BLIND DATE

BLIND DATE
59. Togetherness



...59. Togetherness...


Karena barang bawaan yang lumayan banyak, Gama menyuruh sopir hotel untuk mengendarai mobilnya terlebih dahulu menuju Kemuning. Satu hari sebelum keberangkatannya bersama Sasmaya. Ia juga mempercayakan Dani untuk mengawalnya.


“Bagaimana persiapan di sana?” tanya Sofyan. Sesaat setelah mobil hitam berpelat Jakarta itu meninggalkan kediamannya.


“Sudah beres, Pa,” sahutnya.


Sofyan menepuk pundaknya. “Yakinlah ... ini yang terbaik.” Berlalu meninggalkannya dengan seutas senyum.


Ia menarik sudut bibirnya samar. Mengambil ponsel yang tersimpan di saku celana.


“Vi, apa yang harus aku lakukan? Semakin mendekati kesini, agresi itu semakin nyata.”


“Fokuskan ingatan pada hal-hal yang menyenangkan, membahagiakan dan pikiran yang positif. Di mana Sasmaya-lah objek yang membawa kebahagiaan itu. Yakinlah ... jika kamu bersamanya kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang berkali lipat,” sahut Lyvia.


Hening menjeda. Ia berusaha mengingat kebersamaannya saat di Amsterdam bersama Sasmaya.


“Sekarang jawablah dengan tenang. Berapa skor dengan persiapan pernikahanmu sekarang?” tanya Lyvia.


“10.”


“Lalu, kamu sudah mencoba baju pernikahannya?”


“Ya.”


“How many scores?”


“30.”


Lyvia di ujung telepon menghela. “Bagaimana dengan janji nikah?”


“60.”


...***...


“Yang mana Mbak Sas?” Susi mengangkat 2 buah pakaian tidur menerawang berwarna hitam dan merah terang. Sesuai pesan dan perintah Sinta ia menjalankan tugasnya. Membuka kado dan menunjukkan secara langsung di depan sahabatnya itu. Agar Sasmaya bisa memilihnya sendiri yang mana yang akan dipakai untuk malam pertama.


Tergelitik. Ia ingin ketawa. Namun ditahannya. Mengirim pesan pada Sinta: Gila lo, ya! Gak gitu juga kali.


Bagaimanapun ia tak pernah memakai baju tidur seminim dan semenerawang tersebut.


“Kalau menurut aku ...,” asisten rumah tangganya itu mengerutkan dahi. Sambil menekan pipinya dengan telunjuk. Memberikan pendapatnya meski belum disuruh. “Yang merah,” usulnya. “Merah itu pemberani, menantang. Jadi nanti saat malam pertama Mas Gama merasa tertantang untuk ... hehe.”


“Haish, pikiranmu ke mana-mana, Sus!” serunya.


“Ya, pasti dong Mbak. Namanya juga area plus-plus ...,” cengir Susi.


“Sudah ah, aku pilih sesuai pilihanmu saja Sus. Terus yang hitam mau dikemanakan?” Disuruh memilih 1 di antara 2. Kenapa tidak sekalian dua-duanya, pikirnya. Pasti Sinta mengeluarkan uang yang lumayan menguras kantongnya. Kendati sahabatnya itu pernah berujar berjanji, jika dirinya menikah akan memberi kado yang lain, berkualitas, spesial, dan intimate.


Susi memasukkan kembali pakaian tidur berwarna hitam punya brand ternama itu ke dalam kotak. “Suruh kembalikan ke Mbak Sinta. Mau di-return ke toko.”


Ledakan tawanya menguar, “Haha ...”. Membuat Susi menatapnya heran. “Gak mau rugi dia.”


...***...


Keesokan paginya Sasmaya telah menunggu kedatangan Gama di ruang tengah untuk menjemputnya.


“Sus, koper ini biar di sini saja ya,” tunjuknya pada koper berukuran medium berwarna biru yang tergeletak di samping sofa. “Nanti kalau aku gak sempat pulang, minta tolong antarkan ke rumah Mas Gama. Lewat ojek. Atau nanti ... gampanglah siapa saja yang akan jemput ke sini. Yang penting ini sudah aku persiapkan.”


“Memangnya Mbak Sas dari Kemuning gak pulang dulu ke sini?” tanya Susi.


“Barangkali Mas Gama langsung mengajak aku ke rumahnya, Sus. Antisipasi saja.”


Susi menyergah, “Beres Mbak.”


Suara klakson mobil terdengar. Ia bergegas keluar seraya berucap, “Titip rumah ya, Sus.”


Susi mengekorinya sampai teras. “Hati-hati, Mbak. Semoga semua dilancarkan.”


Sasmaya melambaikan tangan lewat kaca jendela yang setengah terbuka. Mengulas senyum sebelum mobil yang membawanya pergi meninggalkan kediamannya.


“Gak ada yang tertinggal?” tanya Gama yang duduk di sebelahnya.


Ia menggeleng. “Insya Allah gak ada.”


“Pak, langsung ke bandara,” titah laki-laki itu pada sopirnya.


“Dani sudah sampai?”


“Sudah. Satu jam yang lalu dia kasih kabar,” tukas Gama.


Ia manggut-manggut. “Papa sama yang lainnya bagaimana?”


“Rencana nanti siang.”


Perjalanan ke bandara berjalan lancar. Tiba di sana tepat waktu. Mereka langsung masuk dan menunggu di ruang tunggu yang berada dengan gate keberangkatan setelah mendapat boarding pass dari loket pada saat check in.


“Aku sebenarnya agak ragu untuk mengikuti seleksi editor in chief GPP. Dari semua kandidat hanya aku yang berpendidikan S1,” ungkapnya. Kemarin ia sempat mendengar  siapa saja yang telah lolos seleksi tahap pertama. Yaitu seleksi administrasi dan hanya ia sendiri yang hanya menempuh pendidikan S1.


“Apa syarat pendidikannya?”


“Minimal S1.”


“See ... artinya kamu sudah memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan,” tegas Gama.


“Iya, sih. Hanya saja—”


“Apa lagi yang kamu ragukan? Itu bukan kelemahan. Bukan kekurangan.  Insecure yang kamu rasakan karena kurangnya percaya diri. Semua kualifikasi kamu memenuhi. Bahkan kamu punya kelebihan yang tidak dipunyai kandidat lainnya,” papar laki-laki itu. “Kamu menguasai editorial di GPP,” lanjutnya. “Kalau kamu minder soal pendidikan, itu bukan masalah besar. Setelah ini kamu bisa melanjutkan sekolah. Tapi ingat, tujuan kamu sekolah untuk apa? Kalau hanya ingin berstatus lulusan S2 percuma. Buang waktu dan uang.”


Bagaimana dengan staf yang posisi di bawahnya lebih tinggi pendidikannya dibandingkan dirinya?


“Sas,” laki-laki itu meraih tangannya. “Pendidikan memang penting dalam mencapai posisi di suatu pekerjaan. Tapi bukan faktor satu-satunya yang menunjang karier. Karena pendidikan tinggi tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan skill yang mumpuni.”


Gama menjelaskan panjang lebar. Bahkan menceritakan pengalamannya semasa mencari kandidat yang menduduki posisi penting di Hotel Zoon. Nyatanya dari semua kandidat, hanya sedikit yang punya pendidikan sekaligus skill yang sesuai dibutuhkan.


Tersebutlah juga laki-laki itu mengambil pendidikan lanjutan terbilang terlambat. Saat teman-temannya atau bahkan staf bawahannya sudah menyandang S2 bahkan S3.


Akan tetapi Gama tidak menyesal. Justru bangga dengan apa yang telah dilalui dan dicapainya. Di saat mereka—teman-temannya tengah duduk di kelas menerima materi—ia sudah mempraktikkan terlebih dahulu. Menggali pengalaman, menghadapi masalah. Lalu menemukan solusinya.


Ya, Gama telah menempuh pendidikan S2-nya di University van Amsterdam. Saat usianya 29 tahun.


 “Sas,” laki-laki itu menatapnya.


Ia juga menatap Gama.


...***...


Makan siang di resto Ndoro Dongker. Lalu berlanjut menuju Banyu Mili. Yang tidak begitu jauh dari resto pionir di daerah Kemuning tersebut.


Tiba di sana semua persiapan sepertinya telah rampung. Ia dan keluarga besarnya sengaja ditempatkan di area Banyu Mili bagian belakang. Yang terpisah dari area keluarga Gama yang menempati bagian depan.


“Sas,” Gama mengantarkannya hingga depan kamarnya. “Malam ini terakhir kita bertemu. Aku berharap bisa melihatmu.”


Ia tersenyum. “Hanya 2 hari,” bisiknya pada Gama. “Nanti malam aku ikut dinner bareng. See you ....” Mencium pipi laki-laki itu sekilas disertai kerlingan sedikit nakal.


Gama terkekeh ringan. Ternyata calon istrinya berani menunjukkan kegenitannya. Kali pertama. Ah, ralat ... saat di houseboat bahkan lebih dari ini. Ia mengulum senyum. Melihat wanita yang dicintainya membuka pintu hingga pintu dari kayu itu menenggelamkan keberadaannya.


Sementara Sasmaya memasuki kamar yang akan ditempatinya dalam beberapa hari sebelum mereka resmi menjadi pasangan suami-istri. Tentu saja kamar pengantin telah disiapkan dalam ruangan berbeda.


Langkahnya terus menuju teras belakang. Setelah melewati sofa, tempat tidur dan toilet.


Tatapannya begitu takjub. Sebuah venue untuk acara siraman telah disiapkan sedemikian rupa. Dadanya berdesir. Penantian panjangnya akhirnya akan terlaksana. Yaitu menikah.


Belum sempat melihat bagaimana venue untuk acara inti yaitu prosesi ijab kabul. Perkiraannya pasti melebihi ini. Bibirnya refleks tertarik dalam. Hatinya diselimuti kebahagiaan.


“Sas,” Ranti menepuk bahunya dari belakang. Membuat bibirnya kembali datar. Menoleh pada mama.


“Mama tidur di mana?” tanyanya.


Ranti menunjuk salah satu bangunan di samping kirinya. “Eyang di dalam. Kamu gak menemuinya dulu?”


“Habis ini, Ma. Terus Papa di mana?”


Ranti kembali menunjuk bangunan yang berada di sebelah kanannya. “Tapi belum datang,” ujarnya.


“Mungkin sore.” Tadi ketika ia turun dari pesawat, papa mengabarkan baru berangkat dari rumah.


“Mama tunggu di sebelah.”


Ia mengangguk. Kembali ke dalam. Melepas sepatunya. Menggantinya dengan sandal yang telah disediakan oleh pihak resort.


Melalui pintu teras samping ia masuk dan merengkuh eyang yang duduk di sofa.


“Eyang apa kabar?” Mencium punggung tangan wanita yang mengusap-usap kepalanya dengan tangan satunya beberapa kali.


“Eyang sehat. Gimana perasaan kamu, Nduk?”


“Sas, senang, Yang. Akhirnya doa Eyang, doa Mama, Papa, Pakde-Bude, Om-Tante dan semuanya terkabulkan,” jawabnya riang. Duduk di sebelah Eyang Sulasih. Menyenderkan kepalanya pada bahu wanita tersebut. Seraya merengkuh tangan renta itu. Mengusapnya lembut.


“Terus berdoa, Sas. Meminta keberkahan dan kelancaran. Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah ini. Tapi yakinlah, semua adalah takdir. Percayakan sama yang Mahakuasa.”


“Pasti, Eyang. Sas gak akan lupa itu.”


Sedangkan Ranti yang berdiri di dekat meja bulat hanya menggelengkan kepala. Terkadang sifat kekanakan anaknya mengingatkan dirinya sewaktu kecil. Percis Sasmaya saat ini.


Malam harinya ia dan keluarga besarnya menerima undangan makan malam dari pihak Gama. Di sebuah bangunan seperti resto. Hanya saja terbuka seperti pendopo.


Memakai dress panjang. Masih saja udara malam Kemuning menembus pakaian yang dikenakannya. Sesekali ia bergidik kedinginan.


Gama yang duduk di seberang. Agak jauh darinya seperti mengerti kondisinya. Melepas blazer yang dikenakan. Lalu meminta salah satu pelayan untuk memberikannya pada Sasmaya.


Ia membalas perlakuan Gama melalui pesan: Thank you ... 🥰


Acara makan malam bersama berjalan lancar. Disertai obrolan membahas acara yang akan berlangsung hingga acara inti. Hari ikrar pernikahan.


Gama : I can’t take my eyes off you.


Balasan dari Gama membuatnya melipat bibir. Menahan senyum.


^^^Sasmaya : So touched. Semua terjadi karena kamu.^^^


Gama : Really?


^^^Sasmaya : Ya.^^^


Gama : So grateful. Malam ini pasti aku gak bisa tidur.


^^^Sasmaya : Aku temani dari sudut yang lain.^^^


Gama : 😭


“Gama ... Sasmaya, bagaimana?” tanya Sofyan.


Sontak membuat keduanya tengadah. Bagaimana apanya?


Gama menjawab diplomatis, “Terserah. Kami ikut saja, Pa.” Ia juga mengangguk-angguk seraya tersenyum.


Membuat semuanya tertawa seketika.


“Tampaknya mereka sudah gak sabar, Pa,” celetuk Affan.


Ia menoleh pada sang mama yang berada di sebelahnya.


“Makanya dengerin,” tukas mama.


Om Tirto menimpali, “Masa urusan bulan madu terserah kita?”


Lha kok jadi bulan madu?