
"I have to go, my wife is waiting ", Kenan beranjak dari duduknya.
"Where is my phone ?", katanya lagi.
Menyodorkan tangannya ke arah perempuan yang duduk menempel di sebelahnya.
"Wait a minute Ken !", perempuan itu menahan tangan Kenan. Menarik tangan lelaki itu agar kembali duduk. Kenan tidak bergeming. Perempuan itu lalu ikut beranjak dan bergelayut manja di lengannya.
"Hurry up, Cath, give me my phone !", seraya menarik tangannya yang di pegang perempuan itu.
Setelah menerima telepon tanpa nama, Kenan akhirnya keluar untuk menemui si penelepon. Yang tidak lain tidak bukan adalah Catherine, teman sekaligus mantan Dokter pribadinya.
Bukan tanpa alasan Kenan mau menemui perempuan itu. Sebenarnya Kenan malas sekali berurusan lagi dengannya. Tentu saja sejak perempuan itu berkomplot dengan Arion dan hendak menculik Adelia. Di hari pernikahannya.
Catherine bilang kalau Arion, pacar Adelia, ehhh.....bukan, mantan pacar Adelia maksudnya, datang juga ke maldives. Dan diam-diam merencanakan akan bertemu dengan istrinya. Itu salah satu alasan yang memdorong Kenan mau menemui perempuan itu.
Kenan tidak percaya begitu saja. Tadi Catherine menunjukkan foto mantan pacar Adelia itu ada di sebuah resto, tengah duduk sendiri. Katanya menunggu istrinya.
Ahh....bullshitt !
Karena sudah hampir dua jam, Kenan belum mendapatkan bukti yang dikatakan Catherine. Lelaki itu sudah terlihat sangat bosan. Kalau tidak mengingat Catherine ada seorang perempuan dan juga temannya, pasti sudah Kenan hajar dia.
"C'mon Cath, give it to me !", ulang Kenan. Meminta kembali gawainya.
Catherine hanya tersenyum kecil.
"Wait a minute Ken !
Habis punya istri jadi nggak sabaran ya
kamu ", ledeknya.
Kenan mengalihkan pandangannya ke depan sana, ke arah deburan ombak pantai di sore hari. Tangannya bersidekap.
Sementara perempuan di sebelahnya, kembali duduk dan memainkan gawainya.
"Kennn.....look !", Catherine menunjukkan gawainya ke arah Kenan. Kenan tidak peduli. Masih asyik menatap deburan ombak pantai.
"Okay....okay, I give you back your phone !", perempuan itu menyodorkan gawai Kenan.
Sejak awal bertemu di resto yang perempuan itu bilang tadi, gawai Kenan sudah di ambil alih olehnya. Alasannya ingin menjepret moment kebersamaan dengannya. Dan tetap membawa gawai itu untuk menahan Kenan agar tetap bersamanya.
"But, let me show you something !", katanya lagi. Perempuan itu meraih sebuah spy camera di depannya, mengarahkannya ke seisi area pantai.
"Look Ken, arah pukul sembilan !", katanya. Lalu menyodorkan spy camera itu ke Kenan.
Kenan segera menerimanya. Mengarahkan kameranya ke posisi yang ditunjukkan Catherine. Rahang lelaki itu mengeras. Tampak sekali lelaki itu menahan marah.
Lalu menaruh kamera itu di meja dengan sedikit kasar. Pandangannya jauh menatap ke lokasi yang baru saja di lihatnya. Agak jauh dari tempat Kenan berada sekarang.
Senyum tipis menghiasi bibir Chaterine.
Lalu mengusap lengan Kenan lembut. Lelaki itu sedikit menggeser tubuhnya.
"Kennn......Aku minta maaf okey, aku salah waktu itu ", mohonnya.
Lelaki itu masih diam tak bergeming.
"Sekarang juga. Maaf, karena kamu lihat sesuatu yang mungkin buat kamu kecewa, marah. Semua salah aku. But I have to do it cause I care about you, Ken ", kata perempuan itu panjang lebar.
Tangan Catherine hendak meraih tangan Kenan lagi, tapi lelaki itu segera menghindar.
Lalu nampak menghela nafas pelan.
"Udah berapa kali kamu bilang maaf. Aku udah maafin kamu. Tapi aku harus pergi sekarang ", dengan nada pelan.
Bagaimanapun Catherine adalah teman Kenan dulu. Meskipun sebenarnya malas berurusan dengannya lagi, tapi Kenan tak akan tega berbuat kasar pada perempuan. Kenan juga sudah melupakan kejadian waktu itu. Lagi pula istrinya juga baik-baik saja.
Tapi kejadian yang dilihatnya barusan, Kenan tidak akan menjudge sebelum tahu kebenarannya. Dari bibir istrinya sendiri.
Catherine tersenyum. Lalu spontan memeluk tubuh lelaki itu.
"Thanks Kenan, you're the best friend ", katanya.
Kenan masih mematung. Seperti tersadar segera menjauhkan tubuh perempuan itu.
"Never mind, Cath. I have to go now. Thanks for your information", ucapnya lagi.
Catherine mengangguk perlahan. Kenan mengacak puncak kepala perempuan itu.
"Take care yourself !", Kenan tersenyum. Lalu melangkahkan kaki panjangnya, meninggalkan perempuan muda yang masih menatapnya dengan sorot penuh kerinduan itu.
"Take care your wife, Ken !", gumam Catherine. Senyum jahat terukir di bibirnya.
***********
"Thanks, Ron udah bantuin aku !", ucap Adelia. Lalu kembali mengenakan jaketnya. Arion berusaha membantu, tapi Adelia segera memberi tanda kalau dia bisa melakukannya sendiri.
Lelaki yang baru saja membantu membalut lukanya itu tersenyum.
"Nggak perlu terima kasih, Del. Karena aku kamu luka kayak gini !", balasnya.
Bibir mungil itu mencebik.
"Kenapa ngomong gitu ? Ini karena aku ceroboh tadi ", balasnya.
Arion meraih tangan Adelia. Mengenggamnya lembut. Adelia segera menarik tangannya. Arion tersenyum. Lalu segera menjauhkan tangannya.
"Sebab utamanya tetap aku Del. Kalau aku nggak nyuruh kamu ke sini, kamu nggak akan terluka kan ?", ditatapnya gadis cantik itu lekat.
Sedikit serba salah, Adelia mengarahkan pandangannya ke pantai.
"Ngapain kamu ke sini ?", seraya meraih minum di depannya.
"Traveling lah Del. Masa cuma yang honeymoon yang boleh ke sini ?", seraya mengangkat sebelah alisnya.
Adelia tersenyum.
"Of course not. Tapi aneh kan ke sini sendirian ? Ato jangan-jangan sengaja buntutin aku ?", ledeknya.
Lelaki itu tergelak.
"Kalo iya, mau hajar aku ?", lelaki itu masih tergelak.
Adelia mengangkat kedua bahunya dengan bibir mencebik lucu.
"Emang sama siapa Del ? Istri juga blom punya ", Arion terkekeh..
Adelia memicingkan matanya.
"Cindy ?", tanyanya.
Lelaki itu menghela berat.
"Just forget about her !
Aku pengen nikmatin waktu sendiri ", Arion merebahkan bahunya di kursi. Tangannya bersidekap. Matanya masih menatap ke arah Adelia dalam.
Adelia menoleh, lalu memukul bahu lelaki itu. Cukup keras.
"Are you kidding, Ron. Buktinya, sekarang sama aku kan ?", katanya.
Lalu membuang pandangan ke lautan luas di depan sana.
"Itu beda, Del. Ketemu kamu bikin aku happy, you know. Apa kamu nggak ngerasa begitu ?", Arion mengedipkan sebelah matanya. Genit.
Adelia terkekeh.
"Of course, Ron. Tentu aja iya !", balasnya.
Lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah Arion.
"Okey, apa yang mau kamu tunjukkin ke aku ?", tanyanya.
"Surprise !", Arion segera meraih gawai dari saku jasnya. Menggeser duduknya agar lebih dekat dengan gadis cantik itu.
Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi mereka dari tadi. Dari balik kaca mata hitam, dengan topi lebar yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Duduk di kursi di pojok resto tak begitu jauh dari posisi keduanya sekarang. Menatap dengan pandangan penuh kemarahan.
*********
Adelia berjalan tergesa menuju kembali ke arah hotel. Ada sesuatu yang ingin segera ia tanyakan kepada suaminya.
Arion sempat menawarkan akan mengantarnya tadi, tapi Adelia dengan tegas menolak.
"No, Ron. I'll be back by myself ", katanya.
Setelah Arion menunjukkan sesuatu padanya, perasaan Adelia semakin tidak nyaman. Ada rasa panas dan sakit di sudut hatinya. Cuma foto, tapi sungguh menyakiti perasaannya.
Karena foto itu baru beberapa menit yang lalu diambil. Dengan lokasi di maldives juga. Dan bisa Adelia pastikan berada di dekat sekitar hotelnya juga.
Apa Adelia sedang cemburu sekarang ? Iya,
cemburu. Mungkin penyakit itu yang sedang menyerang Adelia sekarang. Rasanya Adelia ingin marah, ingin memukul dan menghajar seseorang. Adelia tidak menyangka kalau lelakinya melakukan itu. Di tengah acara honeymoon mereka.
Saat asyik berjalan menuju arah hotel, tiba-tiba sebuah motor besar melaju cepat. Tanpa Adelia kira motor besar itu mengarah kepadanya dari arah berlawanan. Karena sedang merasakan jengkel, Adelia sama sekali tidak melihat itu.
Motor itu semakin dekat .....dekat....dan dekat. Begitu tinggal beberapa langkah lagi.....
Secepat motor itu bergerak, secepat itu pula sebuah tangan besar meraih dan menarik tubuh Adelia.
"Watchout ....!", hingga tubuh mereka menempel di dinding, menghindari motor yang dikedarai dengan gila itu.
Kaki panjang penolongnya itu masih sempat menendang ke arah pengemudi motor besar itu. Membuat pengendara dan motor besar itu terhuyung sesaat, hampir terjatuh. Tapi sebentar kemudian dia kembali menguasai motornya dan melaju kencang.
Adelia menoleh ke arah penolongnya. Lelaki yang dari tadi memenuhi pikirannya. Kenan.
"Are you okay, baby ?", raut cemas tampak di wajah lelaki itu. Memutar tubuh Adelia agar bertemu pandang dengannya.
Adelia mengangguk perlahan. Lalu menjauhkan tubuhnya dari lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Menyingkirkan tangan Kenan yang bertengger di pinggangnya. Lalu melipat tangannya di bawah dada.
"Where are you ?", tanya keduanya bersamaan. Keduanya saling tatap. Layaknya menginterogasi tersangka.
"Okay ..... you're first !", ketus Adelia.
"You're baby ", balas Kenan.
"You....", tegas Adelia.
Kenan hendak meraih bahu istrinya, tapi perempuan cantik itu segera menghindar. Lelaki itu menghela berat. Sebenarnya dia ingin marah, tapi sebisa mungkin menahannya.
Kenan merasa pasti ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. Yang membuat perempuan cantik itu menjadi dingin seperti itu.
"Kita bicara di hotel, okey ? ", lembutnya.
Adelia hanya mengedik. Lalu dengan cepat memutar tubuhnya. Melangkah mendahului suaminya.
"Huft .... !", Kenan menghembuskan nafas kasar. Istrinya ini tetap saja menggemaskan meskipun marah. Apa Kenan bisa marah kalau begini ?
Lelaki tampan itu bergegas mengekori istrinya. Dengan cepat meraih tubuh perempuan cantik itu ke gendongannnya.
"What are you doing, Ken. Let me go !", berontak Adelia.
Tidak menyahuti, Kenan terus saja melangkah memasuki area hotel.