BLIND DATE

BLIND DATE
100. Harimau Lapar



"Wait, Ar !", Catherine menghentikan langkah Arion. Berdiri di depan lelaki itu dengan kedua tangan di pinggang.


"Apa rencana kamu ? Mau duel sama dia ? Are you sure ?", perempuan muda itu


menyakinkan.


Arion tersenyum penuh rencana.


"Menurut kamu ?", lelaki itu balik bertanya.


Catherine berdecak.


"Kamu tahu kemampuan Kenan kan ?", ingatnya.


Arion terkekeh.


"Ya karena aku tahu Cath, aku butuh bantuan kamu ", seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Wh....what the ****, Ar ? kamu manfaatin aku ", seru Catherine. Dipukulnya bahu Arion keras.


Lelaki itu tergelak.


"Hei....bukan begitu Cath, kita sepupu, We help each other, okay ?", mengacak rambut Catherine gemas.


"Singkirin tangan kamu Ar. Aku lebih tua, jangan kurang ajar ya !", Catherine mendengkus jelas.


Tangan Arion berhenti, tapi beralih meraih bahu Catherine dan melingkarkan lengannya di sana.


"Beda tipis aja Cath, just three years. Kita sebaya, okey. C'mon, aku kasih tahu rencananya ", ajaknya.


"Huft...dasar kamu, manis-manis kalo ada maunya !", Catherine mengerakkan sikunya ke perut Arion. Membuat lelaki itu pura-pura mengaduh di sela kekehannya.


"Kita punya tujuan sama, Cath. Remember !", kata Arion. Seraya melangkah dengan memeluk bahu Catherine.


"Hmmm....iya sih. Untungnya aku juga suka berbisnis sama kamu", balas perempuan itu. Seraya mencubit lengan Arion.


Keduanya terkekeh sambil terus berjalan menuju hotel tempat menginap mereka. Sepasang mata di balik kaca mata hitam memperhatikan mereka dan diam-diam mengekori keduanya.


********


"Slow down, Ken.... !", Adelia menahan bibir Kenan yang terus menciuminya.


Begitu memasuki kamar hotel, Kenan menurunkan tubuh istrinya dari gendongan. Dan langsung menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi.


Bahkan kembali mengangkat tubuh cantik itu, menggendongnya dengan posisi kaki perempuan cantik itu melingkar di pinggangnya.


"Hmmm.....semua ini punya aku ", gumam lelaki itu di balik ciuman. Meraih tangan mungil yang menahan bibirnya dan kembali meraih bibir merah ranum menggoda itu. Memagutnya penuh gairah.


Tangannya bergerak nakal menjelajahi tubuh perempuan cantik itu. Sementara kaki panjangnya terus melangkah menuju ranjang besar di depan sana.


"I know .... eughhhh.....but Ken ... wait !", Adelia pukul bahu Kenan. Tapi tak juga mengalihkan perhatian lelaki itu. Masih saja sibuk mencumbuinya. Bibir, wajah dan leher putih jenjangnya.


"What's up baby ? I'm on fire now ", suara lelaki itu terdengar berat. Sebentar melepas ciumannya. Menatap istrinya dengan sorot mata yang sudah berkabut gairah.


"My hand ", ingat Adelia.


Kenan usap lembut bibir merah itu.


"Aku tahu sayang, don't worry okay ?", ditatapnya mata cantik itu lembut.


"Uhmmm.....tapi .....", bibir Adelia terkunci.


Kembali Kenan menggulat bibir mungil itu. Ucapan Adelia seperti tertelan lagi.


Lelaki itu terus mencumbuinya. Akhirnya Adelia terpancing gairah dan membalas


ciuman hebat itu. Kedua tangan mereka saling menangkup kedua sisi wajah pasangannya. Berpagut mesra dan dalam.


Mereka terus bercumbu hebat seiring langkah kaki Kenan. Suara perpaduan benda kenyal itu begitu nyaring terdengar. Di selingi lenguhan merdu dari bibir keduanya.


"Be carefull....don't touch my hand, okay !", ingat Adelia di sela cumbuan mereka. Sesaat ketika lelaki itu mulai membuka satu-persatu kancing bajunya.


"Of course, my love.....emhhhh....", bibir Kenan terus beraksi. Tangannya mulai bergerak menanggalkan pakaian atas Adelia. Pakaiannya juga.


Sebentar kemudian tubuh keduanya sudah berada di atas ranjang. Dengan Adelia masih berada di pangkuan lelaki itu.


"Wanna try on top baby ?", Kenan menanggalkan kain terakhir yang menempel di tubuh cantik itu. Penutup tonjolan montok menggoda. Bibir Kenan masih sibuk menciumi leher dan bahu mulus itu.


"Emhhhhhh....I can't ", kepala gadis cantik itu menggeleng pelan diiringi suara merdu yang terus keluar dari bibirnya. Suara itu semakin nyaring saat bibir lelakinya mulai bermain di bukit indahnya. Mengulum puncak pink ranum itu.


"Hmmm.....Okay, I'll drive you, baby ", masih sibuk dengan kegiatannya. Perlahan Kenan mulai membaringkan tubuh cantik itu.


Melucuti sisa kain yang menutupi tubuh bagian bawah istrinya sekaligus miliknya.


Begitu tubuh mereka sudah tak berpenghalang, seperti harimau lapar Kenan menyerang tubuh putih mulus yang terpampang di depannya.


"I love all of yours, baby ", gumamnya. Terus mencumbu dan mengeksplor tiap inchi tubuh cantik itu. Dengan bibir dan tangannya.


Racauan tak jelas terus keluar dari bibir mungil Adelia. Apalagi saat bibir lelaki itu dengan nakal bermain di bawah sana.


"Akkhhhhh.....Ken, stop it !", seraya menekan kuat kepala lelaki itu.


Kenan tersenyum. Sedikit mendongak untuk melihat wajah cantik yang sudah sangat berpeluh dan memerah karena terbakar gairah. Lalu membungkam bibir yang meracau itu. Kembali keduanya saling berpagut.


"You make me crazy, Kennn....", racauan bibir mungil itu terdengar lagi begitu ciuman lelaki itu kembali ke bawah sana. Memainkan lidahnya di pusat tubuh perempuan cantik itu.


"Hmmm....me too, baby. I'm going crazy now, and never wanna stop ", suara berat lelaki itu di sela-sela permainan lidahnya di bawah sana. Semakin menggila dan liar.


"Kennnn.....", suara racauan dari bibir itu semakin tak terkendali. Disertai tubuh perempuan cantik itu yang menegang hebat ketika lahar panas itu akan meledak. Dan akhirnya......


"Kennnnnn.....", Adelia teriakkan nama lelaki itu nyaring. Tangannya mencengkeram kuat rambut lelakinya. Kenan sambut muntahan lahar panas itu dengan senyum di bibir.


"Hmm....I love it, baby ", kepala Kenan masih berada di bawah sana. Bibir dan lidahnya masih asyik bermain di sana.


Kenan biarkan istrinya mengambil nafas. Begitu dia rasa perempuan cantik itu sudah tenang, Kenan segera mengambil posisi.


"Ready, my love ?", mesranya di depan bibir merah yang masih terengah itu.


"Uhmmm..", Adelia mengangguki.


"Arrrrghhhh.....!", errangan nikmat terdengar dari kedua bibir pasangan yang sedang memadu cinta itu.


**************


Arion keluar dari kamar mandi. Catherine sudah kembali ke kamarnya sendiri satu jam yang lalu. Di kamar sebelah Arion. Tentu saja setelah mendengar rencana dari lelaki itu.


Masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, lelaki itu melangkah menuju ke sofa.


Karena merasa haus segera meraih botol minum yang terdapat di meja. Dan langsung habis dalam sekali tengak.


Ia hempaskan tubuhnya di sofa.


"Argghhh.....Adelll.......aku akan dapatin kamu, babe ", gumamnya. Menengadahkan kepalanya di bahu sofa.


Terdiam beberapa saat dengan mata terpejam. Senyum tipis menghiasi bibir lelaki muda itu.


"Wait for me, babe !", lirihnya lagi.


Tersentak dan langsung menegakkan tubuhnya begitu merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya. Panas. Tubuhnya terasa sangat panas. Darahnya serasa mendidih, mengalir cepat. Sesuatu di bawah sana tiba-tiba menegang dan bergerak gelisah.


"Ohh.....damn, minuman itu !", Arion meraih botol kosong di depannya.


Cuma air mineral biasa. Tapi kenapa tubuhnya terasa panas. Tidak nyaman sekali. Seperti mau meledak. Di bawah sana.


Tubuh lelaki itu bergerak gelisah. Pada siapa harus menyalurkan gairahnya yang tiba-tiba menggila ini.


"Shitttt....!", umpat lelaki itu seraya beranjak. Mengedarkan pandangannya ke sekiling kamar. Mencari gawainya. Dia harus menghubungi seseorang. Seseorang yang bisa menuntaskan hasratnya.


Bagian tubuhnya di bawah sana tampak menyembul di balik handuk. Arion tidak bisa menahan lagi. Dia butuh pelepasan sekarang. Dia butuh melepaskan hasratnya yang menggila.


"Adel.....I want you, babe ", fantasinya tertuju pada tubuh cantik Adelia.


Beberapa langkah kakinya berjalan hendak mengambil gawai yang tergeletak di atas ranjang, tiba-tiba dua tangan memeluk tubuhnya dari belakang. Disusul suara lembut perempuan terdengar.


"Need some help, darling ?"


Seketika Arion memutar tubuhnya. Bibir lelaki itu tersenyum lebar. Perempuan cantik dalam imajinasinya tampak nyata di depannya.


"Oh my gosh ! That what I want, babe ! ", langsung menyambar bibir merah merekah perempuan itu. Menggulatnya dengan brutal.


Tanpa melepas ciuman panasnya, Arion melepas handuk yang menutupi sesuatu yang sudah hendak meledak dari tadi. Melemparnya sembarang.


Lalu dengan cepat menarik kain yang menutupi tubuh perempuan yang di cumbuinya.


"Aku akan habisi kamu, babe ", geraman suara Arion terdengar sangat berat. Pertanda gairah lelaki itu sudah tak terkendali.


"I'm waiting, Rio...", suara lembut perempuan itu membuat Arion semakin bersemangat.


Di bawah sadarnya sempat berpikir tentang sebutan Rio. Ada seseorang yang biasa memanggilnya itu. Tapi akal sehatnya tidak mau di ajak kompromi. Gairah bergejolak sudah menguasai dirinys. Lelaki itu terus mencumbui perempuan itu. Bibirnya tersenyum puas di balik ciuman.


Sebentar tubuh mereka sudah tak berpenghalang. Dengan liar Arion menjelajahi seluruh bagian tubuh perempuan itu. Seperti kesetanan.


Lalu mendorong tubuh itu hingga jatuh ke ranjang. Dengan penuh gairah di tindihnya tubuh polos itu. Tidak berlama-lama, dalam sekali hentakan Arion sudah berhasil menghujamkan miliknya di lubang kenikmatan di bawah sana. Di tubuh perempuan itu. Dan langsung bergerak dengan liar.


Suara merdu langsung keluar dari bibir si perempuan dan memenuhi kamar hotel.


Malam ini akan menjadi malam panjang dan panas untuk keduanya. Karena gairah si perempuan juga tak kalah besarnya. Apalagi saat bibir perempuan itu berucap.


"Faster Rio...faster....!", seperti sebuah bisikan surga yang membuat gerakan Arion semakin tak terkendali di bawah sana.


"As you wish, babe !", lelaki itu semakin menggila. Menggerakkan dan menghujam di bawah sana dengan brutal. Dan perempuan itu dengan senang hati mengimbangi. Suara errangan dan dessahan saling bersahutan memekakkan telinga.


"Aku akan makan kamu sampai nggak bersisa", kata lelaki itu sambil terus memacu tubuhnya.


"Itu yang aku mau, Rio ", balas perempuan di bawahnya itu dengan senyum puas.


********


Suara berisik juga masih memenuhi kamar di hotel yang lain. Bukan berisik lagi. Sangat berisik dan kacau.


Baju-baju berserakan di lantai. Sprei di atas ranjang yang semula rapi sudah tidak berbentuk lagi. Di atas ranjang itu dua anak manusia masih sibuk bergulat hebat di sana.


Suara merdu meneriakkan alunan kenikmatan itu terdengar bersahutan.


"Kennn, what are you doing ?", lirih bibir mungil perempuan cantik itu. Sambil bergerak tak henti. Tubuh Adelia serasa melayang dan hilang kendali. Gadis cantik itu menggila karena kelakuan suaminya.


Membusungkan dadanya dengan kepala menengadah ke atas, dengan tangan mengerat di bahu lebar lelaki itu. Adelia terbuai menikmati sensasi luar biasa yang diberikan lelakinya. Di sekujur tubuhnya.


"Hmmm.....you like it baby ?", bisik Kenan mesra. Tangannya mengusap lembut kening istrInya yang basah oleh keringat.


Adelia mengangguk pelan.


Like it ? Of course. Siapa yaang tidak suka ? Sentuhan lembut dan nakal dari suaminya itu sungguh memabukkan.


Tanpa disadari tangan mungil Adelia menepuk pinggul Kenan yang bergerak maju mundur. Karena gemas.


Lelaki itu terkekeh. Spontan memberikan hentakan lebih dalam di pusat tubuh Adelia.


"Kennn, nakal ya ....!", seru Adelia. Mencengkeram punggung Kenan kuat dan menimbulkan bekas cakaran.


Kenan kembali terkekeh, lebih keras.


"Mau lagi sayang ?", mesranya di telinga gadis cantik itu.Tanpa menghentikan gerakannya di bawah sana.


Kembali bibir lelaki itu mencumbui wajah cantik istrinya. Sesekali turun menggapai bukit indah yang montok menggoda itu. Sementara hujaman dan hentakan nikmat masih terus ia berikan di bawah sana. Lebih intens.


Hingga saat mereka merasa hendak mencapai puncak kenikmatan itu.


"I want to.........eughhhhhh...Kennn !", lenguhan Adelia terdengar begitu merdu dan sedikit bergetar. Perempuan cantik itu siap memuntahkan lahar panas untuk yang ke sekian kalinya.


Kenan tersenyum.


"Together, baby .... ", seraya meraup bibir merah yang terengah itu.


Dan ketika aliran panas itu melebur bersama, keduanya mengerang keras, mencapai puncak kenikmatan itu.


"You're so great, baby. Thank you ", Kenan berikan kecupan lembut di kening berpeluh itu.