
Valery hanya diam, mendapatkan tatapan tajam dari Jonathan itu.
"Ehm, aku benar-benar tak tahu bagaimana ceritanya, jadi tunggu paman Liam atau Ayah yang akan menceritakannya," ujar Valery yang mulai mendekati Jonathan.
Jonathan mengerutkan dahinya? cerita? cerita apa maksudnya? Jonathan sejenak berpikir, apakah ada terjadi sesuatu dengan Jenny? Jonathan mencoba mengingat, mungkin di antara puing-puing ingatannya dia masih ingat sesuatu.
Tapi semua kosong, Jonathan tak ingat apapun, ingatannya terputus di kejadian malam itu, selebihnya samar hingga dia bangun hari ini.
Jonathan menunggu tak sabar, tangannya yang retak sudah tak di sanggah lagi, rasanya sudah tak begitu sakit lagi.
"Apa aku sudah mulai bisa berjalan?" tanya Jonathan.
"Anda sudah tidak menggunakan otot-otot kaki Anda 1 bulan ini, jadi mungkin akan sedikit lebih kaku, tapi jika anda ingin mulai berdiri, biar kami membantunya," kata dokter yang juga ingin tahu bagaimana kekuatan motorik dari Jonathan.
Jonathan lalu mengambil posisi, beberapa perawat membantunya untuk mempersiapkan dirinya berdiri, dokter itu mengulurkan kedua tangannya, Jonathan menggapainya, lalu dia mulai menapakkan kakinya.
Kesan pertama yang dia rasakan adalah lemas, kakinya bagai tak bertenaga, namun setelah hampir jatuh di percobaan pertama, dia mulai bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
"Baiklah, kita mulai melangkah," ujar Dokter itu mundur perlahan, memberikan ruang bagi Jonathan untuk berjalan.
Jonathan awalnya hanya menyeret kakinya, perlahan sekali dan dengan kakunya mulai melangkah, tak terlalu sulit karna tak ada yang bermasalah, hanya kekakuan otot yang sudah lama tak digunakan.
Valery melihat hal itu hanya tersenyum, tentu dia sangat suka melihat kemajuan yang ditunjukkan oleh Jonathan, sebulan lebih ini mereka hanya bisa melihatnya terbaring di ranjang, antara bernyawa atau tidak.
hampir 6 langkah, dokter itu melepaskan tuntunannya, dan dengan langkahnya sendiri akhirnya Jonathan sudah berjalan.
Jonathan tersenyum melihat senyum puas dari dokter itu, namun senyumnya sesaat itu pudar saat tak lama dia melihat ayahnya muncul di pintu ruang rawatnya, terhenti kaget melihat anaknya yang bahkan tadi malam saat dia menjaganya masih tak sanggup membuka mata, sekarang sudah berdiri di atas kakinya sendiri.
Liam memandang anaknya penuh rasa tak percaya sekaligus haru, dia langsung masuk dan memeluk Jonathan, sesuatu yang bahkan sudah puluhan tahun tak dilakukannya, anak yang dari dulu dia tak pernah harapkan, sekarang setelah hampir kehilangannya, dia baru sadar dia sangat menyayanginya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Liam dengan wajah menahan tangis haru, suaranya juga bergetar, dia menepuk-nepuk pundak Jonathan.
"Aku baik-baik saja Ayah," kata Jonathan yang menangkap hal itu, sudah lama merindukan tatapan kasih dari ayahnya, akhirnya dia mendapatkannya.
"Jangan terlalu dipaksakan, kembalilah ke ranjangmu," ujar Liam.
"Ayah, dimana Jenny?" tanya Jonathan yang seketika membuat Liam yang hendak membawa kembali Jonathan ke ranjangnya berhenti.
Diam dan hanya memandang anaknya, dia tak tahu harus mulai dari mana untuk menyampaikannya, apalagi di hari pertama anaknya sadar, dia tak bisa membuat anaknya yang baru saja kembali padanya akan menerima hal ini.
"Kita bicarakan nanti, kembali dulu ke ranjangmu," ujar Liam kembali menatap Jonathan sambil tangannya menarik pundak Jonathan untuk segera kembali ke ranjangnya, namun Jonathan bergeming, dia memandang ayahnya tajam.
"Ya, pasti aku katakan yang sebenarnya," kata Liam.
Akhirnya Jonathan mulai mengikuti apa mau ayahnya, dia segera kembali ke tempat tidurnya, Liam segera memberikan tatapan bertanya pada dokter yang ada di sana memastikan dengan benar bahwa kondisi anaknya sekarang benar-benar siap untuk menerima kabar ini.
"Keadaan Tuan Jonathan hampir seluruhnya pulih, tak ada gejala sisa yang dia terima, mungkin karena semangatnya, namun ini benar-benar sangat mencengangkan," kata dokter itu yang cukup kaget, tak ada orang yang sanggup langsung berjalan di hari pertamanya bangun dari koma, Jonathan pengecualiannya.
"Baiklah, terima kasih," kata Liam.
Para dokter dan juga perawat segera keluar dari sana meninggalkan Jonathan, Liam dan Valery di dalam sana.
Liam menatap anaknya yang sedari tadi seolah menuntut padanya, dia lalu menarik kursi agar lebih dekat untuk berbicara pada Jonathan.
"Ceritakanlah, bagaimana aku bisa ada di sini?" kata Jonathan mantap, di kepalanya sudah banyak kemungkinan yang sangat dia takutkan, Jonathan tampak siap.
"Semua ini adalah permintaan langsung dari Jenny, kami tak tahu kenapa? tapi dia hanya mengatakan bahwa kau akan lebih aman ada di sini, di tengah keluargamu, jadi begitu dia memintanya, Kami langsung membawamu kemari," kata Liam merunut kejadian yang masih bisa dia ingat 1 bulan yang lalu.
"Lalu?" Jonathan mengerutkan dahinya.
"Kami tentu menawarkan dirinya untuk ikut, tapi Jenny menolak mengatakan saat itu dia tidak bisa, Jonathan, Jenny benar-benar terpukul melihat keadaanmu, dia menangis terus menerus dan juga keadaanya sangat lemah, kami kira dia ingin menyiapkan dirinya dulu, kami juga takut jika dia menjadi sakit di sini, karena itu kami tak memaksanya ikut," kata Liam memandang mata anaknya yang langsung diturunkan oleh ibunya.
Jonathan diam, namun wajahnya masih siap untuk menerima kata-kata selanjutnya, walau rasanya napasnya napasnya mulai berat.
"Jenny dijadwalkan akan datang ke Negera ini 2 hari setelah kau sampai di sini, keadaanmu saat itu masih tidak menunjukkan perbaikan apapun malah terjadi penurunan, jadi kami hanya fokus untuk menjagamu, Jenny pergi ke negara ini sendirian," kata Liam lagi, menarik napas karena tahu setelah ini adalah bagian paling berat untuk dikatakan olehnya.
"Lalu? dimana dia? apa dia pulang kembali ke negaranya? kapan dia akan kemari lagi?" tanya Jonathan, merasa cukup lega karena ternyata Jenny juga mendatanginya.
"Dia tak akan kemari lagi, karena pesawat yang ditumpanginya bahkan tak pernah sampai mendarat di sini," kata Liam sedikit berat, agak tercekat apa lagi langsung melihat wajah anaknya yang langsung kaget mendengarkan hal itu.
"Maksud ayah?" tanya Jonathan tak percaya kata-kata yang keluar dari mulut Ayahnya.
"Pesawatnya hilang dari radar, dan sampai sekarang tak ditemukan, keluarganya bahkan keluarga kita sudah mencari jejaknya, namun, tak sedikit pun menemukan hasilnya, jejaknya hilang di atas lautan," kata Liam.
Jonathan tampak terdiam, matanya menatap tak percaya, tak mungkin, itu tak akan mungkin, Jonathan pasti salah dengar, atau jangan-jangan ini masih di dalam mimpinya, mimpi buruknya.
"Ayah, ini semua tak mungkin, ini tak mungkin bukan? aneh sekali hal itu terjadi, aku yakin semua itu tak terjadi! ya kan!" histeris Jonathan yang syok, hal ini tak bisa diterima olehnya sama sekali.
"Ini semua bukti berita yang ada, kau boleh melihatnya," kata Liam menyerahkan ponselnya, memberikan berita online tentang pesawat yang hilang, dan di sana terpampang foto cantik gadisnya, waktunya adalah 1 bulan yang lalu.
"Tidak, aku yakin ini semua rekayasa, aku yakin! ini tak terjadi," Jonathan melempar ponsel itu, apapun yang terjadi, dia tak bisa menerimanya! dia yakin Jenny masih ada, dan dia akan menemukannya!