
Jonathan bangkit dari kursi rodanya sesaat setelah keluar dari ruang konferensi pers itu, dia sedikit tertatih, oyong karena terlalu cepat bangkit, bahkan Raphael dan Liam kaget melihatnya. Jonathan tampak bersiap-siap.
"Rian siapkan mobil untukku," kata Jonathan tegas.
"Mau kemana kau? keadaanmu masih belum stabil," tanya Liam pada anaknya yang tampak buru-buru.
"Aku sudah tidak apa-apa, kata dokter hanya tanganku yang retak, percayalah aku sudah tidak apa-apa, Ayah, Paman, aku harus menemui Jenny, dia pasti sangat cemas sekarang," kata Jonathan, dia sudah tak bisa menunggu lagi, bagaimana pun dia tahu pasti Jenny sangat khawatir tentangnya, dia tak ingin Jenny khawatir, hal itu sama saja melukai dirinya.
Jonathan melihat Rian yang sepertinya sudah beres memerintahkan persiapan mobilnya, dengan terburu-buru bahkan tanpa menunggu jawaban ayah dan pamannya Jonathan segera meninggalkan mereka, membuat Raphael dan Liam saling berpandangan.
Jonathan berusaha berjalan secepat mungkin walau dia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, namun dia tak terlalu menghiraukannya, lagi pula Nyerinya tak separah sebelum dia ditangani, efek obat analgesik yang diberikan dokter sedikit mengurasi rasa sakitnya.
Dia masuk ke dalam lift, melewati 2 lantai ke bawah, akhirnya dia berada di lantai dasar, matahari sudah menyinari seluruh daratan bumi, hampir menggagahi seluruh hari, Jonathan melihat jamnya, sudah lewat jam 8 pagi, Jenny pasti sudah menunggunya semalaman, jangan-jangan wanita itu tak tidur semalaman, hal itu kembali membuatnya menggebu ingin segera bertemu dengannya.
Jonathan mencoba menghubungi Jenny, lagi-lagi tak terhubung, karena masalah ini, mungkin Jenny lupa membuka blokiran nomor Jonathan.
Rian mendahului Jonathan, dia membukakan pintu untuk Jonathan, Jonathan segera duduk, Rian dengan cepat duduk di depan dan mereka segera melaju.
"Dimana Nona Jenny sekarang?" tanya Jonathan pada Rian, memposisikan diri agar tubuhnya nyaman di kursi belakang mobilnya.
"Dia ada di istana, hari ini adalah hari pernikahan putri Tuan Jofan dan Pangeran Archie, jadi mereka mengikuti upacara pernikahan sekaligus kenaikan tahta pangeran Archie," Jelas Rian pada Jonathan.
Jonathan melihat dirinya, dia hanya menggunakan sweater dan juga celana panjang semi formal, kalau sekarang adalah hari pernikahan dan penobatan pangeran tentu yang datang ke istana harus menggunakan pakaian formal, jika dia begini ke istana maka baru saja sampai di gerbang pertama dia pasti sudah diberhentikan.
Namun untuk memutar kembali dan mengganti baju artinya dia harus kembali ke hotel kalau begitu itu akan memakan waktu yang lama, dia tak ingin membuat Jenny menunggu bahkan 1 menit lebih lama.
Dia lalu memperhatikan Rian, pria itu tubuhnya tak jauh beda dengannya, mungkin lebih kecil tapi setidaknya dia menggunakan jas formal, timbul ide di kepalanya.
"Rian berikan jasmu untukku," kata Jonathan.
"Jas saya?" tanya Rian sekali lagi memastikan.
"Ya, lepaskan aku butuh itu untuk masuk ke dalam istana," kata Jonathan.
Rian hanya mengerutkan dahi, tapi dia tidak bisa melakukan apapun kecuali mengikuti apa kemauan Tuannya, Rian segera membuka Jas hitamnya itu, di lalu memberikannya pada Jonathan, Jonathan memakai Jas Rian, karena ukuranya lebih kecil, Jonathan hanya memakainya setengah, setengah lagi hanya dia taruh di pundaknya, menutupi tangannya yang sedang disanggah itu.
Perjalanan mereka tidak terlalu lama, untungnya jalanan cukup sepi, mereka segera sampai di gerbang utama istana yang sudah tertutup, mobil Jonathan segera di periksa, mereka meminta untuk menunjukkan undangan khusus untuk menghadiri acara pernikahan dan penobatan itu, hanya orang yang memiliki undangan yang diperbolehkan masuk saat ini.
"Maaf Tuan, tanpa undangan Anda tidak boleh masuk, itu peraturannya," kata penjaga istana langsung pada Jonathan.
"Kami tamu khusus Tuan Jofan, anda bisa bertanya padanya," kata Rian mencoba membantu, Penjaga itu melihat ke arah Rian yang hanya menggunakan kemejanya.
"Saat ini acara penobatan sedang berlangsung, kami tak bisa menghubungi siapa pun sekarang, jika ingin menunggu kami bisa bertanya pada mereka saat penobatan susah selesai," kata penjaga itu.
"Baiklah, sampaikan pada Tuan Jofan bahwa Jonathan sudah hadir di gerbang utama," kata Jonathan, tak yakin apakah Jofan akan mengizinkannya masuk atau tidak.
"Baiklah, silakan tunggu di area parkir menunggu," kata Penjaga itu mengarahkan Jonathan ke tempat parkir di luar gerbang utama itu.
Jonathan hanya bisa melihat istana yang tampak cukup ramai itu dari luar, mau tak mau dia harus menunggu.
---***---
Jenny berdiri dengan senyuman tipis terbaik yang bisa dia lakukan sekarang, tentu tubuhnya lemah, semalam dia belum tidur, namun lebih dari itu semua, dia masih tak tenang, cemas, takut, bingung harus bagaimana? kenapa masih tak ada kabar, kakaknya pun masih terlihat tenang mengikuti acara upacara penobatan yang megah ini, tapi sejujurnya, Jenny tak ingat apa saja yang sudah dia lalui di acara itu.
Raganya memang ada, namun jiwanya entah dimana sekarang, serasa di awang-awang, dia hanya mengikuti sekitarnya, mereka berdiri, dia ikut berdiri, mereka bertepuk tangan, dia juga melakukannya, bagaimana bisa larut dalam kebahagiaan jika dirinya terasa hampa.
Jenny melihat gerbang besar ruangan yang sudah tertutup rapat, ingin rasanya dia kabur dari sana sekarang, mencoba mencari siapa pun yang bisa membantunya, menghilangkan dahaga rindunya terhadap Jonathan, namun semua tak sanggup dilakukannya, dia hanya mengikuti semua orang bertepuk tangan setelah acara penobatan khitmat itu selesai.
Jenny hanya sanggup terduduk di bangkunya, sementara para tamu yang lain sudah meninggalkan tempat mereka, ingin bertemu dan berjabat tangan langsung dengan Raja dan Ratu yang baru, juga memberikan selamat pada pasangan pengantin baru itu.
Di antara ke rumunan orang-orang yang berkerumun di sana, asisten Jared dan Asisten Jofan sama-sama mendekati Tuannya, Jared yang sedang duduk menemani Suri segera dibisikkan sesuatu oleh Asistennya, dia lalu mengerti dengan hal itu.
"Suri, " kata Jared melihat Suri dengan lembut, pautan tangannya yang sedari tadi terjalin tak dia lepaskan sama sekali.
"Ya," kata Suri memandang balik pada suaminya.
"Bisa menungguku sebentar, aku harus bertemu paman, hanya sejenak, aku akan kembali secepatnya," kata Jared, tentu dia tak ingin meninggalkan Suri, namun hal ini harus dia katakan pada Pamannya, Suri tersenyum tipis nan manis, mengangguk sejenak mempersilakan.
"Aku akan kembali secepatnya," kata Jared, menepuk punggung tangan Suri dengan pelan dan lembut, Suri hanya membalasnya dengan gerakan tangan,
Jangan Khawatir, aku akan selalu ada di sini,
Jared tersenyum, mau kemana lagi Suri pergi, bagaimana pun dia masih belum bisa berjalan, dan mendorongnya dengan kursi roda akan membuatnya tertekan karena akan menjadi tontonan khalayak ramai, dan memaksanya ke sana itu tak mungkin.
"Tolong jaga Nyonya," kata Jared setengah hati meninggalkan istri tercintanya walau hanya jika meninggalkannya sesaat, hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat Suri, Suri menggelengkan kepalanya, melihat bagaimana suaminya begitu khawatir padanya.