BLIND DATE

BLIND DATE
57. Teori Good Leader



...57. Teori Good Leader...


Kelopak matanya membuka seketika mendengar  Gama mengucap kata yang baru kali ini didengarnya. Menatap laki-laki itu tanpa berkedip.


Gama tersenyum. “Sudah tahu alasannya?”


Ia menelan ludah tanpa mengalihkan pandangan.


“Aku tidak terima kamu diremehkan ... direndahkan ... dihina, disudutkan ... juga disakiti.”


Perlahan ia menegakkan punggung. Menunduk. Gama meraih tangannya yang berada di atas pangkuan saling meremat. Mengusap-usapnya lembut.


“Di GPP, Weka kinerjanya cukup bagus. Tapi dia lupa, bagaimana menjadi seorang good leader. Pemimpin itu harus dimulai dari dia bisa memimpin dalam skala kecil seperti pada dirinya sendiri, istrinya, keluarganya. Kemudian skala lebih luas, anggota atau bawahan di lingkungan kerjanya.


“Ada 2 dimensi teori manajemen seorang pemimpin. Yang pertama dimensi kepedulian terhadap tugas. Lalu kedua dimensi kepedulian terhadap orang.


“Tentu, bukan hanya itu saja kriteria seorang good leader. Dia juga harus punya visi, keberanian, integritas, kerendahan hati, fokus, punya perencanaan strategis dan bisa bekerja sama dengan baik.


“Menegur bukan hanya dengan lisan maupun tulisan. Mutasi juga salah satu bentuk teguran dalam suatu perusahaan atau organisasi.”


Sasmaya mulai mengerti.


“Ada variabel yang mempengaruhi seseorang menjadi good leader. Terutama karena karakter bawaan atau sudah ditakdirkan menjadi seorang pemimpin. Dan tanpa kita sadari keluargalah yang menjadi variabel signifikan meski banyak orang yang mengabaikan.” Itu yang terjadi pada Gama. Ia mewarisi gen dari papa. Ditambah hidup di lingkup keluarga yang mendukung. Yang baik support system-nya untuk menjadikannya seorang pemimpin. “Tapi dalam perkembangannya, untuk mendapatkan kualitas kepemimpinan semua bisa dipelajari dengan latihan tepat.”


Ia tengadah. Mengangguk dan menarik bibirnya.


“Sekarang kita makan. Aku sudah lapar. Perkuliahan 2 kali 15 menit hari ini sudah selesai,” kelakar laki-laki itu seraya tersenyum bangkit.


Ia mencebik. Lantas ikut berdiri mengikuti Gama yang terlebih dahulu membukakan pintu untuknya.


“Kita makan di resto hotel,” lanjut Gama.


...***...


Jika di Zoon mungkin sebagian besar karyawan di sana mengetahui tentang hubungannya dengan Gama. Karena acara lamaran kemarin diselenggarakan di sini. Jadi, sangat wajar saat berpapasan dengan beberapa karyawan hotel ia disapa ramah.


Memilih ruangan yang privat seorang pelayan sigap menyiapkan makan siang untuk mereka.


Menyantap makan siang diselangi dengan perbincangan ringan membuatnya tak menyadari jika dirinya harus segera kembali ke kantor.


“Biar sopir kantor yang mengantarkanmu,” tukas Gama. Melihatnya yang tampak buru-buru menghabiskan segelas puding. Sebagai hidangan penutup.


Ia mengangkat tangan, menyergah, “Takut terlambat. Aku naik ojek saja,” tampiknya.


Laki-laki itu menggeleng. “Tunggu di sini sebentar,” lantas pergi menuju meja reservasi resto. Entah berbicara apa dengan karyawan di sana. Ia memilih menunggu di dekat pintu resto.


“Sasmaya.” Seseorang terdengar menyebut namanya dari arah belakang. Ia pun menoleh.


“Estu?!” Sedikit terkejut sebab tidak menyangka bisa bertemu dengan pria yang pernah dikencaninya. Pria rekomendasi sang mama.


Estu tersenyum. “Akhirnya bisa ketemu kamu lagi. Padahal beberapa kali mampir ke toko, tanya kabar kamu dan titip salam lewat Tante Ranti. Berharap kita bisa kencan lagi.”


Ia menatap pria penyuka oyster tersebut.


“Sorry tentang kencan pertama kita dulu. Aku gak tahu kalau kamu alergi makan oyster. Rasanya aku ingin memperbaiki pertemuan kita yang hancur gara-gara aku.”


“Gak apa-apa kok. Namanya gak tahu.”


Estu terkekeh ringan, “Well ... kapan kamu punya waktu luang, Sas. Kali ini kamu yang nentuin restonya di mana. Menunya apa... semua kamu yang pilih.”


“Pilih apa?” Gama datang ikut menimpali percakapan. “Gama.” Mengulurkan tangannya pada Estu.


Estu ramah menyambutnya, “Estu. Saya mau mengajak Sasmaya pergi.”


“Pergi?” tanya Gama menatap wanita di sebelahnya.


“Maksudnya—”


“Ya,” tandas Estu cepat. “Memperbaiki pertemuan.”


“Memperbaiki pertemuan?” Kening Gama berkerut.


“E,”


“Ya, kami dulu pernah kencan ... kencan pertama yang dibilang sedikit gagal." Mengingat itu Estu merasa bersalah. "Tapi kencan kedua, aku rasa Sasmaya tidak akan kecewa dan tidak akan mengecewakan,” tukas Estu mantap.


“Estu, aku—”


Gama menukas datar, “Bukannya kamu buru-buru?” tatapnya pada Sasmaya yang terlihat bingung menjelaskan. “Sopir sudah menunggu di depan lobi,” imbuhnya. Menarik pinggang Sasmaya mengajaknya untuk bergegas pergi.


“O, ya.” Gama terhenti sejenak. “Maaf, saya harus mengantarkan calon istri saya pulang ke kantor. Mungkin lain kali perbaikan pertemuannya.” Melempar senyum pada Estu. Sementara Sasmaya mengangguk samar sambil menarik sudut bibirnya kaku.


“Dan, kamu wakili saya menghadiri travel agents gathering. Jam 4 sore nanti.” Gama menukas lewat sambungan telepon. “Jangan lupa antar berkas kerja sama dengan online travel agents ke rumah. Saya akan pelajari dulu.”


Bukannya semakin nyaman, justru kehadiran Gama di ruangannya membuatnya sulit fokus. Bagaimana seharusnya ia butuh ruangan yang tenang dan tentunya bebas dari laki-laki itu. Sebab dalam beberapa waktu dering ponsel Gama menggema. Membuatnya mengangkat kepala.


Laki-laki itu tersenyum lalu menerima telepon. “Tidak semua online travel agents. Pilih yang benar-benar punya record bagus. Saya akan pelajari dulu. Kita memang membutuhkan mereka. Hubungan kita dengan mereka seperti simbiosme mutualisme. Tapi, kita juga harus memprioritaskan penjualan direct booking oleh website Zoon Hotel. Mereka mengambil keuntungan dari kita bisa mencapai 13-20%. Apalagi online travel agents milik asing yang selama ini tidak bayar pajak. Dengan alasan tidak memiliki badan usaha yang tetap di Indonesia.” Gama berkeluh kesah. “Kita tetap dukung online travel agents terutama yang berasal dari lokal. Kita support mereka.”


Entah Gama berbicara pada siapa. Lantas menyimpan telepon ke atas meja. Seusai mengakhiri pembicaraan.


Belum juga 10 menit berlalu, dering ponsel Gama kembali nyaring. “Manajer Zoon di Bandung,” terang Gama. Saat tatapannya tepat pada laki-laki itu.


“Saya tegaskan Zoon tidak membuka kerja sama dengan VHO (Virtual Hotel Operator).” Maraknya fenomena virtual hotel operator tak terbantahkan. Di samping online travel agents. Meskipun menaikkan tingkat okupansi hotel, tapi juga menurunkan keuntungan pihak hotel. Karena keuntungan hotel harus dibagi dengan pihak lain.


Saat sambungan telepon itu mati. Laki-laki itu langsung menyimpan ponselnya kembali ke meja. Dengan sedikit kesal.


Dalam beberapa detik bola matanya bersitatap dengan Gama. Ponsel laki-laki itu lagi-lagi memekik nyaring. Gama mengulas senyum, “Dan, saya lagi dinas di luar. Bisa gak tahan dulu jangan menghubungi saya dalam 2 jam ke depan. Kecuali absolutely crucial ....” Mematikan sambungan telepon sepihak. Mengangkat ponsel. Tersenyum memperlihatkan giginya. Lantas menyimpan ponsel di atas meja. “Kita bebas dari gangguan,” pungkasnya.


Ia hanya mengedipkan mata. Menarik napas dan mengeluarkan perlahan. Berusaha kembali fokus pada pekerjaannya.


...***...


“Sas, Mas Gama sama kamu gak?” Widiya meneleponnya.


Ia menoleh pada laki-laki di sebelahnya yang sedang mengemudi. “Iya, Mbak.”


“Butik Anne konfirmasi baju untuk akad Mas Gama udah selesai bareng kebaya punya kamu. Cuma Mas Gama katanya gak pernah datang saat ditunggu untuk fitting. Pihak butik juga menawarkan untuk fitting di kantor Zoon. Tapi Dani bilang, Mas Gama sibuk. Belum punya waktu.”


Sasmaya yang mengerti arah pembicaraan Widiya menyahut, “Nanti aku akan bujuk dia.”


“Oke, Sas. Kayaknya memang kamu yang harus membujuknya.”


Ia menelengkan kepala ke Gama. “Mas Gama yakin, kita akan menikah 2 minggu lagi?” tanyanya. Sementara tidak ada cuti panjang buat keduanya. Paling hanya weekend ditambah 3 hari jatah cuti menikah. Terlebih baginya yang memang mendapat tugas baru menggantikan Pak Weka sementara. Tidak mungkin meninggalkan kantor berlama-lama.


“Kenapa?”


Pandangannya kembali ke depan. “Buat fitting baju saja gak ada waktu. Kalau kamu masih sibuk kita bisa mengundurkannya sampai dengan waktu yang tepat,” usulnya.


Gama diam.


“Yang menikah, kan, kita. Kalau kita belum siap, kita bisa bicarakan lagi sama papa, mama, eyang dan—”


“Aku siap, Sas.” Gama menimpali sebelum ucapannya selesai.


“Tapi Mas Gama sibuk. Lebih baik menundanya daripada memaksa mengikuti kemauan mereka.” Pun, ia sendiri juga merasa punya waktu yang sedikit. Mepet. Dan tidak bisa mengurus pernikahannya sendiri. Biarpun orang-orang terdekatnya memberikan support yang begitu besar. Namun ia merasa ada sedikit ganjalan yang membuatnya tidak terlalu yakin.


“Suruh pihak butik ke kantor besok,” tangkas Gama.


“Kamu yakin?”


Laki-laki itu mengangguk.


Tiba di rumahnya. Ia dan Gama tidak langsung keluar dari mobil. Saling diam beberapa saat. Seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Waktu aku di butik Anne, mereka tahunya kamu dan Elena menikah. Papa dan mama begitu sayang sama Mas Gama.” Mereka melindungi nama baik putranya. Bahkan mengorbankan nama baik sendiri.


Gama diam tak menyahut.


“Pemilik butik bilang mama, maksud aku, Ibu Heti sempat memesan baju pernikahan di butik tempat yang sama. Apa itu ... dia?” Hati-hati ia membicarakan hal ini. Tidak ingin membuat Gama tersinggung. Namun di sisi lain ingin meyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu bukan seperti apa yang banyak orang ketahui.


Laki-laki itu masih diam.


“Maaf ...,” cicitnya. “Jika kamu tidak suka mendengarnya.”


Gama menukas, “Sas, kita sudah membicarakan ini. Aku pernah gagal menikah. Pernah membuat papa dan mama kecewa. Kali ini aku ingin bahagiakan mereka. Ingin menebus kesalahanku.”


Ia bergeser sedikit menghadap Gama. Mengusap lengan laki-laki itu. Menarik sudut bibirnya.


Gama meraih tangannya, mencium perlahan. Lalu mengusap-usapkannya di pipi. “Bantu aku mewujudkannya.”