
Jenny menarik anak rambutnya, tangan yang putih tampak memantulkan cahaya matahari yang menyentuh kulit halusnya, perlahan dia mengambil sedikit air ditempat yang malah lebih mirip kubangan, airnya tak begitu jernih namun juga tak begitu keruh.
"Ini bantu kakak membawanya ke meja sana," kata Jenny memberikan sebotol air itu untuk dibawa oleh anak-anak yang mengitarinya.
"Baik kakak," kata mereka, Jenny pun berdiri, mengikuti mereka dari belakang, di sana ternyata sudah berkumpul banyak anak yang siap menunggunya.
Jenny sedikit tersenyum, wajahnya lalu segera ceria, dia langsung membuka kelasnya.
"Jadi, hari ini kita akan mencoba untuk bagaimana jika kita ingin menyaring air kotor menjadi lebih jernih, namun dengan alat sederhana, ini sangat cocok saat kalian terjebak di hutan namun tak punya air bersih untuk diminum," kata Jenny senang.
"Wah, iya kak, bagaimana caranya?" tanya salah satu anak yang antusias mengikuti percobaan yang ingin dilakukan oleh Jenny.
"Baik, yang harus kalian cari 2 wadah untuk menampung air, potong satu lebih tinggi dan yang lain lebih pendek. Botol yang tinggi kamu isi air kotornya, sedangkan yang pendek biarkan kotor, nah setelah itu cari kain, kain apa saja tapi lebih baik yang menyerap air ya, lalu kamu celupkan ujungnya ke air, dan biarkan airnya tersaring dan masuk ke botol yang lebih pendek, cara ini bisa menyaring kotoran dari air itu, tapi tentu harus sabar, tinggalkan saja seharian nanti airnya akan lebih jernih, tapi tetap harus dimasak dulu agar lebih aman ya," kata Jenny ceria menjelaskan pada anak yang senang dengan apa yang dia ceritakan, "setelah ini kalian lakukan lagi yang barusan kakak kerjakan, ya."
"Baik Kak," kata mereka serempak, mereka segera duduk di alas seadanya, sibuk mengikuti apa yang dilakukan oleh Jenny. Jenny hanya tersenyum, memperhatikan anak-anak didiknya.
Di sisi lain, Jonathan menatap ke suatu arah, dia hanya bisa diam, matanya begitu nanar dan penuh dengan kerinduan.
2 tahun sudah dia tak pernah melihat senyuman manis itu, ternyata masih secantik yang dia ingat, Jonathan tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, dirinya terdorong oleh rasa rindu yang sangat, cinta yang menggebu di dalam Sukma, dan rasa haru yang tak bisa dilukiskan lagi.
Jonathan segera mengambil langkah mantapnya, berjalan menuju wanita yang bahkan sama sekali tak sadar dengan kehadirannya, dia hanya tampak mengamati kelasnya, sesekali membantu anak-anak kecil yang kesusahan untuk melakukan eksperimennya.
Jenny bertepuk tangan bahagia atas hasil kerja seorang anak yang sudah selesai mengerjakannya, sebuah penghargaan buat anak itu, anak itu tersenyum bangga atas kerja kerasnya sendiri.
Jenny baru saja ingin mengulurkan tangannya ingin membantu seorang anak saat dia, namun dia kaget saat sebuah tangan kekar memegang tangannya, erat sekali pegangan itu hingga Jenny langsung melihat siapa yang sedang menggenggam tangannya.
Wajah Jenny yang awalnya tampak bingung berubah menjadi kaget, matanya membesar melihat sosok yang sedang menatapnya dengan tajam, tak percaya bahwa pria itu sekarang ada di sampingnya.
"Nathan?" suara lembut itu akhirnya menyebut namanya juga, Jonathan tak menyia-nyiakan moment itu, dia langsung menarik Jenny dalam pelukannya, erat, erat sekali menumpahkan semua rasa yang bertahun-tahun telah dia rasa, sudah bertumpuk hingga tak bisa lagi terbendung.
Anak-anak itu awalnya sedikit kaget melihat pria yang tak mereka kenal itu memegang tangan Jenny, namun mereka langsung bersorak-sorai karena melihat Jenny dipeluk oleh pria itu.
Jenny masih bingung, dia masih diantara rasa percaya maupun tidak dia sekarang berada di dalam pelukan pria ini lagi, harum badannya masih seperti yang dia ingat, hangatnya, bahkan suara detaknya pun masih begitu menenangkan.
"Aku menemukanmu," kata Jonathan berbisik lirih, bersamaan dengan itu dia kembali mengeratkan pelukannya, membuat Jenny cukup sesak napas.
Sorai dari anak-anak yang makin bergemuruh akhirnya menyadarkan mereka, Jonathan walau enggan mau tak mau menguraikan pelukannya, dia tak mungkin terus memeluk Jenny di depan anak-anak yang masih di bawa umur itu.
Jonathan menatap ke arah Jenny, matanya menatap lekat, memandang dengan dalam, mencoba menikmati pemandangan indah di depannya, sudah begitu lama dia menikmatinya hanya dari foto dan juga hanya dalam mimpinya.
"Bagaimana bisa kau menemukanku?" tanya Jenny yang juga tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah Jonathan, kembali langsung terperangkap dengan mata safir indah itu.
"Seseorang yang menghubungiku dan memberi informasi tentangmu di sini," kata Jonathan.
Jenny mengerutkan dahinya, dia yakin bahwa Pak Fandy yang memberitahu tentang keberadaanya pada Jonathan, padahal dia sudah mengatakan untuk tidak mengatakannya pada Jonathan tentang keberadaannya.
"Louise?" tanya Jenny tak percaya.
"Ya, maaf, kemarin aku tak sengaja, ehm, baiklah, aku sengaja mendengarkannya, aku mendengarkan bahwa ada pria yang mencarimu, jadi aku berpikir mungkin dia adalah pria yang kau katakan padaku, Jenny, kau tak bisa selamanya lari, pulanglah, dia membutuhkanmu," kata Louise.
Jonathan menatap pria itu, dari matanya dia tahu ada pancaran tak biasa, sebenarnya dia cukup tak suka bagaimana cara pria itu memandang Jenny, tapi tahu bahwa dialah yang memberitahu keberadaan Jenny juga mengatakan hal itu, Jonathan mencoba menghormati pria ini.
"Terima kasih sudah memberitahuku tentang dia," kata Jonathan, tangannya memeras tangan Jenny, Jenny hanya melirik ke arah pria sebelahnya.
"Kalian berbicaralah di kamp, Jenny, Kelasmu akan aku ambil alih, pergilah," kata Louise tersenyum, menatap dengan rela wanitanya pergi bergandengan tangan dengan pria lain.
Jenny menggigit bibirnya, menatap pria yang hanya diam menatap dirinya, rasa canggung itu muncul begitu saja.
"Maafkan aku," kata Jenny yang tahu pasti Jonathan sangat kecewa padanya, dia lari tanpa kabar di saat Jonathan sebenarnya sangat membutuhkannya.
Jenny tak tahu lagi dia harus melakukan apa saat itu, dia hanya ingin yang terbaik terhadap Jonathan. Di saat itu dia benar-benar merasa sendiri karena itu yang dia tahu adalah dia harus pergi dari sana, dengan kepergiannya, Jenny yakin Jonathan akan baik-baik saja.
"Apa kau yakin aku bisa menerima hal itu? cukup hanya dengan kata maaf?" tanya Jonathan yang sedikit menunjukkan wajah kesalnya, Jenny hanya kembali menggigit bibir dalamnya.
"Kau tidak mengerti keadaanku kemarin benar-benar tak memung ...." kata Jenny dengan suara menggebu-gebu menjelaskan kenapa dia harus meninggalkan Jonathan saat itu.
Namun belum selesai Jenny mengutarakan alasannya, Jonathan tiba-tiba saja segera menarik tangan Jenny yang ada di atas meja, menarik tubuh Jenny hingga terkena meja itu, Jonathan berdiri dan mencondongkan tubuhnya, dan entah bagaimana tiba-tiba saja Jonathan mencium bibir Jenny, membungkam wanita itu seketika.
Mencium dengan dalam, membuat rindu tentang bibir Jenny yang kenyal dan manis itu mengalir begitu saja, Jenny membesarkan matanya, memandang wajah Jonathan yang begitu dekatnya, melihat matanya Jonathan yang tertutup membuat dirinya juga menutup matanya.
Napas mereka berbaur, lembut berpaut, cukup lama namun hanya diam untuk menuangkan perasaan yang halus sekali kembali bangkit dan membara, Jonathan melepaskan pautannya, memandang wajah Jenny yang sama saja seperti dulu, masih menutup matanya menahan nikmat yang terasa.
"Aku tak butuh kata-kata, mulai sekarang kau milikku selamanya," kata Jonathan membuat Jenny membuka matanya, tangannya yang dari tadi tak dilepaskan oleh Jonathan, Jenny hanya bisa diam saja, kata-kata Jonathan mengena dihatinya.
-------
Soon di update lagi ya kak, agak malaman insya Allah, hehe
kasih foto bang Jofan kali ya
kakek kakek banyak peminatnya neh