
...65. I’m not an Eccedentesiast...
Sasmaya pikir laki-laki itu yang mengantarkan sendiri kopernya ke apartemen. Nyatanya, Gama mengirim Dani.
“Terima kasih, Dan,” ucapnya saat membuka pintu. Dani berdiri dengan koper di sampingnya. Ia menggeret koper berwarna biru itu masuk. Tanpa menghiraukannya.
Tepat saat akan menutup pintu, baru menyadari bahwa Dani masih berdiri di tempatnya.
“Ada yang lain lagi?” tanyanya.
Ragu. Dani bingung mengatakannya. Sebab takut menyinggung perasaan calon istri atasannya. Yang terpaksa harus menunda menikah dengan alasan yang ia sendiri tidak tahu.
“Dan,” panggilnya sekali lagi.
“Em ... saya mengundang Mbak Sasmaya dan Pak Gama ke acara pernikahan saya,” tukas Dani. Menatap Sasmaya yang tetiba menunduk.
“Nanti undangannya Dina yang kasih, Mbak,” sambung Dani.
Ia tengadah, “Dina?” lirihnya.
Dani mengangguk. “Dina calon istri saya.”
Ya Tuhan ... ia mengusap dahinya perlahan. Baru tahu jika sekretaris editor in chief itu punya hubungan spesial dengan sekretaris Gama. Dan mereka mau menikah.
“Masih lama kok, Mbak. 2 mingguan lagi,” imbuh Dani lagi. Melihat keterkejutan Sasmaya yang sepertinya baru tahu akan hubungannya dengan Dina. Wajar. Kekasihnya itu lebih lama dan sering berinteraksi dengan Widiya ketimbang Sasmaya.
Kata siapa 2 minggu itu lama? Buktinya pernikahannya dengan Gama yang punya waktu 2 bulan semenjak lamaran gagal di tengah jalan. Lama waktu berhubungan bukan jaminan.
Sudut bibirnya terangkat, “Selamat, Dan. Semoga acara kalian lancar hingga hari pernikahan.”
...***...
Gama tahu, banyak kesalahan yang ia ciptakan yang membuat hubungannya dengan Sasmaya retak dan buruk. Bahkan gagal.
Sasmaya mengetahui ia menghubungi Lyvia pada saat kecelakaan itu. Dan wanita itu kini menjauh. Meski dalam sudut hatinya, ia ingin tetap menikahi Sasmaya. Apa pun risikonya. Termasuk kehilangan nyawa yang menyebabkan kecelakaan tersebut.
Bila semua orang berhak marah kepadanya, maka ia juga berhak mempertahankan Sasmaya tetap menjadi miliknya. Kendati, wanita itu akan semakin benci.
Datang ke rumah Sasmaya. Siap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Ranti. Sesungguhnya, Gama hanya ingin membuktikan bahwa ia akan mempertahankan wanita itu. Akan menikahinya.
Ternyata setelah tiba di sana, wanita yang melahirkan Sasmaya tersebut belum kembali dari Kemuning. Hanya asisten rumah tangganya yang menyambutnya.
Tanpa banyak tanya, ia bisa menebak jika koper biru yang tergelatak di ruang tamu adalah milik Sasmaya. Sebab ia pernah melihatnya pada saat mereka di Belanda.
Akan tetapi menyerahkan sendiri pada pemiliknya, bukan waktu yang tepat. Sasmaya juga pasti belum siap bertemu dengannya. Ia lantas menyuruh Dani meski sekretarisnya itu sedikit curiga kepadanya.
“Aku harus kembali ke Zoon, Dan. Masih ada urusan,” tukasnya beralasan.
Tanpa banyak tanya Dani mengangguk. Mereka berpisah di persimpangan jalan. Ia menuju Hotel Zoon. Sementara Dani ke apartemen Sasmaya.
“Terbukalah pada pasangan. Ajak pasangan mengetahui apa yang sedang kamu cemaskan. Jika pasanganmu benar-benar sayang padamu, dia pasti mengerti dan mau membantumu,” ucapan Lyvia kembali berkelebat dalam ingatan.
Kini, ia lebih banyak mengemukakan tentang hubungannya dengan Sasmaya yang sedang buruk. Akibat gagalnya pernikahan mereka. Dan itu semua berawal dari fobia yang diidapnya. Karena dirinya.
Kata Lyvia, ia harus melawan. Memunculkan keberanian perlahan. Bukan menghindarinya.
...***...
Beberapa hari berkantor seperti biasa. Berkutat dengan pertemuan dan rapat bersama dewan eksekutif. Berlanjut dengan rapat kecil mencakup per divisi. Mengontrol dan memastikan tiap tim bekerja sesuai rencana dan standar operasional Gama Pustaka. Tak lupa selalu menjaga komunikasi antar team work. Agar tercipta hubungan yang solid.
Hari ini Sasmaya melakukan pertemuan dengan para editor dan tim kreatif. Untuk menentukan penjudulan naskah.
Satu per satu para editor melakukan presentasi naskah yang ditanggungjawabi. Lantas tim kreatif yang terdiri dari layouter maupun desain grafis memberikan ide-ide soal pengemasan buku, isi dan sampul.
Setelah judul disepakati barulah Dina sebagai sekretaris editor in chief bertanggungjawab mengorder pembuatan ISBN (International Standard Book Number). Yang nantinya akan dikirimkan ke perpustakaan nasional.
Kemudian tiap tim atau staf yang ditunjuk akan bertanggungjawab sesuai tugasnya. Jika semua proses sesuai prosedur. Maka file naskah yang berbentuk dokumen pdf tersebut siap di cetak di bagian printing. Namun jika tidak maka tim atau staf yang ditunjuk bertanggungjawab memperbaiki.
“Sampai di sini pertemuan kita. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.” Sasmaya mengakhiri rapat hari itu. Bangkit dan siap meninggalkan ruangan. Diikuti sebagian peserta rapat.
“Mbak Sasmaya,” Dina menyergah. Membuatnya menoleh pada sekretarisnya. “Tadi pagi staf HRD memberitahukan bahwa jadwal Mbak Sas interview dilakukan pada hari Jumat jam 9 pagi. Di ruangan direksi.”
Jujur, ia tidak mempersiapkan diri secara khusus. Hanya berbekal pengalaman selama bekerja di GPP. Selebihnya ia menyerahkan apa pun hasilnya.
Senyumnya samar, “Thanks, Din.” Masih ada waktu 2 hari lagi.
...***...
Satu hari sebelum interview Sasmaya mengantarkan sendiri dummy buku biografi pada Sofyan di kantornya. Setelah memberitahukan pada Ferdi melalui pesan singkat.
Ferdi mengatakan bahwa Pak Sofyan berada di kantor dalam 1 jam ke depan. Setidaknya dalam waktu tersebut cukup untuk menyerahkan buku itu. Lalu mengulasnya sedikit.
Ialah kali pertama pertemuannya dengan Sofyan semenjak pernikahannya gagal dengan Gama. Sebenarnya ia belum siap. Akan tetapi ia dituntut profesional. Setidaknya ada 1 tanggung jawab yang segera akan diselesaikannya.
“Silakan, Sas ....” Ferdi membukakan pintu ruangan Sofyan. Lalu kembali menutupnya saat ia melangkah lebih dalam.
Terlihat pria dengan rambut putih di beberapa bagian yang menutupi kepalanya itu mendongak. Tersenyum. Berdiri dan berucap, “Apa kabar, Sas?” menghampirinya. Menyilakan duduk di sofa, “kita duduk di sini saja,” tawarnya.
Canggung. Suasana ini kembali dirasakan percis pada saat ia pertama kali mendatangi Sofyan di kediamannya. Untuk mewawancarainya.
“Ba-baik, Pak.” Ia duduk di sofa tunggal. Menghadap Sofyan langsung.
“Saya minta maaf, Sas. Membuatmu kecewa. Sedih. Marah. Mungkin juga saat ini kamu membenci saya,” tukas Sofyan. Melepas kacamatanya.
Tidak ingin membahas perihal lain. Ia menyergah, “Saya kesini ingin menyerahkan ... ini.” Mengangsurkan sebuah buku yang diambilnya dari tas jinjing yang dibawanya.
“Bagus, Sas,” komentar Sofyan. Lalu membuka halaman berikutnya. Begitu seterusnya. Tanpa dibaca. Bahkan langsung pada sampul belakang.
Tokoh dalam biografi yang ia tulis itu tercenung. Saat membaca sinopsis di sana.
“Jika Papa, maksud saya Bapak kurang berkenan dengan ikhtisar tersebut, saya akan mengubahnya.” Kemungkinan memang Sofyan kurang setuju dengan sinopsis yang ia tulis. Karena ia gamblang membeberkan soal keterpurukan Sofyan selama ini. Termasuk alasan menjual saham Zoon di Belanda.
Sofyan menggeleng.
Ia tak menyangka tokoh utama dalam penulisannya ini menerima.
“Bagus. Ini bagus, Sas.”
“Bagaimana dengan judul, Pak?” tanyanya saat Sofyan kembali memosisikan buku pada sampul bagian depan.
...Sebuah Biografi...
...SOFYAN PUTRA...
...—Kisah, Inspiratif dan Cinta Indonesia—...
“Ini di luar ekspektasi, Sas. Papa mengira kamu akan menuliskan kisah seorang anak sastrawan yang antiklimaks. Hanya hal-hal baik saja. Tapi kamu mengungkap hal-hal yang orang lain di luaran sana tidak tahu. Tentang Sofyan yang rela kembali ke Indonesia karena sangat mencintai tanah airnya. Padahal di Indonesia dia harus menghadapi kekuasaan otoriter yang beberapa kali membredel surat kabarnya dan menerima tekanan politik.” Sofyan menghela. Menarik napasnya.
“Sofyan seorang eccedentesiast.” Pria paruh baya itu mengutip salah satu ikhtisarnya.
“Betul sekali,” tukasnya yakin. “Maksud saya, dengan permasalahan yang Pak Sofyan hadapi. Baik menyangkut urusan bisnis, sosial, politik, bahkan urusan keluarga termasuk Mas Gama dan sepeninggal Ibu Heti, Bapak selalu tegar, tersenyum dan mampu menyembunyikan kesedihan sekaligus kegundahan. Bagi sebagian besar orang-orang itu sangat sulit.” Termasuk dirinya. Ini fakta. Beberapa narasumber yang ditemui dan diwawancarainya mengatakan hal yang sama. Mereka setuju bahwa Sofyan seorang eccedentesiast.
Sofyan menarik sudut bibirnya. Menatapnya, “Tapi kali ini Papa tidak bisa menyembunyikan permasalahan yang menyangkut kamu, Sas. Papa minta maaf ...,” sesalnya kentara.
Siapa sebenarnya yang patut disalahkan atas gagalnya pernikahannya dengan Gama?
Sofyankah?
Gama?
Atau dirinya?
Atau mungkin memang Tuhan yang tidak menakdirkan mereka dengan jalan seperti ini.
Mendadak kesedihan itu kembali menyeruak. Tak mau berlarut-larut. Ia lekas pamit pada pemilik Putra Group tersebut.
Diantar Sofyan hingga ke luar ruangan setelah pria paruh baya itu membukakan pintu untuknya. Ia mengucapkan terima kasih. Mengangguk sekali lagi. Menunduk. Memutar tumit segera meninggalkan lantai ruangan para direksi berada.
Namun tak dinyana, justru ia menabrak seseorang yang sepertinya juga tak melihat keberadaannya.
Orang itu samar mengaduh, memegangi lengannya yang digendong, digips. “Sas,” tandas orang itu. Menatapnya.
“Ma-maaf,” balasnya. Lantas berlalu begitu saja.
“Sasmaya!” laki-laki itu berusaha mengejarnya. “Sas, kita perlu bicara.”
Ia diam terus berjalan.
“Sas, aku mohon. Kita harus bicara,” pinta Gama. Memegangi lengannya.
Dengan cepat ia menangkas. Tanpa bicara.
“Sas.” Gama berusaha menahannya. Namun ia tetap tak menghiraukan.
“Gama!” seru Sofyan. Membuat Gama menoleh. Kemudian pria paruh baya itu menggeleng.
Sementara langkahnya semakin cepat. Menekan tombol lift. Beruntung kotak besi itu langsung terbuka dan membawanya turun. Ia sendirian berada di sana. Menyandarkan punggung. Menatap pintu yang tertutup rapat. Membiaskan bayangannya.
Ternyata ia belum siap bertemu dengan Gama. Sama halnya jika ia harus membicarakan hal yang menyangkut tentang hubungan mereka. Entah butuh waktu berapa lama lagi, ia tidak tahu. Walau, ia sadar. Bagaimanapun juga lingkup pekerjaannya berada dalam kuasa Gama. Jadi seberapa jauh ia menghindar, pada akhirnya semesta berkata lain.
Ia menunduk. Melepaskan cairan bening dari pelupuk matanya. Beberapa hari ini ia mulai mampu tersenyum. Tapi di lain waktu dan kesempatan senyum itu tergantikan kesedihan.
Sometimes I felt okay ... sometimes worsed.