
Jonathan membuka matanya saat merasakan air dingin sedingin es menguyur tubuhnya, seluruh tubuhnya terasa lemas, dia juga merasa sangat pusing di kepalanya, sepertinya mereka memberikannya obat tidur yang cukup keras.
Jonathan bisa mencium bau apek dan kayu yang lapuk, dari suara yang bisa dia dengar pun, sepertinya tempatnya itu terbuat dari kayu, bahkan saat dia menggerakan dirinya yang terikat di kursi, lantainya pun terdengar seperti kayu yang terketuk.
Setelah itu dia mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya dari arah belakang, tak lama ikatan di matanya terbuka, dia menyipitkan matanya, merasa silau dengan apa yang terlihat di sekitarnya, dia lalu segera menangkap sosok yang membuat amarahnya kembali memuncak, Anxel berdiri di depannya sambil tersenyum ramah.
"Sudah sadar?" kata Anxel melihat ke arah Jonathan.
Jonathan ingin mengumpat, namun mulutnya tersumpal dengan kain yang memang dimasukkan paksa ke dalam mulutnya, jadi yang terdengar hanya kata-kata gumaman.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" kata Anxel pada Jonathan.
Anxel segera menyuruh salah satu orang yang ada di sana untuk segera mengeluarkan apa yang ada di dalam mulut Jonathan, Jonathan menggoyang-goyangkan rahangnya yang pegal karena dari tadi harus terbuka akibat sumpalan itu, segera dia melihat ke arah Anxel, menatapnya dengan sangat marah dan tajam, bahkan mata Jonathan sampai memerah menahan semua emosi dalam dirinya.
"Apa yang kau lakukan pada Jenny?" kata Jonathan.
"Kau benar-benar menyukai gadis angkuh itu?" tanya Anxel pada Jonathan, dia mencondongkan sedikit kepalanya ke arah Jonathan, mencoba mendekatkan wajahnya ke pria itu, Jonathan diam memandang Anxel.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Jonathan lagi berteriak dengan keras.
"Aku tidak melakukan apapun, aku tentu tak ingin mengambil resiko untuk melakukan sesuatu padanya, dia punya keluarga yang sangat kuat di sini, untuk apa juga aku melakukan sesuatu padanya, tanpa itu, dia sudah setuju menikah denganku, tentu aku adalah pria yang paling cocok untuk mendampinginya bukan?" kata Anxel segera menunjukkan cincin pertunangan itu pada Jonathan, bermaksud membuat pria itu menjadi lebih meradang, namun sepertinya hal itu benar-benar menyulut amarah Jonathan.
Jonathan menatap Anxel dengan sangat marah, dan dengan cepat dia membenturkan kepalanya kepada Anxel yang ada di depannya, keras sekali dia membenturkan kepalanya, membuat Anxel sampai terhuyung seketika merasa pusing dan sakit kepala yang hebat.
Tak membuang kesempatannya, Jonathan segera berdiri sebelum para penjaga Anxel yang hanya ada dua orang di sana bertindak, dia berdiri, lalu saat mereka ingin mendekati Jonathan, Jonathan segera memukulkan kursi kayu yang terikat padanya itu ke tubuh salah satu penjaga, sangat keras dia memukulkan kursi itu hingga kursi itu patah dan hampir hancur, membuat penjaga itu segera jatuh.
Namun penjaga yang satu lagi segera mengambil satu buah balok kayu, memukulkannya pada tubuh Jonathan yang sedang berusaha membuka ikatannya karena kursi yang terikat padanya sudah hancur, pukulan itu mengenai punggung Jonathan, membuatnya langsung terhunyung ke depan, penjaga itu tidak ambil waktu lama, dia segera ingin mememukul Jonathan lagi, namun Jonathan dengan sigap dan mengesampingkan sakitnya langsung menampis pukulan itu, membuat nyeri yang sangat di tulang tangannya, dia sangat kesusahan untuk membalas mengingat tangan dan kakinya masih belum bisa terlepas.
Seketika Jonathan ambruk ke lantai, kehilangan kesadarannya ketika balok itu menghantam kepalanya, semua kembali lagi dari awal, gelap.
---****---
Jenny membuka matanya yang langsung terduduk kaget, Aurora yang melihat ke arah anaknya yang terduduk itu langsung cemas, setelah memasukkan cincin ke tangan Anxel, Jenny langsung jatuh pingsan, membuat semua orang cemas.
Jenny segera dibawa di kamarnya, Anxel mengatakan Jenny hanya sedikit mengalami demam, mungkin semua ini karena kelelahan, namun Aurora tahu, jauh dari itu, ini pasti karena Jenny menahan perasaannya, rasa sakitnya yang sangat hingga tubuhnya tak mampu lagi bisa menampungnya.
"Jenny, apa yang sakit Nak?" kata Aurora yang begitu cemas melihat Jenny yang terbangun dengan cucuran keringat dingin, wajahnya pun cemas sekali.
Jenny melihat ke arah bibinya, dia mengatur napasnya yang begitu memburu, dia baru saja bermimpi, bermimpi melihat Jonathan yang tampak babak belur, Pria itu tampak sangat menderita, seluruh tubuhnya penuh luka, selain itu Jonathan tidak sadar, Jenny sudah berusaha untuk menyadarkannya, namun Jonathan sama sekali tidak sadar, dan saat dia ingin memeluknya, tubuhnya di tarik begitu saja dan dia melihat banyak orang yang mengelilingi Jonatan dan segera membakar tubuhnya hidup-hidup, Jenny berteriak dengan sangat keras, lalu terbangun dengan tubuh basah penuh keringat dingin dengan napas yang terengah-engah.
"Bibi, Jonathan," kata Jenny tersekat, dia tidak bisa mengatakannya, bagaimana jika dia mengatakan hal ini dan tiba-tiba Anxel tahu lalu Anxel melakukan hal yang sangat kejam pada Jonathan, Jenny tentu tidak ingin membuat mimpi buruknya yang tadi itu menjadi kenyataan.
"Kenapa Jonathan?" kata Aurora yang melihat kecemasan yang sangat di wajah Jenny, namun Jenny tidak menjawabnya, dia hanya diam sesaat lalu tiba-tiba menangis, menangis memeluk Aurora yang hanya memandang bingung terhadap anaknya ini, kenapa menangis begitu pilu? pikirnya.
"Jenny, sebenarnya ini ada apa? kenapa kau buru-buru ingin bertunangan dengan Anxel, kau tak perlu melakukannya hanya untuk menjauhkan dirimu dari Jonathan," kata Aurora yang mengurai pelukannya, ingin melihat wajah Jenny yang tampak masih menangis pilu, menutupi wajahnya dengan cara menunduk, hal yang sangat jarang dilakukan oleh Jenny.
Jenny hanya diam, melihat cincin putih yang sudah melingkar di jari manisnya, ternyata mimpi paling buruknya adalah kenyataan, kenyataan dia adalah tunangan pria paling kejam dan licik yang pernah dia kenal, Jenny menarik napasnya panjang.
"Jenny, ada apa?" kata Aurora lagi, merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh putrinya ini, mencoba menganalisa, apakah benar putrinya menangis begitu sedih hanya karena patah hati, jika iya, maka Jenny begitu mencintai Jonathan.
"Dengarkan Bibi, Bibi tak tahu apa masalahmu, tapi Bibi rasa ada hal yang harus kau selesaikan, jadi Bibi hanya ingin mengatakan padamu, kita wanita, senjata kita memang hanya menangis, namun kau juga harus tahu, menangis terus tidaklah berguna, sekarang menangislah sampai kau benar-benar lega, setelah itu berhentilah dan mulai berpikir apa yang harus kau lakukan sekarang, apa yang harus kau selesaikan atau apa yang bisa membantumu saat ini, Bibi yakin kau bisa melewatinya, setelah ini bangkitlah, lakukan apa yang kau bisa lakukan, jangan sampai kau menyesal hanya karena menangis," kata Aurora memberikan sebuah nasehat pada Jenny, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.