BLIND DATE

BLIND DATE
Extra Part 1



Sejak sukses menjadi penulis biografi Sofyan Putra, Sasmaya kembali ditunjuk dan telah merampungkan satu buku biografi milik salah satu mantan pejabat yang pernah duduk di lembaga eksekutif.


Terbilang sukses. Kini Sasmaya mencoba lagi untuk menulis buku biografi milik salah satu jurnalis yang terkenal saat ini. Kali ini ia tidak ditunjuk oleh siapa pun. Melainkan karena keinginannya sendiri. Berkat pertemanannya hampir dua tahun terakhir dengan sang jurnalis.


Awal perkenalan yang unik. Tidak akan terlupa. Dan tentunya sangat berkesan.


Ancol.


Ya ...kala itu ia pergi ke Ancol sendirian untuk melepaskan beban yang menumpat dadanya. Menyangkut pernikahannya yang harus gagal.


Setelah menaiki wahana ekstrem, ia mual hebat dan akhirnya muntah. Sebuah tangan dengan minyak kayu putih di genggaman menawarkan bantuan. Ia menengadah sambil membekap mulutnya. Orang itu menukas, “Pakailah, mungkin akan sedikit meringankan sakitmu,” ujarnya.


Ia tersenyum. Menerima botol minyak kayu putih yang juga terbiasa dipakainya ketika ia merasakan sakit perut, sakit kepala bahkan digigit serangga. Ia membalurkan minyak itu ke perutnya. Kemudian membauinya dalam-dalam.


Sayangnya, saat perutnya merasakan lebih baik. Dan ia berniat mengembalikan minyak tersebut, orang itu seperti menghilang. Padahal ia juga belum mengucapkan terima kasih. Sasmaya tetap berusaha mencari. Namun hasilnya tetap sama.


Pertemuan berikutnya sepertinya semesta mengabulkan harapannya. Ketika ia tengah janji temu dengan narasumber utamanya untuk melengkapi buku biografi keduanya. Waktu itu sore hari. Di pinggir pantai yang masih dalam kawasan yang sama ketika pertemuan pertama.


Beruntung bertepatan dengan wawancara bersama narasumbernya selesai. Sepasang indra penglihatannya tak sengaja menangkap seseorang yang selama ini dicarinya. Dan ia teringat jika minyak penolongnya waktu itu masih tersimpan dan terbawa dalam tasnya ke mana pun pergi. Karena ia merasa hutang budi dan tentu saja berharap bertemu lagi dengan orang tersebut.


Orang itu sepertinya tengah menemani anak-anaknya yang sedang bermain di pantai. Dia duduk di kursi menghadap matahari yang mulai condong ke barat.


Sasmaya mendekati orang tersebut, “Mbak, masih ingat gak?” Ia mengangkat botol berwarna hijau dan tersenyum.


Wanita itu bangkit dari duduknya di sun lounger. “Ya. Kamu ....” Ia membalas dengan tersenyum. Sebenarnya ia sendiri telah lupa. Tapi berhubung orang ini menyodorkan sesuatu yang sangat familier baginya, ia jadi teringat kembali. “Padahal, kamu gak perlu mengembalikannya. Aku ikhlas memberikannya padamu.”


“Aku makasih banget waktu itu, Mbak menolong dengan ini—minyak kayu putih—perutku langsung sembuh dan aku bisa melanjutkan naik wahana lainnya.”


“Hah ... kamu masih bisa naik wahana lain?!” tanya wanita itu tak percaya. Lantas menggeleng.


Tersenyum dan mengangguk, ia mengulurkan tangan. “O, ya ... aku Sasmaya.”


“Kirei. Panggil aja Kirei,” sambut wanita tersebut.


Bermula dari itulah ia dan Kirei berteman.


Sama-sama terjun membidangi sebuah media. Mungkin yang menjadikan kedekatan hubungan mereka kian erat. Ya, meski ia berkecimpung dalam media cetak. Sementara Kirei dalam media elektronik.


Jujur, ia kagum terhadap jalan cerita kehidupan Kirei. Dari perjalanan kariernya hingga personal life.


Berawal dari pertemanan dan kekaguman itulah, akhirnya ia bertekad untuk membuat buku biografi dari Kirei Fitriya Tsabita. Seorang jurnalis senior di tanah air. Dan sekarang masih aktif sebagai produser sebuah program berita di salah satu televisi nasional.


“Hei, kok belum tidur?” Pintu kamar terbuka. Gama muncul dari sana dan dengan pertanyaan yang mencemaskan seperti biasa.


“Aku belum mengantuk,” sanggahnya. “Papa udah tidur?” Ia menutup beranda layar laptop yang tadi menampilkan naskah tulisannya. Kini beranda laptop itu berubah wajah. Menampilkan foto pernikahan mereka.


Gama mencium kepalanya. “Sudah. Ingat ini,” ia mengusap perut istrinya. Perut yang sudah tampak membuncit. Menurut dokter kehamilan Sasmaya telah memasuki usia 15 minggu. Fase rawan telah terlewati. Namun mereka harus tetap hati-hati.


“Ingat pesan dokter,” Gama mengingatkan lagi. Kemudian menutup laptop. “Kamu harus bisa mengontrol kesibukanmu,” protesnya. Mengingatkan pesan dokter kandungan yang menangani mereka.


Walau tidak ada masalah dalam tubuh keduanya. Namun nyatanya Tuhan tidak langsung memberi kepercayaan untuk mereka segera memiliki anak. Hingga keduanya memutuskan untuk mengikuti program kehamilan.


“Iya, aku tahu,” tangkasnya. “Ngobrolin apa tadi sama Papa?” Gama menyiapkan bantal untuknya. Lalu menyelimutinya hingga perut. Setelah ia merebahkan tubuhnya. Suaminya itu berjalan menuju kamar mandi melepas kaosnya.


“Mau bikin acara tasyakuran anak kita. Kata Papa biar Widiya yang mengatur semua. Kamu tinggal duduk dan menyambut tamu yang datang,” ujar Gama.


Kaca tembus pandang itu menampilkan Gama melepas kaos dan celananya. Menggosok gigi dan mencuci muka.


Gama keluar dari kamar mandi. Dibarengi dengan padamnya lampu yang menerangi ruangan penuh teknologi tersebut.


“Widiya pakai EO. Mana mungkin repot,” ucap Gama. Dengan hanya memakai brief keluar dari kamar mandi, ia mengenakan kaos santai dan celana pendek di depan wardrobe. Lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Sasmaya.


Ia mendengus. Bibirnya mengerucut.


“Jangan banyak protes,” Gama mendaratkan ciuman di bibirnya. Memeluknya.


“Mas, besok sore aku mau ketemu Mbak Kirei.” Biarpun ibu empat anak itu memintanya untuk memanggil nama saja, nyatanya ia tetap senang dan lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan ‘Mbak’.


“Mau aku temani?”


Sasmaya menggeleng.


...☆☆...


“Nika ...,” sapa Sasmaya pada anak perempuan yang baru datang dengan ibunya. Ia berdiri menyambut kedatangan Kirei. Keduanya saling menempelkan pipi kanan-kiri bergantian.


“Sorry, aku bawa Danika. Soalnya dia gak mau ditinggal,” ujar Kirei duduk di sebelahnya. Sementara Danika menunjuk ke pagar. Melihat anak perempuan lain yang tengah memainkan gelembung air sabun di sana. “Boleh, tapi jangan jauh-jauh,” pesannya pada Danika. Anak perempuan dengan rambut kucir ekor kuda itu mengangguk.


“Dia mirip banget sama aku,” tukas Kirei. “Benar-benar copy-an aku deh.”


Ia terkekeh. “Rempong, ya, Mbak.”


“Ya, begitulah ....” Kirei menghela. Mengalihkan pandangannya ke matahari yang bersembunyi di balik awan. Entah awan atau kabut. Yang jelas selama di Jakarta, ia jarang sekali menemui bola raksasa dunia itu tenggelam sempurna. Namun  demikian ia masih bisa menikmati golden hour yang terbentang luas.


Kirei mulai menceritakan lanjutan kisah hidupnya saat ditinggal Danang—suaminya—bertugas di Papua. Hingga akhirnya tinggal di Jakarta dan sekarang menjadi produser berita.


Ia merekam semua kejadian-kejadian yang diungkap. Sesekali mencoretkan ke buku pada poin-poin yang menurutnya penting.


Hampir 60 menit kisah perjalanan seorang Kirei diceritakan. Seru. Menarik. Dan ada perjalanan dari setiap potongan-potongan kisah hidup yang harus diketahui banyak orang.


Ya, ia merasa keputusannya tepat. Untuk membukukan kisah sang jurnalis ini.


“Mbak Kirei suka sekali dusk and dawn.”


“Gak tahu, ya, Sas. Aku paling suka suasana seperti ini. Tenang. Teduh. Hangat. Dan waktu yang tepat untuk refleksi,” sahut Kirei.


“Ya, aku setuju.” Ia ikut merebahkan punggung ke sandaran kursi. Melihat golden hour yang seperti lukisan alam di hadapannya. Ia suka travelling menikmati alam. Tetapi ternyata ada yang terlupa, bahwa suasana seperti ini bagian travelling yang tak kalah luar biasa bisa dinikmati.


Suasana dering ponselnya membuatnya beringsut dan mengambil benda itu dari dalam tas. “Maaf, Mbak ....”


“Santai aja kali, Sas ...,” tukas Kirei. Ikut bangkit dan menghampiri Danika yang masih asyik saja dengan teman barunya.


“Ya, Mas.  Udah di depan? Ya udah kalau gitu tunggu aja di situ. Aku udah selesai. Aku ke sana sekarang.” Ia kemudian membereskan peralatannya. Mendekati Kirei dan Danika. “Mbak sama siapa pulangnya? Bareng aja, yuk,” ajaknya.


“Gak usah, Sas. Aku tadi bawa mobil sendiri. Lagian ini juga mau pulang. Yuk!”


Mereka memutuskan untuk keluar bersama-sama menuju area parkir di depan resto. Saling berpamitan. Lantas berpisah.