
...71. It’s Sad, So Sad...
Ia terkejut bukan main kala membuka pintu melihat Gama tertidur di dalam mobil yang terparkir di depan rumahnya dengan kaca jendela setengah terbuka.
“Saya gak enak mau membangunkannya. Kelihatannya Pak Gama kelelahan,” ujar sopir kantor yang menjemputnya. Berdiri di samping pintu.
Ia melihat arloji di lengannya. Masih ada waktu. Menyerahkan tas jinjing yang berisi laptop serta kantong kanvas berisi berkas dan buku pada sopirnya tersebut. “Bapak tunggu saja di mobil. Saya akan membangunkannya.”
Sang sopir mengangguk.
Ayunan langkahnya mendekati mobil laki-laki itu. Berdeham. Mengetuk kaca beberapa kali dengan telunjuknya.
Gama menggeliat kecil. Namun kedua matanya tetap tertutup rapat.
Sasmaya mencoba mengulanginya sekali lagi. Kali ini dengan ucapan, “Mas Gama ....”
Laki-laki itu bergerak. Mengusap wajah. Membuka mata perlahan. “Sas,” tukasnya terkejut. Berusaha keluar dari mobil. Namun segera ditahannya.
“Pulanglah. Aku harus segera ke kantor. Hari ini peluncuran buku.”
“Ya, aku tahu. Tapi bisakah kita berbicara sebentar. Ada hal yang ingin aku sampaikan.”
Ia menatap Gama sejenak. Laki-laki itu terlihat kuyu. “Maaf. Pagi ini aku terburu-buru.”
“Sas, aku mohon. Kita harus bicara. Aku—”
“Pulanglah.” Ia menyergah. Lalu meninggalkan Gama.
Laki-laki itu keluar mobil. Mengejar Sasmaya yang hendak masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. “Kita harus bicara, Sas,” cegahnya.
Langkahnya terhenti. Tepat saat tangannya hendak meraih gagang pintu. Ia berdiri membelakangi laki-laki itu.
“Sas.”
“Setelah peluncuran buku selesai. Di resto hotel.” Membuka pintu. Masuk dan duduk bersamaan pintu tersebut tertutup rapat. Ia bisa melihat Gama dari dalam kaca mobil.
Selain kuyu, laki-laki itu tampak berantakan.
Sementara Gama menyugar rambutnya kasar. Menatap kepergian Sasmaya dengan perasaan tak terkatakan.
...***...
“Mbak Sas, udah pegang buku yang terbaru?” tanya Dina.
Ia menggeleng. “Jam berapa kita ke sana?” tanyanya pada sekretarisnya tersebut.
Dina tersenyum lebar. “Acara inti jam 13.30. Jamuan makan siang jam 12. Kita ke sana jam 10. Tapi sebelum itu ada briefing sebentar dengan panitia,” paparnya.
“Kamu semangat banget, Din,” sindirnya menipiskan bibir. Melihat Dina terlihat sangat berantusias. Semua bisa terbaca dari gestur yang diperlihatkan Dina.
“Hehe ... mau ketemu sama seseorang, Mbak,” cengir Dina. Meletakkan buku terbaru ke dalam kantong kanvas. Mengambil buku versi dummy. “Buku terbarunya udah aku masukin, ya, Mbak.”
Sasmaya mengangguk. “Thanks, Din.” Mengulas senyum.
“Sama-sama, Mbak. Hari ini hampir semua staf kita sudah memesan buku. Belum dari departemen lain. Info terbaru pemesanan sudah mencapai 550 pieces.”
“Semoga permintaan pemesanan terus naik.”
Dina menyahut, “Aamiin ....”
Tiba di Hotel Zoon langkahnya mantap menapaki lantai yang terbuat dari marmer. Dengan Dina yang menjajari di sebelahnya. Keduanya langsung menuju ke ruang konferensi yang disebut oleh petugas hotel yang menyambutnya tadi di lobi.
Ada Ferdi dan Dani menyambut mereka. Panggung berukuran sedang terletak di depan dengan kursi sofa 4 buah. Layar besar di belakang panggung. Sementara untuk tamu undangan berada di depan panggung. Berjejer rapi. Dengan buku berada di atas kursi masing-masing.
“Sudah siap, Sas?” tanya Ferdi.
Ia mengangguk. “Bagaimana dengan Pak Murgi?”
“Beliau konfirmasi bisa datang. Sekarang dalam perjalanan kemari.”
“Lalu yang lainnya?” Sampai dengan saat ini ia tidak tahu siapa saja yang mengisi preface pada sampul bagian belakang. Bahkan belum sempat melihatnya di buku terbaru.
“Mungkin kalau tidak bisa datang, kita akan melakukan teleconference.”
“Apa belum ada konfirmasi?”
Ferdi tak langsung menyahut. Hingga salah satu panitia menghampiri mereka. “Video conference siap.”
“Bagaimana yang lain?” tanya Ferdi.
“Ready,” panitia tersebut tersenyum, seraya mengacungkan jemari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran. Lantas meninggalkan mereka.
Dani dan Dina tampak mendekati panggung. Entah apa yang mereka bicarakan. Terlihat serius.
“Artinya beliau tidak datang." Ia menyimpulkan dari pembicaraan Ferdi dan panitia penyelenggara.
Ferdi mengangkat bahu, “Yup.” Menarik bibirnya. Mengajaknya untuk mendekati panggung.
Selama kurang dari setengah jam, ia mengikuti briefing. Membaca rundown acara yang nanti dibawakan oleh salah satu presenter TV. Kemudian menuju ruang lainnya untuk menghadiri makan siang bersama.
Ia bisa melihat Gama, Affan dan Pak Sofyan duduk di salah satu round table. Dipandu Ferdi dirinya diminta untuk duduk bergabung bersama mereka. Bahkan kekehan tawa Pak Sofyan terdengar sampai telinganya. Saat jaraknya hampir mendekati mereka.
Menyalami Pak Murgi. Beralih ke Pak Sofyan. Menunduk sejenak pada Gama lalu berikutnya Affan. Akan tetapi ia menjabat uluran tangan atasannya tersebut. Kemudian duduk di sebelah putra kedua Sofyan Putra.
“Saya pernah bilang sama papamu, Fan. Kalau pilihannya tepat pada Sasmaya. Bahkan ... beberapa kali bertemu dan berbincang sama Sasmaya ini, Om merasa karakternya mirip Heti. Benar gak, Yan?”
Sofyan mengangguk-angguk. Menimpali, “Percis.”
Sedangkan Gama dan Affan menjadi pendengar perbincangan antar 2 sahabat tersebut. Begitu pula dirinya, yang sesekali menjawab. Tersenyum. Tersipu akibat sanjungan dan gurauan Murgi yang suka lelucon. Kemudian tak sengaja bersitatap dengan laki-laki itu.
“Setelah ini. Kita agendakan main golf bareng lagi, bagaimana?” tanya Murgi.
Sofyan menyahut, “Oke. Kita atur.”
Murgi menoleh pada Gama, “Saya ngikut, Om.”
“Kamu, Fan?” tanya Murgi ketika anak kedua Sofyan itu tak langsung menyahut.
“Bisa diatur, Om,” tukas Affan.
Kemudian Murgi menatapnya. “Saya tahu Sasmaya pasti sekarang lebih sibuk. Tapi saya minta waktunya sebentar saja. Kita merayakan hari ini dengan main golf. Gimana?” menelengkan kepala pada Gama. “Kamu rayu Sas, Ga. Sampai dia mau main bareng kita lagi.”
Ia menarik sudut bibirnya, berucap, “Saya bukan pemain pro, Pak.”
Murgi mengibaskan tangan, “Gak masalah. Gama akan mengajarimu. Ga ...,” kembali menoleh pada Gama. “Ajari Sas sampai bisa.”
“Baik, Om,” tangkas Gama.
Acara makan siang berakhir. Para tamu undangan di persilakan untuk beristirahat sejenak. Sebelum acara inti dimulai.
Membeberkan poin-poin penting dalam penulisannya. Hingga mengupas bagian kontroversi yang menarik bagi pembaca.
Sofyan dipanggil ke depan untuk duduk bersamanya di panggung. Meminta tokoh utama untuk memberikan kata sambutan, pesan dan kesan terhadap narasi yang diungkapnya.
Kalimat yang membuatnya terperangah. Sofyan mengucapkan, “Terima kasih, Sas. Buku ini adalah riil penggambaran diri saya yang sebenarnya. Sasmaya begitu berani menguliti saya luar dalam.”
Sofyan menjeda. Bertepatan sipongang tepuk tangan memenuhi ruangan. Dengan tawa ringan.
“Beruntung dia staf terbaik yang kami miliki. Jadi saya tidak berani memecatnya.”
Ledakan tawa para undangan kembali menguar.
“Tapi harus diingat, bahwa saya juga manusia biasa. Banyak kekurangannya. Senang dengan pujian, marah dan sedih kalau dicerca. Di buku ini saya berusaha mengelola perilaku sekaligus perasaan itu ke dalam kegiatan yang lebih bermanfaat dan tentunya bisa memotivasi para pembaca.”
Sofyan masih berbicara. Ia bisa melihat Gama, Affan serta anak istrinya yang duduk di barisan depan.
“Oke, sekarang waktunya kita dengar tanggapan dari sahabat sekaligus pembaca yang sudah merampungkan membaca buku ini. Saya dengar katanya beliau menghabiskan waktu 1 minggu. Maklum dengan kesibukan beliau, mungkin mencuri-curi untuk membaca di sela-sela waktunya yang sempit.” Presenter memanggil Murgi untuk ke panggung.
Selama kurang lebih 10 menit Murgi memaparkan apa yang ditulis dalam buku tersebut. Kesan serta tanggapan yang diungkapnya dengan sudut pandang sebagai pembaca. Lalu sebagai sahabat sekaligus partner kerja.
Kemudian presenter melakukan teleconference dengan para pembaca lainnya yang sekaligus ditunjuk untuk memberikan kata pengantar pada sampul belakang. Tentunya orang spesial yang dipilih.
Awalnya ia menduga bahwa orang tersebut adalah sahabat Sofyan. Yang kini menduduki jabatan di pemerintahan. Namun, ia kembali dibuat terperangah. Manakala dalam video yang terpampang di layar belakang panggung itu adalah orang yang begitu dekat dengannya.
Demi mengurangi penasaran dan keterkejutannya ia membalikkan buku. Yang tengah dipegangnya. Ada 2 orang yang memberikan preface di sampul belakang.
Murgi dan ... Sasmaya kembali menatap layar yang menampilkan seseorang yang tengah duduk di kursi. Lalu beralih menatap pada sampul belakang buku lagi. Tak percaya. Sungguh ... ini kejutan. Siapa lagi kalau bukan Eyang Sulasih.
Matanya berkaca-kaca. Terharu sekaligus tak menyangka. Bahwa Eyang Sulasih menjadi orang kedua dari kesekian kandidat yang dipilih Affan untuk memberikan tanggapannya akan buku yang ditulisnya ini.
Satu bulir air matanya lolos. Namun ini air mata bahagia.
Presenter masih bertanya pada eyang melalui sambungan teleconference. Ia menyimak dengan haru.
“Moeder en Zoon,” sebut presenter tanpa sengaja. Setelah eyang menceritakan perkenalannya dengan Sofyan.
Eyang mengangguk. “Pak Idham dulu sering berhutang serabi sama saya kalau lagi manggung di Sriwedari ketika belum mendapat bayaran.”
Para tamu undangan kembali dibuat tertawa.
“Jadi kira-kira, hutangnya sampai sekarang sudah dibayar belum, Eyang? Kalau belum kita tagih sekarang,” celetuk presenter.
Wanita yang dipanggil Moeder pada jaman itu terkekeh. Diikuti undangan yang kembali tertawa.
Ia sendiri bahkan tidak mengetahui cerita ini. Bahwa eyang dan kakek Gama itu berteman lama. Berteman ala jamannya pada waktu itu. Dengan surat menyurat. Pernah berujar jika Idham Putra suatu hari akan pergi ke Belanda. Memakai nama Zoon sebagai salah satu usahanya jika berhasil. Dan semua itu terbukti kini.
“Jadi bagaimana Eyang, hutangnya kira-kira sudah lunas belum?” gurau presenter. Disambut gelak sebagian undangan. Eyang tersenyum. Layar seperti ter-pause. Menampilkan Eyang Sulasih.
Berikutnya acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Foto bersama.
...***...
Kemunculan Sasmaya berselang 5 menit setelah kedatangannya.
“Terima kasih, Sas. Acara hari ini berjalan lancar dan sukses,” sambutnya. Menarik kursi ke belakang. Menyilakan Sasmaya untuk duduk di sana. “Kamu mau minum?”
Sasmaya menggeleng, “Tidak. Terima kasih.”
“Minggu lalu aku yang menyerahkan sendiri buku biografi papa untuk eyang.”
Wanita berparas ayu khas Jawa itu menatapnya tak percaya.
“Dulu Kakek Idham sempat berujar ingin menjodohkan papa dengan salah satu anak eyang. Tapi karena papa telah punya calon sendiri. Dan hanya tinggal Tante Ranti yang juga katanya sudah punya calon sendiri. Perjodohan itu akhirnya batal.”
Mengapa malah Gama yang mendapatkan cerita ini langsung dari eyang. Bukan dirinya. Yang notabene ialah cucu kandung Eyang Sulasih.
“Pertemanan Kakek Idham dengan Eyang Sulasih dilanjutkan oleh papa. Meski sempat terputus karena kehilangan kontak, akhirnya papa menemukan kembali Eyang Sulasih. Papa berharap kita bisa jadi keluarga, Sas. Moeder en Zoon.
“Maaf ... jika aku yang mengawalinya dengan kesalahan. Membuat semua kacau, berantakan. Aku ingin memperbaikinya.”
Sasmaya diam.
“Izinkan aku memulainya dari awal lagi, Sas,” pintanya. Meraih tangan Sasmaya lalu menggenggamnya.
Wanita yang duduk di depannya itu menutup mata. Menggeleng pelan.
“Apa yang harus aku tebus?” decitnya penuh sesal. Perasaan bersalah. Takut. Putus asa. Seolah-olah bertubi-tubi mencambuknya.
Sasmaya berdiri. Ia melepaskan genggamannya.
“Aku gak bisa. Maaf.”
“Sas,” ia bangkit. Menatap Sasmaya penuh sendu.
“Kita tidak akan menikah. Aku tidak bisa menikah denganmu.” Memutar tumit bersiap meninggalkan ruangan VIP di salah satu resto hotel.
Ia terburu mencegah. Namun Sasmaya memilih berhenti menjaga jarak. Menahan tangannya. Melarangnya mendekat.
“Maaf.” Hanya itu yang terdengar. Derap langkah kaki itu perlahan menjauh. Semakin jauh. Menghilang.
Gama menangkup wajah. Tak berapa lama mengusap kasar penuh emosi. Ia merasakan sedih. Sedih sekali. Situasi yang menyakitkan. Melebihi saat ia harus kehilangan Cyntia. Mengalami cendera akibat kecelakaan berulang. Agresi ketakutan akibat terpapar objek fobianya. Bahkan sama rasanya ketika ia terpaksa merelakan kepergian mama untuk selamanya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jika semua telah berakhir.
-
-
Terima kasih buat teman-teman yang masih stay dengan Sas. Terima kasih yang ngasih dukungan like, komentar, hadiah dan vote. Bahkan ada yang kirim koin... Insya Allah dibalas secepatnya.
Alurnya sedih terus ya?
Yup ... yang gak nahan boleh skip. Soalnya kalau dihilangkan ceritanya rada-rada gimana gitu 🤭
Mungkin sebentar lagi harus berpisah dengan Sas. Endingnya gak seru ya kalau dikupas di sini 😁. Pokoknya endingnya dibuat smooth. Plus extra part.
Peluk dan cium buat teman-teman semua. Maaf jika up naskah nunggunya luaaama. Molor. Gak bermaksud begitu, tapi ... ternyata begitu juga 🙈... hehe. Maafkan...🙇♀️
Sekali lagi terima kasih 🙏