang, Jenny jadi sedikit takut karenanya, jadi dia ingat apa yang pernah Jenny katakan padanya? Jenny hanya diam terkaku, memegang erat pegangan mugnya, karena sekarang ekspresi Jonathan bagaikan hendak menelannya.


 


Jonathan membungkukkan tubuhnya, menyandarkan tangannya ke sandaran kursi tepat di belakang Jenny, lengannya sekarang ada di samping kepala Jenny, dan wajahnya tepat di depan Jenny, pandangan mata nan tajam itu membuat Jenny bahkan tak bisa berkedip, napasnya pun terhenti sejenak.


 


"Jadi, apa menurutmu aku masih seperti batang korek api, Nona Jenny?" terpaan napas hangat Jonathan bahkan terasa di pipi mulus Jenny yang hanya bisa diam saja, perasaan Jenny sekarang bercampur aduk, takut, malu, sedikit kesal, namun lebih banyak gugup, entah kenapa fokusnya malah ke mata coklat terang cendrung kuning itu, gila, Jenny bisa benar-benar gila kalau begini.


 


Jenny sekuat tenaga menggelangkan kepalanya, mencoba menjawab Jonathan karena bibirnya kelu tak bisa berucap, dia hanya mampu mengeluarkan gesturnya, sudah dibilang, berkedip pun dia tak sanggup lagi.


 


Jonathan menarik perlahan sudut bibirnya, dan seketika menjadi senyuman manis yang tak kalah membuat sesak napas Jenny, dia rasa sebentar lagi dia akan pingsan karena kehabisan oksigen, jantungnya sudah seperti drum yang ditabuh begitu kencang, cepatlah pergi, pikir Jenny memohon, namun sayangnya tak bisa dia utarakan.


 


Jonathan menarik dirinya, berdiri kembali tegak di depan Jenny, bersamaan dengan itu sedikit napas Jenny kembali walaupun masih terasa sedikit sesak, Jenny sedikit melirik pria itu yang ternyata masih memperhatikannya, tanpa basa-basi lagi, Jonathan tiba-tiba meninggalkan Jenny, dan itu membuat Jenny bisa bernapas lebih lega, namun baru beberapa langkah, Jonathan segera berhenti.


 


"Masuklah ke dalam Nona Jenny, sepertinya api unggun tak cocok untukmu, wajahmu sudah memerah sekali, " kata Jonathan, sebenarnya tahu kenapa wajah itu memerah.


 


Jenny mendengar itu segera gelagapan, benarkah wajahnya memerah? Dia segera mengambil ponselnya, membuka kamera depannya dan Jenny lagi-lagi mengutuk dirinya, wajahnya benar-benar merah padam, sial, kenapa harus seperti ini, pikir Jenny dengan wajah yang seperti orang menangis dibuat-buat. Dia merasa kalah kali ini.