
Lintang berjalan dengan wajah yang marah bahkan para guru yang menyapa nya pun tidak ia hiraukan karena saat ini pikiran nya hanyalah anak dan istri nya " sayang "
Mentari yang melihat Lintang sudah datang langsung berdiri " By, Hiks " Mentari memeluk Lintang dengan wajah yang penuh air mata
Lintang menatap para guru yang duduk di sopa " Apa ini yang kalian bilang sedang mencari!! kalian hanya duduk di sini sedangkan Anak saya entah sedang dimana " marah Lintang kepada para Guru
Para Guru hanya bisa menunduk takut melihat Ke marahan Lintang " maafkan kami Tuan " ucap kepala sekolah
" apa dengan minta maaf Anak saya akan kembali?" Geram Lintang. Lintang langsung menelpon anak buah nya untuk mencari keberadaan Sang putra " jika Samapi anak saya tidak ketemu maka jangan harap gedung ini masih berdiri tegak " Ucap Lintang membawa Sang istri untuk pulang, berdiam diri di sana juga percuma tidak akan membuat Putra nya kembali
" By, maafkan aku Hiks "
Lintang mengelus rambut Sang istri " Ini bukan salah mu sayang, mereka yang salah mana mungkin mereka membiarkan Anak pulang sendiri dan tidak memberitahukan kepada kita jika pulang lebih awal "
" andai saja aku tadi menjemput Putra kita lebih awal mungkin kejadian nya tidak akan sepeti ini " Lirih Mentari
" sudah sayang, Anak buah ku sedang mencari keberadaan anak kita, semoga anak kita cepat ketemu ya "
" Ayo kita ikut cari By " punya Mentari
" Sayang, hei dengarkan aku, Kita percayakan semua nya kepada Anak buah ku ok " Ucap Lintang " sekarang kita pulang dulu "
sesampai nya di rumah, Rilis sudah ada di rumah Mentari " Mbak " ucap Rilis memeluk mentari
" Yang sabar ya Mbak, Lintar pasti akan segera ketemu" ucap Rilis mengelus bahu Mentari " Kita berdoa saja supaya segera di temui "
Rilis membawa Mentari ke sopa dan memberikan air putih agar lebih tenang " Ini salah aku Mbak, andai saja aku tidak sibuk dengan kerjaan ku mungkin putra ku akan baik-baik saja hiks "
" Aku pergi dulu, tolong jaga istriku " Ucap Lintang kepada Rilis
Rilis mengangguk " Sayang, aku pergi dulu ya " Ucapan Lintang mengecup kening Mentari
Lintang pergi setelah Mendapatkan telpon dari anak buah nya bahwa Lintar telah di bawah oleh seorang wanita paruh baya " Sial, awas saja jika benar itu dia maka jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang lebih " Geram Lintang memukul stir mobilnya
Di sebuah Rumah yang sangat sederhana wanita paruh baya sedang di pusingkan dengan tingkah Lintar yang cukup aktif bahkan Samapi kewalahan " Ini anak benar-benar menyebalkan, Andai saja aku tidak butuh uang mana mungkin aku akan membawa anak bandel ini "
" Nenek ayo dong kita kuda-kudaan kata nenek tadi Mau ngabisin apa pun yang aku mau " Keluh Lintar yang sudah menarik-narik Baju milik ibu-ibu tua itu
" Nenek sudah tua jadi mana mungkin bisa main kuda-kudaan " Ucap wanita paruh baya itu sambil melotot
Bukan nya takut Lintar malah semakin berani Karen Lintang selalu mengajarkan Lintar untuk menjadi laki pemberani
" yah, nenek payah " ucap Lintar. Lintar berjalan ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang menurut nya menarik, Lintar membanting barang-barang yang ada di sana termasuk Piring dan yang lain-lain nya " Rumah ini sangat kumuh bahkan di sini tidak ada yang membuat ku menarik " keluh Lintar