BLIND DATE

BLIND DATE
58. Tentang Kita Bukan Kamu Saja



...58. Tentang Kita Bukan Kamu Saja...


Pengajuan cuti menikah. Membayar lunas kebaya di butik Anne. Memastikan penyuntingan naskah biografi Pak Sofyan sesuai. Serah terima jabatan sementara. Meeting dengan berbagai pihak internal dan eksternal. Menghadiri acara perpisahan Pak Weka dengan para staf. Hingga sekarang ia tengah berbaring di salah satu ruangan salon kecantikan. Menyempatkan waktu di sela-sela aktivitasnya yang padat. Itu juga karena desakan Sinta.


“Lo itu lucu sih menurut gue. Masa kebaya buat nikah lo bayar sendiri?” Sinta menukas heran. Sebab sewaktu dirinya menikah semua kebutuhannya ditanggung calon suaminya pada saat itu. Dari perangkat lamaran, baju pernikahan hingga gedung resepsi berserta rinciannya.


“Lucu di mananya?” protesnya. “Waktu lamaran pihak mereka yang menanggung semua, Sin. Sementara gue gak keluar apa-apa. Dan besok saat pernikahan dia juga menanggung semua."


“Terus waktu lo bayar punya lo sendiri diketawain dong sama tuh butik?” Sinta terkekeh menutup mulutnya. Menyadari si Mbak Beautician tengah meng-creambath rambut mereka.


“Biasa saja kali. Punya dia, bill-nya langsung ke kantor sekalian fitting,” ungkapnya.


“Dan Pak Gama gak marah?” lanjut Sinta.


“Kalau dia marah, aku justru yang akan marahin dia.”


“Berani, lo!?” tantang Sinta.


“Ish, lo gak percaya sama gue? Dia pernah mau merenovasi interior unit gue. Tapi gue tolak. Gue merasa gak pengen punya hutang sama dia. Apartemen itu harta gue satu-satunya. Murni dari hasil gue kerja,” tuturnya.


Sinta menghela. Sahabatnya ini memang tak pernah meminta-minta. Biarpun pada ayah kandungnya sendiri. Semenjak bekerja, Sasmaya mencukupi kebutuhannya sendiri. Berkaca pada pengalaman Tante Ranti.


“Percaya ... gue percaya banget. Tapi, lo juga harus menghargai pemberian Pak Gama. Bagaimanapun, laki-laki itu senang lho, kalau kita menerima bantuan mereka. Mau sekecil dan sebesar apa pun selagi mereka mampu, pasti mereka merasa senang.”


Facial wajah selesai. Creambath rambut oke. Giliran manicure-pedicure. Kaki-tangan mereka direndam dalam foam bath, setelah kuku-kuku dirapikan.


“Lo, yakin gak ambil cuti 1 minggu gitu. Pasti dikasih sama HRD. Apalagi Pak Affan,” sergah Sinta.


“Lo tahu sendiri, gue gantiin Pak Weka. Managing editor juga kosong. Beban gue kayaknya banyak banget. Belum mastiin buku biografi Pak Sofyan launching tepat waktu. Belum mikirin pernikahan gue ...,” ia berdesah. “Gue harus spare waktu semuanya secara adil dan tepat.”


“Apa bukannya lo harusnya cuti, Sas? Dengan cuti lo bisa konsentrasi  mengurus pernikahan lo?”


Ia menggeleng. “Gue gak bisa, Sin. Meski pernikahan gue juga penting. Tapi gue gak bisa gak profesional,” ungkapnya.


Pukul 8 malam barulah mereka keluar dari salon kecantikan. Memasuki taksi yang berbeda sebab arah pulang yang berlainan.


Gama : Sas, invoice dari butik kenapa hanya 1?


Pesan Gama masuk.


^^^Sasmaya : Satunya lagi sudah kubayar.^^^


Tak menunggu lama pesan sampai dan terbaca. Laki-laki itu meneleponnya.


“Sas,” suara Gama terdengar berat.


Namun ia lekas menyergah. “Too many, kamu menanggung semua kebutuhan kita. Aku gak keluar apa-apa.”


Embusan napas Gama tertangkap. “Tapi Sas ....”


“Kamu ingat pernah bilang kalau aku boleh menolaknya.”


Lengang.


“Bukan berarti aku tidak menghargai kamu,” ia mengingat kata-kata Sinta. “Hanya saja, ini tentang kita ... bukan tentang kamu saja.”


“Oke. Kalau itu keputusanmu. Tapi setelah menikah, kamu tanggung jawab aku sepenuhnya.”


Bertepatan taksi yang ditumpanginya berhenti di depan rumah. “Aku baru pulang. See you ....” Sambungan telepon dari Gama ia akhiri.


Awalnya mama dan eyang menginginkan ia mengikuti adat pernikahan Jawa. Tapi mengingat ia tak memiliki waktu banyak, akhirnya mama dan eyang dengan berat hati menuruti kemauannya.


“Eyang hanya minta kamu melakukan siraman dan midodareni, Sas. 1 hari saja dipingit,” pinta eyang melalui mama.


Ia akhirnya menyetujuinya.


“Baru pulang?” Mama menyambutnya saat ia membuka pintu. “Mama kayaknya pulang duluan, Sas. Kamu bareng sama Gama, kan?”


Sasmaya menyimpan tasnya di meja mini bar. “Mama sama siapa?” tanyanya.


“Ya, sendiri. Mama harus menyiapkan keperluanmu di sana. Sekalian nyekar tempat eyang kakung,” sahut Ranti.


“Beneran, Mama gak apa-apa sendiri?”


“Kamu meragukan Mama?” tukas Ranti menantang.


Ia menipiskan bibir.


Ranti menarik alisnya ke atas. Menahan senyum. “Jangan lupa istirahat yang cukup, calon pengantin gak boleh capek-capek,” pesannya sebelum meninggalkan Sasmaya. Beban kerja anaknya bisa dibilang semakin besar. Tapi ia juga paham akan tanggung jawab Sasmaya yang kian besar seiring jabatan yang diembannya.


...***...


“Sas, aku tunggu di ruanganku?” panggilan Affan melalui interkom.


“Baik, Pak.”


Langkahnya pagi itu seperti tergesa meninggalkan lantai GPP. Beberapa rekan kerja yang berpapasan dengannya menyapa ramah. Ia membalas dengan senyuman.


Tiba di ruangan Affan ia dipersilakah masuk setelah sekretaris atasannya tersebut membukakan pintu.


“Terima kasih,” ucapnya. Namun beberapa saat tatapannya terpaku pada laki-laki yang duduk di sofa lain. Siapa lagi kalau bukan Gama.


“Duduk, Sas.” Affan mempersilakan dirinya untuk duduk. Di mana lagi kalau bukan di sebelah Gama yang duduk di sofa 3 seater. Sebab sofa lainnya lebih jauh dari jangkauannya dari ia berdiri. Dan hanya tersisa 1 itu pun posisi sofa di tengah, terapit.


“Lo yang ngomong duluan atau gue?” tukas Affan menatap sang kakak.


Gama menyahut, “Lo duluan.”


Ini ada apa? Ia hanya menatap adik-kakak tersebut.


“Gama Pustaka telah membuka lowongan editor in chief. Dan kamu salah satu kandidat dari internal yang diajukan, Sas. Aku harap kamu bisa menyiapkan semuanya dengan baik,” terang Affan. “Dan nanti yang menempati posisi managing editor jika kamu terpilih menjadi pimpinan redaksi GPP adalah staf dari cabang,” imbuhnya.


Ia menatap Affan. Lalu beralih pada laki-laki di sebelahnya.


“Bagaimana? Masih ada waktu sekitar 2 minggu dari sekarang. Untuk kamu menyiapkan diri sebaik-baiknya. Tapi aku yakin, kamu pasti bisa.”


“Saya akan usahakan yang terbaik, Pak,” jawabnya.


“Harus.” Affan menyahut. “Oke, tugas gue selesai.” Ia bangkit. Begitu pula dirinya juga ikut berdiri. “Sas, kamu tunggu di sini. Ada yang ingin bertemu.” Dagu Affan menunjuk sang kakak yang masih duduk di tempatnya.


Ia menoleh pada Gama. Lantas duduk perlahan ketika laki-laki itu menepuk sofa di sebelahnya. Sementara Affan berlalu meninggalkan mereka.


“Aku baru pulang dari Bandung.”


Ya, ia tahu. Bukankah laki-laki yang tengah berbicara ini sudah memberitahukannya lewat pesan tadi malam.


“Aku sudah menyuruh Dani menyiapkan semua keperluan kita ke Kemuning,” ujar Gama selanjutnya.


Sasmaya menatap laki-laki itu saksama. Selama 1 minggu lebih tidak bertemu tentu rasa rindu terkadang muncul di celah kesibukannya. Meski rasa itu segera terdistraksi oleh hal-hal yang menyangkut pekerjaan.


“Sas—”


Suara pintu terbuka mengagetkan keduanya yang refleks menoleh.


“Sorry ... ada yang tertinggal,” tukas Affan. Menuju meja kerjanya. Mengambil map dan siap pergi lagi. Namun langkahnya berhenti tepat di depan pintu. Menoleh ke belakang, “Ga, gue jadi pinjam ballroom Zoon.”


Gama mengacungkan jempolnya tanpa bersuara. Pintu kembali tertutup.


Hening. Hingga Gama berucap, “Sampai mana tadi?” membuatnya ingin tersenyum. Bisa juga seorang Gama pecah konsentrasi.


Ia pura-pura menggeleng.


“Apa aku terlihat lucu?”


Ia menggeleng lagi.


Sudut mata laki-laki menyempit. Berdecak lalu mengatakan, “Sore nanti aku jemput.”


Hah! Itu saja? Menyita waktunya hanya ingin bilang bahwa sore nanti Gama akan menjemputnya.


“Hanya itu?” tanyanya meyakinkan. Ia pikir ada hal penting dari ini.


Gama berdeham. Merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum.


Pipinya menyemburat bersemu merah. Menggeleng sejenak. Namun dalam waktu yang hampir bersamaan ia menghambur dalam pelukan laki-laki itu.


“Maaf ...aku sibuk,” bisik Gama. Mengusap punggungnya. Menciumi kepalanya.


“Aku tahu.”


“Kamu juga?”


Ia mengangguk.


Dalam jeda beberapa saat tidak ada yang bersuara. Hanya detak jantung mereka yang menggedor-gedor dinding dada. Mengartikan kondisi keduanya.


Kembali menghirup aroma yang melekat. Tertahan rasa keinginan bertemu yang begitu kuat. Membuat mereka tenggelam sejenak karenanya. Akibat sensasi nyaman sekaligus senang yang dirasakan.


Usai melepas rindu, Gama mengantarkan ke ruangannya. Mengucap salam perpisahan sebelum keduanya berjanji ketemu sore nanti.


...***...


“Ranti!” Panggilan suara yang dikenalnya membuatnya menoleh. Ia baru saja usai melakukan proses check in.


“Er, kamu di sini juga?”


“Ya, iya ... kita satu tujuan. Kampung kita sama,” tukas Erna.


"Eh, dalam rangka apa ini mudik? Eyang Sulasih sehat, kan?”


“Ibu sehat alhamdullilah. Kamu sendiri?"


“Biasa dari tempat anakku di Depok. Syukurlah ... aku selalu teringat dengan eyang kalau ke rumahmu suka disuruh makan.”


“Brambang asem,” jawab keduanya berbarengan lalu terkekeh bersama.


Ternyata tak dinyana ia dan Erna duduk bersebelahan.


“Ran, gimana Sasmaya? Amalan yang kemarin aku kasih diamalkan gak?” tanya Erna.


Ranti mengulas senyum tipis.


“Percaya ... kalau anakmu mengamalkan itu disertai rajin beribadah. Aku yakin jodoh anakmu lekas mendekat,” ujar Erna penuh kemantapan.


Sementara ia tidak tahu, apakah Sasmaya mengamalkan amalan pemberian Erna tersebut. Saat ini jodoh Sasmaya ada di depan mata. Dalam hitungan jari, anaknya itu akan menikah. Sudut bibirnya tertarik. Entah ini karena efek amalan atau bukan. Ranti berharap Gama benar-benar jodoh untuk anaknya.


“Ee, malah melamun. Gimana?” ulang Erna.


“Er, sebenarnya ... anakku dalam waktu dekat ini akan menikah. Makanya—”


Erna memotong, “Tuh, kan benar. Amalan itu punya khasiat ampuh. Apa aku bilang.”


“Terima kasih, Er,” balasnya. “Makanya aku pulang untuk mengurusi pernikahan mereka.”


“Syukurlah ...,” sahut Erna. “Siapa nama calon anak mantumu, Ran?”


Ia menoleh pada Erna. Meski ragu ia pun menjawab, “Ardian Gama Putra.”


Lengang.


Erna tampak berpikir keras. Cukup lama. Ia yang merasakan keanehan temannya itu bertanya, “Kenapa, Er?”


“Maaf Ran ... ada hal buruk dan baik yang akan menimpa anakmu. Tapi sepertinya aku harus bilang sama kamu mengenai hal buruknya dulu. Ini mungkin terdengar mengecewakan. Agar kamu bisa mengantisipasinya lebih awal.”