BLIND DATE

BLIND DATE
46. Jakarta-Amsterdam



...46. Jakarta-Amsterdam...


Satu jam lagi waktu berganti hari. Sasmaya telah duduk menunggu penerbangannya menuju Amsterdam. Sementara Gama belum kembali dari proses check-in.


Tadi laki-laki itu berpesan padanya untuk menunggunya.


Ah, hatinya dibungkus bahagia. Bagaimana tidak, Gama terus menggenggam tangannya. Dari mulai masuk ke dalam mobil, turun dari mobil, hingga melangkah sepanjang koridor di bandara.


Kalau boleh meminta, rasanya malam ini tidak ingin cepat berlalu. Perlakuan Gama membuatnya berat untuk pergi. Berat untuk meninggalkan.


Meski ... terdengar berlebihan. Sebab ini bukan kali pertama ia dan Gama berjauhan. Namun atmosfer kebahagiaan sekaligus kesedihan begitu kental membungkusnya. Berbeda manakala laki-laki itu pergi ke Bandung atau Kemuning. Apa mungkin inilah titik di mana cintanya kini benar-benar ia serahkan pada laki-laki itu?


Sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang enggan meninggalkan Gama. Tapi juga sang mama. Begitu berat dan khawatir terhadapnya. Bahkan sang mama sampai banyak membekalinya berbagai macam petuah dan barang. Dari mulai obat-obatan, makanan hingga sederet pesan yang berlebihan menurutnya. Tapi, ya itulah bentuk kasih sayang mama terhadapnya.


Ia mengeratkan kedua tangan di depan dada. Menatap koridor di mana Gama berjalan ke arahnya.


“Meski di sana musim semi. Tapi udara masih dingin. Kadang hujan. Kamu harus jaga kesehatan.” Gama membungkuk membenahi syal yang melilit di lehernya. Lantas duduk di sebelahnya.


Sasmaya tersenyum. Tangannya kini bertaut di atas pangkuan. “Kalau kamu sibuk, gak perlu nyusul aku ke sana. Lagian cuma sebentar.”


Gama menggeleng. Seandainya ia bisa membatalkan beberapa pertemuan penting 3 hari ini, pasti ia akan ikut serta dengan wanita di sebelahnya ini.


“Terima kasih, kamu menemaniku 2 hari ini. Terima kasih untuk semuanya,” tukas Sasmaya menatap Gama.


Laki-laki itu menarik tangannya di atas pangkuan. Mengusapkan di pipinya. “Notice me, apa pun yang nanti kamu dengar, kamu lihat dan kamu rasakan. Jika itu mengganggu.”


Ia mengangguk.


Sudah saatnya, ia harus masuk ke dalam boarding room sebab sebentar lagi pesawat akan berangkat. Keduanya berdiri bersamaan. Gama menariknya untuk masuk ke dalam pelukannya.


“Take care,” ucap Gama. Mengusap kepalanya. Menciumnya di sana. Tak banyak yang dikatakan laki-laki itu. Tapi ia bisa merasakan kegalauan keduanya.


Mereka saling melepas, “Mas Gama juga hati-hati. Jaga kesehatan,” balasnya. Ia meraih tas punggungnya. Lantas memakainya. Perlahan memutar tumit dan berjalan menjauhi laki-laki itu.


...***...


Sementara laki-laki yang mengenakan kaos berlengan panjang masih menatap kepergian Sasmaya hingga tak terlihat lagi. Merogoh ponsel yang tersimpan di saku celana pendeknya.


Menyapa dan berbicara dalam bahasa Belanda.


“Hai, D. Pesawat Sasmaya sebentar lagi berangkat. Mungkin tiba di Luchthaven Schiphol sekitar jam—” menoleh pada arloji yang tersemat di lengan kirinya. Sekarang di Amsterdam pukul 6.30 sore. “—sekitar jam 9 malam besok.”


“Ja.”


“Kamu hanya bertugas selama aku belum datang ke sana. Sesuai obrolan kita kemarin. Mengerti?”


“Ja. Ik begrijp het ...,” disertai kekehan di ujung telepon.


Gama berdecak. “Awas jangan kamu rayu dia. Tugasmu hanya mengawasi dan membantunya selama aku belum datang.”


“Nee ... aku tahu. Tapi hanya sekedar bilang ‘cantik’ bolehkah?” pancing Dirk. Setelah mengetahui wajah Sasmaya melalui foto yang dikirimkannya. Dirk berucap spontan, “wow! Mooi ...,” saat ditelepon.


Meski D alias Dirk dijuluki si pria bertualang dari De Wallen—kawasan prostitusi yang terkenal di Belanda. Akan tetapi Dirk adalah sahabat yang baik. Itu terbukti selama belasan tahun mereka berteman. Maka dari itu, ia bisa mempercayakan Sasmaya padanya.


“Verdomme!” tukasnya. Ia menutup sambungan telepon.


...***...


Jakarta-Amsterdam. Perjalanan paling jauh yang akan ditempuh selama hidupnya. Di layar monitor di depannya tercantum 11.364 kilometer. Dan perkiraan akan tiba di bandar udara Schiphol-Amsterdam pukul 09.15 malam esok hari waktu setempat.


Gama benar-benar well prepared. Dari mulai menyiapkan kebutuhannya selama di Belanda hingga kebutuhannya sekarang ini. Tiket ekonomi yang diupgrade menjadi kelas bisnis. Sampai dengan kendaraan dan orang yang akan membantunya selama di sana.


Meskipun dari pihak Holland juga telah menyiapkan akomodasi penjemputan dari hotel tempatnya menginap ke perusahaan tersebut.


Rasanya matanya lelah. Ia memilih memejamkan indra penglihatannya. Setelah memasang headphones dan memilih lagu kesukaannya. Ia pun terlelap dengan cepat.


Berada selama kurang lebih 14 jam di ketinggian rata-rata pesawat mengudara, akhirnya Sasmaya tiba di Schiphol Airport-Amsterdam. Udara dingin langsung menyapanya begitu keluar dari pintu kedatangan. Bahkan dinginnya melebihi Kemuning.


Seseorang merentangkan tulisan dengan bacaan, ‘Sasmaya-Indonesie’. Ia langsung menghampiri orang tersebut. Menyapanya, “Dirk?”


Pria berperawakan tinggi berwajah bule tersebut tersenyum dan berkata, “Ya. Sasmaya?”


Ia mengangguk. Bersalaman dengan pria bernama Dirk. Kata Gama, Dirk adalah temannya yang akan menjemputnya di bandara Schiphol. Pun, yang akan menemaninya selama di Belanda selama ia membutuhkannya.


Keduanya bercakap sejenak dalam bahasa Inggris, sebelum ia mengikuti Dirk berjalan menuju mobil.


“Baru pertama kali ke Netherlands?” tanya Dirk. Suasana di luar sudah gelap. Hanya terdapat lampu penerang di jalan, bangunan serta kendaraan yang berlalu lalang.


“Ya.”


Dirk tersenyum tipis. “A memang tak salah pilih,” sebut Dirk. Lalu tak lama meralat, “maksud aku, Ardian.” Gama di Belanda terkenal dengan panggilan A. Atau Mister A.


Sudut bibirnya terangkat sedikit. Tak lama ponsel pria itu berdering. Sangat jelas ponsel yang tersimpan dalam smartphone holder menempel di dashboard itu menampilkan layar bahwa A menelepon.


Dirk terdengar mengumpat dalam bahasa Belanda. Lalu terpaksa menerima panggilan tersebut setelah 2 kali panggilan tak dijawabnya. Melalui hands-free.


“Ayolah, aku masih mengendarai mobil. Kamu mau kami ditilang! Sasmaya aman dan tak kurang sesuatu apa pun. Don’t worry, buddy.” Dirk mematikan sambungan telepon.


Ia tahu pasti Gama menunggu kabar darinya.


“A masih seperti dulu. Tidak sabaran,” dengus Dirk.


Tidak banyak yang mereka perbincangkan selama perjalanan. Hingga tiba di hotel tempatnya menginap, Dirk menyerahkan secarik kertas padanya. Berisi nomor telepon pria itu. “Call me, if you need anything.” Membungkuk layaknya menghormat ala kerajaan.


Ia jadi kikuk dengan perlakuan pria tersebut. Tapi tak ayal membuatnya geleng-geleng kepala sambil terkekeh ringan. Menerima kertas. “Dank u wel,” balasnya. Hanya itu sementara bahasa Belanda yang mudah diucapkannya.


Dirk tersenyum. “Mooi ... I like it.” Kerlingan satu mata pria itu kembali membuat sudut bibirnya tertarik dalam.


Sampai suara ponsel Dirk memekik. Dirk pergi menjauh. Sementara ia melangkah ke meja resepsionis. Melakukan konfirmasi reservasi dengan menunjukkan confirmation letter saat check in.


Langkahnya kembali memutar, ketika mendengar suara ponselnya berdering nyaring.


“Ya ... hai,” sapanya kala mengetahui Gama meneleponnya. Ia kembali ke balkon dengan ponsel menempel di telinga kanannya.


“Kamu nyaman dengan kamarnya?”


“Ya. Tapi ini sudah malam jadi belum jelas apa pemandangan di luar yang bisa dilihat. Sejauh ini baru terlihat kanal.”


“Atau kamu mau melihat 2 view berbeda sekaligus? Sungai IJ dan kota Amsterdam. Aku bisa memintanya sekarang untuk memindahkan kamarmu ke suite.”


Sasmaya diam. Rasanya menurutnya berlebihan.


“Sas, apa kamu butuh yang lainnya?” tanya Gama.


Ia mendesakkan napas. “Gak perlu. Ini sudah  nyaman.”


“Oke. Tapi kalau kamu kurang nyaman, katakan saja. Aku bisa mengaturnya dari sini.”


Ya. Gama pernah memimpin hotel ini. Tahu setiap sudut dengan jelas dan detail. Kekurangan dan kelebihan setiap kamar atau ruang per ruang. Mungkin juga masih punya kuasa sampai dengan saat ini. Karena hotel Zoon masih punya saham di sini.


“Justru ini terlalu nyaman,” sahutnya. Sasmaya tahu semua yang diperolehnya melebihi ekspektasi dikarenakan laki-laki itu. Mungkin jika ia bukan calon istri Gama, semua kenyamanan ini tidak akan dinikmatinya. “Dank u wel,” imbuhnya tulus.


Gama terdengar terkekeh.


Ia mengerutkan kening. Apa yang salah dan lucu? “Apa pengucapanku salah?”


“Nee.”


Lalu?


Hening. Kekehan Gama tak lagi terdengar.


Ia kembali masuk ke dalam kamar. Melepas jaket dan sepatunya. Ponselnya masih menempel di telinga kanannya.


“Apa kita diem-dieman sampai baterai handphone-ku habis?”


Bertepatan suara denting bel kamarnya menggema.


“Aku kirimkan sesuatu buatmu. Bukalah,” tukas Gama.


“Apa ini kejutan?”


Gama tak menyahut. “Istirahatlah setelah ini. Kamu pasti lelah. Besok pagi Dirk menunggu di lobi untuk mengantarkanmu ke HPG.” Sambungan telepon terputus.


Ia bergegas membuka pintu kamarnya. Seorang pelayan kamar berdiri di depan kamarnya dengan menggenggam sebuah buket bunga.


“Thank you,” ucapnya saat menerima buket tersebut. Lantas menutup pintu.


Laki-laki itu benar-benar memberinya kejutan romantis. Setelah bunga mawar beberapa hari lalu. Kini bunga tulip kembali dikirimkan untuknya.


Kelopak matanya mengatup. Menghirup untuk merasai sejenak bunga yang menjadi ikon negara yang tengah dikunjunginya tersebut. Meskipun tidak ada aroma yang kuat yang keluar dari bunga tulip. Hatinya tetiba menghangat. Senyumnya rekah sempurna.


Ada kartu ucapan terselip di antara rangkaian bunga. Ia segera mengambilnya. Membuka perlahan dengan jantung berdebaran.


...—Selamat datang di Netherlands. Everything goes smoothly. I’ll be there soon—...


#Gama#


(Ik mis je)


Bibir yang awalnya rekah kembali seperti semula. Ada tulisan berbahasa Belanda yang tak dimengertinya. Bahkan terletak paling akhir.


Karena penasaran ia pun mencari artinya di mesin pencarian. Begitu mendapat hasilnya. Bibirnya kembali rekah. Hatinya berpendar sukacita. Ia merebahkan tubuh di atas kasur dengan memeluk kartu ucapan tersebut.


“Miss you too ...,” lirihnya dengan mata tertutup.