
Jonathan duduk di ruang rawatnya, tangannya sudah diamankan posisinya agar tak bergerak banyak, setelah mendapatkan pemeriksaan, ternyata tangannya mengalami Hairline Fraktur ( retak tulang) sehingga dia harus menggunakan penyangga tangan.
Selain tangannya, untung saja keadaan Jonathan tak bermasalah, bekas pukulan di belakang kepalanya juga hanya menyisakan rasa sakit tanpa kerusakan di tulang tengkorak atau otaknya.
Jonathan memandang ke arah ayah dan pamannya yang hanya memperhatikan dokter masih menanganinya.
"Kapan Ayah dan paman mendapatkan kabar tentangku?" tanya Jonathan, sedikit kaget pamannya ini turun tangan langsung untuk penyelamatannya, dan apa benar pamannya ini bisa memerintahkan pasukan khusus seperti ini.
"Kemarin, Rian langsung mengatakan kau sedang di sekap, setelah itu kami langsung datang kemari," kata Raphael segera, dokter dan Perawat yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera keluar dari kamar mereka, Jonathan dirawat di lantai khusus rumah sakit mereka.
Jonathan mengerutkan dahinya, dari mana Rian tahu bahwa dia sedang disekap, apa Jenny yang memberitahukannya?
"Dari mana kau tahu aku sedang disekap?" tanya Jonathan pada Rian.
"Mayor Jendral Lucas yang langsung memberitahukan kepada saya, mereka mendatangiku di bawah komando langsung dari Tuan Jofan," kata Rian, Jonathan segera mengerutkan dahinya, bukannya Paman Jenny itu tidak menyukainya karena masalahnya dengan ayahnya, tapi bagaimana dia bisa mengutus pasukan khusus untuk Jonathan, apakah Jenny yang merayu pamannya untuk menolongnya.
"Tuan Jofan turun langsung memerintahkan pihak militer untuk menolongmu, tapi dia tak ingin ada yang tahu bahwa dialah yang melakukan semua hal ini, jadi dia meminta aku untuk mengakui bahwa semua ini adalah karena permintaan dari keluarga kita," kata Raphael duduk di dekat sofa di sana, suaranya berat berwibawa.
"Bagaimana bisa kau sampai disekap begini? siapa Anxel itu?" tanya Liam, setahunya dia tidak punya urusan dengan keluarga Anxel, apalagi bermusuhan dengan mereka.
"Dia tunangan Jenny," kata Jonathan dengan tatapan emosi yang tampak sekali di matanya.
"Jenny? dia sudah bertunangan?" tanya Liam, setahunya gadis itu belum memiliki pasangan.
"Pria itu ingin Jenny bertunangan dengannya untuk melancarkan tujuannya menjadi presiden, keluarga Jenny adalah keluarga yang menguasai politik di negara ini, menikahi Jenny akan memudahkannya, tapi Jenny mencintaiku, karena itu Anxel mengancamnya dengan cara menyekapku, aku tak bisa berkutik saat itu karena Jenny ada di sana," kata Jonathan menjelaskan motifnya pada pamannya dan ayahnya.
Liam tampak sedikit kaget mendengar penjelasan Jonathan, bagian Jenny mencintai Jonathan sedikit membuatnya tak percaya.
"Jenny mencintaimu?" tanya Liam.
Jonathan mengangguk mantap, "Aku juga mencintainya."
Liam tampak benar-benar kaget dan tak percaya, bagaimana bisa Jenny dan Jonathan jatuh cinta.
"Siapa Jenny?" tanya Raphael belum mengenal gadis yang diakui Keponakannya ini sebagai wanita yang dia cintai.
"Jenny, keponakan Paman Jofan, dia anak adiknya namun karena adiknya meninggal sejak Jenny kecil, pamannya menjaga mereka, dia sudah menganggapnya anaknya sendiri," kata Jonathan lagi menjelaskan pada pamannya.
"Jika Jenny sudah dianggap anak oleh Tuan Jofan, berarti dia adalah anak dari Aurora," kata Raphael memandang Liam.
Liam hanya bisa diam, kisah percintaannya akankah dilanjutkan oleh anak-anaknya.
"Ya," kata Liam tampak tak ingin melanjutkannya.
Raphael hanya mencoba menutupi kebingungan dan kekagetannya, ternyata hubungan ini tak hanya terputus di sepupunya, bahkan berlanjut pada Jonathan dan Jenny.
Saat semua hening dengan pemikiran mereka masing-masing, pintu ruangan perawatan Jonathan terketuk, Jonathan hanya melirik ke arah Rian, Rian mengerti dan membuka pintu itu, tampak Asisten Raphael tampak di depan pintu itu.
"Maaf mengganggu Tuan, Namun wartawan dan petinggi polisi sudah ada di sana menunggu kehadiran Tuan Raphael, Tuan Liam dan Tuan Jonathan," kata Asisten Raphael memberitahukan, sesuai rencana dan juga keinginan dari Jofan, mereka harus melakukan konferensi pers tentang penyekapan Jonathan ini.
"Baiklah, kami akan segera ke sana," kata Raphael berdiri, membenarkan jas biru Dongker yang dia gunakan.
Liam pun berdiri, mengikuti kakak sepupunya itu sedangkan Jonathan segera turun dari ranjang dan naik ke kursi roda, setelah semua siap, mereka segera keluar dari ruangan perawatan itu, turun menggunakan lift khusus dan segera menuju tempat konferensi pers.
Pintu ruangan itu terbuka, begitu mereka masuk semua wartawan segera memfoto mereka, kamera menyoroti mereka, Raphael dengan segala wibawa dan kharismanya berjalan di depan, membuat semua orang bisa tahu bagaimana pria ini punya kuasa, aura kepemimpinannya bahkan membuat kepala polisi di sana langsung menaruh rasa hormat padanya.
Setelah menyelamatkan Jonathan, para pihak militer menarik diri mereka, hilang bagaikan mereka tak pernah ada di sana, dan sesuai rencana mereka digantikan oleh polisi, karena jika ada yang tahu mereka yang turun tangan, pasti akan ada pertanyaan bagaimana orang asing tanpa kekuatan militer tiba-tiba bisa memerintahkan mereka.
Raphael langsung menyambut tangan kepala polisi itu, menggenggamnya mantap dan sangat erat, Raphael segera duduk, Liam ada di sampingnya, Jonathan juga ada di sana.
Walau bukan orang yang suka menunjukkan dirinya, demi membalas Budi pada Jofan, Raphael memenuhi Janjinya untuk menyiarkan kabar ini.
"Kemarin sekitar pukul 10.00-11.00, telah terjadi penculikan, penyekapan, dan penyiksaan terhadap Tuan Jonathan Medison yang merupakan Pewaris Tunggal keluarga Medison dari Negara X, kami segera mendapatkan laporan dan segera melakukan misi penyelamatan yang diperintahkan langsung dari Tuan Raphael Tadder selaku paman korban dan Tuan Liam Medison selaku ayah Tuan Jonathan, dan setelah melakukan penyergapan dan misi penyelamatan kami akhirnya menangkap dalang penculikan dan penganiayaan Tuan Jonathan, yaitu Tuan Anxel Bernando dibantu 5 orang anak buahnya di tepi danau Chrystal Lake, saat ini para tersangka sudah ditahan dan akan segera diproses, itulah yang ingin kami sampaikan sekarang," kata Kepala polisi itu memberikan keterangan pada awak berita di depan mereka, semua orang segera riuh.
"Tuan, apa benar Tuan Anxel Bernando adalah anak dari Pedana Menteri Dion Bernando?" tanya seorang awak pers di depan mereka.
"Benar, Beliau adalah anak dari Pedana Menteri Dion Benando, itu juga sudah diakui oleh Tersangka sendiri," kata kepala polisi tersebut.
"Tuan Jonathan, apa Motif Tuan Anxel bisa menyekap anda?" tanya awak pers yang lain.
"Sejauh ini kami tak tahu apa motif Tuan Anxel menyekap keponakanku, tapi saya hanya ingin mengatakan, kami mungkin bukan keluarga penguasa di negara ini, tapi kami tak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarga kami, sekali lagi, kami di sini hanya ingin menjalin kerja sama yang baik, Saya serahkan proses penyidikannya pada kepolisian, Kami akan mengikuti semuanya sesuai peraturan di negara ini, dan kami yakin hukum di negara ini bisa menghukum para tersangka dengan seadil-adilnya, terima kasih, " kata Raphael dengan suaranya yang berat, menunjukkan kepemimpinannya, membuat semua pers di sana langsung terdiam, kata-katanya biasa saja namun penyampaiannya membuat semua orang terkesima.
Dia berdiri membuat kepala polisi itu pun segera berdiri, mereka kembali berjabat tangan, dan tanpa menjawab pertanyaan pers yang riuh, mereka meninggalkan tempat konferensi pers itu.