Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
81.



Loise juga berdiri di Jeep itu, memandang wanita yang ada di sampingnya, melihat Jenny yang hanya diam menikmati pesona indah yang diberikan oleh alam, walau tak ada warna hijau sepanjang mata memandang, namun padang rumput itu tetap saja begitu indah.


"Ada apa?" tanya Jenny melirik ke arah Louise yang tertangkap basah hanya melirik ke arah Jenny.


"Ah, tidak, matahari yang indah," kata Louise segera melihat ke arah matahari, Jenny tersenyum geli, masih ada pria sepolos ini di dunia.


"Jenny," kata Louise saat matahari tinggal setengah di ufuk barat akibat rotasi bumi yang sedikit demi sedikit memaksanya untuk pergi meninggalkan daratan.


"Hmm?" ujar Jenny yang sedikit merapikan rambutnya yang terbang karena angin panasnya.


"E, apa kau? maksudku ... ehm, apa kau punya pasangan?" kata Louise yang benar-benar harus mengumpulkan seluruh keberaniannya hanya untuk mengatakan hal itu.


"Pasangan?" tanya Jenny, sorot matanya menyuram, dia tak lagi melihat ke arah Louise, dia hanya sedikit menunduk, Tentu, dia punya pasangan, dia punya cinta yang walau sampai sekarang tak bisa dia lupakan, padahal sudah 2 tahun dia tak pernah berjumpa, tak pernah tahu kabarnya, terakhir kali dia meninggalkan pria itu, dia sedang berjuang untuk hidupnya, apakah dia selamat, atau tidak, Jenny pun tak tahu.


"Louise, maafkan aku, tapi aku memang memiliki seseorang," kata Jenny melihat ke arah Louise, wajah kecewa itu terlihat sesaat, namun Louise segera memalingkan wajahnya, menutupinya dengan tawa garing, segaring suasana sekarang.


"Ya, tentu, jangan pikirkan itu, seharusnya aku tahu wanita sepertimu pasti memiliki pasangan," kata Louise.


"Sejujurnya, aku tak memilikinya, tapi aku menyukainya, maaf membuatmu kecewa," kata Jenny, dia tak ingin lagi mempermainkan perasaan siapa pun juga, jadi lebih baik jika dia jujur dari awal.


"Kau tidak memilikinya? apa dia menolakmu?" tanya Louise lagi.


"Tidak, kami hanya ... tak bisa bersama," kata Jenny, melirik matahari lagi, sudah lebih terbenam dari yang tadi.


"Bagaimana saling mencintai namun tak bisa bersama?" tanya Louise yang melihat kesedihan mendalam di mata Jenny, percis saat pertama kali dia melihat Jenny.


Jenny saat itu sangat berbeda dengan sekarang, gadis yang penuh pesona namun terlihat muram, sangat sulit baginya untuk beradaptasi, namun perlahan dia mulai bisa mengikutinya, gadis dengan kesan glamor yang di ragukan banyak orang bisa bertahan di tempat-tempat pengungsian, menjadi gadis sederhana yang tangguh setiap saat, siapa yang tak akan jatuh hati.


"Tak semua cerita bisa berakhir bahagia, bahkan cerita yang menurut mereka berakhir bahagia, hasil akhirnya akan terpisah pula, satu akan dikuburkan dimana, dan yang lain dimana juga," kata Jenny kembali menyungingkan senyuman kecut.


"Ya, aku setuju namun juga tak setuju dengan hal itu," kata Louise lagi membuat Jenny mengerutkan dahinya.


"Maksudmu?" tanya Jenny.


Jenny terdiam, Jenny pergi dari dunianya karena dia takut, dia takut akan perpisahan yang akan membuatnya jauh menderita, dia takut mendapatkan kabar tentang kepergian Jonathan, dia takut dia akan sendirian nantinya menanggung cinta yang pergi karena dirinya, karena itu dia melarikan diri, tak ingin mengetahui apapun, hanya hidup dalam bayangan abu-abu tentang pria itu, tentang harapan dia masih ada, Jenny berpikir, selama dia tak tahu tentang kabar Jonathan maka dia bisa menganggap pria itu masih selalu ada.


"Seandainya cinta semudah itu," kata Jenny lagi.


"Tak ada yang mudah di dunia ini Nona Jenny, semua tentu sulit, saat kau memasak, kau harus melakukan semua hal yang merepotkan dan sulit menurutku, tapi diakhirnya aku bisa melihat keindahan dari begitu banyak hal rumit yang kau lakukan, kau tak tahu bertapa sulitnya aku hanya untuk bisa mengajakmu sekarang melihat mentari terbenam, namun dari semua kesulitan itu, lihatlah, aku begitu bahagia bisa bisa berdiri di sisimu, bersamamu sore ini, jadi tak ada yang mudah untuk mencapai semua keindahan dan kebahagiaan, apalagi cinta, jika terlalu mudah, maka mungkin akan sulit diakhirnya," kata Louise sekali lagi memberikan kata-kata indah yang langsung menusuk hati Jenny.


Jenny memandang wajah Louise yang tersenyum mengayomi, senyuman manis dari pria yang bahkan jika tersenyum, matanya hanya tinggal segaris, Jenny tersenyum membalasnya.


"Mungkin kau benar, aku hanya terlalu pengecut,"kata Jenny yang sedikit menyesal, dia lari dari segalanya.


"Bukan pengecut, kau wanita paling berani yang aku lihat, kau berani berdiri di garis depan, ingat beberapa bulan lalu, kau bahkan menentang orang-orang yang membawa senjata hanya untuk bisa mendapatkan air bagi anak-anak, bayangkan, wanita pengecut macam apa yang bisa melakukan hal itu, kau hanya tersesat, dan sekarang kau sudah menemukan jalannya," kata Louise lagi.


Jenny mengerutkan dahinya, tertawa kecil melihat ke arah Louise yang ternyata begitu bijak menasehatinya.


"Kau mengejekku, ayolah, aku mengatakan yang sejujurnya," kata Louise yang sedikit terkesima namun bercampur malu karena tawa kecil Jenny.


"Bukan, aku hanya tak menyangka selama ini ada seorang pria yang sangat bijak bersamaku," kata Jenny.


"Kau hanya belum menyadarinya, ah, apa aku terlihat sedang menggodamu?" kata Louise lagi.


"Tidak, kau membuatku senang," kata Jenny lagi tertawa begitu bahagia.


"Ya, Jenny, aku hanya ingin katakan padamu, jika kau mencintai seseorang, lanjutkan untuk bersamanya, jangan menyerah, karena pria itu pasti pria paling beruntung bisa dicintai oleh wanita sepertimu," kata Louise memandang dalam ke arah mata Jenny.


Jenny hanya bisa terdiam, perasaan Louise sungguh terasa padanya, namun bagaimana pun, sudah tak ada sedikit pun tempat untuk siapa pun, Jenny memalingkan wajahnya.


"Baiklah, sudah malam, akan sangat berbahaya di sini jika malam hari, ayo kita pulang," kata Louise segera, Jenny hanya menurutinya saja dan mereka segera berkendara pulang.


Jenny baru saja menjejakkan kakinya di tanah saat anak-anak segera mendatanginya.


"Kakak! seseorang mencarimu!" ujar mereka sambil menunjuk ke arah orang yang mereka katakan.