Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 68 -



"Bagaimana pertemuan tadi?" suara Jofan sedikit menganggu Jenny, Jenny melepaskan pelukannya, melihat ke arah pamannya.


"Mereka tetap memaksa Jonathan untuk bertanggung jawab dan mereka mengancam untuk memasukkan Jonathan ke dalam penjara," kata Aurora yang segera menjelaskan semuanya, sedikit berusaha mana tahu suami atau putranya ini punya cara agar hal itu tidak terjadi.


"Itu tidak akan terjadi, menurut undang-undang yang ada di negara ini, seseorang tidak bisa dituntut atas tindakan tidak bertanggung jawab atau menghamili seorang wanita dalam konteks mereka sudah sama-sama dewasa dan hal itu dilakukan mau sama mau atau tanpa unsur paksaan. Chintia sudah cukup umur untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, karena itu dia tak akan bisa menyeret Jonathan ke penjara, kecuali Chintia menuntutnya dengan hukum perdata, tapi aku yakin keluarga Chintia tak akan mau kalau hanya diberikan ganti rugi bukan," kata Jared menjelaskan tentang hukum.


"Benarkah?" kata Jenny yang matanya langsung tampak berbinar, Jared langsung tahu, ternyata ini yang membuat adiknya dari tadi merasa gusar.


"Benar, kecuali ...." kata Jared menarik napasnya, tak tahu harus melanjutkannya lagi atau tidak.


"Kecuali apa?" tanya Jenny yang kembali memuram wajahnya.


"Aku yakin Gionardo tidak akan melepaskan Jonathan, bagaimana pun Jonathan adalah satu-satunya pria yang dia bisa tuntut untuk menikahi anaknya yang sedang hamil, seorang keluarga terpandang tak akan membiarkan anaknya hamil tanpa ayah, aku rasa dia akan mencari celah dan memanfaatkan kedudukannya untuk hal ini, mungkin dia bisa menjerat Jonathan dengan pasal yang lain, apa saja yang penting bisa menahan Jonathan dan membuat pria itu setuju menikahi putrinya," ujar Jofan menganalisa.


Jenny semakin muram, sorot matanya terlihat suram, dia yakin itu akan dilakukan oleh ayah Chintia.


"Jangan khawatir, aku akan membantunya, jangan cemas," kata Jared menyakinkan adiknya.


"Terima kasih kakak," kata Jenny kembali membenamkan tubuhnya pada kakaknya. Jared melirik pamannya yang memberikan tatapan cukup tajam, sepertinya mau tak mau dia memang harus kembali turun tangan.


---***---


Jonathan baru saja sampai di hotelnya, dia segera menuju ke lantai tempat dia menginap, Paman dan ayahnya juga menginap di hotel mereka ini.


Jonathan baru saja sampai di lantai tempat kamarnya berada, begitu pintu lift terbuka dia bisa melihat 4 orang polisi sedang berbicara dengan paman dan ayahnya, semua pandangan langsung berpindah ke arah Jonathan, Jonathan bisa melihat raut wajah cemas dari ayah dan pamannya, para Polisi itu segera mendekati Jonathan.


"Anda Tuan Jonathan Medison?" tanya polisi itu dengan suaranya yang tegas.


"Ya," kata Jonathan tanpa mengelak.


"Kami diperintahkan untuk menahan Anda atas laporan dari Tuan Gionardo untuk kasus pencemaran nama baik," kata polisi itu menunjukkan surat penangkapan Jonathan.


Jonathan mengambil surat itu, membacanya dengan sangat cepat, Paman dan Ayahnya juga bergabung dengannya.


"Aku tidak melakukan apapun, apa buktinya aku melakuan hal itu?" tanya Jonathan langsung.


"Anda bisa menjelaskannya nanti, untuk saat ini Anda berhak diam, semua yang anda katakan di sini bisa memberatkan anda," kata para polisi yang mulai menahan Jonathan, tangannya segera diborgol pada polisi yang lain, karena tangan kanannya yang masih belum sembuh, Raphael dan Liam yang berusaha membantu pun tidak bisa melakukan apa-apa.


Jonathan menahan geramnya, pasti semua ini sengaja dilakukan oleh ayah Chintia, dia menggunakan kekuasaannya untuk membuat jera Jonathan, namun dia salah, sudah Jonathan katakan, bahkan jika harus mendekam di penjara, dia akan siap melakukannya.


"Kami akan menuntut balik dengan hal ini, putraku tidak melakukan apapun," kata Liam yang terus berusaha untuk menghalangi para polisi untuk membawa Jonathan.


"Tuan, jika anda tetap begini, kami juga akan menahan Tuan untuk alasan menghalangi tindakan hukum," ancam polisi itu pada Liam, Liam akhirnya berhenti, hanya memandang dengan penuh emosi kesal namun juga tak rela anaknya dibawa pergi oleh polisi.


"Kami akan ikut ke kantor polisi," kata Raphael yang ingin bersiap-siap.


"Tidak boleh, anda hanya boleh menjenguknya esok hari," kata Polisi itu menghalangi Liam dan Raphael, membuat Raphael dan Liam hanya memandangnya kesal, mereka lalu hanya bisa memandang Jonathan yang segera dibawa turun oleh mereka.


Jonathan segera di bawa ke dalam mobil, Jonathan tetap menegakkan wajahnya walau begitu banyak orang yang memandangnya dibawa polisi dan di borgol , di dalam mobil borgol di tangan polisi itu di buka lalu dia pasangkan pada pegangan tangan yang ada di mobil itu, dan segera sirine mobil polisi itu terdengar, membawa Jonathan pergi dari hotel itu dengan semua tatapan yang menghakimi.


Mobil Jonathan akhirnya berhenti, aneh baginya karena mereka tidak berhenti di kantor polisi, mereka malah berhenti di sebuah jalan kosong yang sangat sepi, di samping-sampingnya penuh dengan semak belukar, Jonathan mengerutkan dahinya, para orang yang sekarang membuat Jonathan ragu bahwa mereka adalah polisi asli segera membuka pintu itu, satu di antara mereka membuka borgol dan yang lain mencungkan pistol ke arah Jonathan yang sekarang tak bisa apa-apa, pistol itu menempel erat di pelipis matanya.


"Keluar," kata pria yang bertubuh paling kekar dari pada yang lain, Jonathan hanya bisa mengikutinya, polisi yang menempelkan pistol di kepala Jonathan pun mengikuti segera gerakan Jonathan, berusaha agar muncung senjata itu tetap ada di dekat kepalanya.


Pria yang lain menarik kain penyangga tangan Jonathan, menarik tangannya yang masih belum sembuh ke belakang dan memborgol kedua tangannya, Jonathan hanya bisa meringis mendapatkan perlakuan itu, tangan kanannya kembali nyeri.


Jonathan ditarik dengan paksa masuk ke dalam semak-semak itu, dia lalu di dudukkan di sana, Jonathan menatap awas dengan semua orang yang memandangnya beringas, ada kengerian namun Jonathan berusaha menutupinya, tak ingin membuat orang-orang ini puas.


"Kalian buka polisi asli bukan? siapa yang sudah mengutus kalian? Tuan Gionardo?" tanya Jonathan kesal, namun tak bisa bergerak, di belakangnya, muncung senjata itu terasa menempel di kepalanya.


"Tak perlu tahu siapa yang mengutus kami, tapi bos kami ingin agar kau merasakan akibatnya bermain-main dengannya, Tuan Jonathan, kau sudah membuat banyak orang marah," kata pria itu dengan senyuman sinis, "baiklah, ayo lakukan tugas kita," kata pria itu langsung tampak sumringah, rasanya memang kenikmatan baginya menyiksa seseorang.


Jonathan tampak awas dengan orang-orang yang mendekatinya, mereka benar-benar menyeramkan, serasa seperti orang yang akan bersenang-senang.


"Jika memang Tuan Gionardo yang mengutusmu, katakan padanya walau sampai aku mati, aku tidak akan menikahi putrinya," kata Jonathan lagi memberikan pesan bagi orang yang akan menyerangnya.