
Jared kembali ke mobilnya, sedangkan Jenny ikut dengan mobil Jonathan, mobil mereka segera melaju beriringan dengan mobil Jared yang dikawal langsung oleh 2 mobil pengawal presiden menuju Royal Palace untuk menemui Paman dan Bibi mereka. Sepanjang perjalanan Jenny hanya mengenggam erat tangan Jonathan, mencoba untuk menenangkan dirinya.
”Jangan khawatir, bukankah aku katakan mereka akan sangat bahagia menemuimu,” tenang Jonathan pada Jenny, Jenny hanya tersenyum, bagaimanapun Jonathan menenangkannya, tapi dia masih merasa sedikit tak bisa tenang.
”Ya, baiklah,” kata Jenny.
Detak Jantung Jenny semakin berburu ketika mereka memasuki perumahan Royal Palace itu, dari jauh dia bisa melihat rumah mereka, tak ada yang berbeda, semua masih terlihat sama dengan apa yang pernah dia ingat.
Mobil mereka berhenti, Jonathan membukakan pintu untuk Jenny yang keluar dengan langkah ragunya, dia lalu melirik kekaknya yang mengulurkan tangannya untuk dirinya dan Jenny perlahan menyambut tangan kakaknya, dia berdiri di samping saudara kembarnya itu, Jared segera memasukkan kode untuk membuka rumah mereka, membukakan pintu yang menampakkan ruangan yang sudah meredup semua lampunya.
"Bibi? Paman?" suara Jared cukup besar memanggil paman dan bibinya. Dia menuntun adiknya untuk masuk ke dalam ruang tamu yang remang, Jonathan bertugas untuk menutup pintu kembali.
"Sebentar, Jared, kenapa tak memberi kabar akan datang? apakah kau tidak sibuk?" suara nyaring bibinya terdengar, membuat jantung Jenny semakin terpacu, dia bahkan tak lagi bisa bernapas dengan baik.
Jenny menarik napasnya saat melihat bayangan bibinya yang duluan terlihat dari ruangan sebelah, saat sosok itu muncul Jenny bahkan sudah tak bisa membendung air matanya.
Aurora berjalan terburu-buru, jarang sekali anaknya yang baru dilantik itu datang malam-malam begini, apakah Suri sudah ingin melahirkan? dia segera meninggalkan pekerjaannya lalu berjalan ke arah ruang tamunya, tumben sekali Jared tak langsung masuk ke dalam.
"Ada ap ...." Aurora tersekat, melihat sosok yang berdiri menatapnya dengan mata merah dan air mata yang mengalir jelas, Dia membesarkan matanya, menutup mulutnya dengan telapak tangannya, tanpa menunggu lama air matanya keluar membasahi matanya yang tampak lelah, sosok itu yang selama ini tak bisa dia lupakan sama sekali.
Aurora berjalan mendekat, perlahan sekali dia mengelurkan tangannya menyentuh tubuh Jenny yang hanya bisa menangis seperti anak kecil, Aurora memegang tangan Jenny, merasakan kehangatan dari tubuh putrinya. Ini seperti mimpinya jadi kenyataan? berulang kali dalam mimpinya dia menyentuh Jenny, apakah dia kembali sedang bermimpi?
Jenny sudah tak tahan lagi, dia langsung memeluk tubuh bibinya, ibunya yang selama ini dia kenal, Baik Jenny maupun Aurora menangis sedu melepaskan rindu.
"Aku sudah mengatakan pada semua orang bahwa anakku masih hidup, aku yakin kau akan pulang, sekarang kau benar-benar pulang," kata Aurora mengusap dengan lembut wajah anaknya, memandang penuh dengan haru dan kasih sayang, sekali lagi mereka berpelukan, rasanya benar-benar tak terbayangkan.
"Aurora, kemana kau?" tanya Jofan yang masuk ke ruang tamu itu, dia terdiam saat melihat Aurora memeluk seseorang, di sana juga ada Jared dan juga Jonathan.
Aurora mengurai pelukannya sekali lagi, memperlihatkan pada suaminya siapa yang dia peluk, tangisnya masih begitu haru melihat mata Jofan membesar, tak menyangka melihat Jenny di sana.
Walau tak pernah tampak sedih dan juga selalu berusaha tegar namun bagaimana pun Jenny adalah putri yang dia besarkan olehnya, dia melihatnya tumbuh, walau tak pernah mengatakannya, namun Jofan benar-benar kehilangan putri kecilnya ini.
Jofan berjalan cepat, memeluk Jenny secara tak sadarnya, dia tak lagi mementingkan statusnya, dia hanya memeluk erat Jenny, Jenny bahkan kaget dengan apa yang dilakukan oleh pamannya ini, merasakan begitu eratnya Jofan memeluknya membuat air mata Jenny kembali mengalir, akhirnya dia menemukan sosok ayahnya kembali.
Jofan sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari dimana putrinya ini berada, dia cukup menyesal karena di akhir-akhir ini hubungannya dengan Jenny sangat buruk, namun ketika kehilangan dirinya, Jofan baru menyadari betapa dia menyayangi Putri kecilnya ini.
Mata basah Jofan melirik ke arah Jonathan yang berdiri melihat momen haru keluarga yang memang sudah bisa dia bayangkan.
"Aku sudah menepati janjiku, aku membawanya pulang," ujar Jonathan yang memang pernah berjanji pada Aurora dan Jofan akan kembali membawa Jenny pulang.
Aurora yang masih menangis haru berjalan ke arah Jonathan, memberikan peluk terimakasih untuk Jonathan.
"Maafkan aku sudah begitu lama pergi," ujar Jenny menghapus air matanya yang sudah membuat matanya bengkak, memandang Jofan dan Aurora yang tampak masih begitu terharu dengan pertemuan ini.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, yang penting sekarang kau sudah pulang," ujar Jofan mengusap matanya yang basah, akhirnya keluarga mereka akan kembali utuh.
"Sudah sangat larut malam, perjalanan Jenny dan Jonathan juga pasti sangat panjang, aku rasa kita biarkan mereka beristirahat dulu, esok masih ada hari yang baru," kata Jared.
"Baiklah, Jonathan menginap lah di sini," kata Aurora menawarkan pada Jonathan yang langsung di sambut anggukan oleh Jonathan. "Jared bagaimana denganmu?" Aurora melemparkan pandangannya pada sosok Presiden itu.
"Aku tidak bisa meninggalkan Suri, takut terjadi apa-apa padanya, jadi aku rasa aku akan kembali besok pagi ke sini, selain itu aku akan mengabari Ceyasa, mungkin esok hari dia bisa sarapan dengan kita," kata Jared lagi.
"Baiklah, kirim salamku dengan Suri," kata Aurora, Jenny melemparkan senyum pada Kakaknya, setelah itu Jared melangkah keluar walaupun dia masih tidak ingin keluar dari suasana hangat keluarganya ini.
"Baiklah, Ayo kita istirahat," kata Aurora yang segera membawa Jenny masuk dan berjalan menuju kamarnya.
Jenny memandang ke arah kamarnya, kamarnya masih sama seperti saat dia meninggalkannya, semua letaknya masih sama. Ternyata rasanya nyaman bisa kembali ke rumah.
Dia segera membersihkan tubuhnya dan baru saja dia selesai menggunakan pakaian tidurnya, dia mendengar pintu kamarnya di ketuk, Jenny mengerutkan dahinya, melihat ke arah jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 2 pagi.
Dia perlahan menuju ke arah pintu itu, melihat sosok Jonathan yang sudah menunggunya di luar, Jenny mengerutkan dahinya sambil sedikit tersenyum ke arah Jonathan.
"Aku tidak bisa tidur, bisa mengobrol sejenak?" pinta Jonathan, Jenny melebarkan senyumanya tahu pria ini hanya mencari cara agar bisa bersama dirinya.
"Baiklah," kata Jenny yang memang belum mengantuk karena dia juga sudah tidur disepanjang perjalanan kembali tadi.
Jonathan segera masuk dan menunggu Jenny yang sedang menutup pintunya, Jenny mengerutkan dahinya ketika melihat Jonathan menyodorkan sebuah surat.
"Apa ini?" tanya Jenny.
"Bacalah," kata Jonathan.
Jenny mengambil surat beramplop putih itu, dia lalu berjalan ke arah ranjangnya, lalu duduk di sisinya, membuka surat yang masih tersegel, namun tidak ada sama sekali tulisan di luarnya, Jonathan juga duduk di samping Jenny, Jenny mengeluarkan selembar kertas yang ada di dalamnya, lalu dia melirik ke arah Jonathan.
"Aku juga ingin tahu apa isinya, aku belum melihatnya," kata Jonathan.