
"Berarti kita bisa menemuinya?" tanya Jonathan.
"Ya, bisa, selanjutnya wanita itu juga ikut masuk ke dalam bandara namun berbeda lebih dari 1 jam dari nona Jenny dan dia di turunkan di restoran di dekat bandara, bukan di bandara itu sendiri,Nona Jenny juga datang ke sana terlalu cepat, karena penerbangannya dijadwalkan pukul 4 sore," kata Rian.
"Lalu?" kata Jonathan.
"Mereka menunggu di tempat yang sama, di lounge yang sama, nona Jenny keluar dari Lounge dan segera melakukan prosedur, juga masuk ke dalam pesawat pribadi itu, namun wanita tadi, tidak keluar, aku tak bisa mendapatkan CCTV lounge tersebut, mereka terlalu eksklusif hingga tak memberikan CCTV di sana pada siapa pun alasan mereka pada media sebelumnya adalah CCTV mereka mengalami kerusakan," kata Rian.
"Apa dia benar-benar tidak keluar?" tanya Jonathan.
"Tidak hingga 2 jam setelah nona Jenny lepas landas dan berita tentang hilangnya pesawatnya itu mulai terdengar, tepat sebelum berita itu ramai, dia keluar namun tak jadi terbang, dia malah pergi dan kembali ke apartemennya, setelah itu dia tak terlihat lagi, namun baru-baru ini dia muncul kembali setelah liburnya selesai," kata Rian.
"Tak adakah CCTV yang melihat gadis atau siapapun keluar dari apartemennya," kata Jonathan.
"Saya rasa tidak, atau dia memang tak ingin terlihat, CCTV di gedung itu akan di reset ulang setiap pukul 12 malam, selama hampir 10 menit, CCTV seluruh gedung akan berhenti merekam."
"Jadi kemungkinan dia tahu hal itu dan memanfaatkannya?" tanya Jonathan.
"Kemungkinan itu ada," kata Rian.
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan wanita itu sekarang," kata Jonathan terlonjak berdiri
"Aku sudah menyuruh supir untuk menjemputnya, menurut informasi, sekitar 5 menit lagi dia akan tiba di sini," kata Rian,
Jonathan mengerutkan dahinya, mudah sekali dia setuju diundang oleh orang yang dia tak kenal?
"Dia gadis panggilan," kata Rian.
"Kalau begitu siapkan cek ku," kata Jonathan langsung kembali duduk, wajahnya tampak berpikir.
"Baik Tuan," kata Rian segera bertindak.
Tak menunggu lama, pelayan segera memberitahukan bahwa ada seorang wanita yang datang, Jonathan segera menuju ke ruang tamu hotelnya, dia melirik wanita yang sedang mengamati kamar hotel yang bahkan luasnya bagaikan sebuah rumah, dia langsung tersenyum melihat Jonathan, senyuman menggoda.
"Nona Karen," kata Jonathan mendekati wanita itu.
"Wah, aku jarang dipanggil begitu sopan dengan klienku," kata Karen,"Aku ingin makan malam dulu, lalu jalan-jalan, dan setelah itu baru melakukannya, aku harus membangun Chemistry dulu dengan pelangganku," kata Karen mengalungkan tangannya ke leher Jonathan, Jonathan tersenyum mempesona, namun segera melepaskan tangan wanita itu dari lehernya.
"Aku memanggilmu ke sini bukan untuk itu," kata Jonathan.
"Lalu? oh, aku tak ingin melakukan hal yang aneh-aneh, selain itu walau tak melakukan hal itu, aku tetap mau bayaranku full," kata Karen lagi.
"Aku akan membayarmu 2 kali lipat jika kau ingin bekerja sama denganku," kata Jonathan duduk, mempersilakan Karen duduk di depannya.
"Kau tak ingin memanfaatkan aku jadi wanita yang kau bawa ke rumahmu atau membuat mantanmu cemburu kan?" tanya Karen. Jonathan hanya tersenyum menggeleng, dia lalu melihat postur tubuh Karen, walau tak setinggi Jenny, tapi mereka memang terlihat mirip, apalagi dari jauh.
"Tidak, Rian, berikan padanya," kata Jonathan, Rian mengangguk, dia memberikan foto Jenny pada Karen, Karen awalnya terlihat malas melihatnya, namun begitu melihatnya dia langsung terkejut.
"Ya, eh, tentu, kabar tentang dia cukup besar di sini, ini gadis yang hilang itu bukan?" tanya Karen.
"Ya, gadis itu sudah 1 bulan hilang, banyak yang menyakini dia sudah meninggal karena pesawatnya mengalami kecelakaan," kata Jonathan.
"Wah, kasihan sekali, cantik dan masih muda namun sudah meninggal," kata Karen melemparkan foto itu, bersikap acuh tak acuh.
"Ya, tapi aku yakin kau tahu sesuatu tentangnya, sesuatu yang sebenarnya terjadi padanya," kata Jonathan dengan mata menyelidiki, Karen langsung mengerutkan dahinya, mencoba untuk menunjukkan bahwa dia tak tahu apa-apa.
"Apa maksudmu? jangan menuduh," kata Karen.
"Aku tak menuduh, ini adalah dirimu, kau masuk ke dalam mobil Jenny, dan kalian bahkan ada di dalam lounge yang sama selama beberapa jam, kenapa dari awal kau tak mengakui kau mengenalnya?" kata Jonathan menunjukkan semua bukti itu, Karen kaget, dia bingung harus menyangkal apa.
"Ini bukan aku, aku tak mengenalnya," kata Karen langsung gelagapan.
"Nona Karen, tak usah takut, aku di sini tak ingin menuduhmu, aku malah ingin kau membantuku, aku akan membayarmu 3 kali lipat dari tarifmu yang biasa asal kau setuju," kata Jonathan.
Karen tampak ragu, 3 kali lipat dari tarifnya sama seperti 3 kali dia harus melayani pria hidung belang dan pria ini hanya memintanya untuk membantunya, sangat menggiurkan tentunya.
"Melakukan apa dulu?" tanya Karen masih berusaha sedikit acuh.
"Aku hanya ingin tahu, siapa yang menyuruhmu menjadi pengganti Jenny, dan kemana Jenny pergi?" kata Jonathan dengan tatapan tajam namun menghipnotis.
"Aku benar-benar tak tahu kemana wanita itu pergi, aku hanya diperintahkan untuk menggantikannya terbang, pesawatku mendarat di pulau terpencil, bekas bandara militer dulu, dan setelah itu aku pulang dengan kapal pribadi keluarganya," kata Karen, Jonathan menarik napasnya mendengar perkataan Karen, dia tersenyum begitu senang.
"Lalu? kau tahu siapa yang membantu hal ini?" tanya Jonathan akhirnya mendapatkan secercah harapan, setidaknya dia tahu bukan Jenny yang hilang di samudra itu.
"Aku hanya berhubungan dengan telepon dengan orang yang menyewaku, mereka menawarkan uang yang sangat banyak, tapi aku tak pernah bertemu dengan siapapun," kata Karen lagi.
"Berapa mereka membayarmu," tanya Jonathan.
"300.000.000," kata Karen lagi.
"Aku akan memberimu 300.000.000 lagi, jika kau bisa memberitahuku 1 nama yang mungkin tahu tentang hal ini," kata Jonathan menuliskan cek sebesar itu, lalu menyerahkannya ke Karen. Karen melihat itu tak percaya, itu benar-benar cek dengan tulisan di atasnya, Karen bahkan sampai membuka mulutnya lebar.
"Kau benar-benar ingin memberiku uang begitu banyak?" tanya Karen tak percaya, bagaimana orang bisa menghamburkan uang begitu saja.
"Benar, tapi berikan aku satu nama yang menurutmu bisa membantuku, jika tidak aku akan membatalkannya," kata Jonathan lagi.
Karen langsung memutar otaknya, dia lalu segera menemukan sesuatu di dalam pikirannya.
"Oh, entahlah ini bisa membantumu atau tidak, tapi ada seseorang yang menelepon Jenny dan Jenny mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja setelah rencana ini selesai, dia begitu tertekan saat itu," kata Karen lagi.
"Siapa?" tanya Jonathan antusias.