
Bibir mungil itu cemberut.
"Siapa itu ? You're cheating me, Ken ?", galak Adelia. Tangannya terlipat di bawah dada. Sorot mata cantik itu menunjukkan amarah.
"Of course not baby ", Kenan tatap sebentar istrinya. Dengan sorot lembut.
Bibir mungil gadis itu mencebik lucu. Enggak.....enggak, enggak apanya ? Lha wong pelukan begitu sama perempuan. Batinnya menggerutu. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang terbuka.
Masih di kamar hotel tempat honeymoon mereka. Tempat yang seharusnya digunakan untuk saling memadu cinta layaknya pengantin baru yang tengah berbulan madu, kini menjadi tempat bersitegang.
Kenan kembali memperhatikan foto-foto di gawai istrinya.
Foto kebersamaannya bersama Catherine. Tentu saja istrinya tidak mengenali, karena dalam foto Catherine membelakangi kamera.
Dahi lelaki itu mengernyit. Sebentar senyum tipis menghias bibirnya.
"Ngapain senyum-senyum? Suka pelukan sama dia ?", marah Adelia ketika matanya memergoki tingkah suaminya.
Kenan mengangkat wajahnya. Lelaki itu mengedip nakal.
"Come closer, baby. I'll tell you !", lembutnya.
Tangannya bergerak hendak meraih tangan istrinya, memintanya mendekat. Adelia menghindar, memundurkan tubuhnya.
"No way, tell me first, who is she ?", Adelia bersikeras. Terlihat sekali perempuan cantik itu menahan marah. Cemburu ? tentu saja.
Kenan menggeleng pelan. Lalu melangkahkan kaki panjangnya ke sofa. Duduk di sana dengan melipat kakinya. Matanya masih menyoroti istrinya yang tampak kesal.
Tidak tahu kenapa lelaki itu tidak bisa marah pada gadisnya ini. Padahal sesaat melihat istrinya bersama lelaki lain tadi, hati Kenan juga memanas.
Tapi melihat amarah di mata istrinya, Kenan tentu saja harus menahannya. Dia harus tahu dulu apa yang terjadi pada perempuan cantik itu.
Kalau istrinya marah, dia marah apa jadinya nanti. Bisa-bisa gagal kegiatan bulan madu mereka. Lebih fatal lagi kalau istrinya ngambek dan tidak mau di sentuh. Aishhh....Kenan mana tahan coba ?
"Sit down here, baby, capek kan berdiri terus !", Kenan menepuk sofa kosong di sebelahnya. Matanya menatap lekat istrinya. Tatapan lembut dan sayang.
Adelia mendengkus jelas. Kenan terkekeh. Kembali menepuki sofa itu lagi.
"Sini sayang, jangan bandel dong, come here !", ulangnya.
Adelia mencebik. Menghentakkan kakinya, lalu menuruti kemauan suaminya.
Kenan mengulurkan tangannya. Bukannya menyambut itu, Adelia justru duduk di sofa lain, memberi jarak dengan suaminya.
Sekaligus untuk menyembunyikan lukanya. Karena lelaki itu tadi sempat bertanya tentang jaketnya yang robek. Sewaktu menggendongnya tadi.
Tapi Adelia segera mengalihkan pembicaraan.
"I'm fine, Ken. Kamu yang harus jelasin sesuatu ke aku ", elak.gadis itu tadi.
Okey, Kenan mengalah. Menuruti istrinya yang memang terlihat sangat kesal. Bahkan perempuan cantik itu langsung menjauh darinya begitu dia turunkan dari gendongan.
Kenan terkekeh kecil. Menatap istrinya intens.
"Baby girl .... !", gemasnya. Ternyata, istrinya tidak menuruti perkataannya. Awas ya nanti
"Buruan cerita, kalo enggak aku pergi nih !", rajuk Adelia.
"Okay....okay .....!", Kenan mengangkat kedua tangannya. Terdiam sejenak.
Menghela pelan sebelum memulai berbicara
Lelaki itu mulai bercerita. Dari awal dari adanya penelepon misterius sampai dia keluar dari hotel untuk mencari angin. Dan tidak sengaja bertemu Catherine. Katanya.
Ahhhh....Kenan bohong kan jadinya. Tentu saja menyembunyikan apa yang dikatakan Catherine. Kenan akan menunggu saat yang tepat untuk bertanya itu pada istrinya. Setelah masalah ini kelar.
Beberapa saat mendengar cerita suaminya, dahi cantik Adelia mengernyit, tidak sabar untuk memotong pembicaraan Kenan.
"Tapi kenapa dia .....?", perkataannya terhenti karena Kenan segera menginterogasi.
"Dengerin dulu sayang, okey !", sabarnya. Gemas juga sebenarnya. Tapi Kenan berusaha menahannya.
Lelaki tampan itu kembali bercerita. Adelia masih dengan tidak sabar mendengarkan.
"Dia peluk aku....just wanna say thanks,
baby ", aku Kenan.
Adelia hendak menyahuti.
Kenan segera berucap lagi.
"Aku nggak nyangka dia ngelakuin itu ", bela Kenan.
"Thank for what, Ken ? Kenapa harus peluk-peluk ? Harusnya kamu menghindar, ngapain diam aja?", marah Adelia.
Justru kelihatan menikmati. Batin Adelia melanjutkan.
Kenan menghela berat. Sudah, Kenan sudah menolak bahkan mendorong tubuh perempuan itu menjauh. Tidak mungkin kan Kenan menendang perempuan itu ?
Mata lelaki itu membulat konyol ketika istrinya kembali berucap.
"Terus kenapa kamu pegang-pegang kepalanya. I can see, Ken. Emang kucing pake diusap-usap begitu ?", ketus Adelia lagi.
Kenan terbengong seketika. Ingin tertawa mendengar ucapan istrinya. Kucing ? Kucingnya cuma satu, tentu saja yang sedang marah sekarang.
"Karena apa coba ?", sahut istrinya cepat.
Kenan semakin kelimpungan.Tidak melakukan kesalahan tapi rasanya seperti terdakwa yang diadili. Apalagi istrinya terus mengamati dengan pandangan menyelidik layaknya detektif.
Ayo Ken berpikir ! Alasan yang tepat biar istrimu tidak marah. Bisa kacau acara candle light dinner nanti. Seru hati Kenan.
"Dia teman aku, sayang. Just friend, anything else !", kata Kenan akhirnya.
Bibir mungil itu cemberut. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak bertemu pandang dengan mata hazel yang menyorotinya tajam.
"Teman kok pake peluk-peluk ? Teman apaan ?", gerutu Adelia.
Kenan masih bisa mendengar. Sebentar senyum nakal menghiasi bibir lelaki itu.
"Are you jealous, baby ?", tanyanya sambil menggerakkan alisnya naik turun.
"Iya.....!", spontan Adelia menjawab.
Senyum di bibir lelaki itu semakin melebar. Bahkan menaikkan sebelah alisnya dengan kerlingan nakal.
"Uhm...enggak !", ralat Adelia tergagap.
Kenan tergelak.
"I know, baby. Aku suka kamu cemburu, itu artinya ..... you really love me !", lelaki itu dengan mengedipkan matanya nakal.
Adelia mendengkus. Ingin rasanya memukul lelaki itu. Kalau bersikap seperti ini suaminya ini tampak menyebalkan sekali.
"Kennnn....aku pukul kamu nanti !", galaknya.
Kenan mengangkat tangannya tanda menyerah. Kekehan masih terdengar dari bibirnya.
"Dasar lelaki, nggak peka !", ketus Adelia lagi. Sebentar gadis itu beranjak.
Kenan membulatkan matanya. Istrinya ini selalu to the point bicaranya.
"Okay....okay, aku salah, I'm sorry baby !",
Lalu mengurai lipatan kakinya dan beranjak. Melangkah menghampiri istrinya.
"Sekarang giliran aku tanya.....dari mana kamu ?", Kenan dengan tatapan menginterogasi.
"Uhm....ketemu teman ", gadis cantik itu menggeser tubuhnya begitu Kenan berdiri tepat di depannya.
Lalu melangkahkan kaki mungilnya hendak menjauh dari Kenan. Baru dua langkah, lelaki itu sudah menahan tangannya.
"Teman siapa ? Kamu janjian sama dia ?", tuduh Kenan. Bahkan lelaki itu memegangi bahu istrinya penuh selidik.
Dengan cepat Adelia menyingkirkan tangan lelaki itu. Kenan tak mau kalah. Tangannya meraih pinggang ramping gadis cantik itu. Memeluknya erat.
"No....not like that Ken !", bela Adelia. Berusaha berontak.
Kenan tatap istrinya tajam. Menarik tubuh istrinya semakin menempel di tubuhnya.
"So what baby, kamu ketemu mantan pacar kamu kan ?", suara Kenan mulai meninggi.
Bicara tentang mantan pacar istrinya di saat acara honeymoon mereka membuat hati Kenan memanas.
Adelia menghela pelan.
"Okay, aku cerita, tapi lepasin dulu !", melasnya. Memukul beberapa kali dada bidang lelaki itu.
Kenan menggeleng.
"Just tell me baby. Aku dengerin !", tegasnya.
Adelia bercerita. Berbeda dengan Kenan, gadis cantik itu langsung menceritakan apa adanya. Tentang Arion yang memberitahunya bahwa Kenan tengah menemui seorang perempuan. Selingkuhannya katanya.
Tentu saja juga menyembunyikan bagian dirinya yang di hadang beberapa orang lelaki. Dan sempat terluka.
Kenan dengan seksama mendengarkan. Kenapa persis yang dialaminya ? Atau jangan-jangan kedua orang itu ........ Tentu saja pikiran Kenan langsung terfokus ke sana.
Apa yang dipikirkan Kenan mendadak terbang entah kemana, ketika pandangannya tertuju pada jaket robek Adelia. Mengamatinya dengan seksama.
Begitu Adelia berhenti cerita, dengan cepat Kenan berucap. Tidak sabar. Dan ada semacam kecemasan di sanan
"Okay, I understand, baby. Sekarang buka jaket kamu !", pinta lelaki itu.
Adelia mengedipkan matanya beberapa kali.
"Wh....what will you do ?", Adelia salah tingkah. Pasti suaminya itu akan mengetahui lukanya.
"Just open- ed it , baby !", ulang Kenan. Mengultimatum, dengan memberikan penekanan pada ucapannya.
Adelia hanya tertunduk lemas.
Kenan menjauhkan tubuh istrinya agar perempuan cantik itu lebih leluasa melepas jaketnya. Kenan mengamatinya tak berkedip.
Begitu jaket terbuka. Dengan cepat meraih tubuh istrinya. Mendekapnya erat dalam pelukan.
"I'm really....really .... sorry, baby. This is absolutely my fault ", katanya penuh sesal.