
Jonathan menyipitkan matanya, bersikap seolah sedang mengamati Jenny, dia menyentuh bibirnya sendiri, mengosok-gosokkan jari telunjukknya lembut ke bibir merahnya.
"Sedikit, namun tak sebanyak yang sekarang ada di pikiranmu," kata Jonathan menaikkan sedikit bibirnya, Membuat wajahnya jauh mempesona.
Jenny juga tersenyum, dia kembali mengambil gelas Champagne nya lalu meminumnya, pandangannya tentu menggoda, seolah menarik seluruh kaum Adam untuk jatuh cinta padanya.
"Tidak akan merubah perasaanmu padaku walau kau mengeluarkan wajah seperti itu," kata Jonathan cukup ketus.
"Siapa yang sedang menggodamu, ini memang caraku, lagi pula, aku yakin aku tak setertarik denganmu seperti yang kau pikirkan sekarang ...." kata Jenny ingin melanjutkan.
"Aku akan menikah," ujar Jonathan dengan suara beratnya, menegakkan badannya, mencondongkan nya pada Jenny yang seketika terdiam, Jenny memiringkan kepalanya sedikit memandang mata coklat hampir kuning itu.
Apa Jenny tak salah dengar? Jonathan akan menikah? dengan siapa? kenapa perasaan Jenny merasa tak enak? Ehm ... Jangan-jangan pria ini lagi-lagi mengikutinya? atau ini hanya bagian dari permainannya.
"Oh, well selamat jika begitu, siapa yang akan mau nikahi?" tanya Jenny berusaha menutupi sedikit rasa penasarannya.
"Kau akan tahu segera," kata Jonathan tersenyum manis, matanya melirik jauh kebelakang Jenny, membuat Jenny mengalihkan perhatian Jenny mengikuti arah mata Jonathan.
Jenny mengerutkan dahinya menatap wanita yang baru saja datang, tentu dia kenal wanita itu siapa, siapa lagi jika bukan Chintia, Gadis itu tak semenarik Jenny, namun wajahnya juga masih masuk dalam katagori cantik, tubuhnya kurus hingga terlihat tak berbentuk menggunakan apapun, mungkin karena dari kecil dia memang sering sakit-sakitan, seperti seseorang yang sangat mudah ditiup angin.
Chintia adalah sepupu dari keluarga Aurora, sebenarnya jarak mereka cukup jauh, terpisah dari beberapa tingkatan keluarga, dan juga sejujurnya Jenny dan Chintia bukanlah Sepupu yang akrab.
Chintia menyeringaikan senyuman manis, menghiasi pipinya yang kurus, Jenny melihat ke arah Jonathan, dari tatapannya pria itu terkesima dengan sosok yang mendekat ke arah mereka, entah kenapa, tatapan itu menimbulkan perasaan aneh bagi Jenny.
"Kau sudah datang? apa menunggu lama?" tanya Chintia ramah, Jonathan berdiri menyambut calon istrinya.
"Ini dia," kata Jonathan bangga merangkul pinggang Chintia yang sangat kecil.
Jenny terbelalak, bagaiman bisa Jonathan akan menikah dengan Chintia.
"Kalian akan menikah?" tanya Jenny dengan wajah tak percayanya.
"Kau sudah mengatakannya?" tanya Chintia tak percaya Jonathan mengatakannya pada Jenny.
"Ya, sudah, aku rasa dia sedikit salah pengertian tentang ku, jadi aku mengatakan bahwa aku akan menikah, menikah denganmu," kata Jonathan lembut, membuat Jenny mual seketika, pria ini? bagaimana bisa menjebak sepupunya, Jenny harus mencegahnya.
"Benarkah? Jenny juga akan segera menikah dengan Anxel," kata Chintia melirik Jenny.
"Ya, aku juga sudah tahu, dia pernah bercerita padaku, katanya Anxel pria yang cocok dengannya, terutama tentang latar belakang keluarganya," kata Jonathan santai saja seolah kata-kata itu tidak akan menyinggung Jenny sama sekali.
Jenny melebarkan matanya, kenapa pria ini malah mengatakan hal itu pada Chintia, Anxel dan Chintia adalah sahabat dari kecil, seperti itulah yang pernah diketahui oleh Jenny, mereka sangat dekat, jadi jika Chintia mendengar kenapa Jenny setuju menikah dengan Anxel, pasti Chintia bisa saja mengatakan hal itu pada Anxel. Tentu Anxel juga sudah tahu kenapa Jenny setuju dengan pernikahan ini, tapi jika sampai Chintia mengatakannya atau bahkan hanya menyinggungnya, hal ini akan gawat bukannya Anxel sudah mengatakan jangan sampai ada yang tahu.
"Eh, ya, tentu, tapi bukan hanya itu saja, dia pengertian, dia ehm ...." kata Jenny bingung harus mengarang apa tentang Anxel, sejujurnya dia tak mengenal dengan baik siapa calon suaminya itu, "intinya, statusnya hanyalah sebuah nilai plus," kata Jenny menutupi kegugupannya karena Jonathan hanya memandangnya saja, sudut bibirnya selalu terangkat, menambah kegugupannya.
"Ya, kalian akan jadi pasangan yang sangat serasi," kata Chintia dengan senyuman simpulnya.
"Aku harus ke toilet, permisi sebentar," kata Jenny berdiri segera, dia tak lupa melemparkan senyumannya.
"Aku ikut ya, aku tinggal sebentar," ujar Chintia, Jonathan hanya mengangguk sejenak.
Jenny yang terhenti melihat interaksi keduanya yang sangat intim menjadi begah dan gerah, setelah Chintia bangkit, dia segera berjalan ke arah toilet.
Jenny memandang wajahnya yang tampak selalu sempurna, mengoleskan sedikit lipstik sejenak ke bibirnya, saat pintu bilik di belakangnya terbuka, dia melirik Chintia yang tampak buru-buru berjalan ke arahnya. Chintia segera mencuci tangannya.
"Ada apa?" tanya Jenny, jika hanya buang air kecil, kenapa harus seperti itu?
"Oh, tidak apa-apa?" kata Chintia, bagian antara hidung dan bibirnya terlihat memerah, seperti habis diusap dengan sangat kasar.
Namun Jenny tak ingin bertanya lebih melihat gelagat Chintia yang tak ingin melanjutkannya.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?" tanya Jenny melirik ke arah Chintia.
"Jonathan? oh, kami teman satu sekolah saat di SMA, aku sekolah di negaranya, kau ingat, dulu aku pernah mengenalkannya bukan padamu saat kau datang ke negaranya?" tanya Chintia.
Jenny mengerutkan dahinya? kapan? jika Jenny pernah bertemu dengan Jonathan, dengan tampangnya seperti itu, Jenny pasti mengingatnya.
"Ehm, aku rasa tak mungkin, aku tidak ingat saat kau mengenalkannya padaku?" tanya Jenny.
"Ya, aku mengenalkan kalian, Oh, mungkin karena dulu dia tak sepeti itu, ingat pria yang kurus, tinggi, pakai kacamata dan berbehel, aku mengenalkan kalian saat di cafe sebelah sekolahku?" kata Chintia semangat, dia ingat betul hari itu.
Jenny mengulik ingatannya, tiba-tiba pikirannya kembali ke saat dia remaja, dia pergi mengikuti paman dan bibinya yang lain untuk.l bertemu dengan Chintia yang saat itu akan menyelesaikan pendidikannya, Jenny ingat dia diajak oleh Chintia ke salah satu cafe yang menurutnya cafe terbaik di sana.
Chintia lalu mengundang seorang anak laki-laki yang menurutnya adalah sahabat baiknya, Saat pertama kali melihatnya, Jenny benar-benar kaget dengan penampilan kuper pria itu, tubuhnya tinggi namun sangat kurus, kacamatanya tebal hingga sepeti menutupi wajahnya, giginya juga dipagar, penampilannya, jujur saja sangat membosankan dan kuno, Jenny saat itu bahkan tak ingin melihatnya, merasa mereka memang cocok jadi sahabat, seperti perkumpulan orang kecil yang selau dia bully di sekolahnya, untung saja dia sedang liburan, kalau pria itu bersekolah di tempatnya, bisa saja dia akan mem-bully-nya.
Jenny mengumpulkan ingatannya yang samar, sudah lebih dari 5 tahun yang lalu, mengingat pria itu dulu, tak mungkin, kenapa sekarang dia begitu sempurna?
"Ehm ... kalau tak salah kau mengejeknya dengan Batang korek api, benarkan?" tanya Chintia lagi berusaha untuk mengingatkan Jenny.
Jenny menahan napasnya, benar, saat itu setelah mereka di cafe, mereka pergi ke mall, Jenny berbelanja cukup banyak dan setelah itu, anak pria tinggi kurus itu ingin membantunya, dan dengan kasar Jenny menolaknya.
"Jangan dekat-dekat, aku alergi dengan laki-laki jelek sepertimu, dasar, Batang korek api," Ujar Jenny menapis tangan anak laki-laki itu.