
Gilbert yang mendengar suara Selina, lalu memelankan laju mobilnya. Selina yang di tatap dari spion mobil menjadi sedikit salah tingkah. Jantungnya berdebar sangat kencang. Masih teringat bagaimana Gilbert menciumnya. Wajahnya seketika berubah merah.
Gilbert yang melihat reaksi Selina, tersenyum sendiri. Tapi dia lalu memasang wajah datarnya ketika mendengar pak Yusuf berkomat Kamit.
Pak Yusuf yang merasa sudah aman, dengan segera menarik nafas dalam-dalam. Lalu dia melap keringatnya dan dengan perasaan bersalah dia berkata "ma..maaf pak Gilbert jika tadi saya salah dalam berucap."
Gilbert yang mendengar permintaan maaf pak Yusuf hanya diam tidak menjawab. Mereka bertiga sepanjang perjalanan hanya diam tanpa suara. Tidak lama kemudian mereka telah sampai ke perusahaan.
Ray dan Aera sudah tiba duluan. Security yang melihat mobil CEO telah tiba dengan segera mengambil posisi. Security lalu melihat, ternyata yang membawa kendaraan bukanlah pak Gilbert, akan tetapi CEO mereka sendiri. Semakin heran lah mereka, karena tadi setahu dia pak Gilbert yang membawa kendaraan.
Dia melihat CEO nya turun dari kursi kemudi, lalu Ray membukakan pintu mobil disebelahnya. Mereka penasaran siapa wanita di sebelah Ray. Mereka menerka itu pasti istri CEO mereka. Karena kabar terbaru yang mereka dengar kalau Ray baru saja menikah. Mereka penasaran bagaimana rupa istri atasan mereka.
Terkejutnya mereka, ketika yang turun dari kursi sebelah Ray adalah Aera. Mereka melihat begitu manisnya Ray memperlakukan Aera. Bukan seperti hubungan atasan dan karyawan, tapi lebih tepat seperti sepasang kekasih.
"Selamat datang pak, selamat datang mba" Kata sekuriti tersebut dengan sopan. Dia takut salah memanggil Aera, jadi dia memanggilnya dengan sebutan mba.
Ray yang disapa seperti itu tetap jalan tanpa melihat kiri kanan dengan wajah dinginnya. Sedangkan Aera yang di sapa dengan segera tersenyum ramah dan membalas salam dengan anggukan.
Ray segera menggandeng mesra tangan Aera masuk ke dalam perusahaan. Sekuriti yang melihat, merasa sangat yakin jika Aera ada hubungan khusus dengan CEO mereka. Mereka berdua berjalan menuju lift. Sebelum masuk ke dalam lift, Ray berkata kepada Aera. "Aku tidak ingin ada yang membuat istriku kepikiran. Jadi aku akan mengumumkan kepada seluruh pekerja, bahwa kamu istriku.”
Aera yang di gandeng oleh Ray kemudian menghentikan langkahnya. Lalu dia berkata ”kak Ray, tenang saja. Aera bisa jaga diri. Tidak usah dulu kak Ray memberi tahu para karyawan. Tidak akan ada yang menyakit Aera. Aera pasti akan segera melapor ke kak Ray, jika ada yang menyakiti Aera."
"Kak Ray duluan saja, Aera akan menunggu Selina sebentar." Tolak Aera sambil tersenyum manis kepada Ray.
Ray lalu naik lift khusus CEO meninggalkan Aera yang sedang menunggu di lobi. Tidak lama kemudian Selina, pak Yusuf serta Gilbert masuk ke dalam perusahaan.
Ketika melihat Aera di lobi sendirian segera Gilbert berkata "nona Aera, dimana pak Ray?"
"Tadi pak Ray sudah saya suruh duluan kembali ke atas. Karena saya mau bareng dengan Selina." Jawab Aera. "Kamu kok lama banget si sel, pegel kaki aku nunggu?" Sambung Aera bertanya kepada Selina. Selina yang ditanya hanya bisa tersenyum "nanti aku cerita di atas, kita naik yuk.. aku gak mau sampai ponakan aku kecapean." Jawab Selina sambil mengelus perut Aera yang masih rata.
Gilbert segera berkata "nona saya pamit dulu. Jika perlu sesuatu segera hubungi saya." Lalu dia segera pergi ke arah lift khusus ruangan CEO.
Selina yang menatap punggung Gilbert yang terburu-buru, dikagetkan oleh Aera yang tampak tahu, sahabatnya ada sesuatu yang belum diceritakan.
Pak Yusuf yang dari tadi bersama mereka melihat waktu istirahat telah selesai "ayo kita kembali bekerja, dan kamu Aera jangan terlalu lelah. Jika ingin makan sesuatu katakan kepada bapak, bapak sangat pengalaman menghadapi ibu hamil." Kata pak Yusuf dengan bijaknya,
Mereka bertiga lalu kembali ke ruang kerja mereka. Aera dan Selina lalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ketika sudah selesai membuat laporan, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Satu jam lagi mereka bisa pulang.
Aera segera mendekati Selina ”sel, kamu ada hubungan apa sama pak Gilbert?"
Sebelum berkata lagi, Selina lalu melihat kiri kanan lalu membisikkan sesuatu ke telinga Aera ”gini Ra, kemarin aku di cium sama pak Gilbert?”
Aera yang mendengar kata-kata polos dari sahabatnya lalu sedikit berteriak "APA????"
Semua orang di ruangan itu menatap Aera dan selina, karena kaget atas teriakan Aera. Selina lalu tersenyum dan berkata kepada yang lain "tidak ada apa-apa."
Selina yang terkejut atas reaksi Aera segera berkata "ssssttttt.. diam dikit napa?"
"Maaf, kan aku kaget aja, kok cepat banget tindakan Gilbert ke kamu. Terus jadi kalian sudah punya sebuah hubungan donk?" Aera bertanya kembali sambil memandang Selina dengan mata bulatnya.
"Kami berdua belum memilki hubungan, Ra. Makanya aku juga bingung ini." Kata Selina dengan polosnya.
"APA!!!" Untuk kedua kalinya Aera berteriak kepada Selina, semua mata memandang mereka lagi. "Ayo sekarang kita datang ke sana. Aku akan beri dia pelajaran. Beraninya sahabat ku di giniin." Kata Aera dengan wajah penuh amarah.
Aera sangat mengenal Selina, dia adalah gadis polos. Walaupun terlihat galak dan jutek tapi dia sebenarnya sangat polos dan lugu. Dia sama seperti Aera tidak pernah memiliki kekasih. Jadi ketika tahu Selina dapat perlakuan dari Gilbert. Betapa marahnya dia.
"Sudah, Ra. Biar aku selesaikan sendiri."kata Selina membujuk supaya amarah Aera mereda.
"Tidak bisa, sekarang juga aku akan ke sana." Belum sempat Selina menghentikan langkahnya, Aera sudah pergi secepat kilat menuju lantai ruang CEO.
Dia terlihat penuh amarah dan berapi-api, mungkin karena hormon kehamilan membuat dia lebih cepat naik emosinya.
Segera dia membuka pintu ruang CEO, ketika pintu terbuka dia melihat Ray sedang berbicara dengan gilbert.
Tanpa ba-bi-bu, Aera segera melayangkan tendangan ke tubuh Gilbert yang sedang berdiri bersama Ray, ketika melihat kedatangan Aera.
Ray yang melihat istrinya menghajar Gilbert segera memeluk istrinya, lalu bertanya "ada apa sayang? Kenapa datang dengan emosi?"
Gilbert yang tanpa persiapan di hajar oleh Aera hanya bisa terpental ke belakang. Untungnya di belakangnya sofa. Jadi dia jatuh di atas sofa.
Aera melirik Gilbert dengan penuh amarah, berbalik kepada Ray segera dengan nada manjanya berkata "kak Ray, Gilbert sudah mencium Selina, tapi dia malah tidak bertanggung jawab pada selina. Kasihan dia merasa dipermainkan. Padahal itu adalah ciuman pertama Selina yang sangat berharga. Malah di curi oleh dia." dengan penuh emosi, Aera menunjuk Gilbert.
Ray yang mendengar penjelasan dari Aera tanpa sadar dia tertawa terbahak-bahak. "Gilbert apa benar seperti itu?" Ray berkata sambil menghapus air matanya karena tertawa.
Happy reading all ❤️❤️