
Sesudah mandi Mentari langsung ke kamar Lintar, Ia menyuruh Mbak nya untuk istirahat " Halo putra mamah, Sudah bangun ya " Ucap Mentari menyapa sang putra dengan lembut lalu membawa nya ke kamar milik mentari dan juga Lintang.
Bayi gembul itu hanya tersenyum sambil melihat kearah Mentari, Mentari mengeluarkan Satu buah dada nya untuk di berikan kepada sang putra, Menahan rasa sakit karena tidak di berikan kepada sang putra itu sangat menyiksa apa lagi Air Asi milik Mentari cukup melimpah membuat Mentari haru menahan rasa sakit yang amat banyak
Sambil memberikan Asi Mentari mengajak sang anak untuk ngobrol sambil mengelus kepala sang anak nya dengan lembut
Ceklek..
Lintang masuk kedalam kamar. Lintang melihat sang istri yang sedang memberikan Asi kepada Lintar, Pemandangan yang indah di lihat oleh Lintang " By " Ucap Mentari ketika melihat sang suami masuk dan berjalan ke arah nya
" cup " Lintang mengecup Kening sang istri " Apa putra kita tertidur.?"
" Iyah, baru saja padahal baru bangun eh di kasih asi malah tidur lagi " jawab Mentari tersenyum
" Mungkin bayi seusia putra kita memang masih suka tidur " Balas Lintang
Mentari mengangguk " Maaf ya by, Aku gak menyambut haby di depan " Ucap Mentari
" Tidak apa-apa sayang, Lagian kamu juga Kan harus memberikan Asi "
Lintang tidak ingin banyak menuntut apa lagi sekarang sudah ada putra mereka yang harus ekstra di beri perhatian, Karena Lintang tidak ingin anak nya mengalami seperti dirinya yang tidak mendapatkan Kasih sayang yang utuh dari kedua orang tau nya.
" aku mandi dulu ya " ucap Lintang
" Mau aku siapkan air hangat nya by.?"
" Tidak perlu sayang" Lintang langsung masuk kedalam kamar mandi
Mentari menaruh Putra nya di Dalam Box lalu ia melangkah keruang ganti untuk menyiapkan pakaian santai untuk sang suami
Tak lama kemudian Lintang keluar dari kamar mandi dengan mengunakan Handuk dengan rambut yang basah " sini by, biar aku keringkan rambut nya " Ucap Mentari
Dengan patuh Lintang pun duduk di depan cermin sambil menatap sang istri Yang sedang membantu nya mengeringkan rambut " Bagi mana hari perayaan kuliah.?" tanya Lintang kepada sang istri
" Hm, Cukup menyebalkan by " Jawab Mentari lesu
" Loh kenapa.?"
" Ada manusia aneh " Lintang mengerutkan Kening nya
" Apa mau aku selesaikan agar kamu bisa kuliah dengan tenang.?"
Mentari menggelengkan kepala nya " Tidak perlu by, aku masih bisa mengatasinya " Jawab Mentari yang tidak ingin suaminya ikut turun tangan hanya karena ada orang aneh
" Baik lah, kalo itu mau mu, tapi jika sudah tidak bisa menangani nya bilang lah kepada suamimu ini agar suami mu yang kaya ini membereskan nya " ucap Lintang sambil memeluk sang istri dengan lekat
Lintang senang karena Mentari berkata jujur kepadanya, sebenarnya tanpa Mentari bilang pun Lintang sudah mengetahui nya namun karena Lintang ingin mendengar dari mulut sang istrinya sendiri. Tanpa Mentari sadari jika Lintang sudah menaruh mata-mata di Kampus untuk melindungi sang istri jika sewaktu-waktu ada bahaya.
Selesai mengeringkan rambut sang suami, Mentari langsung mengambil Handuk kotor dan juga baju kotor bekas Lintang, Karena Mentari tidak memberikan ijin kepada para pelayan untuk masuk ke kamar nya walaupun hanya untuk mengambil pakaian kotor, Mentari akan melakukan nya sendiri lagian itu semua memang tugas seorang istri.
Rilis dan Ibu sedang menyiram tanaman di belakang rumah, semenjak ada Ibu, Ibu menanam banyak sayuran dan juga tomat " Neng, Ibu sigana Kedah uwih " Ucap Ibu sambil menyiram sayuran
( Neng seperti nya Ibu harus pulang )
" Naha Ibu uwih, Ibu henteu beteh calik sareng Neng .?" Tanya Rilis merasa sedih
( Kenapa Ibu pulang, Ibu gak betah diam saja Neng.?)
" Ibu, Ntos kami teuing ninggaken bumi, Apan bumi Ntos janten " Ucap Ibu " Sanes Ibu te betah tapi Ibu Oge kan kaduh kegiatan di lembur " lanjut Ibu
( Ibu Sudah terlalu lama Meninggalkan Rumah, apalagi Rumah kan sudah jadi ) ( Bukan Ibu tidak betah, tapi Ibu juga kan mempunyai kegiatan di kampung )
" Tapi Neng Hoying Ibu calik sarang Neng" Wajah Rilis mulai sedih mengeluarkan air mata nya
( Tapi Neng mau Ibu tinggal bareng sama Neng )
" Ntong nangis atuh Neng, kan engke Ibu bisa amengan kadiye, lamun henteu, Neng anu Maen Katen Ibu "
( Jangan nangis gitu atuh Neng, kan nanti Ibu bisa main ke sini, Kalo tidak Neng yang masuk ke tempat Ibu )
Rilis memeluk sang Ibu, Ia merasa tidak ingin di tinggalkan oleh sang Ibu namun apa daya jika Ibunya sudah tidak betah dan ingin pulang kampung, di tahan juga percaya yang ada nanti Ibu malah semakin tidak betah tinggal rumah Rilis.
" Baik lah Bu, Tapi Nanti Ibu pulang nya akhir pekan biar Rilis dan Juga Richard yang mengantarkan Ibu ke kampung, Rilis tidak akan tega jika Ibu pulang sendirian pakai bus " Ucap Rilis
" Terserah kamu saja Neng, Yang penting Kalian tidak merasa di repot kan Oleh Ibu "
" Ibu ngomong apa.? Mana mungkin kita merasa direpotkan, Justru aku senang jika Ibu ingin tinggal lama di sini, Aku jadi merasa mempunyai Ibu " Ucap Richard yang baru saja datang dan duduk di samping sang istri
Ibu tersenyum " terimakasih ya nak, Atas semua kebaikan mu, Ibu selalu berdoa agar kalian selalu di limpahkan kebahagian selalu "
" Terimakasih Bu " Jawab Richard dan Juga Rilis kepada Ibu
Setelah pembicaraan Richard dan Rilis masuk kedalam kamar karena Richard ingin memberikan badan nya yang sudah lengket " Apa tidak apa-apa jika kita mengantarkan Ibu ke kampung.?" Tanya Rilis
" Memang nya kenapa.?" Tanya balik Richard
Rilis terdiam dan menunduk " Jangan terlalu di pikirkan, lagian sekarang kamu sudah menjadi istriku " ucap Richard memeluk sang istri
" Tapi, aku takut mereka membicarakan soal kehamilan ku dan Ibu yang akan menanggung malu " Lirih Rilis. ini lah alasan Rilis menahan sang Ibu Untuk tidak pulang, Rilis takut jika sang Ibu akan menanggung malu soal kehamilan Rilis, apa lagi Ibu-ibu di kampung mulut nya sangat pedas.
" Kamu tenang saja, jika ada yang berani mengusik keluarga Kita, Maka aku tidak Akan tinggal diam, Akan aku basmi mereka dengan racun Tikus " Goda Richard membuat Rilis sebal
" Kamu ini ada-ada saja, masa ia di basmi pakai racun tikus " Rilis mengekang kepalanya " Lagian kenapa harus racun tikus, bukan racun yang lain"
" Karena racun tikus itu lebih gampang di cari dari pada racun yang lain Yank" Richard terkekeh menggoda sang istri.