
Ray kemudian meminta gilbert mengumpulkan masing-masing kepala dari divisi Perusahaannya untuk pergi keruang rapat dalam lima belas menit.
Aera yang baru tiba dan masuk ke ruangan divisinya merasa heran, kenapa pak Yusuf terlihat terburu-buru.
Aera bertanya pada temannya "tumben pak Yusuf kalang kabut begitu. Kayak cacing kepanasan."
"Ya iyalah, barusan pak Yusuf di telp sama pak Gilbert, disuruh datang ke ruang rapat dalam waktu lima belas menit. Dan ini mendadak di pagi ini. Tau kan apa yang terjadi. CEO kita bakal ngamuk kalau laporan belum lengkap."
"Ohhh. Begitu rupanya." Aera sambil mengangguk lalu duduk di kursinya, dia segera menaruh tas dan mulai menyalakan komputernya. Dia bersiap untuk memulai kerjanya.
Pak Yusuf yang terburu-buru lalu berkata pada karyawan di ruangan mereka "doakan bapak, semoga kita tidak kena semprot kali ini."
"Siap pak!" Mereka semua serempak memberi dukungan kepada pak Yusuf.
Pak Yusuf meninggalkan ruangan mereka menuju ruang rapat. Pak Yusuf terkejut ternyata di ruang rapat bukan hanya dia, ternyata semua kepala divisi di panggil oleh Gilbert. Ada hal penting apa gerangan, sampai Ray meminta mereka semua berkumpul.
Ray memasuki ruangan yang sudah di penuhi oleh para kepala divisi. Melihat kedatangan Ray, seketika mereka semua berdiri. Ray lalu menuju kursinya dan mempersilahkan mereka semua duduk. "Silahkan duduk semua.. Apa kalian tahu kenapa saya mengumpulkan kalian semua di sini pada pagi hari ini.?"
Mereka semua saling pandang satu sama lain. Lalu mereka menggelengkan kepala dan berkata "maaf pak, kami tidak tahu. Apa ada laporan kami yang salah?" Kata salah satu ketua divisi memberanikan diri menjawab kebingungan teman-teman yang lain.
Ray lalu menjawab, "saya memanggil kalian semua bukan untuk membicarakan masalah pekerjaan." Ray terdiam sejenak lalu memandang Gilbert. Gilbert yang paham maksud dari Ray lalu mengangguk kepala.
”kalian pasti sudah ada yang mendengar kabar bahwa saya telah menikah kan? Itu benar adanya. Dan istri saya bekerja di perusahaan ini juga." Kata Ray melanjutkan.
Tiba-tiba terdengar suara menyanggah ”pak, apa istri anda adalah nona amirah dari divisi keuangan? Jadi rumor anda membeli perhiasan bersama nona amirah itu benar adanya ya?" Tanya pak Andi kepala divisi keuangan, karena dia sering mendengar cerita amirah membanggakan dirinya sebagai calon istri CEO.
"Maaf, tapi bukan dia. Istri saya ada di divisi pemasaran. Rumor yang kalian gosipkan tadi pagi benar adanya, saya dan Aera memang memiliki hubungan. Dia adalah istri saya." Jelas Ray dengan wajah dingin, tanpa ingin di bantah.
Semua kepala divisi yang berada di sana hanya bisa terkejut. Mereka ribut sendiri. Hanya pak Yusuf yang tetap terlihat tenang, dalam hati pak Yusuf, aku juga cukup terkejut pada awalnya. Sekarang biar kalian yang terkejut. Pak Yusuf terkekeh-kekeh dalam hati.
"Oke, dengarkan dulu. Saya dan nona amirah tidak memiliki sebuah hubungan sama sekali. Tapi saya dan Aera adalah suami istri. Dan dia sekarang sedang mengandung. Jadi saya minta tolong kalian sebagai kepala divisi menghentikan rumor yang bisa membuat istri saya stress. Apa kalian semua paham?" Kata Ray lagi.
"Baik pak!" Jawab mereka serentak.
"Karena kalian sudah mengetahuinya, tolong jaga perasaan istri saya. Jangan sampai ada yang melukainya walau sehelai rambut pun. Jika sampai terdengar gosip lagi kupastikan akan memberi pelajaran yang menyebarkan rumor tersebut. Baik sampai disini. Sekian dan silahkan lanjut bekerja." Kemudian Ray dan Gilbert pergi meninggalkan ruang rapat dan masuk ke ruang CEO.
Para kepala divisi yang terkejut lalu mulai berbicara "wah tidak di sangka. Ternyata Aera dari divisi anda pak yusuf."
"CEO kita kan baru datang dari luar negeri ketemu di mana ya mereka?"
"Aera itu bukannya gadis yang ceplas-ceplos seperti wanita barbar?"
"Malah lebih wow amirah daripada aera. Baru tahu aku selera CEO kita seperti itu."
Dan masih banyak lagi kebingungan dari para kepala divisi tadi, tapi mereka tidak ada yang berani berargumen. Mereka semua kembali ke divisi masing-masing.
Pak Yusuf kembali ke divisi mereka dengan senyum sendiri. Aera dan teman-teman lain bingung dengan sikap pak Yusuf.
Selina pun menghampiri Aera, "Ra, bapakmu habis rapat kok senyam senyum sendiri?"
"Gak tahu tuh sel, tadi aja kalang kabut. Sekarang malah ketawa ketawa." Respon Aera.
Pak Yusuf lalu memanggil semua karyawan nya, "ayo semua berkumpul. Bapak akan kasih tahu hasil dari rapat tadi."
Mereka lalu berkumpul dan mulai deg-degan hasil dari pertemuan tadi kira-kira apa. "Ada apa kami semua di kumpulkan?"kata selina.
"Hhhmmm, rapat tadi pak Ray menginformasikan kalau dia telah menikah. Dan istrinya ada di divisi kita.." Kata pak Yusuf sambil terkekeh, ”Ayo kita sambut AERA."
Aera yang di sebut namanya, lalu menjadi pusat perhatian. Teman-teman lainnya hanya kebingungan dan tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka semua menatap Aera ingin meminta penjelasan. Yang mereka ketahui adalah Aera memang baru menikah. Tapi mereka tidak terlalu peduli dengan siapa Aera menikah.
Mereka heran, Aera bisa menikah dengan CEO mereka tapi Aera terlihat biasa saja.
"Ra, kamu menikah kok gk undang-undang?”
”ra. Dimana kamu bertemu sama CEO kita? Kamu kan tidak pernah berkencan sebelumnya.”
Dan masih banyak pertanyaan yang ditujukan padanya. Aera yang kebingungan lalu segera pergi keruangan Ray.
Ketika memasuki ruangan ray, dia melihat Gilbert dan Ray sedang berdiskusi. Ray melihat siapa yang datang, segera tersenyum melihat istrinya.
Ray lalu menghampiri istrinya, dan menyuruhnya duduk di sofa. "Ada apa sayang?"
”kak Ray… kok kakak memberi tahu satu kantor kita telah menikah?” kata Aera takut-takut. Aera berbicara dengan hati-hati takut Ray masih marah padanya, karena kejadian pagi tadi.
Ray menghela nafas, lalu berkata "aku melakukan itu untuk melindungi kamu dan bayi kita. Aku tidak mau kamu kepikiran tentang rumor yang tidak jelas. Kamu paham?" Sambil berkata Ray mengusap lembut pipi istrinya itu.
Aera yang diusap seperti itu persis seperti anak kucing yang di elus. Dia memejamkan matanya merasakan nyaman dari sentuhan Ray.
Ray sangat lembut hanya pada Aera. Jangan harap bisa melihat perlakuan lembut Ray pada orang lain, gilbert juga heran. Padahal kalau di pikir Aera bukan gadis lemah. Malah dia lebih kuat daripada mereka berdua. Aera di mata orang terlihat seperti wanita kecil yang lemah. Yang terlihat mudah di intimidasi, pria yang bertemu dengannya melihat Aera itu selalu ingin melindunginya.
happy reading all ❤️❤️❤️