Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 58 -



"Apa yang pikirkan! kau sudah memalukan nama keluarga kita!" suara Pedana Menteri Dion tampak berang melihat Putranya yang sekarang ada di depannya.


"Aku melakukan semua ini demi bisa membanggakan mu Ayah, bukannya ayah yang selalu mendorongku untuk menuntaskan obsesi ayah, maka aku melakukan semua ini, semua ini hanya untuk membuat ayah bangga padaku," kata Anxel yang sudah tak tahan dari tadi ayahnya hanya bisa memarahinya dan menyalahkannya saja.


"Tapi apa yang sudah kau buat, kau membuat aku malu sekaligus membuat kedudukan yang sudah lama aku perjuangkan ini akan berakhir! aku bahkan tak berani untuk menunjukkan wajahku di depan publik, aku benar-benar berharap tak punya anak memalukan sepertimu," kata Dion tak mau kalah, dia menatap anaknya itu dengan sangat tajam, seolah jika bisa memutuskan hubungan darah mereka, Dion akan melakukannya.


Anxel mengulum senyumnya sehingga terlihat seperti senyuman menyindir, selalu saja, dari kecil ayahnya tak pernah bangga akan dirinya, bahkan dengan segala hal yang sudah dia dapatkan, ayahnya hanya memandangnya sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, sejak kecil dia dididik sangat keras dan disiplin, dicekoki semua pemikiran agar dia bisa menjadi nomor satu, segala cara boleh dia lakukan asalkan mendapatkan kebanggaan orang tuanya, lalu seperti ini saja ayahnya sudah tak mengakuinya anak, sial sekali.


Ponsel Tuan Dion berbunyi, dia langsung menyambarnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya dia segera mengangkatnya, mungkin karena menahan emosi yang sangat, dia bahkan hingga terengah-engah mengatur napasnya.


"Halo?" kata Tuan Dion dengan emosi, dia bahkan tak tahu dengan siapa dia berbicara.


"Tuan Dion, saya Jofan," Kata Jofan.


"Tuan Jofan?" tanya Tuan Dion sungkan karena tadi dia sedikit membentak Jofan, Anxel yang mendengar itu tahu apa yang akan terjadi, pertunangannya yang bahkan belum genap 24 jam itu pasti akan dibatalkan, sudah jatuh tertimpa tangga pula.


"Tuan Dion, saya mendengar kabar yang telah saya pastikan kebenarannya tentang putra anda yang menyekap seorang pria, dan hari ini putra anda telah ditangkap, maka dari itu maafkan saya, sepertinya saya harus membatalkan pertunangan putra anda dan keponakan saya, anda orang yang bijak, saya harap anda memaklumi hal ini, keluarga kami tak bisa menerima hal ini, sekali lagi maafkan kami," kata Jofan segera, tak ingin terlalu banyak basa basi lagi.


"Ya, saya mengerti," kata Dion meremas ponselnya dan segera mematikan panggilan itu, Jofan bahkan membatalkan pertunangan Anxel dan Jenny melalui telepon, suatu hal yang sangat memalukan, itu artinya Jofan sudah tak menaruh rasa hormat padanya.


"Sial!" kata Dion sambil melepas ponselnya ke lantai, pecah berkeping-keping, impiannya menjadi keluarga nomor satu di negara ini pupus sudah, Anxel tidak terkejut, tempramen ayahnya memang selalu buruk, Dion memandang anaknya dengan tatapan ingin membunuhnya, tapi Anxel begitu tenang.


"Kau benar-benar menghancurkan segalanya," kata Dion menunjuk batang hidung Anxel.


"Tak pernah kah kau berpikir? kau yang menghancurkan hidupmu sendiri dan juga hidupku! kau membuat diriku seperti dirimu, mengisi seluruh hidupku dengan obsesimu! sekarang kau menyalahkan ini semua padaku! pandang dirimu sendiri! ini semua salahmu!" kata Anxel yang akhirnya tersulut emosinya, memandang ayahnya yang juga berwajah keras.


2 orang polisi masuk ke dalam dan segera mendekati Anxel, waktu berkunjung ayahnya sudah selesai, mereka memaksa Anxel berdiri, kedua tangannya segera di borgol, Dion hanya memandang itu dengan mata emosinya, dan Anxel tersenyum tipis mengejek ayahnya.


"Aku tak akan membantumu sama sekali untuk keluar dari sini!" kata Dion yang masih tak bisa menerima karirnya hancur karena putranya sendiri.


Anxel yang sudah digiring berhenti sejenak, dia lalu melihat ke arah ayahnya.


"Tuan Pedana Menteri, kau tahu, aku rasa aku lebih nyaman tinggal di penjara, dari pada menjadi putra mu," kata Anxel lagi, membuat Dion terdiam melihat anaknya itu ditarik pergi dari sana.


Jonathan membawa Jenny duduk di salah satu sofa empuk yang ada di sana, Jari jemari Jenny menyentuh tangan Jonathan yang tertutup penyangga, memperhatikannya dengan seksama, tatapan cemas itu masih terlihat sangat di wajahnya.


"Apa yang dia lakukan padamu? apa ini tak apa-apa?" tanya Jenny memandang wajah Jonathan, lebam di pipi dan dahinya tak bisa ditutupi.


"Ini aku dapat karena melawan padanya, tapi aku tidak apa-apa, jangan cemas lagi ya," kata Jonathan lembut sekali, menghapus air mata yang masih tersisa di wajah kekasihnya itu, Jenny nyaman dengan sentuhan hangat dari Jonathan.


"Ya, tapi bagaimana bisa kau ada di sini? bagaimana kau bisa keluar dari sana? siapa yang menyelamatkanmu?" tanya Jenny yang dari tadi bertanya-tanya dalam dirinya.


"Aku dengar pamanmu yang melakukan hal ini semua, tapi dia tidak ingin ada yang tahu tentang ini, karena itu saat ini aku tak boleh terlihat ada di sini," kata Jonathan lagi.


Jenny mengerutkan dahinya, Pamannya? dari mana pamannya bisa tahu? apakah kakaknya memberitahukan hal ini pada pamannya? tapi yang sekarang jadi tanda tanyanya, bukannya pamannya tak menyukai Jonathan, kenapa dia mau menolong Jonathan?


"Kenapa?" tanya Jonathan melihat wajah berpikir Jenny.


"Tidak, aku hanya berpikir kenapa paman bisa menolongmu?" kata Jenny.


"Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya, aku hanya ingin bisa berada di dekatmu, bagiku itu yang paling penting sekarang," kata Jonathan, meletakkan beberapa helai rambut Jenny ke belakang telinganya, akhirnya bisa membuat Jenny kembali tersenyum manis.


Pintu ruangan itu terbuka, membuat Jonathan dan Jenny tentu kaget karenanya, mereka segera melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan itu.


Sosok Jofan dan Aurora tampak masuk, melihat Jenny dan Jonathan yang terlihat begitu dekat, Jofan hanya mengerutkan sedikit dahinya, Aurora melihat mereka dengan senyuman tipis.


"Paman," kata Jonathan, menjaga tata Kramanya pada Jofan, dia segera berdiri memberikan salamnya, Jenny pun juga ikut berdiri.


"Bagaimana keadaanmu? kenapa dengan tanganmu?" tanya Jofan yang mendekati pasangan itu, melihat tangan Jonathan yang dengan gamblang di depannya memegang tangan Jenny, tak ingin menutup-nutupinya di depan Jofan, Jonathan ingin Jofan tahu bagaimana perasaannya ini pada keponakannya, urusan setuju tidak setuju, Jonathan tak peduli, bagaimana pun dia akan memperjuangkan Jenny untuk menjadi miliknya.


Jofan hanya menaikkan satu alisnya, melihat keberanian Jonathan menunjukkan hal itu di depannya, Aurora juga sampai tak percaya, untung saja Jofan belum tahu jika Jonathan adalah tunangan Chintia, namun dari pengamatan Aurora, tak ada cincin yang melingkar dijari manis Jonathan, apakah dia sudah membatalkannya?


"Keadaanku baik-baik saja, ini aku dapat saat berusaha melawan, Paman, terima kasih sudah menyelamatkan diriku," kata Jonathan.


"Tak masalah, itu memang harus aku lakukan karena tak ingin melihat Jenny menjadi merasa bersalah dan terus cemas seperti tadi," kata Jofan melirik ke arah keponakannya, Jenny hanya tersenyum manis, pamannya ternyata selalu saja begitu, menuruti semua keinginannya dari dulu.