
Aera yang melihat ketopraknya telah tiba, dengan segera melahap makanannya. Ray senang melihat istrinya makan dengan lahap. Karena selama hamil ini makanan yang di makan oleh Aera sangat sedikit.
Sambil melihat istrinya makan, Ray tersenyum, bersyukur memiliki istri yang hatinya sebaik Aera. Tiba-tiba ponsel Ray berdering, Ray melihat layar, dengan gugup dan sedikit berdehem lalu mengangkatnya "halo, selamat siang pa."
Kata Ray dengan penuh sopan. Karena yang menelpon adalah ayah mertuanya. Atau lebih tepatnya ayah angkat Aera.
"Halo Ray, papa ingin bertemu dengan orang tua kamu, kapan kamu bisa mempertemukan kami?" Kata suara dari seberang sana.
Ray yang selama ini dikenal dingin dan percaya diri, sedikit gugup di hubungi secara tiba-tiba oleh mertuanya. "Bisa kapan saja pa!" Kata Ray lagi.
Aera yang sudah menghabiskan makanannya, sedikit bingung melihat suaminya berbicara di telepon dengan siapa. Lalu Aera bertanya "siapa yang menelpon kak?"
Belum Ray menjawab, suara dari seberang sana berkata lagi "apakah itu Aera kecilku? Kemarikan teleponnya, aku ingin berbicara dengan putriku."
Ray dengan patuh segera memberikan ponselnya kepada Aera "sayang, ini papa Andre mau bicara."
Aera lalu membelalakkan matanya sambil berbisik "kenapa kak Ray bilang Aera di sini?" Tapi tetap saja ponselnya di berikan kepada Aera. Ray dengan ekspresi menaruh telunjuknya di bibir, memberikan Aera ponselnya.
"Ya halo pa? Papa apa kabar? Aera kangen sama mama," Aera mulai bertingkah manja, dengan ekspresi di imut imutkan.
"Halo sayang. Papa dan mama baik-baik saja. Bagaimana calon cucu papa? Sehat-sehat saja kan?mamamu juga sangat merindukanmu. Jika suamimu macam-macam, kamu lapor ke papa. Biar papa kasih pelajaran ke dia.” kata Andre dengan Nada tegas dan melindungi.
”papa, kak Ray sangat sayang sama Aera. Tenang saja pa, jika kak Ray macam-macam dengan Aera, dia akan tau sendiri akibatnya.” kata Aera dengan penuh senyuman. Sambil menatap Ray yang gugup dari tadi.
Aera lalu memberikan ponselnya lagi kepada Ray "ya, pa. Jadi papa bisa punya waktu kapan pa?"
"Besok malam saja. Kita bertemu di restoran kemarin. Saya akan tunggu. Oke. Sampai jumpa besok."
Belum sempat Ray menjawab, Andre sudah memutuskan teleponnya secara sepihak.
Seketika Ray lalu menghela nafas. Dia dari tadi menahan nafas karena mertuanya yang menelpon. Walaupun Ray di bilang adalah CEO muda berbakat,tetap saja memiliki rasa canggung jika berbicara dengan mertuanya.
"Ada apa kak, kenapa papa menelpon?" Tanya Aera santai.
"Besok malam, papa Andre mau ketemu sama papa dan mama," kata Ray sambil mengotak Atik ponselnya mencari nama ayahnya.
”sayang, aku hubungi papa dan Mama dulu ya. Minta waktu mereka besok malam, soalnya papa Andre dan Mama Mia mau bertemu besok."
"Oke sayang, kak Aera kembali dulu ya. Bye bye." Aera sambil berkata dia keluar dari ruangan Ray. Tinggallah Ray seorang diri, dia segera menghubungi papanya.
"Oke, besok malam ya. Baik papa juga penasaran ingin bertemu dengan besan papa. Papa dengar dia adalah ketua organisasi Hitam ya?" Tanya papa dengan nada serius.
Ray yang ditanya sedikit terkejut dari mana papanya mengetahui hal itu."papa tau dari mana?"
Suara tawa terdengar dari seberang "hahahaha,. Ray.. Ray., Apakah kamu tidak kenal siapa papamu?"
Ray menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian berkata "ya sudah pa, ingat ya besok malam. Nanti Ray kirimkan alamatnya." Kemudian Ray mengakhiri telponnya.
Aera duduk di kursi kerjanya. Dia lalu mulai membuka berkasnya, ketika akan memulai kerjanya tiba-tiba amirah datang "Aera, aku tidak tahu dengan cara apa kamu menggoda pak Ray. Kamu tahu kan seharusnya aku yang bersama dengan dirinya. Dasar kamu wanita penggoda."
Aera masih diam tidak menggubris amirah yang masih saja bergumam. Amirah yang marah karena merasa tidak di di ladeni oleh Aera lalu menggebrak meja Aera.
Aera yang dari tadi diam lalu mendongakkan kepalanya, melihat ke arah amirah. "Kamu mau apa? Apa maksud dari perkataan mu? Sejak kapan aku jadi wanita penggoda. Asal kamu tahu saja, aku menikah dengan pak Ray itu sebelum aku masuk kerja. Dan aku tidak pernah tahu siapa pak Ray. Bukannya yang penggoda itu kamu. Menggoda suami orang dengan cara pakaianmu?"
Selesai berkata Aera kembali menatap komputer.
Selina yang baru tiba, melihat Aera sedang bersitegang bersama Amirah lalu berkata "amirah, kamu kalau tidak tahu cerita jangan asal tuduh sembarangan." Ucap Selina dengan penuh emosi.
Teman-teman di divisi Aera mulai rame melihat keributan apa yang terjadi. Salah satu dari mereka merekam dan mengirimnya di grup.
Sekretaris Ray yang ada di grup tersebut terkejut dengan rekaman yang dikirim. Dengan buru-buru tanpa mengetuk pintu ruang CEO,dia masuk. Ray yang sedang berbicara serius dengan Gilbert terkejut. Dengan nada agak dingin dia berkata "ada apa, kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu?"
Seketaris yang gugup lalu berkata dengan terbata-bata "pak, sepertinya anda harus melihat ini…"
Lalu sekretaris memberikan rekaman itu kepada Ray dan Gilbert. Dengan segera kedua atasannya tersebut berlari menuju ruangan Aera.
Terdengar Suara ribut-ribut dari luar ruangan ”apa kamu bilang, siapa bilang aku penggoda. Jelas-jelas pak Ray itu lebih tertarik dengan wanita seperti aku, dibandingkan perempuan dengan tampilan aneh seperti dirimu. Lihat saja paling bentar lagi pak Ray akan membuangmu. Karena dia bosan dengan wanita yang tidak ada menariknya sama sekali. Dia bertahan dengan kamu karena kamu hamil. Coba kalau tidak. Mungkin kamu sudah diceraikan olehnya." Sambung amirah dengan penuh emosi. Dia sudah sejak lama memang ingin membuat keributan dengan Aera, karena pria yang selalu dia suka malah menyukai Aera.
Dengan tenang Aera membalas perkataan amirah "ohhh… jadi karena aku sedang hamil ya, makanya pak Ray tidak bisa meninggalkan aku.. hhmmm khayalanmu cukup bagus. Tapi kayaknya yang terlalu banyak halusinasi sih kayaknya kamu deh." Aera sambi ternseyum sinis.
Mendengar kata-kata Aera, amirah sangat emosi, dia lalu menaikkan tangannya dan ingin memukul Aera. Sebelum Aera menangkisnya sudah ada tangan di depannya yang menghalangi tangan amirah. "Apa maksud mu,apa kamu ingin memukul istriku?" Terdengar suara datar dan dingin. Ray menahan tangan amirah.
Gilbert dengan terburu-buru muncul di sisi Aera. Agar Ray tidak lebih ngamuk Gilbert lalu mengambil alih."Nona amirah, dan nona Aera anda ikut saya ke ruangan."
Ray melepas tangannya yang sedang menahan tangan amirah agar tidak menyentuh istrinya.
happy reading all ❤️❤️❤️