Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 27 -



Anxel sudah beberapa kali melihat jamnya, pihak penerbangan yang pesawat jetnya disewa oleh Jonathan untuk mengantar mereka pulang pun sudah siap dari tadi, namun Jenny sama sekali tidak menunjukkan kehadirannya.


"Kemana dia? kenapa lama sekali? apa ada sesuatu yang terjadi padanya, dia cukup pucat pagi ini," gumam Anxel menatap kamar kecil yang tak terlalu jauh dari pandangannya.


"Mungkin dia sedang memperbaiki dandanannya atau apalah di dalam sana," kata Chintia melirik Anxel, cukup tak suka Anxel seperti perhatian pada Jenny.


"Aku akan menjemputnya, tunggulah di sini sebentar," kata Anxel, dia bergegas berdiri, namun baru saja berdiri, tangannya langsung di tangkap oleh Chintia, Anxel langsung melirik tajam ke arah Chintia, "Jaga sikapmu, di sini banyak orang," Anxel sedikit menghempaskan tangan Chintia hingga terlepas, dia lalu segera berjalan ke arah kamar kecil itu.


Dia segera masuk ke dalam lorong kamar mandi, melihat pintu kamar kecil wanita yang tak jauh dari gudang penyimpanan alat kebersihan.


"Jenny?" suaranya memanggil Jenny dari luar, tak mungkin masuk untuk mencarinya, dia menunggu sedikit di sana, berharap Jenny mendengar suaranya tadi.


Namun tak lama tiba-tiba seorang pria dengan pakaian rapi datang menghampirnya dengan senyum profesionalnya.


"Selamat pagi Tuan Anxel, Saya Ferdy dari maskapai penerbangan, penerbangan anda telah siap," kata Rian dengan sikapnya.


"Ya, aku tahu, tapi aku sedang menunggu tunanganku, dia ada di dalam," kata Anxel segera menjelaskan kenapa dia tak boarding sekarang.


"Apa yang Anda maksud nona Jenny?" tanya Ferdy lagi .


"Ya," kata Anxel mengerutkan dahinya, bagaimana pria ini bisa tahu tentang Jenny?


"Nona Jenny mengalami sedikit masalah, beliau memiliki masalah dengan dokumen-dokumen perjalanannya, dia harus tinggal lebih lama untuk pemeriksaan, hal ini sudah saya sampaikan pada Kepala pelayan Tuan Jonathan dan apa mereka tidak mengatakannya pada Anda?" tanya Ferdy lagi.


"Tidak, lalu berapa jam kira-kira dia akan di tahan? dan dimana dia sekarang?" kata Anxel yang kaget mendengarkannya.


"Beliau sedang ada di bagian imigrasi, tak perlu khawatir, beliau sudah ditemani dari pihak Tuan Jonathan yang bertanggung Jawab atas masalah ini sepenuhnya, pemeriksaannya cukup lama, 6 jam mungkin," kata Ferdy sedikit mengarang, dia memang diperintahkan asisten Jonathan untuk mengurusi hal ini.


Anxel mengerutkan dahinya, kenapa begitu lama? jika dia menunggu Jenny maka dia akan sampai di Negera mereka mungkin esok hari, dan itu tak mungkin, dia punya pekerjaan besar yang sudah dia setujui, jika kembali menunda atau memindahkan pasiennya pada orang lain, maka reputasinya akan hancur.


"Jangan Khawatir, lagi pula tadi nona Jenny mengatakan jika memang Anda dan Nona Chintia ingin pulang, maka dia mengatakan untuk Anda pulang duluan, dia telah menghubungi pamannya dan mereka sudah membooking pesawat pribadi yang lain, Tuan Jonathan dan juga saya akan memastikan keselamatan tunangan Anda," kata Ferdy lagi dengan sangat menyakinkan.


Anxel tampak berpikir sedikit, sebenarnya tak mungkin percaya dengan orang yang baru saja dia temui ini, namun keadaannya mendesak, lagi pula dia harus segera tiba di negaranya.


"Aku akan menghubunginya dulu," kata Anxel ingin memastikan.


---***---


Jenny yang mendengar suara Anxel memanggil namanya sebenarnya segera ingin keluar dari ruangan itu, ingin pergi dan melepaskan diri dari Jonathan, namun pria itu kembali menahan tubuhnya, dia mendekatkan mulutnya ke telinga Jenny.


"Silakan keluar, namun aku juga akan keluar, Kita lihat apa reaksinya melihat ternyata kita keluar bersama dari sini?" kata Jonathan, dia lalu memundurkan tubuhnya, menunjukkan sikap mempersilakan Jenny untuk keluar.


Jenny tentu langsung berpikir tentang apa yang baru dikatakan oleh Jonathan, benar juga, jika dia keluar sekarang dan Jonathan juga keluar, bisa-bisa pasti semua curiga, dan Jenny yakin Jonathan akan mengatakan hal yang pasti akan mempersulit semuanya, karena itu Jenny hanya menekan kedua bibirnya, bergeming memandang Jonathan kesal.


Saat Anxel mengatakan ingin menelepon Jenny, Jenny langsung mengambil ponselnya dengan cepat mengubah mode dering menjadi mode getar, karena dia yakin Anxel pasti bisa mendengar nada deringnya dan nantinya akan curiga, hasilnya akan sama saja seperti mereka keluar bersama-sama jikalau Anxel nantinya mendapati mereka sedang berduaan di gudang ini.


"Halo?" kata Jenny pelan, menutupi mulutnya dengan telapak tangannya agar suaranya tak terdengar keluar.


"Halo, mereka bilang kau punya masalah?" tanya Anxel yang langsung to the point, melirik Ferdy yang hanya tersenyum.


Jenny melirik ke arah Jonathan, Jonathan hanya memiringkan wajahnya, sudut bibirnya terangkat, tangannya siap sedia di knop pintu itu, membuat Jenny hanya bisa kesal, mau tak mau mengikuti mau pria ini.


"Ya, ya, benar, maaf aku punya masalah dengan dokumenku, mereka bilang ada yang kurang, dan aku juga harus menunggu," kata Jenny.


"Apa masih lama?" kata Anxel lagi mengurut dahinya yang berkerut


"Cukup lama sepertinya, ada apa?"


"Aku punya jadwal pasien yang tak bisa aku batalkan atau undur lagi, karenanya ...." kata Anxel.


"Oh, kalau begitu kalian pulang saja duluan, aku sudah menelepon pamanku dan juga mereka sudah menyiapkan penerbangan yang lain untukku, tenang saja, pamanku langsung menyediakan pengawal untukku," potong Jenny sambil melirik kesal melihat wajah Jonathan yang tersenyum senang, Jenny patuh padanya.


"Baiklah kalau begitu, jika ada apa-apa, hubungi aku, jika sudah sampai, kabari aku,maaf tak bisa menunggumu," kata Anxel lembut.


"Baiklah, ehm, aku harus kembali lagi, bye," kata Jenny tak ingin berlama-lama, dia mematikan langsung panggilan itu, memandang geram pada Jonathan yang tampak puas dengan semuanya, apa lagi mendengar suara tapak kaki Anxel yang sudah terdengar menjauh.


Jenny hanya memandang Jonathan kesal, Jonathan hanya mendekati Jenny dengan senyumannya.


"Puas?" kata Jenny.


"Ya, terima kasih," kata Jonathan lembut dan berat, suara yang begitu memikat, membuat kesal Jenny tak bisa keluar.


"Tapi aku tetap tak bisa menerimamu, bagaimana pun kau adalah tunangan sepupuku, dan aku sudah punya calon tunangan," tegas Jenny lagi, walau sebenarnya dia harus mengakui, rasanya begitu tenang bisa ada di samping pria ini.


"Tak apa, aku yakin kau segera menerimaku, sekarang kau ada di sini saja sudah cukup," kaya Jonathan lagi, seketika Membuat Jenny berdebar dan juga sesak, bahkan hanya kata sesederhana itu bisa membuatnya merasa luar biasa, apalagi sekarang napas Jonatan begitu terasa menerpa pipinya, Jenny mengira Jonathan ingin kembali menciumnya, dia bahkan sudah bersiap untuk mendorong pria itu, namun ternyata tidak, Jonathan hanya memandangnya.


Tak lama terdengar ketukan dari luar, seolah itu adalah tanda, Jonathan memegang tangan Jenny erat dan membawanya keluar.


Jenny tentu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Jonathan, bagaimana jika Chintia dan Anxel masih di luar sana?


"Tuan Anxel dan Nona Chintia telah masuk ke ruang boarding," kata Rian menyampaikan berita terkini.


"Baiklah, terima kasih," kata Jonathan yang tak ingin lebih lama ada di gudang yang sebenarnya terasa pengap, panas dan udaranya tak sedap itu.


Dia melirik Jenny dengan senyuman manis dan puasnya, membuat Jenny mengerutkan dahinya, mau apa lagi si beruang kutub ini?