Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
82.



"Benarkah? siapa?" tanya Jenny dengan senyumannya, mereka kembali menunjuk ke arah sosok yang sedang berjalan ke arah Jenny,


Jenny memandang ke arah sosok itu, dia lalu tersenyum menyambutnya.


"Halo ketua, tumben sampai di sini," kata Louise juga memberikan salam hangat bagi ketuanya itu, pria yang cukup matang itu lalu tersenyum menyambut jabatan tangan ala mereka.


"Aku datang dan mencari Jenny, tak ku sangka kau menculiknya, ada kemajuan," ujar Pak Fandy pada Louise, Louise hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, tak tahukah dia bahwa Louise baru saja ditolak mentah-mentah.


"Ada apa Pak?" tanya Jenny ramah.


"Oh, tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berbicara denganmu, Louise, aku ingin berbicara berdua dengan Jenny," kata Pak Fandy sedikit sungkan pada Louise.


"Tak masalah aku akan pergi sekarang, selamat malam, Sampai jumpa lagi di kantin," kata Louise.


Louise segera meninggalkan mereka, Jenny menatap Pak Fandy, pria itu mempersilakan untuk dia mulai berjalan.


"Ayo, sambil berjalan-jalan," ucap Pak Fandy.


"Baiklah," kata Jenny.


Mereka segera jalan sedikit menjauh dari tempat mereka.


"Ada apa?" tanya Jenny melirik kembali ke Pak Fendy.


"Jenny, kau sudah hampir 2 tahun ada di sini, tak inginkan kau pulang?" tanya Pak Fandy pada Jenny, Jenny langsung mengerutkan dahinya, "Jangan salah menyangka, bukan aku mengusirmu dari sini, hanya saja, aku juga punya anak perempuan sepertimu, jika 2 tahun dia tak pernah pulang dan tak pernah memberikan kabar, aku pasti akan sangat sedih," kata Pak Fandy.


Jenny hanya tersenyum, dia memilih diam, tak ingin menjawab apa yang dikatakan oleh Pak Fandy. Pak Fandy hanya tersenyum melihat reaksi dari Jenny.


Bukan tak ingin pulang, dia bahkan merindukan segalanya di sana, Pamannya yang walaupun keras kepala namun selalu menjadi sosok ayah yang paling sempurna, bibinya yang lemah lembut penuh kasih sayang, kakaknya yang sudah menjadi temannya seumur hidupnya, bagaimana bisa melupakan keluarga yang begitu sempurna.


Pria itu ... jangan tanya, tak sedetik pun dia bisa lupa, wajahnya, senyumnya, sifat pemaksa dan kegigihannya, kau tak akan pernah bisa melupakan sosok seperti Jonathan jika dia masuk dalam hidupmu.


"Kau tak ingin bertanya kenapa aku tiba-tiba mengatakan hal itu?" tanya Pak Fandy melirik kembali pada gadis cantik di sampingnya itu.


"Ehm?" tanya Jenny lagi merasa aneh dengan pertanyaan ketuanya ini. Pak Fandy menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya mengarah ke Jenny, Jenny pun menghentikan langkahnya lalu menatap pria yang tak jauh lebih lebih muda dari pamannya.


"Aku bertemu dengan seorang pria yang sudah 2 tahun mencari seorang wanita yang begitu berarti padanya," kata Pak Fandy memberikan ponselnya yang menunjukkam seorang pria. Mata Jenny membesar, tentu dia kenal benar siapa yang ada di dalam ponsel itu.


"Dia?" tanya Jenny tak percaya.


"Jonathan Medison namanya, sebenarnya aku mengenalnya cukup lama, dia salah satu donatur paling besar untuk setiap kegiatan kita, tapi baru-baru ini aku tahu bahwa dia sedang mencari seorang wanita bernama Jenny, dia juga menunjukkan fotomu padaku, itu masih tersimpan rapi menjadi layar utama ponselnya, aku tak sengaja melihatnya dan bertanya, dia menyebutkan kau adalah wanita paling berharga baginya," kata pak Fandy.


Jenny tak percaya, 2 tahun lamanya dia mencoba pergi dari semuanya namun saat ini dia kembali melihat cinta pertama dan terakhirnya itu, membiarkan otaknya berpikir apakah dia selamat atau tidak, karena terlalu sakit jika mengetahui pria ini masih mencarinya. Jenny sedikit tersenyum, bahagia mengetahui cintanya itu ternyata masih ada, dia memenuhi janjinya, mencari Jenny bahkan di belahan bumi mana pun dia berada.


"Apa yang anda katakan?" tanya Jenny.


"Tentu aku tak mengatakan bahwa wanita itu sekarang ada di salah satu tempat pengungsian di daerah perbatasan yang sering terlibat bentrokan," kata Pak Fandy.


"Terima kasih," kata Jenny menyerahkan kembali ponsel itu pada Pak Fandy. Jenny kembali melanjutkan langkahnya, Pak Fandy hanya mengulum senyuman, satu sifat Jenny yang sama sekali tak berubah, keras kepala.


"Jika dia kembali, katakan padanya, mungkin gadis itu tak ada lagi," kata Jenny sambil menatap cakrawala yang penuh dengan bintang sekarang namun tetap saja suasana begitu gersang.


"Baiklah, jika itu maumu, tapi aku rasa Jenny, walau aku mengatakan hal itu, dia tak akan pernah berhenti mencarimu, oh, ya, kau tahu, dia membuat sebuah badan amal, kau tahu namanya, White Foundation, didedikasikan dan diambil dari arti namamu, putih dan cantik," kata Pak Fandy.


"Jika memang Tuhan ingin kami tetap bersama, dia akan menemukanku, jika tak sekarang, mungkin saja nanti," kata Jenny lagi dengan wajah sedikit muram, tak yakin akan hal itu karena sekarang dia ada di ujung negara, dan entah sampai kapan dia di sini, karna pasti mereka akan mengalami rotasi.


"Baiklah, aku mengerti, sudah cukup malam, ayo kita bergabung ke kantin, mereka pasti sudah menunggu kita," kata Pak Fandy, Jenny hanya tersenyum mengangguk, lalu mereka menuju ke arah Kantin.


Saat mereka sampai di kantin, benar saja seluruh anak dan para penjaga mereka sedang riang makan bersama, ini adalah kepuasan bagi Jenny sekarang, melihat wajah-wajah senang walau dalam kesederhanaan, tak ada makanan mewah, tak ada fasilitas yang memadai, namun mereka begitu senang dan bersyukur, 1 hari lagi bisa hidup, makan 3 hari sekali walau dengan lauk seadanya, masih bisa tertawa, masih bisa bercengkramah dalam keadaan sehat, lalu tidur dengan damai, tanpa rasa takut seseorang akan menghujani mereka dengan peluru. apalagi yang kau tak syukuran?


Jenny larut dalam tawa seketika, nyanyian-nyanyian yang diiringi dengan suara gitar sederhana, namun entah kenapa tawa itu tak seceria dan lepas malam-malam kemarin, saat Jenny berusaha mengeluarkan Jonathan dalam pikirannya, malah semakin dia membuat pria itu selalu muncul di dalam pikirannya, tawa Jenny cepat memudar.


"Ehm, aku sedikit lelah, aku akan kembali ke kamar ya," kata Jenny yang hanya tersenyum manis.


"Oh, benarkah?" tanya Louise yang tak pernah melihat Jenny pergi dari acara cengkramah selepas makan malam seperti ini.


"Ya, lanjutkanlah aku tak apa-apa," kata Jenny, semua orang melihat Jenny yang berjalan keluar dari kantin. Louise memberikan gitarnya pada salah satu temannya, dia lalu mengejar Jenny.


"Hei," kata Louise.


"Hmm?" tanya Jenny yang tak menyangka Louise akan mengejarnya.


"Ada apa denganmu? merindukan seseorang?" tanya Louise.


Jenny tertawa kecil, menutupi yang sebenarnya, memang dia merindukan Jonathan, foto itu, cerita itu membangkitkan kenangan dan hasratnya untuk pria itu, padahal sudah 2 tahun ini dia mencoba mengubur harap baginya, 2 tahun bertanya apakah dia selamat atau tidak, malam ini dia tahu, pria itu masih saja sama, penuh ambisi dan kegigihan yang kuat, mencarinya terus menerus, hati sapa yang tak bergetar mendengarnya.


"Jika merindukan seseorang kenapa tak pulang?" tanya Louise lagi.


"Kenapa kalian semua menyuruhku pulang, kalian tak suka denganku lagi?" tanya Jenny dengan suara bercanda dan wajah berkerut.


"Karena mungkin di sana ada seseorang yang lebih membutuhkanmu sekarang dari pada kami, pikirkanlah, selamat malam," kata Louise lagi.


Jenny hanya diam, melihat punggung cowok jangkung itu meninggalkannya kembali ke kantin, mungkinkankah? dia membutuhkan Jenny di sana sekarang? ataukah Jenny yang membutuhkannya sekarang?