
Jenny melangkah malas, dia segera berjalan mendekati pintu pesawat itu, dia melirik Jonathan yang masih setia di ambang pintu itu, pria itu tidak mengulurkan tangannya pada Jenny, malah dia memasukkan tangannya ke dalam kedua saku celananya.
Jenny menatap pria itu, ah, selalu saja menarik perhatian, dengan mantel berwana coklat, baju rajut hitam dengan kerah tinggi, celananya senada dengan baju dalamanya, wajahnya, tak perlu lagi di deskripsikan bagaimana sempurnanya.
"Nona, tas Anda akan saya bawakan," kata seorang pelayan di sana.
"Oh, baiklah, terima kasih," kata Jenny menyerahkan koper kecil berwarna merah muda itu, dia segera menaiki tangga kecil dari pesawat itu, herannya semakin dia mendekati Jonathan entah kenapa napasnya semakin tertahan, lagi-lagi mata kuning itu membuat dirinya gugup, gilanya lagi Jonathan malah bergeming menatapnya, mungkin karena gugup atau memang tangganya sangat kecil dan licin, Jenny tanpa sadar malah tergelincir dari tangga itu.
Jenny sedikit berteriak kaget, hampir saja oleng dan jatuh ke bawah, namun untungnya pinggangnya langsung ditahan oleh Jonathan, mata Jenny menatap wajah Jonathan yang sekarang ada di depannya, dia terdiam seketika, Jonathan dengan cepat menarik tubuh Jenny agar segera tegak, sejenak mereka hanya menahan pandangan mereka, wajah Jenny langsung terasa panas.
"Selain terlalu percaya diri, kau juga ternyata ceroboh, cepatlah masuk, kita sudah terlambat," kata Jonathan, herannya walau kata-katanya terkesan dingin, namun nada yang di sampaikan itu malah terasa hangat, bagaimana dia bisa melakukan hal itu, memberikan kesan dingin namun juga hangat secara berasamaan, inikah kehebatannya? Jenny benar-benar meriang dibuatnya.
"Ada apa?" tanya Chintia yang sudah duduk manis di tempat duduknya, menatap wajah sedikit pucat Jenny yang hampir saja jatuh tadi.
"Tidak apa-apa," kata Jenny seadanya, mengamati pesawat jet pribadi yang mewah itu, dia ingin duduk jauh dari mereka.
"Duduklah di seberang sana, jangan terlalu jauh," kata Chintia seolah membaca pikirannya, herannya kali ini Jenny malah menurut, dia duduk di samping Chintia yang dipisahkan oleh lorong, Jenny segera menggunakan sabuk pengamannya, setelah menggunakannya, dia lalu melihat Jonathan yang mendatangi Chintia duduk di samping Chintia, Chintia menyambutnya dengan senyuman manisnya, pria itu menggunakan sabuk pengamannya, setelah itu tangannya dengan hangat menggenggam tangan Chintia, senyuman manis dia persembahkan untuk calon istrinya itu.
Jenny yang tanpa sadarnya dari tadi memperhatikan pria itu hanya bisa tersenyum kecut, kecut sekali hingga rasanya hidungnya masam, dia lalu mengalihkan pandangannya, merasa tak enak dalam perasaannya, seharusnya dia juga punya seseorang di sampingnya yang juga memegang tangannya saat Take-off seperti ini, bukan mengenggam sandaran tangan seperti ini, sial! kenapa Anxel tak bisa ikut dengannya? kata hati Jenny seraya melirik pautan hangat tangan Chintia dan Jonathan.
Perjalanan mereka menerobos malam, Chintia sudah izin duluan untuk beristirahat, tubuhnya dari kecil memang lemah, rumah sakit adalah rumah ke dua untuknya, Jenny ingat bagaimana keluarganya selalu menjengguk Chintia yang setiap bulan pasti sakit. Jonathan membawa Chintia untuk beristirahat di dalam kamar pesawat Jet itu.
Suara pintu di buka terdengar, Jenny yang bergeming di tempatnya dari tadi melirik sekilas, sosok pria berbadan tegap itu keluar dari kamar itu, dia langsung pura-pura untuk tidur, malas untuk mengobrol atau berinteraksi dengan Jonathan nantinya.
Jonathan menyusuri lorong itu, perjalanan mereka memang memakan waktu lebih lama, esok pagi mereka baru akan tiba ke tempat tujuan mereka, dia berjalan ke depan, melirik ke arah Jenny yang tampak sudah tertidur di tempat duduknya.
Jonathan memandangi wajah cantik itu, sama seperti saat di hotelnya, terlalu cantik untuk diabaikan, Jontahan memanggil seorang pramugari yang berdiri di sana, siap melayani dirinya kapan saja.
"Bisa kah membawakan bantal dan selimut?" tanya Jonathan lembut dan juga pelan, takut mengganggu Jenny.
Jonathan melihat kursi yang digunakan oleh Jenny terlalu tegak, dia lalu mencoba untuk membuat kursi itu sedikit lebih tiduran posisinya, dia tentu tidak bisa langsung melakukannya, jika dia melakukannya tiba-tiba, Jenny pasti kaget dan terbangun, Jonathan menyelipkan tangannya perlahan ke belakang kepala Jenny, menahan posisinya agar tidak ikut jatuh saat dia mengubah posisi kursinya, pramugari yang tadi datang dengan cepat, dia melihat Jontahan sedikit kesulitan langsung datang menolong.
"Tolong, posisikan tempat duduknya," kata Jonathan seperti berbisik, takut membangunkan wanita yang sekarang ada dalam genggamannya.
Jenny menghirup wangi tubuh Jonathan, samar dia melihat tubuh pria itu, jantungnya cukup berburu ketika tahu bagaimana posisinya sekarang? apa yang harus dia lakukan? haruskan dia terus pura-pura tidur? Bagaimana jika dia berpura-pura bangun? Namun rasanya seluruh tubuhnya kaku, entah kenapa? pancaran hangat pada tubuh Jonathan begitu terasa, Jenny hingga tak bisa bernapas, bisa-bisa dia pingsan benaran karena ini.
Jonathan memberikan isyarat agar pramugari itu menyelipkan bantalnya pada bagian belakang kepala Jenny, dengan perlahan Jonathan memposisikan kepala Jenny dengan sangat-sangat nyaman, Jenny tampak menggeliat mencari posisi nyamannya, membuat Jonathan tersenyum manis.
Pramugari itu memberikan selimutnya dan lalu pergi dari sana, Jonathan merentangkan selimut berwarna coklat yang cukup tebal itu, menyelimuti separuh tubuh Jenny yang tampak sangat nyaman, Jonathan kembali menatap wanita itu, terlihat manja dengan semuanya, sekali lagi, tanpa sadarnya mengusap kelapa Jenny dengan senyuman hangatnya.
Namun dia segera menarik tangannya, sadar akan posisinya sekarang, Jonathan mengulum bibirnya, dengan cepat menegapkan posisinya, dia lalu segera berjalan meninggalkan Jenny yang menurutnya sudah nyaman.
Jenny membuka matanya, aroma maskulin nan lembut itu masih bisa dia cium, matanya hanya terlihat sendu, detak jantungnya masih begitu kencang, namun dia malah merasa sesak akannya, kenapa dia melakukan hal itu pada Jenny, sebanarnya apa mau pria itu? dia selalu saja bertindak yang saling bertentangan? Membuat perasaan Jenny menjadi gusar, apakah dia sengaja melakukannya? Apa dia tahu Jenny hanya pura-pura saja? tapi kalau dia tahu untuk apa dia melakukan semua hal tadi? Apa dia benar-benar ingin membuat Jenny terjebak dalam permainannya? Tapi untuk apalagi, bukannya dia yang dengan sangat gamblang mengatakan bahwa dia akan menikah? Jenny semakin bingung melihat tingkah Jonathan itu.
Jenny menggulung tubuhnya lebih erat, sebisa mungkin menahan posisinya, suasana kabin pesawat itu sudah meredup, seredup hatinya sekarang, entah kenapa dia sama sekali tidak bisa tidur, setiap kali dia menutup mata, serasa harum maskulin itu tercium kembali.
Menahan posisi seperti itu cukup lama membuat Jenny pegal juga, dia segera bangkit, tak ada salahnya jika dia tiba-tiba terbangun bukan, dia lalu berusaha melihat ke arah belakang, matanya sedikit kaget melihat Jonathan yang tampaknya sudah tertidur di salah satu sofa panjang di sana, Kenapa dia tidak tidur dengan Chintia, bukannya dia calon istrinya? Hal biasa jika mereka tidur bersama bukan?
Jenny awalnya ingin melakukan hal yang sama, menyelimuti Jonathan yang tampak hanya tidur polos tanpa selimut, namun di urungkan niatnya, bagaimana jika ternyata Jontahan juga memalsukan tidurnya, akan sangat malu jika tiba-tiba dia tertangkap basah melakukan hal itu, lagi pula, Jontahan sudah milik sepupunya, sesuai prinsipnya, dia tak akan pernah mendekati pria yang sudah memiliki pasangan, tak ada kata kecuali pada prinsip Jenny itu, jadi! Lupakan playboy korek api itu, pikir Jenny lagi masih bertahan dengan Egonya yang sangat besar.